Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
134


__ADS_3

Keysa menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk menenangkan Zian supaya lelaki tidak sampai murka dan mau menarik bawahannya dari kaki gunung tempat mereka berpijak saat ini. Akan berakibat fatal jika lelaki di hadapannya sampai tidak terkendali. 


Namun, tidak mudah membujuk Zian, bahkan ia tidak mau menarik  bawahannya dari sana. Lelaki itu tetap bersikukuh pada keinginannya, ia tidak mau hanya menjadi sahabat Keysa. Setelah banyak drama, akhirnya Zian mau pergi setelah mengantarkan Keysa pulang.


 Selepas kepergian Zian, Keysa langsung mengambil ponsel di tas, kemudian menelpon lelaki yang selalu menunggu telepon darinya itu. 


"Siang, Kesayangan," gumam Devano begitu panggilan mereka tersambung. 


"Siang."


Mereka pun berbincang cukup lama, hingga  Devano sangat antusias  saat Keysa mengatakan bahwa dirinya akan segera pulang. 


"Beneran akan pulang? Kapan?" tanya Devano dari seberang sana. 


"Ya, tentu saja beneran. Aku pulang lusa," jawab Keysa, yang langsung membuat Devano kegirangan bukan main. "Oh, ya, aku melupakan sesuatu," lanjut Devano. 


Devano berkata bahwa dirinya teringat akan janji kepada Kakek Surya untuk membelikan mobil. Dan, tanpa sengaja Kakek Surya yang sedang lewat ke kamar Keysa mendengar pembicaraan cucunya dan Devano. Ia pun tergelitik untuk masuk ke kamar Keysa, lalu mengganggu pembicaraan mereka. 


"Kira-kira Kakek suka mobil seperti apa?" tanya Devano dari seberang kepada Keysa sambil mengabsen nama-nama merek mobil yang mungkin disukai Kakek Surya. 


"Apa kamu benar-benar mau belikan Kakek mobil?" tanya Keysa.


"Tentu saja. Memangnya kapan aku tidak serius kalau menyangkut kamu dan Kakek?" 


"Sering sih," jawab Keysa, yang membuat Devano tergelak sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 

__ADS_1


"Setidaknya semenjak kamu jadi kekasihku. Aku selalu memprioritaskanmu," sahut Devano dan berhasil gadis yang sedang mendengar ucapannya terharu. "Lalu, aku harus membeli mobil seperti apa?" tanya Devano lagi. 


"Itu ...." Mendengar keseriusan Devano, membuat Keysa jadi bingung sendiri.


Di saat Keysa kebingungan untuk menjawab, Kakek Surya datang menghampirinya. "Itu telepon dari Dev? tanya Kakek Surya, yang dijawab anggukan Keysa. "Sini, kakek mau bicara," lanjut Kakek dengan bibir yang sedikit terangkat, meminta ponsel yang sedang menelpon dengan di loudspeaker. 


Melihat gelagat Kakek Surya, Keysa menatap sang kakek penuh curiga. Namun, tidak ada pilihan lain selain mengangguk dan memberikan ponselnya kepada Kakek Surya. "Dev, kakek ingin bicara," ucap Keysa, seraya memberikan ponsel. 


Devano pun mengiakan, lantas menyapa Kakek Surya terlebih dahulu. Keduanya pun terlibat percakapan basa-basi, hingga akhirnya kakek menanyakan perihal sesuatu yang didengarnya saat masuk ke kamar Keysa. 


"Jadi, apa benar kamu mau membelikan kakek mobil?" tanya Kakek Surya. 


"Tentu saja, Kek," jawab Devano dengan pasti. "Kakek tinggal bilang saja, Kakek mau mobil seperti apa nanti aku carikan," tandasnya lagi. 


Keysa melotot sempurna dengan jenis mobil yang diminta Kakek Surya. Lagi-lagi kakeknya menyiksa Devano.  Ia pun memprotes permintaan sang kakek yang terlalu berlebihan, tetapi tidak didengar Kakek Surya. Lelaki itu tetap meminta mobil limited edition tersebut. 


