
Dua lelaki paling populer di kampus berjalan bersama dengan gagahnya. Langkah kaki Devano dan Ezra, membawa keduanya memasuki kelas. Sementara itu di dalam kelas, para mahasiswa laki-laki tampak sedang membicarakan foto Keysa yang tersebar semalam.
"Gadis itu benar-benar sangat cantik. Dia itu bagaikan Dewi."
"Dia itu adalah bidadari yang turun dari Kayangan. Aku belum pernah melihat gadis secantik itu sebelumnya."
"Andai dia jadi kekasihku, segala pun akan kulakukan untuknya."
"Meskipun dia sudah punya kekasih, jadi simpanannya pun aku rela. Dia sangat-sangat memesona. Apalagi gitar spanyolnya membuat pikiranku melayang ke mana-mana."
Para laki-laki itu terus memuji kecantikan Keysa dan banyak juga yang berangan-angan untuk mendapatkannya.
"Kalian lebay sekali," gumam Devano saat mendengar pujian-pujian yang terlontar untuk gadis itu.
Sementara itu, para mahasiswa laki-laki tidak menggubris ucapan Devano dan malah semakin mengagung-agungkan gadis yang tertampil di layar ponsel mereka.
Devano pada awalnya tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, tetapi mendengar deskripsi tentang si gadis yang menurutnya sangat lebay membuat Devano meminta salah satu dari mereka menunjukkan foto yang dimaksud.
"Hah!" Devano tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat foto tersebut. "Ez, bukannya gadis ini si cantik yang kita temui di klub?" tanya Devano kepada lelaki di sampingnya.
Begitu mendengar ucapan Devano, Ezra lantas merebut ponsel yang dipegang Devano dan menatap foto itu tanpa berkedip. Rona wajahnya seketika berubah secerah bulan purnama dengan senyum yang tertampil indah di sana. Ezra sangat senang bisa melihat kembali gadis cantik. Namun, wajah berserinya seketika berubah dingin. Ezra menatap setiap orang yang sedang membahas Keysa.
"Gadis ini adalah idolaku. Tidak ada yang boleh sembarangan membicarakannya. Apalagi bermimpi mendapatkannya dengan pikiran kotormu!" Ezra mendorong lelaki yang tadi berbicara seenaknya tentang Keysa, yang tak lain juga si pemilik ponsel, lalu memberikan ponsel itu dengan kasar ke depan dada lelaki itu.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Keysa kebetulan sedang berjalan masuk ke kelas dan mendengar semua yang diucapkan Ezra. Jangan tanya bagaimana perasaan Keysa. Ia terasa sedang terbang ke langit ke tujuh begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ezra. Ia tidak menyangka lelaki populer di kampus menganggapnya sebagai idola, bahkan membelanya.
"Ingat tidak boleh ada yang bicara sembarangan tentangnya! Atau kalian akan berurusan denganku!" ancam Ezra yang membuat semua lelaki di sana langsung bungkam. Ezra sendiri langsung pergi meninggalkan kelas.
Keysa tersenyum saat Ezra berjalan mendekatinya. Ia pun menyapa lelaki yang sudah menjadi fans pertamanya itu. "Hai, Ez ...." sapa Keysa sambil mengangkat sebelah tangan.
Namun sayang, Ezra terus berjalan keluar tanpa melihat keberadaan Keysa. Membuat gadis itu tersenyum kaku dan menurunkan tangannya secara perlahan dengan mata yang terus mengekori langkah Ezra sampai lelaki jangkung itu tidak terlihat lagi.
'Ish, Key, kamu ini apa-apaan? Ezra itu menyukai Keysa yang cantik bukan Keysa cupu. Pede banget kamu ini, so-soan menyapanya,' rutuk Keysa dalam hati, saat melihat Ezra yang sama sekali tidak memedulikan keberadaannya. Akan tetapi, mengingat Ezra yang mengidolakannya tak ayal membuat Keysa senyum-senyum sendiri.
Sikap Keysa pun tidak luput dari perhatian Devano. Ia lantas menghampiri gadis yang sedang senyum-senyum sendiri itu. Ia yang sudah berdiri di samping Keysa, langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Keysa. "Apa kau menyukai Ezra?" bisik Devano dengan nada mengejek.
"Apa sih," bisikan Devano tepat di telinga kanan Keysa, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia lantas berjalan menuju bangkunya, tanpa menjawab pertanyaan Devano.
Keysa tidak menggubris ucapan Devano. Di dalam hati ia mencoba menelaah ucapan Ezra dan Devano. Keysa memang belum suka dengan Ezra, tetapi kalau lelaki itu meminta menjadi pacarnya tentu saja Keysa tidak akan menolak. Hanya wanita bodoh yang menolak lelaki setampan dan sebaik Ezra. Dan, pastinya akan sangat beruntung jika ada wanita yang dipilih Ezra sebagai kekasihnya. Mungkinkah, Keysa akan menjadi orang yang beruntung itu? Pertanyaan itu menggelitik hati gadis yang sudah berpindah tempat dan duduk di bangkunya.
