
"Key, buka!" pinta Devano seraya menggedor pintu kamar mandi.
"Tidak."
"Ayolah, Key. Aku belum selesai bicara." Devano berujar dengan memohon kepada gadis di dalam sana.
"Jangan aneh-aneh! Aku tahu isi hatimu. Kamu bukan ingin bicara tapi ingin yang lain," teriak Keysa, tanpa berani membuka pintu.
Devano yang memang sesuai pemikiran Keysa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia memang ingin mengulang kejadian semalam dalam keadaan sadar.
"Ingat Dev, kakek tidak akan merestui hubungan kita kalau aku ketahuan sudah tidak perawan lagi." Keysa mengingatkan akan syarat yang diberikan Kakek Surya kepada Devano.
Devano langsung diam begitu mendengar ucapan Keysa. Ia tidak bisa berkutik lagi jika ancaman mengenai syarat paten dari Kakek Surya. Ia pun terpaksa patuh dan kembali ke tempat tidur.
***
Keysa dan Devano pergi ke kampus bersama, sedang Disti tampak berbaring di tempat tidur tanpa ada niatan meninggalkan tempat itu meskipun hari sudah siang. Sejak sekembalinya dari hotel Disti hanya berbaring sambil memeluk guling dengan air mata yang tidak pernah berhenti menetes, bahkan bantalnya pun sudah sangat basah. Gadis yang belum berganti pakaian itu terlihat sangat frustrasi dan putus asa. Bodoh. Mungkin itulah yang pantas disematkan untuk dirinya. Padahal jika berpikir jernih masih banyak cara untuk menghindari Exel tanpa harus mengorbankan Keysa ataupun dirinya. Namun, karena sebuah harapan semu, ia memilih pilihan yang akhirnya membuatnya terluka. Karena nyatanya, meskipun sudah mencicipi tubuhnya Exel sama sekali tidak membuka hati. Bahkan untuk sekedar meminta maaf pun tidak.
Di kampus, Keysa dan Devano masuk ke kelas bersama-sama. Ezra yang melihat kedatangan mereka berdua pun langsung menatap tajam ke arah Keysa. Tatapan yang membuat Keysa merasa telah menjadi sebuah tersangka dan siap untuk dikuliti.
Devano berjalan ke arah Ezra. Ia yang tidak memerhatikan sikap Ezra lantas menyapa sahabatnya itu, begitupun sebaliknya. Setelah itu, berganti Keysa yang menyapa Ezra, tetapi lelaki itu seolah tak acuh dengan sapaan Keysa.
"Keysa, aku ingin berbicara empat mata denganmu," tandas Ezra kemudian, dengan nada suara yang sangat dingin, melebihi sikap dingin Devano.
Mendengar suara dingin dan sikap aneh Ezra membuat Keysa meyakini telah terjadi sesuatu kepada lelaki itu. 'Mungkinkah dia sudah memberitahu semuanya?' Keysa melirik ke arah Alea yang duduk di samping Ezra dengan seringai licik di wajah. Keysa lantas mengangguk, menyanggupi permintaan Ezra.
"Kita bicara di luar," sarkas Ezra lagi, dan dijawab anggukan Keysa.
Tanpa ingin berdebat, Keysa pun langsung keluar dari kelas.
"Apa ada masalah?" tanya Devano, merasa khawatir melihat Ezra yang berubah sangat serius kepada Keysa.
"Tidak ada. Hanya ada sedikit yang perlu diluruskan tentang Faya." Ezra menenangkan Devano sebelum menyusul Keysa keluar.
__ADS_1
"Aku ikut!" pinta Devano, tetapi ditolak Ezra. Mau tidak mau Devano pun menunggu sahabat dan kekasihnya itu berbicara berdua. Tidak ada kekhawatiran tentang kebersamaan mereka karena Devano tahu Keysa bukanlah tipe Ezra. 'Masalah apa yang tidak melibatkanku di dalamnya,' tandasnya dalam hati.
Semalam setelah acara ulang tahun Exel, Alea memberitahu semuanya tentang Keysa. Alea yang tidak puas karena tidak bisa memiliki siapapun memilih untuk membuka identitas asli Keysa di hadapan Ezra.
"Aku pernah mengatakan kalau aku memiliki sebuah rahasia besar tentang Keysa. Apa kamu masih mau mengetahuinya?" tandas Alea saat keduanya berada dalam satu mobil.
Ezra mengantarkan Alea pulang karena gadis itu terus mengatakan ada rahasia besar yang ingin disampaikannya.
"Rahasia apa?" Sejak kedatangan Alea, sikap Keysa yang penurut kepada Alea memang telah membuat curiga Ezra dan Devano.
"Wait ...." Alea lantas mengambil sebuah foto dari dalam tas dan memberikannya kepada Ezra.
Seraya menyetir Ezra menerima foto itu dan melihat wajah yang tidak asing sedang berpose dengan begitu cantik. "Ini Faya. Dari mana kamu mendapat foto Faya? Dan apa hubungannya dengan Keysa?" tanya Ezra, tidak mengerti dengan maksud Alea menunjukkan foto Keysa, padahal jelas-jelas sebelumnya gadis itu mengatakan ingin memberitahu sesuatu tentang Keysa.
