Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
178


__ADS_3

Keysa menggerak-gerakkan gagang pintu, berusaha membuka benda pipih yang terbuat dari kayu jati itu, tetapi tidak berhasil. Pintu yang dikunci dari luar, membuat daunnya tidak bergerak sama sekali.


"Kamu mau ke mana?" Devano mendekat ke arah pintu dengan mata menatap tajam Keysa.


"Enggak ke mana-mana." Keysa menggeleng sambil menjauh dari pintu dan berlari ke arah jendela. Namun, sial, jendelanya juga dibuat permanen membuat Keysa terus merutuk dalam hati karena tidak bisa keluar dari bangunan kecil itu dan melarikan diri.


Sementara itu, Devano yang melihat Keysa merutuki diri sendiri terlihat mengangkat bibir atasnya, lantas mendekat pada gadis yang sedang berdiri di depan jendela dengan tatapan yang siap menerkam .


"Mau ke mana, hm?" Devano mendekati Keysa, membuat jarak di antara keduanya sangat dekat. Kedua tangannya mengunci tubuh Keysa agar tidak bisa kabur.


"Mau itu ... mau ...." Keysa yang tubuhnya menempel dengan jendela bingung mau menjawab apa, apa lagi tatapan dan jarak dari mereka semakin membuat Keysa tidak karuan.


"Mau Alea?" tanya Devano lagi dengan nada dingin serta mata yang masih tidak teralihkan dari gadis di hadapannya.


Keysa menggeleng. Mendapat tatapan setajam dan sedingin es batu yang runcing dari Devano membuat Keysa bergidik ngeri. Namun, setakut-takutnya Keysa, ia juga tidak mau terlihat lemah. Sejurus kemudian, Keysa menampilkan seulas senyum meskipun terpaksa, lantas sedikit mendorong tubuh yang menempel dengan tubuhnya itu.


"Dev, susah napas!" ucapnya.


"Mau apa?" Devano mengulangi perbuatannya, tidak puas hanya dengan gelengan. Ia masih diam di tempat, dorongan tangan Keysa tidak cukup untuk membuat tubuh atletisnya bergeser.

__ADS_1


"Cuma mau ketemu kamu. Tiba-tiba saja aku merindukanmu sampai-sampai kesasar ke mari," jawab Keysa sekenanya.


"Oh, ya?" Devano menyipitkan sebelah mata. Tidak habis pikir kepada sang kekasih, sudah ketangkap basah masih saja mencoba berkilah. "Lalu, tadi panggil-panggil Alea?"


"Itu karena aku mendengar suara Alea minta tolong."


Devano angguk-angguk mendengar jawaban Keysa. Gadis yang menjadi kekasihnya itu masih bisa saja menjawab.


"Jadi, beneran ingin ketemu aku 'kan?" tanya Devano lagi, dan dijawab anggukan Keysa. Devano berseringai jahat membuat hati Keysa semakin bergidik. "Apa kangen dengan ini?" Devano semakin mendekatkan wajah yang tinggal beberapa centi lagi untuk menempel dengan wajah Keysa.


Mendapati Devano yang semakin hampir tidak berjarak sama sekali, Keysa kembali mendorong tubuh Devano sedikit lebih kuat. "Dev, pengap!"


"Eh ... eh ... lain waktu saja, ya. Ini sudah cukup, Aku harus segera pulang. Disti sedang menungguku." Keysa menolak saat Devano memaksanya untuk duduk.


"Duduklah dulu! Aku masih merindukanmu," sarkas Devano, sambil mendudukkan paksa Keysa di bangku.


Tidak hanya mendudukkan, Devano lantas mendorong Keya hingga tubuh gadis itu terbaring di bangku. "Dev, apa yang kamu lakukan?"


Devano tersenyum lebar. "Sudah kubilang aku merindukanmu," ucapnya, sambil mendekat pada gadis yang sudah berbaring di atas bangku, kembali mengukung Keysa dengan tubuhnya berada di atas tubuh Keysa.

__ADS_1


"Dev, jangan macam-macam!" Pikiran Keysa mulai dipenuhi hal yang tidak-tidak. Ia lantas mencoba bangun, tetapi tubuhnya yang dikunci Devano membuatnya sulit bergerak. "Dev, ini tidak lucu!"


"Memangnya siapa yang sedang melucu? Aku sedang merindukanmu," tandas Devano. Ia kembali mendekat wajah pada wajah gadis di bawahnya, hingga wajah mereka kembali tidak berjarak dan spontan Keysa menutup mata.


"Eh, apa yang kamu lakukan?" Sejurus kemudian Keysa membuka mata. Ia yang mengira Devano akan melanjutkan ciuman di jendela tadi dibuat terkejut saat Devano tidak menciumnya, tetapi meraih kedua tangan dan mengikatnya bersatu dengan bangku. "Dev, apa yang kamu lakukan?" Perlakuan Devano benar-benar membuat Keysa jantungan mengingat apa saja yang telah dilakukan kepada orang-orang yang tidak sejalan dengan lelaki itu.


Devano tidak menjawab. Ia bangun, kemudian mengikat kaki Keysa sambil berseringai.


Keysa meronta-ronta meminta Devano melepaskan ikatan di kaki dan tangannya. "Dev, lepaskan! Ini tidak lucu," ucapnya, memelas.


Namun, Devano tidak mengindahkan ucapan Keysa. Lelaki itu malah meninggalkan Keysa, kemudian kembali dengan gunting di tangan yang sengaja di buka tutup.


"Dev kamu mau ngapain?" Keysa yang melihat benda tajam itu dibuka tutup seperti sedang memotong sesuatu pun hanya bisa meneguk ludah yang tiba-tiba terasa mengering. 'Jangan sampai Dev berbuat aneh-aneh.' Keysa bergumam dalam hati.


"Aku ingin menggunting bajumu. Setelah itu ...." Devano tidak melanjutkan ucapannya, tetapi senyum menakutkan tertampil sambil berjalan mendekati bangku. Membuat Keysa menebak ke mana arah pembicaraan lelaki itu.


"Dev, jangan aneh-aneh!"


Devano tidak berbicara. Ia terus melangkah dengan gunting yang terus digerak-gerakkan. Jantung Keysa berdegup sangat kencang, sosok Devano di depannya sangat menakutkan–persis sang psikopat yang akan mengeksekusi lawannya.

__ADS_1


"Dev, maaf kalau aku menyusup ke rumahmu. Aku ke sini memang untuk mencari Alea. Aku tidak terima karena kamu menyembunyikannya dan merasa ini tidak fair. Tapi sekarang aku pasrah. Aku tidak akan mencari Alea lagi. Tidak bisakah kita damai? Aku tidak suka gunting itu mendekatiku." Keysa akhirnya, mengakui niat sebenarnya ke kediaman Devano, kemudian mengajak lelaki itu berdamai, yang hanya dijawab seringai yang sulit diartikan.


__ADS_2