Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
201


__ADS_3

Zian diam termangu menatap Keysa yang berlalu dari hadapannya. Namun, hati Zian tidak bisa menerima itu. Sudah terlalu cukup sabar, ia dengan sikap Keysa yang terus menjauh, bahkan untuk sekedar memeluk saja gadis itu menolak.


Dengan langkah yang memburu, Zian mengejar Keysa. Keysa hanya miliknya dan harus menjadi miliknya. Ia yang dipenuhi emosi berhasil mengejar Keysa, lantas mencekal tangannya ketika gadis itu sedang membuka pintu.


"Ada apa, Ian?" Keysa dibuat tersentak saat tangannya ditarik oleh Zian, menghentikannya yang sedang memutar gagang pintu.


Zian tidak menjawab. Ia langsung membalik tubuh Keysa dengan kasar hingga menghadapnya, lalu mengunci tubuh itu hingga menempel di daun pintu. Zian menatap tajam wajah gadis yang sangat dicintainya itu, membuat Keysa menelan ludah yang terasa mengering—sadar bahwa Zian sedang marah.


Dengan kemarahan karena selalu ditolak gadis di hadapannya itu, Zian memegang kuat dagu Keysa dengan wajah yang semakin mendekati wajah Keysa.


'Apa yang akan dilakukannya?' Hatinya sudah ketar-ketir menebak apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang sudah berubah seperti monster kelaparan.


Zian semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Keysa.


"Kakek!" Keysa spontan menyebut 'kakek' dengan ujung mata yang melirik ke sebelah kanan, membuat Zian mengurungkan tindakannya dan spontan mengikuti arah mata Keysa. "Kakek aku pulang!" lanjut keysa, sambil membuka pintu dan kabur dari hadapan Zian saat lelaki itu lengah.


"Keysa!" Zian dibuat geram saat menyadari dirinya sedang dikerjai oleh Keysa.


Keysa yang mendengar panggilan Zian langsung menoleh sambil memeletkan lidahnya, mengejek, lalu melambaikan tangan dan berlari menuju kamar.


Zian pun hanya bisa menatap kepergian gadis itu dari depan pintu yang terbuka. Ia marah, tetapi tidak pernah bisa benar-benar marah kepada Keysa. Selalu ada saja hal konyol yang dilakukan Keysa yang membuatnya luluh lagi. Namun, penolakan-penolakan yang selalu didapatnya, membuat Zian semakin yakin kalau Keysa memiliki lelaki lain. Sayangnya gadis itu selalu berhasil mengalihkan pembicaraan jika membahas tentang itu.


***


Keysa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur bigsize di kamar yang didekorasi bak kamar princess. Jantungnya masih dag-dig-dug, mengingat hal gila yang hampir dilakukan Zian kepadanya. Untung saja, Keysa terpikir untuk memanggil sang kakek di ujung kebingungan untuk menghindari Zian.


"Kelemahan lelaki itu memanglah Kakek. Ia tidak akan berani macam-macam kalau ada Kakek."

__ADS_1


Keysa mengingat bagaimana Zian langsung menjauh saat Keysa mengelabui, membuatnya menyunggingkan senyum. Hingga sebuah panggilan masuk ke ponsel membuyarkan lamunannya. Keysa mengambil ponsel yang berdering dari dalam tas. Sebuah nama tertera di layar, membuat Keysa malas menerima panggilan tersebut dan memilih mengabaikannya dengan menyimpan ponsel yang masih berdering itu di tempat tidur.


"Tapi tumben, ada apa dia menghubungiku?" Keysa meraih ponsel itu kembali, penasaran, lantas menggeser tombol hijau yang berada di bawah nama kontak pemanggil.


"Ya, halo!" ucap Keysa, begitu panggilan tersambung dengan orang yang menghubunginya.


"Jauhi, Dev!" Satu kata yang keluar dari orang di seberang telepon sana berhasil didengar Keysa dengan nada perintah.


"Aku sudah menjauh. Ini aku sedang di luar kota," jawab Keysa ngasal, tetapi memang mereka sedang berjauhan.


"Akhiri hubungan kalian, atau kau akan menyesal karena telah berurusan denganku. Devano itu adalah milikku dan aku tidak akan membiarkan kau mengganggu hubungan kami lagi." Chery berbicara panjang lebar penuh ancaman. Ia juga memaparkan tentang kebaikan Devano yang memperhatikan dan sangat pengertian terhadap dirinya. "Kau itu hanya membawa pengaruh buruk padanya. Jadi berhentilah mengejar milik orang lain!"


'Dia ngomong apa sih? Seharusnya aku yang ngomong itu, 'berhentilah mengejar milik orang lain' Devano itu kekasihku dan milikku, seharusnya dia ngaca sama omongannya sendiri. Kayak orang gak laku saja.' Keysa merutuki ucapan-ucapan Cheryl yang menjelekkannya dan memproklamirkan diri sebagai calon ideal Devano.