Bukannya menjawab, Alea malah tertawa.
"Apa ada yang lucu?" Ezra malah dibuat geram oleh kelakuan Alea.
Ezra semakin dibuat tidak mengerti oleh ucapan Alea dan menganggap bahwa Alea mulai ngaco.
"Keysa dan Faya adalah orang yang sama." Tiba-tiba Alea berucap dan berhasil membuat Ezra terkejut setengah mati.
Mobil yang sedang dikendarai Ezra pun langsung berhenti mendadak. Ezra menginjak rem dengan begitu kuat saat mendengar ucapan Alea, hingga tubuh Alea tersungkur ke depan dan kepalanya mengenai dashboard.
"Bawa mobilnya hati-hati. Bagaimana sih? Sakit tahu!" rutuk Alea sambil memegang keningnya yang terasa sangat sakit.
Ezra tidak peduli dengan kening Alea. Ia hanya ingin tahu kebenaran yang baru saja didengarnya.
"Lea, kau bercanda 'kan? Kau hanya sedang nge-frank aku kan?" tanya Ezra dengan posisi tubuh sudah menghadap gadis di sampingnya.
"Bercanda apa? Sakit. Mana mungkin aku bercanda, lihatlah keningku sampai merah begini," sungut Alea dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Aku tidak menanyakan keningmu. Aku bertanya mengenai ucapanmu tentang Keysa." Ezra memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
Alea langsung mencebik begitu mendengar ucapan Ezra. Ia lantas membenarkan posisi duduknya. "Keysa dan Faya adalah orang yang sama adalah kebenarannya. Faya adalah nama panggilan Keysa ketika kecil," jelas Alea.
"Lalu kenapa dia menyamar?"
"Kalau itu tanya sendiri saja padanya," tandas Alea, memberikan jawaban yang tidak memuaskan kepada Ezra.
Ezra mengingat percakapannya dengan Alea semalam yang memberitahu kebenaran tentang Keysa. Ia yang sedang berjalan menyusul Keysa pun seketika merasa menyesal karena saat Keysa ditindas Liza di acara ulang tahun mamanya, Ezra sama sekali tidak membelanya. Ia mengingat sejak saat itu, Keysa dalam bentuk Faya mulai sangat menjaga jarak dengannya. 'Pantas saja tanpa tahu kesalahanku, Faya terus-terusan menjauh sejak kejadian Keysa dipermalukan dan ditindas Liza,' gumamnya dalam hati, sambil menatap punggung Keysa yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Ezra dan Keysa sampai di lapangan luas. Keysa duduk di atas rumput hijau dan diikuti oleh Ezra. Namun, keduanya saling diam. Ezra berharap gadis itu akan mengatakan kebenarannya sendiri tanpa perlu dipancing.
"Apa kamu sudah mengetahui kebenarannya dari Alea?" Keysa membuka percakapan keduanya.
"Kebenaran apa?" tanya Ezra, seolah tidak mengerti maksud Keysa.
"Kebenaran kalau aku adalah Faya. Aku adalah orang yang sama dengan orang yang kamu sukai," tandas Keysa dengan tatapan lurus menatap hamparan rumput yang menghijau.
Ezra menoleh sekilas ke arah Keysa. "Jadi itu benar?" tanyanya.
Keysa mengangguk pelan, membenarkan ucapan Alea yang didengar Ezra semalam. Membuat Ezra tersenyum miris.
"Jadi ini arti ucapanmu waktu itu?" Ezra mengingat saat Keysa meminta untuk tidak marah kepada Devano setelah mengetahui rahasia tentang dirinya.
Lagi-lagi Keysa mengangguk. Ia meminta maaf karena telah membohonginya. Ia beralasan tidak membuka jati dirinya karena harus mendapatkan seseorang yang mencintainya tanpa melihat paras dan status seperti yang Kakek Surya inginkan, meskipun pada awalnya ia menyamar untuk mengelabui kakeknya sendiri.
"Jadi kau sudah sangat yakin dengan Devano?" Setelah mengetahui Keysa adalah Faya, ia merasa tidak rela melihat kebersamaan Keysa dan Devano.
"Semoga kamu bisa menerima keputusanku," tandas Keysa. "Aku juga berharap kamu jangan dulu memberitahu Devano," pinta Keysa.
Andai bisa mengubah skenario hidup. Ezra berharap tidak berteman apalagi bersahabat dengan Devano, dengan begitu ia bisa merebut Keysa tanpa rasa bersalah. Namun, meskipun sudah tidak ada kesempatan, Ezra tetap berjanji tidak akan memberitahu Devano jika tidak diizinkan Keysa.
"Terima kasih," ucap Keysa. "Meskipun kita tidak bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tetapi kita masih bisa berteman. Semoga kamu masih mau menerimaku sebagai teman seperti sebelum kamu mengetahui semua ini," tandasnya lagi.
"Tapi, aku tidak ingin hanya sebagai teman," ucap Ezra sangat pelan.
__ADS_1