
Selepas kepergian Keysa, Devano juga meninggalkan kelas dengan langkah gontai. Alea yang melihat Devano pergi dengan wajah murung pun merasa sedikit khawatir dan memilih tuk mengikutinya. Dengan seringai lebar menghiasi wajahnya, Alea mengejar Devano. Ia mengira Devano akan melupakan Keysa karena gadis itu sudah dijodohkan dan memiliki calon suami.
Begitupun dengan Keysa, ia beberapa kali menoleh ke belakang, mengingat wajah Devano yang terlihat muram setelah mendengar bahwa dirinya yang sudah dijodohkan dengan lelaki yang sedang menggenggam tangannya itu. Keysa mengkhawatirkan perasaan Devano dan tak enak hati dengan sikapnya yang sudah keterlaluan. Ia pun menghentikan langkahnya dan berniat untuk kembali ke kelas.
"Tidak. Untuk apa kembali? Dia lelaki brengsek yang hanya berniat mempermainkanku. Untuk apa aku peduli lagi padanya? Dia pantas mendapatkan itu." Namun, dengan cepat Keysa membujuk dirinya sendiri untuk tidak terpengaruh oleh kemurungan Devano dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Devano itu brengsek.
"Kenapa malah berhenti?" tanya Fero, saat tangan yang dipegangnya tiba-tiba mematung.
"Tidak." Keysa menggeleng, lantas menatap tangan yang masih digenggam Fero. "Sudah tidak ada Devano, sebaiknya tidak perlu lagi ...." lanjut Keysa, tanpa menyelesaikan ucapannya.
Fero yang tahu maksud Keysa pun lantas melepaskan genggamannya. "Maaf."
Keysa mengangguk pelan. Kemudian, mereka berjalan berdampingan tanpa saling menggenggam. Keysa yang tidak tahu menahu soal perjodohan, lantas mengajak lelaki yang baru dikenalnya itu untuk bicara di taman kampus.
"Tentang yang kamu bicarakan tadi apa itu benar?" tanya Keysa, setelah keduanya duduk di bangku panjang.
"Ya. Itu benar." Fero mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Tapi, jika kamu tidak tertarik padaku, tidak apa. Kita bisa batalkan perjodohan itu," tandas Feros, seraya melirik sekilas ke arah Keysa lalu membuang muka kembali. 'Lebih tepatnya lagi aku yang tidak tertarik padamu,' lanjut Fero dalam hati.
Keysa hanya manggut-manggut. Tidak tahu harus menjawab apa, tiba-tiba saja ada yang mengaku-ngaku menjadi jodohnya di saat hubungannya dengan Devano mungkin tidak bisa terselamatkan lagi.
Melihat Keysa tidak menjawab, Fero kemudian mengajak Keysa untuk segera menemui ibunya. Mereka pun meninggalkan area kampus menuju tempat tinggal Susi.
***
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Fero berhenti di sebuah Villa. Lelaki itu lantas mengajak Keysa keluar dari mobil. Keysa mengedarkan matanya melihat villa milik ibu Fero. Dari luar saja villa yang tidak terlalu besar itu sudah terlihat mewah dengan dekorasi modern.
Tanpa basa-basi Fero langsung mengajak Keysa masuk. Lelaki itu membawa Keysa menemui Susi yang sedang terbaring lemah di kasur.
"Pagi, Miss!" Keysa membungkuk memberi hormat kepada wanita yang terlihat pucat dengan selimut yang menutupi tubuh sampai ke dada. "Anak Miss bilang, Miss sedang sakit. Semoga lekas sembuh," lanjut Keysa, saat Susi tidak menggubris sapaannya.
Susi masih memerhatikan Keysa. Ia tidak yakin kalau gadis di ruangannya itu adalah anak sahabatnya.
'Apa aku datang ke sini hanya untuk dikuliti seperti ini?' rutuk Keysa dalam hati, karena suasana di dalam kamar itu terasa sedang mengintimidasinya.
Keysa mencoba tersenyum, lalu berjalan mendekat. Ia mencoba mencairkan suasana. Keysa mencoba menghiburkan Susi yang sakit setelah mendengar kabar kematian ibu Keysa. Seperti itulah yang didengar Keysa dari Fero.
"Apa kamu benar-benar anak Sarah? Apa buktinya jika kamu benar-benar anak sahabatku?" Meskipun mendengarkan cerita Keysa yang sedang menghiburnya itu, tetapi Susi masih tidak yakin kalau Keysa adalah anak sahabatnya karena terlalu jelek jika harus menyandang anak dari Sarah dan Abian.
Fero yang mendengar ucapan Keysa langsung menunjuk pintu yang ada di dalam kamar. Keysa pun lantas berdiri lalu pergi ke tempat yang ditunjuk Fero.
Beberapa menit kemudian, Keysa keluar dari kamar mandi. Fero dan Susi dibuat terpana oleh gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. Pakaiannya masih sama dengan yang dikenakan Keysa, tetapi wajahnya berubah 180⁰. Ia pergi ke kamar mandi untuk menghapus riasannya dan saat keluar, Fero dibuat terpesona oleh Keysa.
"Kau benar-benar mirip Sarah," tandas Susi dengan seulas senyum yang tertampil di wajah, kemudian bangun dan memeluk gadis yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Tapi, kenapa kamu mengubah wajahmu?" Fero yang penasaran langsung menanyakan alasan Keysa menyamar selama ini.
Keysa pun menjelaskan alasan Keysa mengubah dirinya, hingga perintah sang kakek yang tidak boleh membuka jati dirinya sampai Keysa mendapatkan seseorang yang tidak memandang dari wajah dan harta.
__ADS_1
Wajah Fero seketika berubah lesu. Ia menyesal telah memandang Keysa dari segi penampilan. Ia sempat ilfill saat mengetahui orang yang dijodohkan dengannya berpenampilan cupu.
"Maaf, aku telah salah menilaimu!" ucap Fero penuh sesal. "Oh, ya, coba kamu lihat ponselmu!" tandas Fero lagi.
"Untuk apa?" Keysa tidak mengerti dengan Fero yang tiba-tiba menyuruhnya membuka ponsel.
Fero yang kuliah mengambil jurusan psikologi sempat melihat kode dari Devano untuk Keysa. Ia pun langsung menjelaskan tentang petunjuk yang ditangkapnya dari tingkah kekasih Keysa tadi.
"Apa itu iya?" gumam Keysa, merasa tidak percaya dengan penjelasan Fero. Namun, Keysa dengan cepat mengambil ponselnya di dalam tas.
"Coba lihat saja," ujar Fero.
Keysa mengangguk, lantas membuka ponsel. Hingga akhirnya gadis itu mendesah pelan. Benar saja, sebuah pesan dikirim Devano sesaat sebelum dirinya masuk kelas. Dari pesan yang diterimanya, Keysa mengetahui kalau Devano sedang berakting.
"Kenapa aku tidak membuka ponsel dari tadi? Kenapa pula dia tidak memberitahuku sejak awal?" rutuk Keysa.
"Apa yang telah aku lakukan tadi?" Keysa menyesal telah menyiram air kepada lelaki itu. Ia khawatir kalau Devano jatuh sakit akibat ulahnya. Ia juga takut Devano akan salah paham dengan pengakuan Fero.
"Kamu tenang saja. Aku akan bantu menjelaskan padanya," tukas Fero.
"Apa mungkin penyakitnya bisa kambuh karena kejadian tadi?" Tiba-tiba Keysa teringat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya merinding campur takut.
"Itu mungkin saja terjadi."
__ADS_1