
Keysa segera pergi begitu melihat orang yang bertabrakan dengannya adalah Zian. Cepat atau lambat Zian pasti menyadari keberadaannya, membuat Keysa langsung pergi mengendarai motor tanpa peduli Zian yang mengejarnya.
"Hey tunggu!" Zian mengejar Keys, begitu menyadari gadis yang ditabraknya adalah Keysa. Namun, motor Keysa sudah melesat menjauh.
Sebuah mobil berhenti di depan Zian. "Kejar motor tadi," ucapnya seraya bergegas masuk ke mobil.
Si sopir hanya mengangguk, lantas tancap gas mengejar motor Keysa yang sudah menjauh.
"Hari ini kita harus bertemu. Aku tidak mau kita terus main kucing-kucingan begini," gumam Zian dengan pandangan lurus pada motor yang terlihat salib sana dan sini. "Lebih cepat lagi! Aku tidak mau kehilangan jejaknya," tandasnya lagi kepada si sopir.
"Baik, Tuan."
Sementara itu, Keysa sudah berusaha menjauh dan menghindari Zian, tetapi pengendara mobil yang ditumpangi Zian sangatlah andal. Dengan mudah, Keysa terkejar.
"Sial!" umpat Keysa.
Ia sudah sampai di rumah kediaman aslinya dan mobil yang mengejarnya pun terlihat sedang menanjak dan sebentar lagi sampai di rumah Keysa. Dengan terburu-buru Keysa masuk ke rumah. Ia yang fokus menghindari Zian pun tanpa sengaja menabrak Kakek Surya yang hendak keluar rumah.
"Key, jalan hati-hati," ucap Kakek Surya, saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh sang cucu.
"Maaf, Kek, tidak sengaja." Keysa menjawab dengan mata yang terus menoleh ke belakang.
"Kamu kenapa seperti ketakutan seperti itu?" tanya Kakek Surya, melihat gelagat aneh Keysa.
"Zian mengikutiku, Kek," jawab Keysa. "Kek, tolong Keysa, ya! Jangan biarkan Zian masuk dan menemuiku! Please!" Keysa memohon kepada Kakek Surya untuk tidak mempertemukan lelaki itu dengan dirinya.
Kakek surya menghembuskan napas kasar, hingga akhirnya menyetujui permintaan Keysa.
"Terima kasih! Kakek memang ter-the best, I love you so much!" ucap Keysa begitu mendapat persetujuan dari Kakek Surya. Ia memeluk dan mencium pipi kakeknya itu, lalu berlari menuju kamar.
Zian tiba di halaman rumah Kakek Surya. Ia pun langsung turun dan mendapati Kakek Surya sudah berada di ambang pintu.
"Selamat sore, Kek!" Mau tidak mau Zian harus menyapa Kakek sebelum mengejar Keysa.
__ADS_1
"Sore, Ian." Kakek membalas dengan seulas senyum yang tampil di bibirnya yang agak hitam. "Apa ada hal penting? Tumben sore-sore ke sini dan terlihat buru-buru juga. Apa semuanya baik-baik saja," lanjut Kakek Surya, basa-basi.
"Kek, aku tahu Keysa ada di rumah. Kenapa Kakek seolah-olah menghalangi aku untuk bertemu dengannya," ucap Zian. Ia merasa saat ini Kakek Surya sedang mencegatnya agar tidak bisa menemui Keysa.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Lagian kata siapa Keysa ada di rumah?" ucap Kakek Surya mencoba mengelak.
"Kakek, aku tahu dia ada di kota ini sejak beberapa hari yang lalu. Aku diam karena aku berharap Keysa mau menemuiku dengan sendirinya, tapi dia malah terus main petak umpet. Kakek, tahu kan aku sangat mencintainya? Tapi kenapa Kakek juga seakan-akan mendukung Keysa untuk tidak menemuiku?" Zian berbicara panjang lebar. "Kek, aku sangat mencintai Keysa. Aku merindukannya. Aku mohon, aku ingin bertemu dengannya," lanjut Zian, seraya memohon.
Kakek Surya membuang napas kasar. Melihat Zian yang sampai memohon seperti itu membuatnya tidak tega. "Baiklah, datanglah besok di hari peringatan kematian ayah Keysa. Kamu bisa bertemu dengan Keysa besok," ucap Kakek Surya kemudian.
Zian sangat bahagia mendengar ucapan Kakek Surya. Ia memeluk kakek tua itu seraya berterima kasih dan berjanji akan datang di hari penting bagi Keysa dan Kakek Surya itu, kemudian pamit untuk pulang.
Hari telah berganti. Dengan pakaian serba hitam, Keysa sudah siap untuk pergi ke pemakaman orang tuanya.
"Kek, Keysa sudah siap," ucap Keysa, seraya menuruni tangga. "Ayo, kita be—"
Keysa yang hendak mengajak kakeknya berangkat dibuat terkejut saat melihat Zian juga ada di sana bersama sang kakek.
