
58
"Itu tidak mungkin, Kek. Dev, itu orang kaya dengan sejuta pesona ketampanan yang ia miliki, mana mungkin suka sama Keysa yang buluk dan culun seperti ini. Dia menyukai Keysa itu tidak mungkin, kalau benci mungkin iya," bisik Keysa panjang lebar saat sang kakek mengira kalau Devano itu menyukainya.
Kakek Surya memperhatikan penampilan cucunya yang sangat jauh dari kata modis, bahkan sangat culun. Lalu, beralih melihat Devano. Penampilan anak muda itu sangat elegan, Kakek Surya bisa menebak semua barang yang dipakai Devano bukanlah barang dengan harga ecek-ecek. Ditambah lagi, postur tubuh yang bagus serta wajah tampan yang mensponsori penampilan lelaki tersebut, membuat Kakek Surya pun mengatakan kalau ucapan Keysa sangat masuk akal. Namun, tetap saja ia ragu dengan fakta jika Devano tidak menyukai Keysa.
"Asal Kakek tahu, lelaki itu mempunyai 158 mantan. Dan, mantannya itu cantik-cantik serta modis bak para model, jauh beda sama aku. Apa mungkin standarnya seorang Devano turun drastis?" lanjutnya lagi, dan berhasil membuat Kakek Surya tercengang.
Lelaki yang masih tampak muda meskipun usianya sudah menginjak 74 tahun itu pun lantas mengalihkan pandangannya kepada Ezra yang duduk di samping Devano. "Kalau yang satu lagi, bagaimana menurutmu? Apa dia juga suka sama kamu?" tanya Kakek Surya lagi. Ia merasa kalau Ezra jauh lebih kalem. Ia juga merasa jika kedepannya pemuda itu pasti akan sukses.
"Ezra lumayan juga, tidak kalah tampan dari Dev. Ia juga sepertinya suka sama Key, tapi Ezra sudah pernah melihat wajah Keysa yang sebenarnya," jelas Keysa.
Sementara itu, di seberang meja, Ezra dan Devano juga sedang berbisik-bisik mendiskusikan kebenaran ucapan dua orang di hadapan mereka yang menyebut keduanya adalah cucu dan kakek.
"Apa kau yakin, dia benar-benar kakeknya Keysa?" bisik Devano kepada Ezra. Ia masih ragu dengan kebenaran yang didapatnya. "Bagaimana kalau lelaki itu benar-benar kakeknya Keysa? Apa aku telah meninggalkan kesan tidak sopan dan bertindak tidak baik terhadapnya tadi?" lanjut Devano yang takut Kakek Surya menilainya buruk.
Ezra menyipitkan sebelah matanya saat mendengar ucapan Devano. "Kau tidak berencana menjadi cucu menantu Kakek Surya, kan?" tanyanya yang malah menggoda sang sahabat dan langsung mendapat pelototan Devano.
Bisik-bisik mereka pun terhenti saat dua orang pelayan mengantarkan hidangan makan siang ke meja mereka. Makanan yang telah tersaji itu pun langsung mereka nikmati, tanpa banyak bicara.
Setelah selesai makan, Devano dan Keysa berebut untuk membayar bill yang diberikan pelayan cafe.
"Aku saja yang bayar!" gumam Devano, merebut kertas dari tangan Keysa.
"Aku juga masih sanggup bayar. Tidak perlu repot-repot." Keysa merebut kembali kertas itu, lalu merogok uang dari dalam tas.
__ADS_1
"Ini uangnya, Mbak!" Tiba-tiba Kakek Surya memberikan uang sejumlah total yang ditulis di bill. "Kakek baru saja dapat untung besar, jadi biar kakek saja yang bayar," ujar Kakek Surya, menengahi dua sejoli yang sedang tarik menarik kertas sampai sobek.
Setelah Keysa memberikan kotak itu kepada Kakek Surya dan mengucapkan selamat tinggal, mereka bertiga pun kembali ke kampus.
Saat kembali ke kampus, Keysa melihat Gabby sedang ditindas oleh beberapa mahasiswa. Lagi-lagi mereka memaki dan menghina Gabby karena hubungan gadis itu dan Arsen. Bahkan, ia sampai mendapat kekerasan dari mereka.
"Dasar gadis tidak tahu malu! Gadis macam apa yang mencintai kakaknya sendiri?" hardik salah satu dari mereka.