"Apa kamu sudah selesai bicara? Aku ngantuk mendengar ocehanmu yang seperti nyanyian nina bobo di telinga. Aku mau tidur saja. Bye!" Keysa langsung mengakhiri panggilan dari Cheryl yang menurutnya tidak berguna.


"Dia masih saja seperti itu." Keysa menggeleng dengan kelakuan Cheryl. "Semoga saja dia cepat bangun dari tidur dan mimpinya itu."


Setelah Cheryl tidak lagi terdengar menelpon, Devano menjauh dari depan ruangan Cheryl, kemudian menghubungi Keysa.


"Iya, halo! Tadi Tuan Putrinya yang menelpon sekarang Pangerannya yang telepon, kalian kompak sekali," tandas Keysa begitu panggilan tersambung.


"Apa ini sebuah kode kalau kamu sedang cemburu?" tanya Devano dengan mata yang menyipit, meskipun Keysa sendiri tidak akan melihat karena mereka hanya melakukan panggilan biasa.


"Untuk apa cemburu pada gadis kekanak-kanakkan seperti dia? Mempermainkan nyawa hanya demi mendapat perhatian orang lain, sungguh miris," elak Keysa, meskipun dari nada suaranya terdengar jelas kalau dirinya tidak suka dengan yang telah diucapkan Cheryl, meskipun Keysa tahu bahwa Cheryl hanya memanas-manasi.


"Iya, aku tahu kamu tidak akan cemburu sembarangan, tapi sepertinya aku juga perlu mengkonfirmasi. Aku memang menyuapinya dan juga menggendongnya untuk mengantarnya ke kamar mandi, tapi semua itu aku lakukan karena paksaan Daddy seperti yang telah kamu ketahui sebelumnya. Bukan karena kemauanku sendiri." Devano membenarkan semua ucapan Cheryl kepada Keysa sebelumnya, tetapi soal keterpaksaan Devano juga tidak berbohong.

__ADS_1


"Iya, aku tahu," tutur Keysa.


"Apa kamu ingin aku bertemu denganmu?" tanya Devano kemudian, mendengar nada suara Keysa yang seakan-akan malas-malasan membuat Devano yakin kalau gadis itu tidak baik-baik saja.


"Kau sedang mengurus Cheryl, urus saja dia. Jika pun ingin tidak mungkin kau datang kemari," tandas Keysa, yang sebenarnya memang ingin Devano menemuinya dan membuktikan bahwa Keysa jauh lebih penting daripada Cheryl.


"Aku akan ke sana," tandas Devano lagi, kemudian mengakhiri panggilan mereka.


Devano menatap ponsel dengan panggilan yang sudah berakhir itu, hingga menampilkan foto Keysa yang digunakan sebagai wallpaper. "Dia kadang terlalu gengsi untuk mengatakan kalau dirinya cemburu," gumam Devano dengan seulas senyum yang menghias wajah, kemudian memasukkan ponsel ke saku sambil berjalan menuju kamar inap.


Setiba di kamar, tampa Cheryl sedang bermain ponsel dan langsung semringah begitu melihat kedatangan Devano. Devano yang melihat Cheryl tersenyum ke arahnya pun langsung membalas senyuman itu.


"Apa keadaanmu sudah jauh lebih baik?" tanya Devano, setelah duduk di samping ranjang rumah sakit.


"Karena kamu yang merawatku dengan sangat baik. Aku jauh lebih baik dan yakin sebentar lagi pasti bisa pulang," ucap Cheryl dengan begitu manja.


"Syukurlah kalau begitu! Tapi, saat ini ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan, apa boleh aku meninggalkanmu sebentar?" Devano berbicara dengan sangat hati-hati, tidak ingin gadis itu curiga akan kepergiannya.


"Pekerjaan apa?"


"Tentang ponsel yang kemarin diluncurkan," jawab Devano lagi.


Cheryl tampak berpikir. Ia terlihat enggan untuk mengiakan permintaan Devano, tetapi jika benar untuk masalah pekerjaan, ia juga tidak boleh egois. Mengingat Keysa yang tidak ada di kota dan tidak memungkinkan Devano akan menemui gadis itu, Cheryl pun mencoba percaya dengan ucapan Devano dan memberikan izin meski dengan berat hati.


"Terima kasih. Jaga diri baik-baik, aku akan segera kembali." Devano mengusap lembut pucuk kepala Cheryl dengan senyum manis yang terbit begitu indah, membuat Cheryl meleleh karenanya.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Devano langsung pergi sebelum ada orang lain yang mungkin akan mencegah kepergiannya. Devano menaiki helikopter dan pergi menemui Keysa.

__ADS_1


Menjelang malam, Devano sampai di kota kelahiran Keysa. Mereka pun bertemu di sebuah hotel yang sudah dijanjikan oleh Keysa. Keduanya menikmati kebersamaan mereka jauh dari Cheryl yang sangat mengganggu dan merepotkan.


"Tadi aku hampir dicium paksa oleh Zian," tutur Keysa, yang membuat Devano tersentak. Cheryl tidak ada, ada pengganggu lain yang bernama Zian.


__ADS_2