Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
123


__ADS_3

Keysa dengan cepat mendorong kuat tubuh Devano yang berada di atasnya, hingga Devano terjatuh ke lantai.


"Keysa!" ucap Devano sangat geram, saat sedang asyik-asyiknya menikmati bibir sang kekasih malah ditendang hingga tubuhnya terempas di lantai dan menghasilkann rasa pegal di bokong lelaki itu.


"Sepertinya Disti pulang," tandas Keysa, kemudian beranjak dari tempat tidur sembari merapikan baju dan rambut, tanpa memedulikan Devano yang sedang merutuki perbuatannya.


"Sebentar," ucap Keysa, saat pintu terus diketuk dari luar. Ia pun  lantas membuka pintu dan menampilkan Disti yang sudah berdiri depan pintu. "Sudah pulang, Dis," ucap Keysa, basa-basi.


"Udah," jawab Disti sambil masuk ke kamar. "Eh, kok, ada Devano?" tandasnya saat melihat Devano ada di kamar dengan posisi masih duduk di lantai dengan wajah kusut. 


"Iya. Tapi, Dev juga udah mau pulang. Iya, kan, Dev?" jawab Keysa, sambil menoleh ke arah lelaki yang sedang bangun dan langsung menatap Keysa dengan sangat tajam begitu mendengar Keysa yang mengusirnya secar tidak langsung. 


Sementara itu, Disti melirik Keysa sekilas, lalu beralih pada Devano. Membuat pikiran gadis itu menaruh rasa curiga pada kedua sejoli yang berada dalam satu ruangan tersebut. "Kalian habis ngapain?" bisiknya kepada Keysa, melihat pakaian Devano yang tampak kusut, begitu pun dengan pakaian Keysa meski sudah coba dirapikan.


"Dev katanya mo pulang. Udah sana! Sekarang udah ada Disti yang menemani," ucap Keysa kepada Devano, mengalihkan diri dari pertanyaan Disti.


"Kau mengusirku?" Devano sangat murka mendengar pengusiran dari Keysa. Langkah lebarnya lantas melangkah meninggalkan kamar Keysa dengan kekesalan yang menggunung kepada sang kekasih.


"Baik, aku pulang. Tapi, sebagai gantinya kau harus bermalam di rumahku dan menemaniku semalaaman." Devano kembali menoleh ke dalam kamar dan bernegosiasi. Namun, dengan  tegas Keysa menolak.


"Kalau begitu aku tidak akan pulang. Kita lanjut yang tadi di sini di depan Disti," tandas Devano, kembali melangkah masuk.


"Eh, apa-apaan. Enggak ada," tolak Keysa.


"Bermalam di rumah atau lanjut yang tadi," tandas Devano lagi, semakin mendekati Keysa.


Sementara itu, Disti yang mendengarkan perbincangan dua sejoli itu hanya bisa mengerutkan dahi.  Mencoba menebak ke mana arah pembicaraan Keysa dan Devano.


"Iya, nanti aku ke sana," jawab Keysa, sambil mendorong tubuh Devano untuk keluar dari kamar dan langsung menutup pintu begitu Devano sudah sampai di luar kamar.


"Aku tunggu! Awas jangan ingkar!" teriak Devano, setelah pintu kamar tertutup, lalu meninggalkan asrama.


***


Semalaman yang dilakukan Devano hanya memeluk Keysa. Ia sangat takut berpisah dengan gadis yang sudah mengisi kekosongan di hatinya.

__ADS_1


"Apa kamu akan terus memelukku seperti ini?" ujar Keysa yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar dengan tangan Devano yang terus melingkar di pinggangnya.


"Ya," jawab Devano singkat. Hatinya sedang berperang antara menahan Keysa untuk tetap tinggal di kota ini atau membiarkan gadis itu pulang. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Keysa.


"Berjanjilah kamu akan kembali lagi," tandas Devano, lirih.


Keysa menggerak tubuhnya, mengubah posisi tidur hingga dirinya berhadap-hadapan dengan lelaki yang masih memeluknya. Keysa lantas menangkup kedua sisi wajah Devano dengan senyum yang terbit dari bibir tipisnya. "Aku pasti kembali. Karena ada orang yang mencintaiku dan sangat kucintai yang selalu menungguku di sini," ucap Keysa.


Senyum tiba-tiba terpancar dari bibir Devano begitu mendengar ucapan Keysa. "Apa orang yang dimaksud itu aku?"  tanya Devano memastikan.


"Entahlah. Mungkin iya jika kamu memang mencintaiku," ucap Keysa.


"Tentu saja aku sangat-sangat mencintaimu."


"Dan aku pun juga mencintaimu," jawab Keysa, lalu mencium sekilas bibir Devano. Kemudian, kembali mengubah posisi tubuhnya—menatap langit-langit kamar.


Mendengar pernyataan cinta Keysa membuat Devano mengeratkan pelukannya. Ia sangat bahagia dan terharu dengan ungkapan cinta Keysa, bahkan membuatnya hampir menangis. "Makasih," bisiknya di telinga Keysa, hingga membuat bulu kuduk Keysa meremang.


