
70
Devano, Ezra dan Disti langsung bergegas ke lantai dua. Sesampai di sana, Devano dikejutkan dengan apa yang dilihatnya saat menyadari pria yang disebut Disti adalah Exel.
"Apa yang dilakukan Exel dan Keysa di sini?" ujar Devano dengan wajah yang sudah berubah masam.
Belum sempat Disti menjawab, Disti dan Ezra dikejutkan oleh Exel yang menyatakan perasaannya kepada Keysa. Lalu, keadaan Devano? Tidak perlu ditanya, lelaki itu sudah kebakaran. Seluruh tubuhnya terasa sangat panas dengan wajah yang sudah merah padam begitu menerima kenyataan kalau Keysa dan Exel sedang berkencan.
Dengan kekesalan yang sudah membumbung tinggi, Devano pun menghampiri mereka lantas melepaskan tangan yang menggenggam mesra tangan Keysa.
"Apa-apaan ini? Lepaskan tanganmu!" sarkas Devano dengan mata elangnya yang menatap tajam Exel.
Exel sedikit terkejut dengan kedatangan Devano yang tiba-tiba. Namun, dengan cepat ia mengembalikan suasana hatinya dan malah berbohong kalau mereka sudah berpacaran. "Kenapa aku harus melepaskan tangannya? Aku dan Keysa sudah berpacaran, jadi aku berhak menggenggam tangan pacarku sendiri," jawab Exel, dengan tangan yang hendak meraih tangan Keysa kembali, tetapi langsung ditepis oleh Devano. Dan, dengan cepat pula Keysa menyangkal ucapan Exel.
Devano sendiri masih menatap tajam Exel, lalu beralih menatap gadis di sampingnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan sangat dingin.
Melihat Devano yang sudah diselimuti kemarahan, Keysa pun menceritakan keseluruhannya dari mulai Exel datang ke kampus dan mengajaknya ke tempat itu sampai mereka semua berada di sana, tidak ada yang terlewat.
"Apa maksudmu membohongiku, hah?" Devano menarik kerah baju Exel dengan tatapan yang menyala oleh bara kemarahan.
"Menurutmu untuk apa?" Exel tersenyum licik dan menatap balik Devano.
"Aku sudah memperingatkanmu! Jangan pernah kau ganggu Keysa hanya untuk membalas dendam denganku karena itu tidak akan berhasil," ucap Devano lagi dengan begitu geram.
"Aku tidak mendekatinya untuk balas dendam padamu. Aku mendekatinya karena aku menyukainya," tandas Exel yang semakin membuat amarah Devano semakin menjadi.
Pertengkaran dari mereka pun tidak dapat dielakkan, bahkan Devano sampai mengancam Exel dan menghadiahinya sebuah bogem mentah. Tidak ingin terjadi keributan yang lebih besar, Ezra langsung menahan Devano yabg hendak memberikan pukulan kedua. Sementara itu, Keysa mengira amarah Devano disebabkan oleh keposesifan lelaki itu kepadanya, karena ia jalan bersama lelaki yang menjadi musuh Devano saja, pun langsung melerai Devano.
"Hentikan, Dev! Kau bisa memb*nuhnya," ucap Keysa sembari menghampiri Exel yang terhuyung ke belakang oleh pukul Devano.
__ADS_1
"Kau malah membelanya?" tanya Devano sambil menunjuk Exel. Ia semakin meradang, mendapati Keysa malah menolong Exel.
"Aku tidak membela siapa pun, tapi perbuatanmu salah," sanggah Keysa. "Pergilah jangan berbuat keributan di sini," lanjut Keysa malah meminta lelaki itu pergi.
"Kau tahu aku melakukan ini karena aku—"
Exel yang tidak terima dengan perbuatan Devano, ia pun langsung memotong ucapan Devano, lalu mengusir Devano dan Ezra. "Bawa temanmu pergi dari sini, sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk mengusir kalian!" ucap Exel sambil mengelap sudut bibirnya yang terasa perih.
"Sebaiknya kita pergi dari sini. Tidak enak dilihat banyak orang." Ezra mencoba meredam amarah Devano.
Devano melihat ke sekitar, benar saja semua orang sedang menonton pertengkaran mereka. Ia menatap tajam ke arah Exel, beralih ke Keysa, lalu mengempaskan tangan Ezra yang masih memegangi bahunya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Di pintu restoran, Devano kembali menoleh ke belakang. Ia menatap Keysa yang sedang membantu Exel dan sama sekali tidak mengejar atau menghentikan kepergiannya. "Kenapa kau tidak pernah menyadarinya? Aku cemburu setiap melihatmu bersama lelaki lain. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan lelaki lain ? Aku telah jatuh cinta padamu. Kenapa kau tidak menyadari itu, Key?" gumamnya dalam hati sambil memandang gadis yang malah kembali duduk, lalu pergi.
