
[Semua aman. Dia sudah tidur. Naiklah!]
Sebuah pesan terkirim dari Ezra ke ponsel Devano.
Devano menyunggingkan senyum ke arah Keysa setelah membaca pesan dari Ezra. "Waktunya beraksi," gumam Devano dengan alis yang naik turun.
"Apa dia sudah tidur?"
Devano mengangguk.
Mengetahui Liza sudah tidur, membuat Keysa sangat bersemangat. "Let's go! Mari kita beraksi," ucap Keysa sambil menarik tangan sang kekasih. Namun, sejurus kemudian langkahnya terhenti. "Aku naiknya bagaimana?" tanyanya menoleh ke arah Devano, lalu menatap ke arah kamar Liza yang berada di lantai dua.
"Seperti yang Ezra lakukan," gumam Devano dengan enteng.
"Naik pohon?"
"Ya. Itu hal mudah kan? Bukannya kemarin di hutan juga kamu bisa melakukanya?"
"Di hutan beda lagi, karena takut mendadak bisa gitu aja. Kalau sekarang aku gak yakin," tandas Keysa, menatap pohon yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. "Tapi, mari kita coba dulu," gumam Keysa.
Keysa lantas mencoba naik, tetapi selalu terjatuh. "Sepertinya harus ketakutan dulu baru bisa manjat," sungut Keysa, karena gagal terus.
"Naik!" ucap Devano, dengan posisi sudah berjongkok di depan pohon sambil menepuk pundaknya sendiri, menyuruh gadis itu untuk naik di pundaknya.
Senyum terbit di bibir Keysa, melihat perhatian lelaki yang berstatus pacarnya itu. Ia pun mengangguk, lalu menginjakkan kakinya di pundak Devano.
"Entar dulu!" Devano menghentikan Keysa yang hendak menginjakkan kaki satu lagi.
"Apa?"
"Sepatunya lepas dulu, sakit di pundak," gumam Devano.
"Maaf." Keysa lantas menurunkan satu kakinya yang sudah berada di pundak Devano, kemudian melepaskan sepatu.
Lagi-lagi Devano dibuat meneguk ludahnya sendiri saat melihat Keysa melepaskan sepatu dan tanpa sengaja kaki jenjangnya terekspose ketika Keysa mengangkat gaun putih di badan yang sampai menyapu tanah.
__ADS_1
"Sudah," ucap Keysa lagi, menyadarkan Devano yang menggilai kaki putih bersih milik Keysa.
"Ayo naik, nanti di atas langsung pindah ke pohon. Naik sedikit, lalu lompat. Ada Ezra yang akan menangkapmu," ucap Devano, menjelaskan dan dijawab anggukan Keysa.
Kemudian, Keysa berdiri di pundak Devano sambil berpegangan pada pohon. Begitu pun Devano, lelaki itu perlahan berdiri dengan tangan yang berpegangan pada pohon. Setelah itu, Keysa berpindah pada pohon dengan berpijak pada ranting pohon tersebut. Perlahan merangkak naik, lalu melompat setelah posisinya sejajar dengan balkon kamar Liza.
"Oh, ya ampun! Adrenalinku kembali tertantang," ucap Keysa, setelah berhasil berdiri dengan selamat di balkon Liza yang disusul oleh Devano.
"Apa kau menyukainya?" tanya Devano, menggoda.
"Lumayanlah."
"Stttt …." Ezra membuka jendela kamar Liza, menghentikan percakapan Keysa dan Devano. Dilihatnya Liza sedang tertidur dengan pulas. Ketiganya lantas masuk dan mematikan lampu di kamar tersebut.
"Liza! Liza!" Dalam suasana gelap gulita, tiba-tiba terdengar suara serak memanggil Liza.
Liza pun langsung terbangun. Dia yang sedang mimpi buruk dibuat terkejut saat kamarnya gelap gulita. Dan, semakin terkejut ketika melihat ada sosok wanita di hadapannya yang mirip dengan Keysa, tetapi penampilannya sangat menyeramkan sewaktu tersorot sinar rembulan dari luar.
'Apa aku masih bermimpi?' gumamnya dalam hati, lalu mencubit tangannya sendiri.
"Kau ... kau siapa?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Apa kau tidak mengenalku, Pembunuh?" tanya Keysa menatap tajam Liza dengan area mata yang dibuat hitam.
