
103
"Gadis itu telah meninggal," ucap si lelaki berwajah seram itu dengan tawa yang menggelegar.
Seketika amarah Devano mendidih begitu mendengar Keysa sudah meninggal. Kedua tangannya mengepal sempurna, wajah yang diliputi emosi itu pun sudah merah padam dengan gigi yang bergemeretak. Dengan satu entakan kaki, Devano menendang lelaki itu, hingga terlempar jauh.
"Yang seharusnya mati itu kau! Enyahlah dari muka bumi ini," teriak Devano kesetanan.
Seketika tubuh Devano luruh ke tanah, setelah menendang lelaki itu. Dunianya terasa runtuh mendapati kenyataan Keysa tidak ada di sana dan mereka mengatakan kalau gadis itu telah meninggal.
"Sabar, Dev!" Ezra memegang bahu Devano, berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Keysa masih hidup. Aku yakin Keysa masih hidup," ucapnya dengan sendu. Akan tetapi, ia sangat yakin kalau Keysa masih hidup. "Tangkap seluruh penculik itu dan siksa mereka tanpa ampun!" Wajah sendu itu berubah menjadi garang. Devano menyuruh seluruh bawahannya menangkap para penculik itu dan membawa mereka ke tempat khusus.
Bertepatan dengan itu, Exel juga sampai di sana dan mendengar Keysa sudah meninggal. Membuat lelaki itu merasa kalau usahanya selama ini sia-sia saja. Namun, melihat anak buah Devano yang sedang sibuk dengan para penculik dan mendapati Devano tanpa pengawalan satu pun membuat Exel berencana untuk menghabisi Devano. "Tidak bisa mendapatkan Keysa pun tak apa, tapi setidaknya di sini aku bisa membalaskan dendamku padanya," gumam Exel dengan seringai jahat menghiasi bibir dan mata yang menatap tajam Devano.
Tidak disangka bukan hanya Devano dan Exel yang menyusul Keysa ke sana, tetapi Arsen juga pergi ke hutan itu untuk mencari Keysa bersama para bawahannya. Yang ternyata bawahan Arsen adalah bodyguard yang diutus oleh Kakek Surya. Mereka pun sampai di dekat air terjun untuk menghibur Devano.
"Apakah dia lompat dari air terjun ini?" gumam Devano. Ia sedang memikirkan kemungkinan terbesar yang dilakukan gadis itu adalah melompat dari sana. Karena tidak mungkin kalau Keysa menyerah hidupnya begitu saja kepada para penjahat itu.
Di saat sedang berpikir, tiba-tiba Exel mendekati Devano dan mendorongnya hingga terjatuh dari air terjun. Semua orang dibuat terkesiap.
__ADS_1
"Bedebah! Apa yang kau lakukan pada Devano?" hardik Ezra, kemudian menghadiahi Exel bogem mentah dan mereka pun berkelahi.
"Dia biar aku yang urus! Carilah penyelam atau tim SAR atau apapun itu untuk mencari temanmu," perintah bodyguard Kakek Surya kepada Ezra dan dijawab anggukan Ezra, sedangkan dirinya mengambil alih Exel.
Hari mulai gelap. Suasana di hutan semakin mencekam begitu malam datang. Keysa yang terbawa arus sungai berhasil menyelamatkan diri. Gadis itu terbangun di tepian sungai saat dirinya tersangkut di akar pohon dengan batu besar di dekatnya.
Perlahan Keysa bangun dan naik ke darat dengan meraba-raba tempat yang dilewatinya yang terlihat remang-remang oleh cahaya rembulan. "Oh My God, aku ada di mana?" gumam Keysa dengan tubuh yang mulai terasa sangat kedinginan.
Sejurus kemudian, Keysa mendengar suara serigala yang membuatnya ketakutan. Keysa pun langsung mencari tempat bersembunyi, hingga ia menemukan lubang di sebuah pohon besar dan bersembunyi di sana.
"Sepertinya di sini aman," gumam Keysa. Ia pun berdiam diri di lubang itu sampai tidak terasa gadis itu pun tertidur.
Gadis dengan baju yang basah kuyup itu pun tertidur sangat pulas, bahkan bajunya pun sampai kering kembali. Ia tertidur hingga tengah malam. Keysa terbangun saat suara serigala kembali terdengar dan semakin dekat.
Selain mendengar suara serigala, Keysa juga melihat bayangan hitam yang membuatnya berpikir kalau di hutan itu juga ada orang lain.
"Owh ... ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengan gerombolan macam mereka?" decak Devano saat menyadari sesuatu menghadang perjalanannya.
Bayangan hitam itu adalah Devano. Devano juga bertemu dengan serigala dan ia pun langsung memanjat pohon. Kelompok serigala pun menunggu di bawah pohon hingga kehilangan kesabaran dan pergi.
Devano bernapas lega saat kelompok serigala itu pergi menjauh. Namun, tiba-tiba terdngar teriakan seorang wanita.
__ADS_1
"Tolong! Tolong! Siapapun tolong aku!" teriak si wanita yang tidak lain adalah Keysa. "Hush! Pergi!" Keysa mengusir para serigala itu yang menemukan persembunyiannya.
"Key!" teriak Devano memanggil Keysa, begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Keysa yang mendengar ada orang yang menyebut namanya sedikit merasa lega. Benar di sana ada orang lain, dan orang itu adalah orang yang dikenalnya. Sementara itu, fokus para serigala itu mulai teralihkan saat mendengar dua sumber suara. Menyadari Keysa masih hidup membuat Devano sangat senang.
"Dev! Apakah kau yang di sana? Dev tolong aku! Aku takut!" teriak Keysa dengan suara yang hampir menangis mendapati serigala-serigala itu semakin mendekat.
"Aku pasti akan menolongmu. Aku akan melindungimu dari serigala itu, tapi apa yang aku dapat dari menolongmu?" tanya Devano.
Di saat genting seperti itu pun Devano masih mencoba tawar menawar.
"Apa yang kau maksud, Dev? Aku di ujung kematian dan kau meminta balasan dariku?" tanya Keysa, tidak percaya.
"Aku akan melindungimu dari serigala itu, tapi dengan syarat kau harus menjadi pacarku! Jika tidak mau, jangan harap aku mau menolongmu." Devano mengancam Keysa.
Keysa melihat serigala-serigala itu mengaung dan bersiap untuk menyerangnya. Mau tidak mau, Keysa pun menyetujui permintaan Devano.
"Baiklah aku setuju," ucap Keysa.
"Setuju apa?" tanya Devano.
__ADS_1
"Aku setuju untuk menjadi pacarmu." Keysa mulai kesal. Devano seolah-olah sedang mempermainkan nyawanya.
Sementara itu, Devano mengulas senyum saat mendengar ucapan Keysa. Ia pun turun dari pohon dan segera mengalihkan serigala itu ke tempat lain.