Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
207


__ADS_3

"Eh, bukankah itu Gabby, Gadis tidak tahu diri yang mencintai kakaknya sendiri?"


"Oh, iya. Sudah lama tidak lama melihatnya di kota ini. Katanya setelah membuat kekacauan waktu itu, dia langsung pergi entah ke mana."


"Sudah bagus pergi kenapa kembali?"


"Jangan-jangan dia ke sini untuk mengacaukan hubungan Arsen lagi. Maklumlah bibit pelakor sudah mendarah daging sejak dulu."


"Sangat miris lagi, bisa-bisanya mencintai kakak sendiri. Kayak gak ada lelaki lain saja."


Diselingi tawa seakan ucapan tersebut sebuah guyonan, gunjingan demi gunjingan terdengar dari mulut para tamu untuk Gabby. Membuat Arsen yang juga sudah ada hadir di acara tersebut mengepal sempurna.


Arsen menatap tajam ke arah kerumunan orang-orang yang mengejek Gabby. Ia yang berjalan di belakang Gabby langsung tersulut emosi begitu mendengar kata demi kata yang pasti akan melukai pujaan hatinya. Arsen melangkah mendahului Gabby dan Nindi, yang berjalan berdampingan, hendak memberi pelajaran pada mulut-mulut tamu tidak punya etika.


Namun, Gabby yang melihat pergerakan Arsen langsung mencekal tangan lelaki itu. "Biarkan aku saja," gumam Gabby, lantas berjalan mendahului Arsen dan menghampiri para tamu.


Gabby membalas sendiri ucapan mereka dengan kata-kata yang tidak kalah pedasnya. Gabby yang sekarang yang hidup dibawah pengawasan Kakek Surya sudah jauh lebih percaya diri dan tegas kepada mereka-mereka yang berniat menjatuhkan dirinya.


"Aku dan Arsen bukan kakak beradik sekalipun kami menjalin hubungan tidak ada yang salah.


"Dan, untuk pelakor sejak awal aku sudah mengatakan aku bukan pelakor. Tapi ... karena kalian terus menuduhku, bagaimana kalau kita realisasi saja. Kata kalian bibitnya sudah mendarah daging di tubuhku, jadi tunggulah kehancuran hubungan kalian dengan pasangan karena sebentar lagi bibit pelakor ini akan menjadikan pasangan kalian sebagai target," ucap Gabby di akhir menakut-nakuti, yang berhasil membuat para gadis biang gosip itu terdiam.


Gabby berseringai melihat wajah ketakutan di wajah gadis-gadis yang takut kekasihnya direbut itu, kemudian pergi begitu saja sambil menarik Nindi—menjauh dari orang-orang penggosip.


Gabby dan Nindi berkeliling di sekitar, hingga tiba-tiba Gabby diajak bicara oleh Arsen dan meninggalkan Nindi seorang diri. "Yaelah, mereka dengan pasangan-pasangannya, aku dengan apa? Udah gitu tidak ada orang yang kukenal di sini," rutuk Nindi, saat melihat dua temannya sedang berbicara dengan pasangan masing-masing, meninggalkan dirinya yang malah planga-plongo. Orang di sana asing semua bagi Nindi.


Nindi memindai sekitar hingga matanya tertuju pada tangga. "Kekasih Keysa pasti ada di sana. Aku ingin bertemu dengannya dan berbicara empat mata, sekaligus penasaran juga ingin melihat orang yang telah membuat Keysa tergila-gila setengah moudar," gumam Nindi.


Ia yang terabaikan oleh dua sahabatnya itu pun berjalan menuju tangga. Ia perlu berbicara kepada Devano mengenai Keysa agar lelaki itu mau membatalkan pertunangan malam ini. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sesosok tampan yang sedang menuruni tangga. "Dia siapa? Ternyata di sini banyak lelaki tampan." Nindi yang awalnya hendak melihat dan menemui Devano, siapa sangka malah teralihkan oleh lelaki tampan yang sedang menuruni tangga.


