
Key mencuri setiap kesempatan untuk menggoda lelaki yang masih menggendongnya. Sekuat-kuatnya Devano untuk melawan segala gejolak yang bergemuruh memintanya menggempur Keysa, akhirnya tergoyahkan juga. Ibarat seekor kucing yang diiming-imingi ikan, bohong jika tidak akan tergiur.
Setiba di kamar Devano langsung membaringkan Keysa di tempat tidur, kemudian beranjak hendak pergi ke kamar mandi, menetralkan diri karena ulah Keysa. Namun, tiba-tiba Keysa menarik lengan Devano, hingga tubuh lelaki itu terjatuh. Andai tangannya tidak menahan bobot tubuhnya sendiri, Devano sudah mendarat di atas tubuh Keysa.
"Kamu mau ke mana? Aku tidak mau ditinggalkan sendiri." Keysa bergumam seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Devano dengan mata yang sudah merem melek.
Sejurus kemudian, gadis itu menarik tengkuk Devano sampai kedua wajah mereka hampir tidak berjarak. "Kamu tampan sekali," gumamnya lagi, sambil memamerkan rentetan gigi putihnya.
"Aku tahu. Aku sudah tampan sejak lahir." Kegilaan Keysa malah semakin membuat Devano blingsatan tak menentu. "Lepaskan, Key! Aku harus ke kamar mandi." Devano mencoba melepaskan tangan yang mengunci lehernya. Namun, bukannya dilepas, Keysa malah semakin menarik Devano untuk semakin mendekat hingga bibir mereka menyatu.
Keysa mengabsen setiap lekuk bibir Devano dengan begitu agresif. Devano yang sejatinya sudah menahan larva yang siap meledak sejak tadi langsung menyambut perbuatan Keysa.
"Key, aku tidak tahan lagi." Hassrrat yang sedari tadi dipendam sudah di atas-atas ubun-ubun. Akhirnya, mereka melakukan hubungan yang lebih dari sekedar ciuman saja.
Derit ranjang pun menjadi saksi pergulatan antara dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Meskipun, banyak halangan dalam percintaan mereka, tetapi tak sedikit pun cinta mereka memudar malah semakin tumbuh dan tumbuh lagi.
Setelah keduanya bermandikan peluh, Devano membawa Keysa ke kamar mandi dan membantu kekasihnya itu membersihkan diri. Setelah itu, memberikan Keysa obat pereda pusing.
__ADS_1
***
Malam telah berlalu, hari baru telah dimulai. Masih pagi, tetapi Cheryl tampak sudah rapi dan bersiap untuk pergi. Seorang anak kecil juga sudah berpenampilan baik sedang duduk di tempat tidurnya memerhatikan Cheryl yang terlihat sangat cantik dengan pakaian yang digunakan.
"Apa Kakak akan pergi?" tanya Livia. Ia takut ditinggalkan sendirian di rumah yang tidak dikenalnya.
Semenjak kejadian di kasino, Cheryl membawa Livia pulang ke rumahnya. Namun, perlakuan orang rumah kurang baik terhadap gadis itu, membuatnya takut jika harus ditinggal sendirian.
"Bukan hanya aku, tapi kita," jawab Cheryl dengan seulas senyum, seakan tahu akan ketakutan anak kecil tersebut.
Setelah mendengar ucapa Cheryl, Livia langsung semringah. "Aku beneran diajak?" tanya Livia, memastikan. Saat ditinggal kuliah kemarin, Livia hanya sendiri di rumah dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga Cheryl lain, membuatnya trauma sendirian.
Cheryl mengajak gadis yang memiliki nama sama dengan sang kakak perempuan itu ke apartemen Exel.
Setiba di apartemen Exel, Cheryl dibukakan pintu oleh Disti, membuat ia menatap tidak suka kepada gadis itu.
"Sedang apa kau di apartemen kakakku?" sarkas Cheryl, menatap tajam Disti.
__ADS_1
"Aku ...."
"Siapa yang datang, Dis?" Belum sempat Disti melanjutkan ucapannya, Exel muncul dari dalam. "Oh, kamu, Cher! Tumben ke sini," tandas Exel, ketika melihat sang adik ada di depan pintu.
"Aku merindukanmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Cheryl langsung menghampiri Exel dan memeluk lelaki yang masih setia di kursi roda, melupakan sejenak kehadiran Disti di sana.
"Jauh lebih baik. Kamu bawa siapa?" Exel menatap gadis kecil yang berdiri di samping Cheryl.
"Ini Livia, gadis kecil yang waktu itu aku ceritakan."
Exel manggut-manggut mendengar penuturan Cheryl, kemudian gadis kecil itu menyalaminya.
"Kak, ada yang perlu aku bicarakan sedikit denganmu," lanjut Cheryl.
"Kita lanjut sambil makan saja. Aku dan Disti baru saja mau sarapan." Exel mengajak Cheryl dan Livia untuk sarapan bersama.
Mereka pun sarapan bersama dengan perbincangan kakak-adik yang mendominasi, dan sesekali Cheryl melempar tatapan sinis kepada Disti.
__ADS_1
"Kak, aku ingin Livia tinggal di sini bersamamu. Di rumah orang-orang sepertinya tidak menyukainya, membuat Livia sangat tertekan." Cheryl akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya ke apartemen Exel. "Jika perlu aku juga akan tinggal di sini untuk menemaninya," tandas Cheryl lagi sambil melahap makanannya.
"Lagian sepertinya di sini sudah ada pembantu gratisan," lanjutnya, sambil melirik ke arah Disti.