Membayangkan dirinya menjadi orang yang beruntung menjadi kekasih Ezra, membuat senyum Keysa terus mengembang di wajah berkacamata itu. Bahkan, ia sampai tidak menyadari kalau Devano masih mengikutinya dan duduk di sebelah.
Devano sendiri yang merasa pertanyaannya diabaikan tidak bisa menutupi kekesalannya. "Heh, Jelek! Kalau orang nanya dijawab. Jangan malah senyum-senyum sendiri kayak orang gila!" seru Devano sambil menggebrak meja di hadapan Keysa. Ia tidak senang diabaikan, apalagi hanya oleh seorang gadis jelek.
Keysa yang masih sibuk dengan dunianya pun terkesiap oleh ulah Devano. Bahkan, kursi yang didudukinya hampir terjengkang karena kaget. "Apa sih, Dev? Ganggu orang saja." Keysa menatap jengah Devano.
"Aku hanya membangunkanmu dari mimpi yang tidak mungkin kesampaian yang ujung-ujungnya malah akan menjerumuskanmu sebagai penghuni baru rumah sakit jiwa," tandas Devano tanpa rasa bersalah telah membuat Keysa terkejut.
__ADS_1
"Kalau ngomong jangan ngaco! Aku tidak sedang bermimpi."
"Itu bukan ngaco tapi kenyataan," keukeuh Devano.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang aku sampai kamu seyakin itu?" Keysa yang sedang mengeluarkan buku pelajarannya, menyipitkan kedua matanya, menatap Devano.
"Kau sedang bermimpi menjadi kekasih Ezra sampai-sampai kau senyum-senyum sendiri, enggak jelas. Asal kau tahu, selera Ezra sangatlah tinggi. Gadis yang sedang jadi primadona saat ini adalah tipe gadis yang disukai Ezra. Sedangkan kau?" Devano menatap penampilan Keysa dari atas sampai bawah, rambut dicepol, wajah sawo busuk dengan kacamata tebal yang setia bertengger di depan mata serta baju yang asal pakai tanpa memperhatikan modis atau tidak, sungguh jauh dari kriteria gadis idaman Ezra. Membuat kepala Devano menggeleng-geleng dengan senyum mengejek yang tertampil di wajahnya.
"Sedangkan kau apa?" tanya Keysa, balas menatap Devano.
'Kau tidak tahu saja kalau yang kalian bicarakan itu adalah aku. Jangankan Ezra, kamu saja pasti akan klepek-klepek padaku kalau tahu yang sebenarnya,' ucapnya dalam hati.
"Sedangkan kau apa, hah?" Keysa mengulangi pertanyaannya lagi dengan mata yang masih menatap tajam Devano.
"Kau jelek. Jangankan Ezra, lelaki paling jelek di kampus pun pasti mikir dua kali untuk menjadi pacar gadis jelek dan urakan sepertimu. Aku yakin sampai ubanan pun kau tidak akan laku. Sungguh jauh berbeda dengan gadis cantik yang sedang jadi trending topik saat ini." Senyum Devano tersungging begitu mengingat pertemuan pertama dengan gadis cantik yang jadi perbincangan orang-orang. Tanpa disadari, sesungguhnya ia sedang menghina dan memuji orang yang sama dalam satu waktu sekaligus.
"Devano!!!" teriak Keysa, tidak terima dengan ucapan lelaki itu yang menyebutnya tidak akan laku.
Pertengkaran pun kembali membumbui pertemuan keduanya. Mereka saling mengejek satu sama lain. Adu mulut dari mereka tidak dapat dihindarkan, keduanya saling melempar kata-kata pedas.
Note: Happy reading Kakak readers semua. Maaf, baru bisa update 🙏. Mau sedikit klarifikasi, mungkin diantara kakak ada yang berpendapat novel ini sama dengan novel sebelah, bahkan ada yang ngira novel ini plagiat. Novel ini merupakan Misi Kepenulisan yang diselenggarakan NT, jadi pasti ada beberapa novel yang juga memiliki alur yang sama karena kerangka cerita diberikan langsung oleh platform dan kami sebagai author bertugas untuk mengembangkannya menjadi naskah utuh. Dan karena cerita ini merupakan Misi Kepenulisan, jadi saya menunggu hasil seleksi dulu, tidak bisa langsung update rutin. Setelah menunggu dua minggu lebih, alhamdulilah Devano dan Keysa lolos seleksi, jadi ceritanya bisa dilanjutkan. Namun, saya tidak janji update setiap hari karena menunggu kerangka yang diberikan langsung dari editor, tapi insyallah kalau kerangka udah turun saya langsung up. Love you full untuk kalian semua. 🥰🥰🥰🥰😍
__ADS_1