Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
222


__ADS_3

"Ini maksudnya apa?" Keysa menyipitkan mata menatap penuh tanda tanya kepada Devano yang mengeluarkan permata biru dari kotak kaca dan memberikannya kepada Keysa.


"Ini adalah milik ayahmu. Kamu berhak memilikinya," ucap Devano.


"Tidak. Jika aku mengambilnya, akan ada keributan baru karena berita hilangnya permata ini." Meskipun Keysa sangat ingin memiliki benda peninggalan sang ayah, tetapi ia tidak ingin menerima banyak resiko.


Devano menampilkan rentetan gigi putihnya. Ia tidak serta merta mengeluarkan permata biru itu, jika belum mengantisipasi semuanya. Devano meraih tangan Keysa, lantas meletakkan benda berharga peninggalan ayah Keysa. Setelah itu, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana.


"Itu apa?" Keysa dibuat melongo oleh benda yang dikeluarkan Devano dari dalam saku.


"Seperti yang kamu lihat." Devano lagi-lagi memamerkan rentetan giginya karena berhasil membuat sebuah mahakarya yang luar biasa.


"Kok bisa?" Keysa masih tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. "Bagaimana bisa semirip itu?"


"Itulah kehebatanku." Devano membanggakan dirinya sendiri yang rela melakukan apapun demi Keysa, termasuk membuat permata biru kw. "Orang-orang tidak akan curiga kalau permata biru yang sebenarnya sudah berpindah tangan, karena yang ini juga memiliki kemiripan hampir seratus persen."


Devano meletakkan permata yang dibawanya ke kotak permata biru tersebut, kemudian mengajak Keysa pergi dengan permata asli yang sudah berpindah ke tas.


***


Saat pulang ke rumah, Keysa dan Devano melihat kehadiran Damar yang sedang duduk di sofa menatap kedatangan mereka.


"Oh, ya, ampun! Aku melupakan sesuatu." Melihat Damar dan menatap ke arahnya, seketika Keysa mengingat sesuatu.


"Ada apa?" tanya Devano.


"Aku melupakan sesuatu," bisik Keyss. " Aku ke kamar dulu, ya!" Keysa langsung bergegas ke kamar, setelah memberi hormat kepada Damar.


"Bagaimana bisa aku melupakannya," rutuk Keysa. Ia yang sudah berjanji akan membantu mencari keberadaan ibu Devano, langsung menghubungi Nenek Rati dan menanyakan kabar keberadaan ibu Devano dari wanita tua itu.


"Nenek memang yang terbaik. Terima kasih atas informasinya. Aku sayang Nenek," ucap Keysa setelah mendapat informasi yang dimau, kemudian mengakhiri panggilan mereka.


Keysa turun kembali menemui Damar dan Devano dengan seutas senyum dan secercah harapan bahwa hubungan mereka setelah ini akan direstui oleh ayah Devano.


"Apa yang kamu lupakan? Sampai terburu-buru kayak tadi?" tanya Devano, begitu Keysa ikut bergabung lagi dengan Damar dan Devano.


Sementara itu, Damar masih dengan tatapan dingin menatap Keysa, menunggunya angkat bicara.

__ADS_1


"Aku habis menghubungi Nenek Rati untuk menanyakan keberadaan ibumu," ungkap Keysa, membuat Devano yang mendengarnya sangat antusias.


"Apa Nenek mengetahui banyak tentang Mommy?" tanya Devano.


Keysa menatap Devano, kemudian beralih kepada Damar yang masih dengan ekspresi dingin tak tersentuh, lalu mengangguk pasti. "Aku dengar dari Nenek, Mommy-mu pernah ditemukan di Asia Tenggara beberapa saat lalu," ungkap Keysa kepada Devano, yang secara tidak langsung memberitahukan kepada Damar juga.


Damar langsung berdiri begitu mendengar ucapan Keysa. "Dev, untuk sementara waktu aku serahkan lagi urusan bisnis kepadamu. Daddy akan pergi sekarang juga," tandas Damar tiba-tiba, membuat Devano tercengang.


"Daddy mau ke mana?"


"Mencari Mommy-mu." Setelah mendapatkan informasi dari Keysa, Damar langsung pergi menuju sebuah tempat yang disebutkan Keysa.


Devano yang melihat kepergian Damar hanya menatap penuh keheranan. "Jadi dia ke sini untuk meminta informasi darimu?" tanya Devano, dan dijawab anggukan Keysa. "Kalau butuh informasi kenapa gak langsung ngomong saja? Tidak perlu malah seperti orang yang hendak menelan orang," tandas Devano lagi, mengingat sikap sang ayah beberapa saat lalu. Bukannya, ngomong secara baik-baik, malah memberikan aura permusuhan kepada Keysa. "Harusnya dia juga berterima kasih kepadamu, bukan malah main pergi begitu saja," protes Devano.


