Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
139


__ADS_3

Satu fakta yang baru Keysa ketahui, ibunya adalah sahabat dari dosen yang terkenal killer di kampus dan selalu bersikap tegas dengan apa yang menurutnya benar. 


"Jadi kamu anak dari Abian dan Sarah?" tanya Susi masih dengan tidak percaya. Seingatnya Abian dan Sarah terlahir dari keluarga berada, tetapi kenapa anaknya malah masuk dengan jalur beasiswa dan dengan perjuangan keras yang rela bekerja ini dan itu demi mendapatkan uang. 


Keysa mengangguk, mengiakan ucapan Susi. 


'Mungkinkah kedua orang tuanya bangkrut?' tanya Susi pada dirinya sendiri, begitu melihat keadaan Keysa saat ini. "Bagaimana kabar Sarah dan suaminya?" tanyanya kepada Keysa. 


"Ayah dan ibu Keysa sudah meninggal." Devano menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Keysa. 


"Apa?" Susi yang sedang berdiri tiba-tiba limbung begitu mendengar kabar mengejutkan dari Devano. Bahkan, kakinya hampir saja tidak bisa menopang tubuh. Jika tidak ada meja untuk berpegangan, Susi hampir saja terjatuh. Ia sangat sedih setelah mendengar kabar duka itu. 'Mungkinkah ini alasan Keysa masuk melalui jalur beasiswa?' Susi menatap nanar gadis yang masih duduk sambil menunduk. 


Keysa membenarkan ucapan Devano, bahwa orang tuanya sudah meninggal, membuat Susi semakin sedih dan tidak menyangka ia tidak bisa bertemu dengan sahabatnya lagi. 


"Keluarlah dan kembali ke kelas. Miss ingin sendiri dulu," ucap Susi kemudian, masih dengan suara tegas meskipun dirinya sedang merasakan kesedihan yang mendalam.  


Wanita itu meminta Keysa dan Devano untuk keluar dari ruangannya. Devano pun mengangguk dan dengan cepat membantu Keysa berdiri, lalu keluar dari sana. 


"Miss Susi sedang sedih oleh kabar yang kita bawa, jadi kita disuruh pergi. Tapi, dia bukan orang yang akan melepaskan targetnya dengan begitu saja. Setelah dia membaik, pasti dia akan kembali pada rencana awal yaitu menghukummu." 


Devano menjelaskan betapa tegasnya Susi di kampus. Semua pasangan yang pernah ketahuan berpacaran pasti dihukum, bahkan dari mereka ada yang sampai terluka parah karena wanitanya tidak mau putus dan hukuman yang diberikan pihak kampus adalah dicambuk.  


"Jadi, sebelum aku ada juga orang yang pernah ketahuan pacaran dan mereka dihukum cambuk, begitu?" Keysa mencoba mencerna ucapan-ucapan Devano, dan dijawab anggukan oleh lelaki yang sedang berjalan di sampingnya itu. 


"Tapi, semenjak aku masuk tidak ada orang-orang yang dihukum karena pacaran," tandas Keysa lagi, mengingat semenjak dirinya di sana belum ada kejadian seperti yang akan diterima olehnya. "Padahal, tidak cuma satu atau dua mereka yang aku ketahui sedang pacaran. Apa itu hanya berlaku bagi kaum bawah yang berpacaran dengan kaum atas saja?" lanjut Keysa. 

__ADS_1


"Kalau soal itu aku tidak tahu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak apa jika harus dicambuk asalkan tetap bersamamu. Aku rela dicambuk agar semua orang tahu kalau kita memang benar-benar memiliki hubungan." 


"Apa kamu yakin?" Keysa menoleh ke arah lelaki yang baru saja selesai bicara dengan penuh keyakinan. 


Devano mengangguk pasti, dan itu berhasil membuat Keysa terharu. Lelaki itu rela melakukan apapun demi dirinya.  