"Orang macam itu tidak pantas disebut sebagai manusia. Hanya binatang yang menjalin hubungan dengan saudaranya sendiri," ujar yang lain.
Mereka terus mempermalukan Gabby dengan kata-kata kotor yang keluar dari mulut mereka dan berhasil membuat Gabby merasakan sakit raga dan jiwanya.
Kedua tangan Keysa mengepal karena marah, melihat perlakuan orang-orang kepada Gabby. Mereka sungguh tidak punya hati. Mereka sama sekali tidak peduli dengan keadaan Gabby yang sudah sangat menyedihkan, malah dengan tawa yang menggema mereka semakin menghina gadis itu.
Segerombolan gadis itu langsung diam begitu melihat Devano dan Ezra, mereka lantas pergi setelah mengancam Gabby. "Urusan kita belum selesai," ancam salah satu dari mereka sembari menabrak bahu Gabby.
Gabby hanya diam, setengah wajah Gabby tampak merah bekas tamparan. Keysa yang melihatnya, langsung mendekati gadis yang sudah acak-acakan itu.
"Mereka menamparmu?" tanya Keysa yang dijawab anggukkan Gabby.
Keysa yang merasa kasihan melihat keadaan Gabby, meminta Devano dan Ezra untuk pergi ke kelas terlebih dahulu. Sementara itu, Keysa pergi mengantarkan Gabby ke asrama.
Devano menatap kepergian Keysa dan Gabby. Ia telah menyaksikan perlakuan segerombolan gadis tadi kepada Gabby yang dikarenakan hubungan gadis itu dengan Arsen, membuat Devano curiga kalau Keysa menemui Arsen itu untuk urusan Gabby.
"Mungkinkah kemarin Keysa menemui Arsen untuk membahas masalah temannya itu?" gumam Devano, pelan.
__ADS_1
"Jadi belakangan ini kau sedang cemburu pada hubungan Arsen dan Keysa?" Ezra yang mendengar ucapan Devano tidak membuang kesempatan untuk mengejeknya.
"Kalau bicara jangan ngawur! Mana mungkin aku cemburu karena Keysa," elak Devano sembari menggeplak kepala Ezra, lalu pergi.
"Kalau cemburu bilang saja, Bos!" Dengan tarikan tipis di kedua sudut bibirnya, Ezra malah semakin mengejek Devano.
***
Keysa dan Gabby sudah sampai di asrama. Gabby langsung berlari ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana, menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Tubuh tengkurap itu bergetar hebat dan air mata luruh begitu saja membasahi wajah yang memerah dan bantal. Ia menangis sejadi-jadinya. Gabby sudah tidak tahan dengan semua perlakuan buruk yang didapatnya. Terlalu banyak rasa sakit didapatkannya dari hubungan yang masih ia coba untuk pertahankan.
"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Keysa duduk di tepi ranjang Gabby, lalu menepuk-nepuk bahu Gabby, mencoba menghibur gadis itu.
"Aku hanya ingin meninggalkan memori baik dan indah di masa kuliah ini," ucapnya dari balik bantal.
'Meninggalkan memori baik? Eh, maksudnya apa?' gumam Keysa dalam hati.
Mendengar perkataan Gabby itu, malah membuat Keysa salah paham dan beranggapan kalau gadis yang sedang frustrasi itu hendak mengakhiri hidupnya sendiri.
"Gab, semua orang pasti memiliki masalah hidup masing-masing, baik kecil maupun besar. Kita gak boleh menyerah begitu saja, semua pasti ada jalan keluarnya. Kita cari solusinya bersama-sama, jangan pesimis seperti ini. Apalagi sampai kepikiran untuk b*nuh diri." Keysa menasehatinya dengan panjang lebar. Ia tidak mau teman sekamarnya itu benar-benar frustrasi dan berakhir nekad.
Gabby sendiri mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Keysa, yang memang benar adanya. Ajaibnya, setiap kata-kata yang diucapkan Keysa selalu berhasil membuat Gabby jauh lebih tenang.
"Beberapa hari lagi Arsen berulang tahun. Aku ingin kamu datang dan menemaniku di sana," pinta Gabby, setelah keadaannya tenang.
"Aku akan datang." Keysa pun menyanggupi permintaan gadis rapuh itu.
__ADS_1