Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
129


__ADS_3

"Pulanglah! Biarkan sepeda kamu kakek yang urus. Kasian Dev pasti dia ingin cepat istirahat," ucap Kakek Surya dengan seulas senyum yang sulit diartikan. Ia menyuruh Devano dan Keysa untuk pulang dengan menggunakan traktor, sedangkan dirinya akan memperbaiki sepeda. 


Dengan seutas senyum pula, Devano mengangguk mengiakan ucapan Kakek Surya meskipun di dalam hati Devano menolak mentah-mentah perintah Kakek Surya. Dari mobil mewah, Devano beralih pada traktor yang biasa digunakan orang membajak lahan. 'Big no!' umpat Devano dalam hati. Namun, demi mendapatkan hati kakek Keysa itu, ia pun menyanggupinya. 


Devano dan Keysa pun naik ke traktor. 


Devano menyalakan mesin traktor itu dengan sebatang besi dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghidupkan mesin tersebut, bahkan keringat sampai bercucuran dari dahi yang diusapnya dengan lengan. 


Kakek mengulum senyum saat melihat Devano berjuang menghidupkan traktor. Keadaan itu tidak luput dari pandangan Keysa. Keysa memerhatikan Devano yang kesusahan dan beralih pada sang kakek, hingga gadis itu menyadari kalau kakeknya sedang menjahili Keysa. 


Keysa membuang napas kasar saat tahu niat sebenarnya sang kakek, kemudian mengambil sapu tangan dari tas  dan  mengusap kening Devano yang bercucuran keringat. 


"Belum bisa hidup?" tanya Keysa. 


Devano menoleh dengan senyum yang  coba ditampilkan, lalu menggeleng pelan. 


"Semangat! Kamu pasti bisa," gumam Keysa, menyemangati. 


Melihat Keysa yang menyemangati, semangat Devano untuk bisa menghidupkan traktor seketika menggebu. Akhirnya, dengan seluruh tenaga yang dikerahkannya, Devano bisa menyalakan mesin traktor tersebut.  Keduanya pun menyusuri jalanan menuju rumah dengan menggunakan kendaraan yang biasa digunakan membajak itu. 


Namun, perjalanan Devano tidak semulus jalan tol. Beberapa kali mesin mati dan itu membuatnya frustrasi. Ia harus kembali  bergelut dengan sebatang besi untuk menghidupkan mesin dan mengerahkan seluruh tenaganya lagi. 


"Aku nyerah, Key! Mesin seperti ini tidak layak digunakan jadi alat transportasi. Masih mending kalau mesinnya bagus, kalau seperti ini aku bisa mati di tengah jalan karena terus adu tenaga dengan besi itu," rutuk Devano sambil menunjuk sebatang besi di dekatnya,  saat traktor kembali mati. 


"Ish segitu aja udah nyerah," ucap Keysa sambil turun. 


"Kamu mau kemana?" sarkas Devano, melihat Keysa turun begitu saja. 


"Pulang! Katanya kamu udah nyerah," jawab Keysa, ketus, sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. 


"Apa dia marah?" gumam Devano pada dirinya sendiri, lantas memukul mulutnya sendiri merutuki kata-kata yang keluar dari mulutnya itu. "Gawat! Bagaimana kalau aku disuruh pulang lagi," umpatnya, lalu bergegas turun dan mengejar Keysa. 


"Key, tunggu! Bukan seperti itu maksudku. Jangan marah dulu!" teriak Devano sembari mengejar Keysa. 


Namun, Keysa seolah tidak peduli. Ia terus melangkah meninggalkan Devano yang masih mengejarnya.


"Key, ayo balik lagi! Aku bakal nyalain lagi mesinnya." Devano meraih tangan gadis yang terus berjalan di depannya itu. 

__ADS_1


"Ngapain balik lagi ke traktor? Orang kita sudah sampai di rumah," tandas Keysa, dengan seulas senyum yang tampil, tepatnya senyum mengejek karena sudah berhasil membuat Devano panik. 


"Udah sampe?" tanya Devano, memastikan dan dijawab anggukan Keysa. "Akhirnya ...." Devano bernapas lega dengan senyum yang mengembang begitu mendapat anggukan Keysa. 


Namun, sejurus kemudian, senyum itu hilang digantikan dengan kebingungan. "Rumahmu mana, Key?" tanya Devano, karena di dekatnya tidak ada bangunan yang menurutnya pantas disebut rumah. 


"Menurutmu?" Keysa malah bertanya balik. Pertanyaan Devano menurutnya tidak memerlukan jawaban karena keduanya sedang berdiri di depan sebuah bangunan.


"Ini rumahmu?" tanya Devano tidak percaya. 


Mereka memang sedang berdiri di hadapan sebuah bangunan, tapi menurut Devano itu bukan rumah melainkan gubuk tua yang  bobrok dan tidak berpenghuni. 


"Iya," jawab Keysa seraya membuka pintu. 


"Awas!" Tiba-tiba Devano menarik  Keysa ke pelukannya menjauh dari pintu saat sebuah balok kayu roboh dan hampir menimpa Keysa. 


Untuk sepersekian detik keduanya saling memandang tanpa berkedip, hingga Devano melepaskan pelukannya. "Hati-hati," gumamnya dengan suara pelan. Hatinya merasa teriris melihat keadaan Keysa yang jauh dari kata  layak, bahkan kekasihnya itu hampir saja terluka. 