Keysa menoleh pada Devano yang mengomeli perbuatan sang ayah, hingga ujung bibirnya terangkat dan menampilkan seulas senyum. "Sejak kapan kekasihku berubah sangat cerewet melebihi gadis-gadis," ungkap Keysa, lalu berjalan melewati Devano begitu saja.


"Kau mengataiku, hah?" sarkas Devano, dan berhasil mendapat balasan juluran lidah dari Keysa sambil berlari.


Devano mengejar Keysa yang berlari menaiki tangga sambil terus mengejeknya.


***


Namun, pekerjaan yang diambil alih oleh Devano mendapat banyak masalah. Tiba-tiba saja bisnisnya mendapat kecaman dan pengrusakan dari sekelompok orang. Devano mendapat kerugian yang cukup besar. Swalayan tiba-tiba mengalami kebakaran, hotel juga tiba-tiba terkena razia karena ada laporan prostitusi online membuat hotelnya dicap buruk, dan masih banyak masalah yang perlu diselesaikan.


"Selidiki semua ini sampai ke akar-akarnya! Aku harus mengatasi kekacauan ini sebelum Daddy kembali," ungkap Devano. Ia membawa orang kepercayaannya untuk memperbaiki semua yang terjadi dan membantu mengatasi kekacauan yang ada.


Orang yang berada di bangku samping kemudi langsung mengangguk, menyanggupi permintaan Devano. Namun, tiba-tiba sebuah mobil menghadap mobil Devano yang sedang melaju cukup kencang dari depan serta beberapa motor yang mengapit kiri dan kanan mobil.


"Sial! Mereka itu apa-apaan." Devano dengan cepat menginjak rem.


Beberapa orang dengan tubuh kekar dan berpakaian serba hitam keluar dari mobil. Orang-orang dari sepeda motor menggedor-gedor jendela mobil tanpa turun dari motor.


"Keluar!" teriak orang-orang yang menyergapnya.


Mereka dengan brutal menghancurkan kaca mobil Devano dan terus mengecam Devano untuk keluar dari mobil.


"Jika kita keluar, kita kalah banyak dengan mereka yang sangat banyak," ucap orang di samping Devano.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Kalau keluar sama saka kita bunuh diri. Cara terbaik adalah berlindung di dalam mobil dan mencari kesempatan untuk lari," timpal Devano, tanpa ada niatan untuk menghadapi mereka.


Sementara itu, orang di luar


dengan brutal merusak mobil Devano agar Devano bisa keluar.


Byarr!!! Tiba-tiba kaca mobil depan di lempar sesuatu dengan sangat kuat hingga kaca tebal itu pecah. "Keluar, kau pengecut!" Orang dengan wajah dipenuhi tato menunjuk ke arah Dev.


"Sepertinya cara ini lebih baik." Bukannya keluar, Devano langsung menancap gas dengan sangat cepat, menyerempet lelaki yang mengancamnya lantas melarikan diri.


Orang-orang tidak dikenal itu pun mengejar mobil Devano, hingga terjadi aksi kejar-kejaran antara Devano dengan sebuah mobil dan empat sepeda motor.


"Sial kenapa mereka terus mengejarku!"


"Di depan ada lampu merah. Sebentar lagi lampu merah, jika kau berhasil melewati lampu beberapa detik sebelum lampu berubah merah maka kita akan terbebas dari mereka." Orang yang bersama Devano memberi saran.


"Ide yang brilian." Devano berseringai, lantas menaikan kecepatan mobilnya dan menerobos lampu hijau.


Ting! Sepersekian detik setelah Devano melewati lampu hijau, lampu berubah merah, membuat seringai Devano semakin lebar saat melihat orang-orang itu terjebak di lampu merah.


Dengan susah payah, Devano berhasil kabur dari orang-orang yang mengejarnya. Setelah menurunkan orang yang dibawanya di suatu tempat, Devano pulang untuk menemui Keysa. Ia takut terjadi sesuatu dengan Keysa juga.


Setiba di rumah, Devano langsung mencari Keysa dan bernapas lega saat melihat Keysa baik-baik saja, kemudian berhambur memeluk kekasihnya itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Keysa, melihat Devano yang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. "Tubuhmu terluka?" Keysa melihat darah menetes di lantai yang dilalui Devano.


Keysa mengurai pelukannya dan memeriksa keadaan Devano, hingga dibuat terperangah saat menyaksikan tangan putih Devano dipenuhi luka.


"Kau terluka. Kita ke dokter." Keysa mengajak Devano untuk ke dokter, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Devano.


"Di luar tidak aman. Kita tidak bisa pergi sekarang."


Keysa mengembuskan napas kasar, lalu menarik Devano untuk duduk dan membersihkan membersihkan lukanya.


"Bagaimana tanganmu bisa terluka begini?" Protes Keysa saat mengobati luka di tangan Devano oleh serpihan kaca dari kaca mobil yang dipecahkan orang tadi.


"Aku melindungi wajah tampanku dari serpihan kaca, malah tanganku yang kena," ungkap Devano, berseringai seraya meringis.

__ADS_1


__ADS_2