Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
229


__ADS_3

"Apa terjadi sesuatu? Kenapa menangis?"


Keysa menghampiri Disti yang sedang bergelung dengan selimut dengan tubuh bergetar.


Mendengar ucapan Keysa, Disti langsung mengusap air matanya serta tangan satu lagi membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak terdengar, lantas menarik napas dalam-dalam. Setelah sedikit tenang, Disti menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh lantas membalikkan tubuh menghadap ke arah Keysa.


"Aku tidak apa-apa," jawab Disti, dengan seulas senyum yang dipaksakan.


"Apa benar tidak apa-apa?" Keysa mencoba memastikan agi dan dijawab anggukan Disti. "Syukurlah kalau tidak apa-apa, mungkin karena pikiranku kacau jadi berpikiran yang tidak-tidak." Keysa bernapas lega.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Disti, seolah-olah belum mengetahui apapun.


Keysa mengangkat bahu seraya menarik napas dengan kasar, kemudian mengangguk pelan. Keysa lantas menceritakan kejadian yang menimpa Devano beberapa hari ke belakang. Disti pun mencoba menghibur Keysa, meski dalam hati ia juga menangis dan tak tahu harus berbuat apa. Kasihan, takut, juga rasa bersalah menghinggapi perasaan Disti melihat keadaan sahabatnya yang tampak rapuh ketika menceritakan tentang Devano.


"Meskipun mustahil aku yakin Dev-ku masih hidup dan dia akan kembali kepadaku."


Akhirnya, Disti tidak bisa lagi mengontrol diri saat Keysa menceritakan tentang Devano yang jatuh ke jurang. Disti menangis tersedu-sedu tanpa berani memandang Keysa. Tangisan Disti semakin tidak bisa terbendungkan ketika mendengar harapan Keysa yang sangat mustahil terjadi. Dari cerita Exel, Devano loncat dari ketinggian yang sangat mustahil bisa selamat.


"Hei, kenapa malah nangis? Seharusnya aku yang nangis, lho." Meskipun rapuh, Keysa berusaha untuk tidak lagi meneteskan air mata. Ia yakin kalau Devano masih hidup dan dirinya tidak akan membuang air matanya dengan sia-sia.


Disti tidak menjawab. Tubuhnya bergetar hebat dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


"Ada apa?" Keysa yang melihat kondisi Disti malah menaruh curiga dan menyadari telah terjadi sesuatu dengan Disti.


Bukannya menjawab, tangis Disti malah semakin menjadi, membuat Keysa semakin yakin telah terjadi sesuatu dengan Disti. Tidak ingin mati penasaran, ia pun memaksa Disti untuk menceritakan semuanya.


"Key ...." Disti mengangkat kepala, menatap Keysa yang sedang menatap tajam ke arahnya, meminta penjelasan. Ada keraguan di diri Disti untuk menceritakan semuanya.


"Ya. Aku mendengarkan." Keysa menjawab dengan mata yang terus mengintimidasi Disti, hingga gadis itu kembali menunduk.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa dilakukan Disti lagi, selain jujur. Tatapan Keysa penuh intimidasi itu sangat menakutkan.


"Sebenarnya ... sebenarnya ...." Disti ingin mengatakan semuanya, tetapi ucapannya terasa tersekat di tenggorokan dan sangat sulit untuk keluar.


"Sebenarnya?" tanya Keysa. Ia sudah tidak sabar dengan ucapan Disti yang mentok di kata itu dan tidak dilanjutkan. "Sebenarnya apa?"


Disti menarik napas panjang dan mengeluarkanya secara perlahan dari mulut. Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan semua yang telah terjadi. Seraya memainkan kuku-kukunya, Disti kembali menatap Keysa. Namun, sejurus kemudian menunduk lagi sambil berkata, "Sebenarnya, aku hamil anak Exel," ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Apa?" Keysa dibuat terkejut oleh ucapan yang keluar dari mulut Disti. "Bagaimana bisa? Aku pikir hubungan kalian tidak sejauh itu?" Keysa terlalu syok mendengar pernyataan Disti membuat kepalanya terasa berputar. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini.


Disti menceritakan saat kejadian di pesta ketika Keysa diberi obat. "Waktu itu aku takut ketahuan telah memindahkamu ke kamar lain. Hingga tanpa pikir panjang, aku menggantikanmu di kamar itu dan Exel melakukan semuanya."


"Kenapa kamu melakukan itu?" Keysa memijat pelipisnya, kepalanya terasa semakin sakit dan berputar-putar karena penjelasan Disti. Secara tidak langsung semua yang terjadi kepada Disti itu juga karena dirinya. Sahabatnya berusaha melindunginya hingga harus menjerumuskan diri sendiri.


