
Anak buah yang dikirim Kakek Surya berasal dari agency bodyguard yang sama, sehingga kekompakan mereka tidak perlu diragukan lagi. Dengan diketuai Reno, Keysa menjalankan misinya. Ia pergi ke rumah utama keluarga Devano yang berada di puncak.
Mobil yang dikendarai Reno berhenti agak jauh dari rumah keluarga Mahardika. Rumah itu dijaga ketat oleh anak buah keluarga Devano, tidak salah jika rumah tersebut yang dijadikan tempat untuk menyembunyikan Alea.
"Setiap sudut rumah ini dijaga ketat oleh anak buah keluarga Mahardika. Apalagi dari depan mereka sudah seperti pagar betis." Reno memaparkan keadaan di rumah itu setelah lebih dulu memantau.
"Terus bagaimana cara kita masuk?" tanya Keysa, yang juga memerhatikan ke arah rumah besar yang pernah didatanginya itu. Keamanannya memang tidak perlu dipertanyakan.
Reno lantas memerintahkan salah satu rekannya untuk turun dan mencari jalan untuk menyusup, sedangkan mereka menunggu informasi di dalam mobil sambil mengawasi keadaan sekitar.
"Jalan belakang aman, Bos!"
Tidak selang berapa lama, melalui earpiece orang yang memeriksa keamanan pun memberi tahu Reno dan Keysa bahwa jalur aman untuk masuk ke rumah besar Mahardika melalui jalan belakang. Reno menoleh ke arah Keysa menanyakan langkah selanjutnya.
"Ok. Kita bergerak sekarang juga," tandas Keysa, kemudian dijawab anggukan tiga anak buahnya itu.
Mereka pun lantas keluar mobil dan berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang dengan mata yang selalu waspada. Keysa berada di tengah, dijaga oleh tiga anak buahnya yang berada di depan dan belakangnya. Keselamatan Keysa bagi mereka tetap nomor satu dari apapun. Penjagaan yang super ketat membuat mereka harus hati-hati dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika ada tempat yang sedikit longgar dari pengamanan.
Di jalur belakang, anak buah yang tadi sudah menunggu Keysa tampak melambaikan tangan saat melihat Keysa dan rekannya berjalan ke arahnya. Setelah berkumpul, mereka berlima pun masuk dengan lancar dan mulus, kemudian berpencar mencari keberadaan Alea. Namun, hal tersebut malah membuat Keysa merasa kalau itu semua tidaklah wajar. Keamanan rumah yang super ketat bisa dilewati begitu mudah. Itu sedikit banyaknya membuat hati Keysa merasa curiga.
__ADS_1
"Ada apa, Nona?" Reno bertanya saat Keysa tiba-tiba berhenti sambil mengamati daerah sekitar.
Keysa terdiam, ia masih mengamati tempat sekitar. Sama sekali tidak ada penjagaan di sana. Penyusupan mereka pum terbilang sangat mudah. Keysa merasa itu semua bukan kebetulan seperti sebuah hal disengaja. "Apa ini tidak terlalu mudah?"
"Maksud Nona bagaimana?"
"Ah, tidak." Keysa menepis prasangka, harusnya ia bahagia karena bisa masuk ke kediaman Devano dengan mudah. "Apa kalian sudah menemukan tempatnya?" tanya Keysa, melalui earpiece yang terhubung dengan ke empat anak buahnya.
Jawaban tiga anak buahnya tidak membuahkan hasil, Keysa lantas menoleh kepada Reno yang selalu setia di sampingnya. "Waktu kita tidak banyak, kita berpencar saja agar lebih cepat menemukan Alea. Kita harus menemukan Alea sebelum keberadaan kita diketahui Devano dan anak buahnya"
Reno menolak, karena tidak mau terjadi apa-apa kepada Nona-nya, tetapi Keysa terus membujuk dan mengatakan dirinya bisa menjaga diri dengan baik. Akhirnya, Reno pun hanya bisa mengikuti kemauan sang majikan meskipun berat meninggalkan Keysa sendirian. Mereka berpencar. Keysa ke timur dan Reno ke barat.
Keysa yang berjalan sendirian, melihat bangunan kecil yang terletak terpisah dari rumah utama. Ia berjalan ke bangunan itu, hingga suara seorang wanita meminta tolong terdengar dari dalam sana.
"Aku akan menyelamatkanmu." Keysa membuka pintu bangunan tersebut, kemudian masuk.
"Alea, Lea!" Ia memanggil nama yang baru saja terdengar meminta tolong. Namun, tidak ada jawaban. Bangunan yang gelap membuat Keysa tidak bisa melihat keadaan di dalam. Ia berjalan sambil meraba dinding mencari saklar lampu. "Lea, kamu di mana?" tanyanya lagi.
Namun, bukan jawaban yang didapat. Pintu tiba-tiba tertutup yang membuat Keysa terkejut. Bertepatan dengan itu, Keysa menemukan saklar lampu. Lampu menyala dan Keysa bisa melihat keadaan di bangunan itu. Tidak ada Alea, hanya ada seorang lelaki yang sedang menatapnya sambil duduk di bangku.
__ADS_1
"De-Dev." Keysa semakin dibuat terkejut melihat kekasihnya ada di depan mata. Ia mundur beberapa langkah hingga mencapai pintu.
"Hmm ...." Lelaki yang sedang bersedekap itu menggoyang-goyangkan kursinya dengan mata yang tak teralihkan. "Kenapa terkejut seperti itu? Apa kamu mencari ini?" Devano lantas memutar suara Alea yang sedang meminta tolong, membuat Keysa terperangah.
Keysa lagi-lagi dibodohi oleh Devano. Seharusnya ia mengindahkan kecurigaan saat kediaman Devano sangat mudah dibobol.
"Kamu telat. Alea sudah tidak ada di sini," lanjut Devano, penuh kemenangan.
'Sial. Kenapa bisa ketahuan, sih?' Keysa merutuki dirinya sendiri. "Reno! Reno, kamu dengar aku?" Keysa mencoba memanggil anak buahnya, tetapi tidak menyahut. Ia juga memanggil anak buah yang lain, tetapi hasilnya masih saja sama.
"Kamu memanggil siapa? Tidak akan ada yang mendengar panggilanku, karena anak buahmu sudah aman bersama anak buahku," tandas Devano dengan seringai yang menghiasi wajahnya.
"Apa maksudmu, Dev?" Keysa semakin dibuat gelagapan.
"Anak buahmu sedang asyik bercengkrama dan dijamu dengan baik oleh anak buahku. Kamu tenang saja, mereka aman dan baik-baik saja."
"Apa kamu menyekap anak buahku?"
"Bagaimana bisa menyekap mereka, sedangkan aku ada di sini bersamamu? Mereka hanya sedang berpesta dengan anak buahku. Tenang saja mereka aman. Mana mungkin aku membahayakan para bodyguard kekasihku sendiri?" tandas Devano, dengan wajah yang begitu tenang berbanding terbalik dengan keadaan Keysa.
__ADS_1
"Ah ... kamu ini memang sangat menyebalkan." Keysa berbalik dan memutar gagang pintu hendak keluar, tetapi pintu tidak bisa dibuka. Pintu dikunci dari luar.
"Kamu mau ke mana?" Devano berdiri, lantas mendekat ke arah Keysa dengan mata yang menatap tajam Keysa, sambil menunggu kesempatan untuk membuat gebrakan yang akan membuat Keysa semakin kelabakan.