"Kita tidak akan putus," tandas Devano, seraya menautkan jemarinya di sela-sela jari Keysa lalu mengangkat tangan itu dan menciumnya. 


Sebuah senyum terbit dari bibir Devano, yang dibalas senyum manis dari bibir Keysa juga. 


***


Keysa kembali ke kelas sendirian, setelah sebelumnya Devano izin untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Di kelas sudah ada Alea yang sedang menanti Keysa dan Devano, menunggu mendengar kisah tragis Keysa dan Devano yang terpaksa harus putus. 


"Memangnya siapa yang baru putus?" Keysa melirik Alea. "Aku? Sayangnya aku dan Devano tidak putus," tandas Keysa yang berhasil membuat Alea tersentak juga marah. 


"Aku haus. Belikan aku air," ucap Alea kemudian, yang  kesal karena tidak berhasil membuat mereka putus. 


Bertepatan dengan itu  Devano kembali ke kelas dan langsung memarahi Alea karena telah berani-beraninya memerintah Keysa. "Beli sendiri! Jangan pernah memerintah Keysa. Dia bukan babu-mu!" sarkas Devano, lalu meraih tangan Keysa dan membawanya duduk di bangku dekat Ezra. 


***


Mata kuliah terakhir sudah selesai. Devano dan Keysa sudah bersiap untuk pulang bersama. Devano bangkit dari tempat duduknya hendak menghampiri Keysa. Namun, Alea dengan cepat menghadang Devano dan meminta lelaki itu untuk mengantarkannya pulang. 


"Aku ingin pulang. Antar aku pulang sekarang juga," tandas Alea, tanpa mau dibantah. 

__ADS_1


Sebuah fakta yang baru diketahui Keysa, ternyata sejak pindah ke sana Alea tinggal bersama Devano di rumah utama. 


"Tidak mau. Aku ada janji dengan Keysa. Kau pulang saja sendiri,' sarkas Devano, ketus. 


"Yakin tidak mau mengantarku pulang?" tanya Alea seraya bersedekap. Ia sangat yakin Devano tidak akan pernah menolak permintaannya. 


Devano membuang napas kasar, setelah mendengar bisikan Alea dan sejurus kemudian Devano mengubah jawabannya. Lelaki itu terpaksa menyetujui permintaan Alea karena diancam. 


Tidak puas dengan Devano yang mengikuti apa yang dia mau. Alea juga telah mencari masalah yang bisa dikerjakan Keysa. "Key, tolong bawa tasku sampai ke mobil dong! Tasku terlalu berat, hari ini aku banyak bawa buku," tandas Alea, seraya menyodorkan tas yang sengaja diisi dengan banyak buku yang dipinjamnya dari mahasiswa lain. 


Keysa menatap tajam ke arah Alea, yang dibalas dengan senyum penuh arti oleh Alea. Mengerti arti senyum licik yang tertampil di wajah cantik berhati iblis itu, dengan terpaksa Keysa mengambil tas yang disodorkan Alea. 


"Sini!" Keysa meraih dengan kasar tas dari tangan Alea. 


"Terima kasih, Bestie!" tandas Alea dengan seringai menghiasi wajah. 


Sementara itu, Devano dan Ezra saling pandang. Keduanya merasa aneh dengan sikap Keysa terhadap Alea yang seakan-akan rela disuruh untuk ini dan itu, bahkan menjadi babu pun sepertinya Keysa mau. 


"Keysa kenapa bisa mau-maunya disuruh ini dan itu oleh Alea?" rutuk Devano atas sikap Keysa. 


"Mungkin saja ada alasan yang membuat Keysa melakukan itu. Sama seperti kamu yang juga memiliki alasan hingga harus menuruti kemauan gadis iblis itu," tutur Ezra, setengah berbisik. 


"Bisa jadi," gumam Devano, seraya manggut-manggut. 


Mereka pun berencana untuk bertanya perlahan-lahan kepada Keysa tentang rahasia Keysa yang dipegang oleh Alea. 

__ADS_1


__ADS_2