
42
Semua mahasiswa terdiam begitu mendengar alasan lelaki berkacamata itu, begitu pun dengan Miss Susi. Ia tampak terkejut dan tidak tak menyangka ternyata masih ada yang bisa menekan Devano selain dirinya dan dekan. Sementara itu di bangku tengah, tampak dua orang yang menjadi alasan Miss Susi terkejut sedang sibuk dengan dunia mereka.
Pada awalnya Keysa yang tidak enak hati dan sama terkejutnya dengan ucapan lelaki berkacamata tentang dirinya dan Devano pun menoleh ke bangku samping. Dilihatnya, wajah Devano lagi-lagi berubah kelam, atmosfer kegelapan kembali memenuhi wajah yang sedang menatap punggung lelaki lain yang berada di bangku paling depan. Lalu, Keysa menodongkan tubuhnya ke samping dan menusuk pelan lengan Devano agar lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi sipen, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan ucapan lelaki itu. Aku akan dengan senang hati memberikan seluruh suara yang kudapat untukmu," ucap Keysa setengah berbisik.
"Maksudmu?" Devano menyipitkan sebelah matanya.
"Aku akan mendukungmu menjadi sipen. Jadi, tidak perlu marah, ya! Ucapan lelaki itu anggap aja kentut lewat," ucap Keysa sembari memamerkan rentetan gigi putih miliknya yang tampak begitu bersinar di bibir tipisnya yang sangat manis.
"Memang siapa yang mau jadi sipen?" tanya Devano lagi.
"Kamu."
Begitu mendengar jawaban Keysa, Devano langsung menjitak kening Keysa. "Dasar sok tahu. Aku tidak tertarik jadi sipen. Kau saja sana!"
"Aku juga tidak mau," tandas Keysa sambil membenarkan kembali posisi duduknya.
"Ya, aku juga tidak mau."
Sementara itu di depan, Miss Susi melanjutkan pembicaraannya. Ia menjelaskan jika ketua kelas yang dipilih saat ini akan memiliki kesempatan untuk menjadi ketua senat.
"Dikarenakan setiap ketua kelas akan memiliki kesempatan untuk menjadi ketua senat. Menurut Miss, sepertinya harus Devano yang menjadi ketua kelas. Devano cukup mumpuni dan memenuhi kriteria untuk dicalonkan menjadi ketua senat," papar Miss Susi. "Bagaimana menurut kalian, terutama dua kandidat teratas? Devano, Keysa bagaimana menurut kalian berdua?" lanjut Miss Susi.
'Hah, ketua senat?' pekik Devano dan Keysa secara bersamaan di dalam hati masing-masing dengan wajah yang berbinar.
Keysa dan Devano yang awalnya enggan untuk menjadi ketua kelas, setelah mereka tahu ketua kelas bisa menjadi ketua senat, keduanya pun langsung berebut.
"Aku siap menjadi sipen, Miss," jawab Devano.
__ADS_1
"Aku juga siap menjadi sipen, Miss." Keysa juga ikut-ikutan menyanggupi menjadi ketua kelas.
"Eh, tadi Miss Susi bilang aku yang pantas jadi sipen karena sesuai kriteria," tandas Devano.
"Tapi aku juga memiliki suara terbanyak. Jadi aku juga pantas jadi sipen."
"Tapi, tadi bukannya kau bilang, kau akan memberikan seluruh suaramu kepadaku?"
"Enggak jadi."
Keduanya saling berebut, tanpa ada satu pun dari mereka yang mau mengalah karena masing-masing memiliki alasan yang tidak ingin mereka katakan. Devano ingin menjadi ketua senat karena disuruh oleh ayahnya yang dulu gagal menjadi ketua senat. Sementara Keysa ingin menjadi ketua senat karena dulu ayahnya juga seorang ketua senat, dan Keysa ingin menjalani jalan yang pernah ditempuh sang ayah.
Tingkah keduanya tak ayal membuat Miss Susi dan mahasiswa lain pusing. Akhirnya, Miss Susi pun menyuruh satu menjadi ketua kelas dan satu lagi menjadi wakilnya.
"Sudah, sudah." Miss Susi melerai keduanya, "Kalian berdua tidak perlu berebut seperti itu. Kalian berdua bisa berkesempatan untuk mencalonkan diri menjadi ketua senat dengan cara yang satu menjadi ketua kelas dan satu lagi menjadi wakilnya."