"Aku bukan pembunuh," jawab Liza dengan lantang.
"Kau telah membunuhku! Apa kau lupa?"
"Aku tidak pernah melakukannya. Pergilah! Jangan ganggu aku!" Liza mengibaskan tangan, mengusir Keysa yang berjalan mendekatinya.
"Lalu apa yang telah kau lakukan pada diriku, Liza?"
"Itu bukan aku," ucap Liza sambil beringsut mundur di atas tempat tidur.
Keysa terus mendesak Liza dan terus menakut-nakutinya agar gadis itu mengakui perbuatannya, tetapi Liza tetap saja tidak mengaku.
__ADS_1
"Nyawa harus dibayar nyawa!" Bentak Keysa dengan sangat keras. " Dan, aku datang ke sini untuk membawamu mati bersamaku." Keysa menarik tangan Liza.
"Ampun, Key! Aku tidak mau mati. Iya, aku yang menyuruh orang-orang untuk menghabisimu. Ampuni aku, Key! Aku tidak mau mati." Liza memohon ampun dengan keringat dingin sudah membanjiri tubuh. Ia sangat ketakutan.
Sementara itu, Keysa yang mendengar pengakuan Liza langsung melepaskan tangan Liza. Ia berjongkok, menatap gadis yang sedang terduduk lemas di lantai.
"Kenapa kau membunuhku?"
"Karena kau merebut Devano dariku. Aku menyukainya, tapi kau merebutnya," jawab Liza, menunduk. Liza menyukai Devano, meskipun tidak mungkin memiliki lelaki itu karena demi keluarganya Liza hanya bisa menikah dengan Ezra. Namun, ia juga tidak rela kalau Devano dimiliki orang lain. Oleh karena itu, ia sampai memiliki ide untuk menghabisi Keysa.
Setelah mendengar penjelasan Liza, dua orang yang sedang bersembunyi pun merasa geli terhadap gadis itu. Tidak lama kemudian lampu menyala, dan Liza menyadari kalau di kamarnya tidak hanya ada hantu Keysa, tetapi ada dua orang lagi yang berjalan masuk dari luar.
"Apa kau bukan hantu?" Saat itu juga Liza menyadari kalau Keysa bukanlah hantu. Ia telah masuk ke dalam perangkap Keysa. "Pengawal! Ada penyusup!" teriak Liza, memanggil pengawal di rumahnya.
Dalam hitungan detik pengawal pun masuk ke kamar Liza. Keysa menyadari keadaan tidak aman saat melihat seorang dengan tubuh kekar dan wajah garang masuk ke kamar langsung melarikan diri, tetapi dihalangi si pengawal.
"Kalian tega sekali mengkhianatiku! Kalian mengkhianatiku hanya demi wanita jelek itu!" Sementara itu, Liza malah memarahi Devano dan Ezra yang malah membantu Keysa membalas dendam.
Devano dan Ezra yang sudah tahu sikap asli Liza hanya menatapnya jengah, lalu mengejar Keysa untuk membantu Keysa melarikan diri.
Di saat sedang berlari, Keysa tiba-tiba bertemu dengan nenek Liza.
"Kau siapa? Kenapa ada di sini?" tanya nenek Liza kepada Keysa.
Keysa menatap wanita tua di hadapannya. Dari penampilannya terlihat nenek Liza sangat memerhatikan sopan santun. Akan tetapi, justru sebenarnya nenek Liza pernah mencoba menggoda ayahnya kakek Keysa, sehingga berujung diusir dari keluarga Keysa.
"Dia temannya Liza, Oma. Dia datang bersamaku," ucap Devano. "Dan kami sekarang hendak pulang," lanjut Devano, berharap nenek Liza mengizinkan mereka pergi.
Nenek Liza yang sudah sangat mengenali Devano dan Ezra hanya manggut-manggut, meskipun sedikit aneh melihat dandanan Keysa yang seperti hantu.
"Kami pamit dulu, Oma!" ucap Devano, kemudian.
"Ya. Hati-hati di jalan," jawab nenek Liza, membiarkan mereka pergi.
"Oma, jangan biarkan dia pergi!" Namun, tiba-tiba Liza muncul dan menyuruh sang nenek untuk menahan mereka.
__ADS_1