***


Keysa hanya bisa membuang napas kasar saat kenyataannya tidak seperti yang diharapakan. Sampai ia duduk di pesawat pun, ia sama sekali tidak mendapatkann kabar dari Devano, bahkan untuk sekedar pesan pun tidak ada. Kecewa? Jelas hati Keysa sangat kecewa.


Setiba di tempat kelahirannya. Keysa langsung dijemput sopir rumah Kakek Surya atas perintah Gabby. Ia yang masih kesal dengan perbuatan sang kekasih lantas menghidupkan kembali ponsel yang sempat dimatikan. Beberapa pesan masuk saat ponsel kembaki aktif dan salah satunya dari Devano. Keysa hendak mengabaikan pesan tersebut, tapi rasa penasarannya membuat Keysa membuka pesan video yang dikirimkan Devano.


"Hai, Key. Kamu pasti sedang cemberut atau kalau tidak kamu pasti marah-marah gak karuan karena aku tidak menepati janjiku. Maaf! Nyaliku seketika menciut. Aku tidak punya keberanian meskipun hanya sekedar mengantarmu ke Bandara. Aku takut, keberadaanku malah akan menghalangi kepergianmu karena aku tak sanggup melepasmu pergi. Aku tidak datang bukan karena aku ingin ingkar, tapi karena aku ingin kamu bisa pergi tanpa ada penghalang. I love you so much!" ucap Devano di dalam video yang dikirimnya dengan diakhiri sebuah kiss bye.


Melihat dan mendengar semua yang diucapkan Devano membuat Keysa terharu dan mengutuk dirinya sendiri yang telah berpikir yang bukan-bukan. Keysa pun berjanji akan segera kembali dan akan memperlakukan Devano dengan lebih baik lagi. Ia lantas membalas video Devano dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di kota kelahirannya.


Keysa tiba di rumah kediaman Kakek Surya. Ia sengaja tidak memberitahukan tentang kepulangannya kepada Kakek Surya karena ingin memberikan kejutan kepada sang kakek.


"Kejutan!!!" teriak Keysa dengan seulas senyum begitu turun dari mobil dan menampilkan sang kakek sedang berada di teras rumah dengan koran yang sedang dibaca, kemudian berlari ke arah sang kakek.


Kakek Surya mendongak ke arah suara. Sesuai prediksi kakek tua itu benar-benar terkejut dengan kedatangan Keysa. Ia sampai membenarkan kacamatanya, takut penglihatannya sedang bermasalah. "Keysa?" ucap Kakek Surya saat cucu kesayangannya itu semakin mendekat, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya. Ini aku, Kek. Keysa pulang," tandas Keysa dengan senyum yang terbit begitu manis dari gadis yang sudah melepaskan kacamatanya.

__ADS_1


Menyadari yang dihadapannya bukan ilusi, Kakek lantas berdiri dan mendekati Keysa yang juga berjalan ke arahnya. "Jadi, kau benar-benar pulang!" ucap Kakek Surya, saat Keysa memeluknya dan dijawab anggukan gadis itu.


Kepulangan Keysa menjadi kejutan yang sangat mengharukan bagi Kakek Surya, hingga tanpa terasa ujung matanya berembun.


Keduanya pun masuk ke rumah dengan Keysa yang masih merangkul sang kakek.


"Kek, aku sedang menjalin hubungan Devano." Keysa mengakui kedekatannya dengan Devano kepada Kakek Surya.


Sementara itu, Kakek Surya hanya menimpali ucapan Keysa dengan deheman, kemudian mengalihkan pembicaraan pada topik lain. "Beberapa hari ini kita akan turun gunung," ucap Kakek Surya.


Lelaki tua itu memberitahukan rencananya yang hendak turun gunung untuk berziarah ke makam kedua orang tua Keysa, dan dijawab anggukan Keysa.


***


Malam harinya ....


Keysa kembali ke kamar setelah makan malam bersama Kakek Surya. Ia yang lupa membawa ponsel ke bawah, langsung meraih benda pipih tersebut yang tergeletak di atas ranjang.


"What banyak sekali!?" Keysa menutup mulutnya sendiri yang menganga karena terkejut. Ia mendapatkam 108 miss called dari Devano. "Ini tidak salah, 'kan?" gumamnya lagi.


Keysa lantas menelpon balik Devano dan langsung disuguhi suara sang kekasih yang sedang marah-marah.


"Kau benar-benar ingin membuatku mati karena khawatir, hah?! Untuk apa kau punya ponsel kalau menelponmu saja susahnya setengah mati?" sarkas Devano di tengah-tengah kemarahannya.


Keysa pun langsung menjelaskan bahwa dirinya sibuk menemani Kakek Surya, membuat emosi Devano perlahan-lahan mereda.


"Tunggu jangan matikan dulu ponselnya, ya!" pinta Keysa setelah emosi Devano membaik.


"Memangnya mau ke mana?"


"Aku mo ganti baju dulu," gumam Keysa, lalu meletakkan ponselnya di tempat tidur.


"Ok," jawab Devano.


Setelah mengganti baju, Keysa duduk di tempat tidur. Sementara itu di seberang sana Devano sedang makan malam. Dan, giliran Keysa yang menemani lelaki itu. Namun, Devano tidak menepati janji, ia mengakhiri panggilannya begitu saja—membuat Keysa merasa bosan dan memilih kembali membuka game.

__ADS_1


__ADS_2