"Aku tahu kamu tidak mencintai Exel. Aku juga tidak bisa berpikir jernih saat itu," ungkap Disti dengan suara terbata-bata karena tangis.


"Aku tidak kepikiran ke sana," elak Disti lagi.


Hening. Tidak ada percakapan lagi diantara dua sahabat itu. Keysa masih mencoba mencerna semua yang telah terjadi. Ini benar-benar membuatnya syok. Exel sudah membuat Devano hilang dengan usaha Devano yang juga hancur, ia ingin sekali membalas dendam atas semua yang terjadi kepada sang kekasih. Namun, di sisi lain, sahabatnya sedang mengandung anak Exel, dan itu terjadi karena menolongnya. Jika Keysa menghancurkan Exel, itu berarti ia juga menghancurkan Disti.


"Key ... Sekarang Exel sudah ditangkap dan dibawa oleh Zack dan yang lainnya," jelas Disti lagi.


"Kalau boleh, aku ingin bertemu dengan Exel untuk terakhir kalinya." Disti ingin meminta Keysa untuk melepaskan Exel, tetapi ia juga tahu Keysa juga sedang dalam masa berkabung karena hilangnya Devano. Disti tidak sanggup untuk meminta hal yang pasti akan semakin menyakiti sang sahabat.


Keysa memijat pelipisnya semakin kuat ketika mendengar permintaan Disti. Ia tahu betul kalau Zack tidak akan pernah melepaskan Exel. "Kepalaku rasanya mau pecah," gumamnya, pelan.


"Untuk apa kau menemuinya. Dia lelaki jahat. Dia tidak pantas menjadi lelakimu." Keysa menolak permintaan Disti.


"Aku mohon izinkan aku untuk menemui Exel untuk terakhir kalinya. Aku ingin menemuinya sebentar untuk memberitahu kabar tentang kehamilan ini. Bagaimanapun anak ini adalah anak Exel, dan ia harus tahu," pinta Disti dengan memelas. "Aku mohon, Key!" Disti meraih tangan Keysa dan terus memohon dengan air mata yang terus berlinang.

__ADS_1


Keysa menatap sahabatnya yang sudah terlihat sangat frustrasi. Meskipun saat ini, ia sangat membenci Exel, tetapi melihat Disti yang terus memohon membuatnya luluh. "Baiklah." Keysa mengangguk, kemudian menghubungi Zack dan meminta lelaki itu untuk tidak menghabisi Exel.


Zack yang mendapat perintah dari Keysa sempat protes dan menolak permintaan Keysa, tetapi akhirnya mengikuti kemauan cucu Kakek Surya itu. Semua Keysa lakukan hanya demi mempertemukan Disti dan Exel untuk terakhir kalinya. setelah itu, ia akan menyerahkan kembali Exel kepada Zack dan teman-temannya.


Setelah melakukan panggilan dengan Zack, Keysa membawa Disti ke tempat yang disebutkan Zack.


"Oh, My God!"


Disti membekap mulutnya sendiri dengan mata yang membelalak sempurna. Air mata kembali luruh begitu saja saat menyaksikan Exel sudah sekarat.


"Exel ...." Disti menghampiri lelaki yang sedang berdiri dengan tangan diikat menggantung di tiang. "Exel, kenapa bisa jadi seperti ini?" Ia menangkup wajah Exel yang sudah dipenuhi luka.


"Kenapa kamu harus berbuat senekat itu?" lanjut dengan air mata terus mengalir. Hatinya sakit melihat orang yang dicintainya terluka parah, bahkan bisa dibilang sekarat. "lihatlah keadaanmu sekarang!"


"Maafkan aku," gumam Exel, pelan.


"Apa kamu tidak memikirkan akibatnya sebelum melakukan semua itu? Apa kamu tidak sedikit pun memikirkanku juga calon anak kita?" ucap Disti lagi dengan tergugu.


"Apa maksudmu anak kita?" Exel tidak mengerti dengan ucapan terakhir Disti.


Tangis Disti semakin menjadi. "Aku sedang mengandung. Aku hamil anakmu," ucapnya, penuh keputusasaan.


Bagaikan tersambar petir di tengah teriknya matahari, begitulah perasaan Exel saat ini. "Ha-hamil?"


"Iya. Aku hamil. Ada anakmu di dalam perutku." Disti memegang perutnya yang masih rata.


Exel terdiam. Ia sangat menderita. Berita yang dibawa Disti sangat membahagiakan, tetapi dengan keadaannya yang seperti ini, Exel yakin tidak memiliki masa depan lagi bahkan nyawanya pun sudah berada di ujung tanduk.


"Maaf telah membuatmu susah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gugurkan saja kandunganmu, dan lanjutkan hidupm! Hiduplah dengan lebih baik! Dan, carilah pasangan yang baik jangan orang bejat macam diriku."

__ADS_1


__ADS_2