"Baik. Besok aku kirimkan mobilnya untuk Kakek," tandas Devano sebelum panggilan terputus, yang membuat Kakek Surya dan Keysa terkejut. Mereka tidak menyangka Devano akan menyetujuinya. Namun, sejurus kemudian setelah panggilan berakhir tawa Kakek Surya pecah. 


"Kakek kenapa tertawa?" tanya Keysa, yang malah bingung dengan sikap kakeknya. 


"Pacarmu terlalu banyak membual. Kau tahu harga mobil yang kakek pinta sangat mahal. Bahkan, mobil itu hanya diproduksi beberapa biji saja di dunia dan sudah tidak memproduksi lagi," jelas Kakek Surya, seraya mengembalikan ponsel Keysa kepada pemiliknya. 


"Kalau kakek tahu itu sangat mahal dan tidak produksi lagi, kenapa kakek memintanya?" tanya Keysa, yang dibuat kesal oleh tingkah kakeknya yang membuat dirinya terlihat sangat gila harta. 


"Hanya ingin mendengar jawaban dari pacarmu. Sebenarnya dia tidak perlu menyanggupi jika memang tidak mampu, tidak perlu membual hanya demi mendapatkan hati kakek. Karena ujungnya penilaianku terhadapnya pasti buruk," tutur Kakek Surya lagi. Bahkan lelaki tua itu mengatakan kalau Zian lebih baik dari Devano, meskipun tak sekaya Devano tetapi Zian apa adanya—tidak pernah menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin. 

__ADS_1


"Devano juga tidak akan pernah berjanji kalau dia sendiri tidak mampu menyanggupinya. Karena dia sudah berjanji, Keysa yakin Devano akan mengirimkan mobil itu sesuai keinginan Kakek," tanda Keysa, membela Devano.


"Lihat saja besok. Kakek tidak yakin dengan pendapatmu," jawab Kakek Surya lagi  


"Ok. Kita lihat besok," tandas Keysa. 


Keysa dan Kakek Surya juga bertaruh kalau Devano berhasil mengirimkan mobil tersebut, Kakek Surya akan mengizinkan Keysa untuk kembali ke kota B dan menjalin hubungan bersama Devano. Namun, jika Devano tidak melakukannya, Keysa harus tetap tinggal bersama Kakek Surya. 


"Ok. Deal!" Keysa menyetujui kesepakatan yang dibuatnya bersama sang kakek. "Tapi, yang Keysa tidak habis pikir, bisa-bisanya Kakek minta hal yang aneh kayak gitu," lanjutnya dengan bibir yang mengerucut. 


Kakek Surya tak menjawab. Ia lantas melenggang pergi meninggalkan kamar Keysa. 


Sementara itu di sisi lain, Devano tidak serta merta menyanggupi permintaan Kakek Surya jika semua tidak mungkin terpenuhi olehnya. Devano menyanggupinya karena kebetulan ayahnya pernah membeli mobil tersebut dan belum pernah dipakai. Satu hal yang perlu dilakukannya saat ini adalah merayu Damar supaya memberikan mobil itu kepadanya. 


Dengan harap-harap cemas, Devano yang sedang berada di rumah utama pun menghampiri Damar di ruang kerjanya. Ia lantas meminta agar Damar menjual mobil itu kepadanya. 


"Untuk apa kau meminta mobil itu?" tanya Damar, dengan pandangan yang masih fokus pada pekerjaan. 


"Aku menginginkannya. Bukankah, Daddy juga tidak pernah memakainya. Tenang saja aku tidak akan meminta dengan gratis, aku akan membelinya," tandas Devano. 


"Aku tidak akan menjualnya," tandas Damar, memupus harapan  Devano yang berpikir akan mudah mendapatkan mobil tersebut karena ayahnya sendiri juga memilikinya. 


Devano menghela napas panjang. Ia tidak ingin menyerah. Bagaimanapun ia harus mendapatkan mobil tersebut. Hingga, akhirnya Devano memohon  agar lelaki itu mau menjual mobil itu kepadanya. Bahkan, ia sanggup untuk bersujud jika itu diperlukan.


Melihat Devano yang sampai bersimpuh dan memohon, hati Damar perlahan melunak. "Ambillah!" ucap Damar kemudian.

__ADS_1


__ADS_2