"Aaa ...." teriak Devano di depan restoran sembari menendang kaleng bekas minuman, meluapkan amarah yang masih memenuhi dada. "Bagaimana caranya supaya kamu menyadari perasaanku?" gumam Devano. Ia tidak pandai untuk menyatakan cinta kepada seorang wanita karena selama ini ia tidak pernah melakukan hal seperti itu—para gadis lah yang selalu memulainya terlebih dahulu, dan itu berhasil membuat Devano frustrasi dengan perasaannya sendiri.
Sejurus kemudian hujan turun, mengguyur seluruh tubuh Devano yang sedang dipenuhi kobaran api cemburu. Di saat semua orang berlarian mencari tempat teduh, Devano malah membiarkan tubuhnya diguyur oleh hujan yang cukup deras itu dengan mata yang memandang ke arah lantai dua restoran—berharap gadis yang sedang duduk di dekat kaca itu melihat ke arahnya dan mengejarnya. Namun, sampai cukup lama Devano mendongak ke sana, tidak sekali pun Keysa meliriknya. Membuat lelaki itu menunduk lesu.
Di dalam restoran, Keysa yang menyadari hujan turun semakin lebat pun langsung ingin cepat-cepat pulang.
"Hujannya semakin deras. Sabaiknya kita pulang saja, sebelum ada badai," ajak Keysa yang dijawab anggukan oleh Disti.
"Aku akan mengantarmu." Exel ingin mengantarkan Keysa ke asrama, tetapi dengan cepat ditolak Keysa.
"Aku masih berharap kamu mau mempertimbangkan tentang perasaanku dan mau berkencan denganku," lanjutnya.
Keysa tidak menjawab dan bergegas pergi.
Exel sendiri hanya bisa membuang napas kasar saat menyadari ucapannya diabaikan Keysa, lalu ikut pergi—mengantar Keysa dan Disti ke bawah.
__ADS_1
Sesampai di bawah, Keysa melihat Devano yang sedang berdiri di bawah guyuran hujan, membuat Keysa langsung menghampiri lelaki itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Keysa.
Devano lantas mendongak saat melihat seseorang ada di hadapannya dan berbicara padanya.
"Aku sedang menunggumu,"
"Dasar Bodoh! Apakah harus dengan hujan-hujanan seperti ini?" bentak Keysa.
"Kenapa kau lebih memedulikannya ketimbang aku? Apakah dia sangat berharga untukmu? Sampai kau mengusirku dari sana?" tanya Devano. "Aku terluka dengan sikapmu padaku," lanjutnya.
Mendengar ucapan Devano, membuat Keysa tidak enak hati dan melunak. "Maafkan aku."
Di waktu bersamaan, Ezra menghampiri Devano dan memberikan payung kepada lelaki itu yang didapatnya entah dari mana.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Keysa lagi.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Devano sambil memayungi Keysa tanpa menjawab permintaan maaf gadis itu.
Keysa yang tidak ingin Devano semakin marah pun hanya mengangguk. Devano memayungi Keysa dan berjalan bersama menuju mobil. Diikuti oleh Disti dan Ezra yang juga memegang payung masing-masing.
Di dalam hati Disti tidak mengerti,Keysa itu terlihat biasa-biasa saja, tetapi banyak orang yang menyukainya.
"Keysa datang bersamaku dan ia akan pulang juga bersamaku." Setiba di mobil, Exel langsung mencegat Devano yang hendak membukakan pintu mobil untuk Keysa. "Key, kamu pulang bersamaku, ya!" ajak Exel kepada Keysa.
"Dia akan pulang bersamaku," jawab Devano dengan tegas. "Bukan begitu, Key?" tanyanya juga kepada Keysa.
Tanpa sadar, Keysa pun mengiakan ucapan Devano, lalu masuk ke mobil yang sudah dibuka oleh Devano. Ezra dan Disti pun masuk ke kursi belakang, kemudian Devano mengendarai mobilnya meninggalkan restoran.
__ADS_1
Sementara itu, Exel menatap kepergian mereka dengan hati yang semakin membenci Devano.
Liburnya kemarin udah aku ganti dengan cruzy up, ya! 🤭🤭 Buat yang nunggu Bang Andre, insyaallah besok up, ya! Happy reading ....