Nindi terpesona pada pandangan pertama kepada lelaki tersebut. Sementara, lelaki itu tampak sedang melihat ke satu titik dengan seulas senyum yang tertampil. Nindi yang masih setia menikmati wajah tampan itu pun mengikuti ke mana arah mata tampan memandang, hingga ia tahu objek yang menjadi pusat perhatian lelaki itu.


Nindi berdiri tidak jauh dari Keysa–objek sasaran mata si Pemuda Tampan. Ia pun langsung menghampiri sahabatnya itu yang masih bersama Ferro. "Key, dia siapa?" Nindi menunjuk Ezra yang sedang berjalan ke arah mereka dengan tatapan tidak teralihkan dari Keysa sejak berdiri di tangga.


"Dia Ezra."

__ADS_1


Nindi mengangguk, kemudian meminta Keysa untuk memperkenalkannya kepada Ezra.


"Dengan senang hati. Apa kamu menyukainya?" tanya Keysa lagi. Jarang, bahkan mungkin tidak pernah, Nindi meminta dikenalkan dengan seorang lelaki, kecuali dia benar-benar menyukainya. Keysa akan sangat senang, jika benar Nindi menyukai Ezra dan mereka bisa menjalin hubungan baru.


"Kalau dibilang suka itu terlalu cepat. Cuman lumayan saja buat dapat teman ngobrol di sini. Dari tadi aku udah kayak orang buangan, sendirian," tandas Nindi.


"Maaf ...." Keysa hanya nyengir kuda mendengar penuturan Nindi. Ia yang sibuk dengan Ferro tanpa sadar melupakan keberadaan satu sahabatnya itu.


Ezra datang menghampiri mereka, Keysa pun lantas memperkenalkan keduanya.


Setelah saling menyebutkan nama, Ezra dan Nindi terlibat percakapan bersama Ferro juga Keysa.


"Setelah acara ini usai aku ingin jalan-jalan di sini. Bisakah kamu menjadi tour guide-ku? Aku tidak tahu tempat mana yang bagus-bagus." Nindi mengajak Ezra jalan-jalan dengan dalih ingin menjadikan tour guide-nya, nyatanya hanya modus belaka agar dirinya bisa mengenal lebih dekat lelaki yang mencuri hatinya pada pandangan pertama.


Melihat Nindi adalah teman Keysa, Ezra pun langsung setuju, kemudian pamit saat seseorang memanggil namanya.


"Sampai ketemu besok," ucap Nindi lagi, ketika Ezra akan meninggalkan mereka.


Ezra mengangguk dengan seulas senyum yang menghiasi wajah, lalu pergi.


"Nindi, kamu kenapa?" tanya Keysa, khawatir.


"Sepertinya aku terkena penyakit diabetes lovetus," seloroh Nindi yang berhasil membuat Keysa mengernyitkan dahi. "Senyumnya manis sekali melebihi madu," lanjutnya dengan mata tertuju kepada lelaki yang sedang berbicara dengan tiga orang sepantaran.


Keysa yang mulai paham maksud perkataan sahabatnya itu setelah melihat Ezra langsung menghadiahi Nindi sebuah jitakkan. "Kamu buat aku khawatir saja. Aku pikir beneran sakit," sungut Keysa. "Tadi katanya tidak suka?" goda Keysa.


Nindi nyengir kuda sambil mengusap keningnya yang terasa gatal. "Dia memang tampan dan manis. Aku tarik ucapanku di awal tadi. Apa dia sudah memiliki kekasih? Kalau belum aku mau daftar."


"Sepertinya belum."


"Apa dia sedang dekat dengan seseorang?"


"Kenapa tanya-tanya begitu. Kalau mau deketin, deketin saja. Selagi belum ada ikrar pernikahan semua masih sah-sah saja," tandas Keysa.


"Kalau tahu orang yang sedang dekat dengannya, setidaknya aku tahu selera dia seperti apa? Agar aku bisa bersiap-siap untuk menjadi rivalnya," ujar Nindi sangat semangat. Gadis itu benar-benar sudah kepincut pesona sang Ezra.