"Hai, Key, apa kabar?" sapa Zian begitu melihat Keysa melihat ke arahnya dengan tatapan terkejut, lalu menghampirinya dan cipika cipiki.
Keysa lantas menatap sang kakek yang seolah tidak tahu apa-apa, sedangkan Keysa yakin Zian bisa berada di sini karena bantuan kakeknya sendiri.
"Sudah siang. Ayo, kita berangkat!" tandas Kakek Surya yang dijawab anggukkan Zian dan Keysa.
Namun, baru beberapa langkah, Kakek Surya menghentikan langkahnya saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. "Kalian berjalan lebih dulu saja, kakek ada urusan penting sebentar," ujar Kakek Surya seraya menjauh.
Keysa hanya membuang napas kasar. Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan, Keysa tidak tahu. Namun, sekarang dirinya hanya tinggal berdua dengan Zian dan sudah terlanjur basah mau tidak mau Keysa harus berangkat dengan lelaki itu.
Ia pun terus dicecar banyak pertanyaan oleh Zian tentang kepergiannya.
"Aku pergi ke sana karena aku kuliah di sana, bukan untuk menghindarimu. Aku juga selama di sini tidak pernah menghindarimu, mungkin saja memang waktunya belum berjodoh untuk bertemu denganmu," ucap Keysa, mengelak semua tuduhan yang ditujukan kepadanya.
"Bohong!" tandas Zian dengan tangan yang bersedekap seraya memalingkan wajah.
__ADS_1
"Aku tidak bohong. Lagian aku di sini masih lama, kita masih bisa menghabiskan waktu bersama lagi," tanda Keysa mencoba menenangkan Zian, yang raut wajah sudah mulai masam. Keysa tidak boleh sampai membuat lelaki itu sampai marah.
"Apa kata-katamu bisa dipercaya?" Zian kembali menoleh ke arah Keysa. Ingin percaya , tetapi sedikit ragu.
"Tentu," jawab Keysa dengan senyum yang terbit dari bibir manisnya itu.
Keduanya pun turun gunung untuk pergi ke makam orang tua Keysa. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Zian mendahului Keysa lalu berjongkok di depan gadis itu dengan posisi membelakanginya.
"Naiklah!" ujar Zian. Ia menyuruh Keysa untuk naik ke punggungnya.
"Ini maksudnya apa?" tanya Keysa seolah-olah tidak percaya.
"Naiklah! Aku akan menggendongmu sampai ke bawah," tandas Zian.
"Enggak perlu. Aku bisa jalan sendiri." Keysa menolak.
Zian menoleh ke arah gadis di belakangnya dengan keadaan kecewa, lantas berdiri dan berjalan cepat. "Kau memang sudah berubah! Bahkan digendong olehku saja kau sudah tidak mau," sarkas Zian, seraya berlalu.
"Ish ... kenapa jadi seperti ini sih?" rutuk Keysa. "Ian, tunggu! Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak mau kamu kesusahan karena harus menggendongku sampai bawah." Keysa mengejar Zian dan mencoba menjelaskan. Namun, semua penjelasan Keysa ditolak mentah-mentah oleh Zian.
"Ok. Aku ingin digendong olehmu." Akhirnya, Keysa menyetujui permintaan Zian, sebelum sesuatu tidak diinginkan terjadi. Ia pun lantas mengalungkan tanganya di leher Zian, duduk di belakang Zian dengan tangan Zian mengayangga tubuh Keysa. Keduanya turun gunung dengan Zian menggendong Keysa.
Keysa memerhatikan lelaki yang sedang menggendongnya. Lelaki tampan dan pintar, orang yang kekayaannya tidak kalah jauh dengan Kakek Surya. Namun, perasaan Keysa tidak dapat paksa. Ia tetap tidak menyukai Zian dan hanya menganggap lelaki itu sebagai kakak.
Setiba di makam, Keysa langsung diturunkan Zian. Mereka pun menghampiri pusara kedua orangtuanya, kemudian menunggu Kakek Surya di sana.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur! Karena aku sudah menempatkan banyak orang di sini," bisik Zian tiba-tiba yang membuat Keysa marah.
Keysa menatap tajam ke arah Zian. Ia tidak menyangka Zian akan melakukan hal sampai sejauh itu demi membuatnya ada di sisi lelaki itu.
"Ian, ini tidak lucu! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membatasi ruang gerakku?" ucap Keysa menyolot. Ia tidak terima dengan perbuatan Zian.
Zian meraih tangan Keysa, menggenggam tangan itu seraya berlutut. "Aku hanya ingin kau tidak meninggalkanku. Aku mohon tetap tinggal di sini. Hiduplah bersamaku. Aku janji aku akan membahagiakanmu, Key. Aku sangat mencintaimu," ucap Zian.
__ADS_1
"Aku harus kuliah, mana mungkin aku akan tetap tinggal di sini." Keysa dengan tegas menolak permintaan Zian. "Ian, kita sudah bersahabat sejak lama aku tidak mau merusak persahabatan kita," lanjutnya, yang secara tidak langsung menolak ungkapan cinta dari Zian.