Mendengar hal itu, membuat Keysa dan Devano terdiam dan bernapas lega. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Mereka kemudian saling mendorong untuk menjadi ketua kelas, sedangkan diri mereka sendiri ingin menjadi wakilnya.
"Devano akan menjadi ketua kelas, Miss. Sementara aku akan menjadi wakilnya saja," ucap Keysa.
"Aku wakilnya!"
"Aku wakilnya dan kau ketuanya." Keduanya kembali saling berebut posisi wakil ketua kelas.
"Diam!!!" teriakan Miss Susi menggema di ruangan. Ia dibuat kesal oleh tingkah keduanya yang sekarang malah tidak mau menjadi ketua kelas. "Satu lagi yang perlu kalian tahu, siapa pun yang menjadi ketua kelas akan memiliki poin tambahan dalam pemilihan ketua senat," lanjutnya, berharap salah satu dari mereka ada yang mengalah dan mau menjadi ketua kelas.
Namun, diluar dugaan, bukannya ada yang mau mengalah, mereka berdua lagi dan lagi saling berebut. Dengan jabatan ketua senat yang sekarang menjadi rebutan keduanya dan tidak ada yang mau mengalah.
"Oh my God! Kepala Miss lama-lama bisa pecah oleh ulah kalian. Kalian itu seorang mahasiswa sudah berada di lingkungan universitas, tapi kenapa tingkah kalian seperti anak TK?" cecar Miss Susi yang sudah tidak tahan dengan tingkah Keysa dan Devano.
Sementara itu, para mahasiswa lain hanya bisa menonton drama gratis yang memang mirip drama bocah TK berebut ketua kelas.
__ADS_1
Tiba-tiba Ezra mengangkat tangan dan memberikan usul untuk mengakhiri pertikaian Devano dan Keysa. "Bagaimana kalau mereka suit saja, Miss? Siapa yang menang, dia yang akan menjadi ketua kelas," usul Ezra.
"Setuju!" ucap Keysa dan Devano bersamaan.
"Setuju," ucap mahasiswa lain.
Kelas pun menjadi ramai oleh suara para mahasiswa yang menyetujui usulan Ezra.
Miss Susi akhirnya menerima saran dari Ezra. Devano dan Keysa pun melakukan suit. Dua suit pertama berakhir dengan seri dan di suit ketiga kalinya Keysa memenangkan permainan itu. Dengan itu, secara otomatis ketua kelas diduduki oleh Keysa.
***
Siang hari.
Setelah acara pemilihan ketua kelas selesai, Keysa dan Disti melanjutkan pekerjaan mereka—mengantar makanan.
"Kita kembali ke kelas, yuk!" ajak Keysa kepada Disti saat mereka selesai melakukan bisnisnya.
Keysa yang kecapekan memilih kembali ke kelas diikuti juga oleh Disti. Saat keduanya hendak masuk ke kelas, Keysa melihat dua orang yang tadi memanggilnya kakak ipar juga sedang berjalan ke arah kelas Keysa, membuat gadis itu segera masuk—tidak ingin berpapasan dengan mereka.
Namun, tidak disangka dan tidak diduga, kedua lelaki itu menyusul Keysa. Mereka yang sudah berdiri di ambang pintu pun malah memanggil Keysa 'kakak ipar' dengan lantang saat menyadari tidak ada Devano di sana.
"Ssttt!!!" Keysa menaruh telunjuk di bibirnya. "Kalian itu kalau manggil orang jangan asal manggil saja!" tandas Keysa.
"Kami tidak asal manggil. Itu memang panggilan yang cocok untukmu, Kakak Ipar," ucap salah satu dari mereka. "Kami tidak sembarangan memanggil karena kami punya alasan dan bukti yang kuat," lanjutnya dengan seringai lebar menghiasi wajah.
"Bukti apa?"
"Bukti tentang alasan kami menyebutmu kakak ipar," jawab lelaki yang satu lagi.
"Apa buktinya? Kalian pasti ngada-ngada."
__ADS_1
"Ya, ampun, kenapa kakak ipar tidak mempercayai kami. Padahal, kami memiliki bukti saat kakak ipar memaksa mencium Devano semalam," jelas mereka lagi, dengan senyum penuh arti.
Keysa langsung terdiam mendengar ucapan kedua orang tersebut.