"Terima kasih," ucap Keysa, seraya berjalan kembali memasuki rumah. 'Kenapa kakek nyuruh aku tinggal di tempat beginian?' rutuk Keysa dalam hati. 


"Aku pikir ini rumah tidak berpenghuni," ucap Devano, kemudian seraya memindai setiap sudut rumah tersebut.


Melihat Keysa yang masih bisa tersenyum dengan keadaan seperti itu, membuat Devano semakin kasihan dan terluka dalam waktu bersamaan. 'Ya, Tuhan. Aku gak bakalan sanggup membayangkan kekasihku menghabiskan harinya di tempat seperti ini,' gumamnya dalam hati. 


Setengah jam kemudian, Kakek Surya pulang dan berencana untuk memperbaiki atap rumah.  Devano pun berinisiatif untuk membantu agar bisa semakin cepat mendapatkan hati Kakek Surya.


"Ada yang bisa saya bantu, Kek," ucap Devano, menghampiri Kakek Surya.


"Apa kamu yakin bisa?" Kakek Surya yang sedang mengeluarkan alat-alat yang dibutuhkan pun menoleh ke arah Devano dengan mata yang menyipit. 


"Tentu saja bisa," jawab Devano dengan sangat yakin. 


"Baiklah kalau begitu kau paku balok-balok kayu yang tadi jatuh!" Kakek Surya memberikan paku dan palu kepada Devano. "Kakek urus pekerjaan yang lainnya," tandas Kakek Surya lagi. 


"Kakek ...." Keysa tidak terima dan protes dengan perlakuan Kakek Surya yang sejak tadi seakan-akan sedang menjahili Devano. Namun, Kakek Surya dengan cepat memotong ucapan Keysa dan meminta cucunya itu tidak ikut campur. 


"Sebaiknya kamu memasak air. Tidak ada air untuk minum," lanjut Kakek Surya, dengan tatapan tidak bisa terbantahkan saat melihat Keysa bersiap untuk protes lagi. 

__ADS_1


Keysa pun mau tidak mau mengikuti permainan yang dimainkan kakeknya itu. Ia pergi ke dapur untuk memasak air di tungku. Sementara itu, Devano memaku balok-balok yang tadi jatuh serta beberapa balok lain yang terlihat sudah tidak kokoh. 


Setelah itu, dia pergi ke dapur menghampiri Keysa dan tertawa saat melihat wajah Keysa yang hitam oleh arang . 


"Kenapa tertawa?" tanya Keysa, melihat Devano yang tertawa sampai terpingkal-pingkal. 


"Wajahmu cantik sekali," jawab Devano seraya memotret wajah Keysa dan menunjukkannya kepada si pemilik wajah. 


Keysa melihat wajahnya yang dipenuhi coretan hitam tak beraturan pun langsung mengerucutkan bibir seraya mendorong ponsel ke dada Devano, lalu meninggalkan Devano yang masih terbahak-bahak. 


"Mau ke mana?" 


"Cuci muka." 


Keysa pergi untuk membersihkan membersihkan wajah. 


Di saat sedang membersihkan wajah, Keysa melihat Devano berjalan mendekat ke arah sumur yang dihalangi bilik tanpa atap. Ia pun dengan cepat mengaplikasikan make up-nya lagi agar tidak ketahuan oleh lelaki itu. 


"Key, kau sedang apa lama sekali di kamar mandi?" tanya Devano yang semakin mendekat. 


"Cuci muka lah terus ngapain?" jawab Keysa yang baru saja selesai membenarkan riasan wajahnya, kemudian keluar dari bilik. Tidak lupa, Keysa menyipratkan air ke wajah agar terlihat seperti dirinya baru selesai mencuci muka. 


Devano menatap wajah basah gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tatapan mendamba. Tanpa sadar ia mendekati Keysa dan mencubit pipi Keysa—gemas. 


Dan, tanpa sepengetahuan Devano dan Keysa, Kakek Surya memperhatikan keduanya. Ia pun tak tahan dengan kemesraan mereka, lantas menghampiri keduanya. "Key, petik sayur di kebun untuk makan siang!" tandas Kakek Surya dengan tatapan yang siap menerkam, membuyarkan keintens-an Devano dan Keysa. 


"Kakek sengaja ingin mengujimu!" bisik Keysa dengan seulas senyum sebelum pergi. 


Kepala Devano bereaksi, ia mengingat setiap kejadian yang telah dialami dan semua itu memang sulit jika dikatakan sebagai kebetulan. Ia baru menyadari semua itu setelah Keysa memberi  tahu. 


"Dan untukmu .... tanam padi di lahan itu!" Kakek Surya menyuruh Devano menanam padi. 


Devano memandang sawah yang masih belum ditanami, kemudian beralih menatap Kakek Surya dengan pandangan yang sulit diartikan. 


"Aku akan mengajarimu," tandas Kakek Surya seolah tahu arti dari pandangan Devano, lantas berjalan menuju pematang sawah. 


Keduanya turun ke sawah. Kakek Surya memberikan contoh kepada Devano, dan Devano pun menanam padi seperti yang dilakukan Kakek Surya. 

__ADS_1


"Aku ingin bertanya beberapa hal kepada dirimu," ucap Kakek Surya. Lelaki tua itu mengambil kesempatan tersebut untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Devano. 


"Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Keysa," jawab Devano diakhir pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kakek Surya.


__ADS_2