__ADS_1


"Ezra itu menyukai Keysa, tapi sayang Keysanya menyukai Devano." Tiba-tiba Ferro angkat suara, dan berhasil membuat Nindi terperanjat.


"Dia suka sama kamu, Key?" tanya Nindi, memastikan.


Keysa memamerkan rentetan giginya, lalu berkata, "Itu dulu. Mungkin sekarang perasaannya sudah berubah."


"Ah, gila saja kalau aku harus bersaing denganmu!" Nindi dibuat menggila oleh pernyataan Ferro dan Keysa. Jika tipe Ezra adalah Keysa sudah jelas dia kalah saing dari segi mana pun. Belum lagi hubungan Devano dan Keysa sedang berada di ujung tanduk, tidak ada alasan untuk Ezra tidak mendekati Keysa lagi. Bunga Nindi langsung mati sebelum tumbuh.


Acara pertunangan dimulai. Devano dan Cheryl muncul. Mereka pun menjadi pusat perhatian dengan penampilan yang mereka senada.


Satu persatu acara dilewati, hingga tiba acara tukar cincin yang ditunggu oleh semua orang serta ungkapan kesiapan dari dua pasangan untuk menerima pasangan masing-masing.


Cheryl telah menerima pertunangan tersebut. Devano dipersilakan untuk memasangkan cincin di jari Cheryl. Saat cincin yang dipegang Devano hampir menyentuh jari manis Cheryl tiba-tiba Keysa menghentikannya.


"Jangan, Dev!" teriak Keysa tiba-tiba, membuat semua orang beralih menatap ke arah Keysa.


Begitu juga dengan Cheryl. Gadis itu menatap Keysa penuh kebencian karena telah mengganggu acaranya.


"Aku tahu kamu hanya terpaksa bertunangan dengan Cheryl. Hubungan atas dasar tanpa cinta tidak akan berlangsung lama, apalagi atas dasar keterpaksaan. Dev, aku tahu, yang kamu cintai hanyalah aku. Hentikan acara ini! Mari kita pergi bersama, mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita impikan bersama. Kita akan bahagia dengan cinta kita." Keysa menatap Devano yang dengan jarak kurang lebih tiga meter.


Devano juga tampak menatap Keysa dengan cincin yang dipegangnya.


"Dev, ayo, pasangkan cincinnya! Tidak perlu dengarkan wanita pembuat kacau itu," rengek Cheryl, melihat Devano yang malah mematung menatap Keysa.


"Dev, mari kita pergi dari orang-orang yang terus memaksa dan mengekangmu! Mereka tidak mencintaimu! Mereka hanya menjadikanmu boneka balas budi. Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Mari kita hidup berdua jauh dari mereka," pinta Keysa lagi, berharap Devano mau mengubah keputusannya meskipun di detik-detik terakhir.


Namun, harapan Keysa harus pupus saat Devano dengan terang-terangan menolak ajakannya.


"Maaf, aku tidak bisa." Suara berat itu terdengar dari mulut yang memalingkan wajah dari Keysa dan kembali menatap Cheryl.


Cheryl tersenyum penuh kemenangan saat mendengar jawaban Devano, berbanding terbalik dengan perasaan Keysa. Keysa datang dengan sedikit harapan bisa menggagalkan pertunangan itu dan membawa Devano pergi bersama. Akan tetapi, lelaki itu sudah menolak di hadapan semua orang.


Keysa sudah menyiapkan hati jika jawaban penolakan yang mungkin saja didengarnya. Akan tetapi, saat kata itu benar-benar keluar dari mulut Devano, hati Keysa tetap sakit. Ia terus menguatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis.


"Baik. Jika itu sudah menjadi keputusanmu. Selamat atas pertunangan kalian. Aku doakan kalian hidup bahagia. Aku juga berharap kamu tidak menyesal dengan keputusan yang telah kamu ambil." Keysa sedikit mengulas senyum, senyum pahit penuh kepedihan, kemudian berbalik meninggalkan acara pesta.

__ADS_1


__ADS_2