Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
114


__ADS_3

Setelah memberi tekanan kepada Keysa, Damar beserta anak buahnya pergi menuju sebuah apartemen.


"Dobrak!" Ia tidak berniat berramah tamah terhadap pemilik rumah. Damar yang datang dengan segudang amarah menyuruh anak buahnya untuk mendobrak pintu apartemen, kemudian masuk begitu saja tanpa permisi.


"Exel! Exel!" panggil Damar, kepada si pemilik rumah.


Exel yang sedang tidur siang dibuat terkesiap oleh suara mengerikan yang memanggilnya. "Siapa siang-siang begini bertamu tidak ada akhlak," gerutu Exel, sambil beranjak dari tempat tidur.


"Tunggu rumahku memakai pasword, tapi suara itu terdengar di ruang tengah. Siapa itu?" Exel dibuat kalang kabut saat mengingat pintu rumahnya dikunci.


Dengan cepat, Exel keluar kamar untuk melihat siapa yang bertamu.


'O-o-om ...."Exel dibuat terkejut saat melihat Damar sudah berada di depan pintu kamar dengan wajah penuh amarah. "Om, tumben mampir ke mari, ada apa?" tanya Exel mencoba menetralkan keterkejutannya.


Melihat wajah tanpa rasa bersalah Exel, membuat Damar semakin naik pitam. Tanpa ba-bi-bu sebuah pukulan pun langsung mendarat di wajah Exel, membuat terkejut setengah mati.


"Om, ada apa? Kenapa datang-datang menghajarku? Apa salahku?" tanya Exel dengan wajah memelas tanpa dosa.


"Kau bilang apa salahku? Kau itu sedang berpura-pura kepada siapa, hah?" Damar kembali memberikan bogem mentah di sisi wajah yang belum kena pukulannya.


"Aku benar-benar tidak tahu, Om. Apa salahku sampai Om setega ini." Exel masih berusaha mengelak isi kepalanya. Ia sudah bekerja dengan sangat hati-hati, tidak mungkin ayah Devano itu mengetahuinya.


Sementara itu, Damar semakin dibuat membabi buta dengan kilahan yang diberi Exel. Ia kembali memukul Exel kali ini di perut.


"Itu karena kau sudah berani berbohong," sarkas Damar. Sejurus kemudian, Damar mengangkat tangan sambil menggerakan kepala memberikan isyarat kepada anak buahnya.


Mengerti akan isyarat sang bos, dua anak buahnya langsung mencekal kedua tangan Exel. "Dan ini karena kau sudah berani-beraninya melukai anakku." Damar menghajar kaki Exel hingga patah.

__ADS_1


"Ampun, Om!" Exel terus meminta ampun saat hantaman demi hantaman mengenai kakinya. Namun, Damar sama sekali tidak menggubris.


"Seret dia!" ucap Damar, sambil meninggalkan apartemen Exel.


Kedua anak buah Damar mengikuti langkah sang bos sambil menyeret Exel yang sudah tidak berdaya. Wajahnya bonyok, kakinya tidak bisa digerakkan karena hantaman benda keras.


Setiba di basement, Exel dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa pergi oleh Damar beserta anak buahnya.


"Om, mau bawa aku ke mana?" Di tengah kesakitannya, Exel memberanikan diri untuk bertanya.


"Ke Neraka," jawab Damar, dingin.


Exel menelan ludahnya dengan susah. Ia tidak menyangka Damar akan semarah itu, padahal selama ini sudah menjadi konsumsi publik kalau hubungan antara Damar dan Devano jarang akur.


"Om, maafkan aku. Aku mengaku salah dan menyesal," rengek Exel. Ia tidak mau dikirim ke neraka oleh ayah Devano.


'Aku tidak mau mati sia-sia. Tapi tubuhku sudah tidak digerakkan, Om Damar melumpuhkan saraf motorik-ku. Sial sekali!' Exel merutuk dalam hati, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Buang dia!" Setelah perjalanan cukup jauh, tanpa menghentikan kendaraan, Damar memerintah anak buahnya untuk melemparkan Exel ke jalanan yang sedang ramai. "Semoga kau mendapat jackpot nyawa!" ujar Damar dengan seringai jahat menghias wajah.


Pintu mobil dibuka oleh seorang anak buah Damar, kemudian ia pindah posisi ke bekas tempat duduk Exel. Exel berada di ujung bangku dengan pintu mobil terbuka.


"Om, jangan lakukan ini!" Bisa menebak apa yang akan dilakukan Damar, membuat Exel memohon dengan begitu memelas. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh.


"Semoga kau beruntung dan bisa selamat dari jalan ke neraka," ucap Damar, kemudian menggerakkan tangan lagi, memberi isyarat agar anak buahnya melakukan tugas mereka.


Dalam hitungan detik bersamaan dengan teriakan Exel, tubuh Exel sudah menggelinding di jalanan yang dipadati oleh kendaraan, berbaur dengan mobil dan motor yang berseliweran di jalan. Kakinya yang tidak bisa digerakkan membuat Exel terdampar di tengah jalan dengan mobil dan motor yang melaju sangat cepat. Bahkan roda-roda kendaraan seperti akan menempel dengan tubuhnya, tetapi Exel tidak bisa berbuat apa-apa. Ketakutan akan kematian pun benar-benar menghampirinya saat sebuah tronton berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Disti sedang berjalan di trotoar jalan tempat Exel berada. Ia dibuat terkejut saat melihat ada orang berbaring di tengah jalan, serta sebuah mobil yang melaju kencang ke arah orang itu. Tidak ingin terjadi sesuatu dengan orang di tengah jalan itu, Disti langsung berlari ke tengah jalan dan melambai-lambai meminta mobil di depan menghentikan laju mobilnya.


"Berhenti!!!" teriak Disti sambil memejamkan mata. Mobil itu terus melaju meskipun disti sudah melambai dan berteriak.


Ckittt!!!


Tepat tiga puluh centimeter sebelum membentur tubuh Disti, mobil pun berhenti. "Apa kau sudah bosan hidup, hah?" teriak sopir sambil menyembulkan kepalanya dari balik jendela mobil. Ia memaki Disti yang berhenti dan menghadangnya di tengah jalan.


"Maaf, Pak. Tapi, jika aku tidak berbuat demikian anda pasti sudah menabrak orang itu." Disti menunjuk orang yang sedang telungkup dan pasrah jika hidupnya berakhir di jalanan.


Mendengar mobil berhenti serta suara ribut seorang wanita, Exel yang sudah pasrah langsung mengangkat kepala—melihat sekitar. Dilihatnya Disti berdiri bak seorang pahlawan sedang menghalau tronton yang hampir melenyapkannya.


"Apa yang dia lakukan di sana? Mau bunuh diri?" sarkas si sopir, tidak suka. "Singkirkan dia dari jalanku. Aku buru-buru," lanjutnya, sama sekali tidak peduli dengan keadaan Exel yang sudah tidak karuan.


Disti mengangguk, kemudian berbalik menghadap Exel. "Biar aku bantu," ucap Disti, lalu memapah Exel, tetapi tubuh lelaki itu sangat berat.


"Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku," tandas Exel.


Disti tidak berkomentar apapun, ia langsung mendekat ke mobil tronton dan meminta bantuan orang itu. Meskipun malas orang itu turun dan membantu membawa Exel ke tepi. Disti tidak lupa berterima kasih kepada si sopir yang terlihat ogah-ogahan tersebut.


Sejurus kemudian, Disti menelpon ambulance untuk menjemput Exel yang terluka parah. Tidak ada pembicaraan sepatah kata pun dari keduanya. Disti hanya menatap nanar kepada lelaki yang bernasib buruk itu, sedangkan Exel pun sangat gengsi bahkan hanya sekedar mengucapkan terima kasih.


Setelah ambulance datang, Disti ikut ke dalam mobil tersebut dan mengantar Exel ke rumah sakit.


Saat mengetahui Exel terluka sangat parah, Disti memutuskan untuk merawat lelaki itu. "Apa yang telah terjadi padamu?" Disti merasa iba dengan kondisi Exel yang sedang tertidur di bangsal rumah sakit. Wajah Exel dipenuhi luka dengan kaki yang lumpuh dipenuhi luka lebam.


"Jangan dulu bangun!" ucap Disti pelan. Dengan sangat hati-hati, ia membersihkan tubuh Exel. Jika gegabah bisa-bisa Exel bangun dan memarahinya karena sudah lancang membersihkan tubuh Exel.

__ADS_1


__ADS_2