Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
72


__ADS_3

72


Langkah Keysa terhenti saat tangan yang terasa sangat panas itu menarik pergelangan tangannya sambil melarangnya pergi dengan memanggil Keysa dengan sebutan 'mom'. 


"Mommy Devano menghilang sejak Devano kecil, bahkan sebagian orang menganggapnya sudah meninggal." Bertepatan dengan itu, Ezra juga masuk ke kamar. "Sejak mommy-nya menghilang, Dev tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu lagi. Dan setiap sakit, ia pasti mengigau seperti itu. Jadi, boleh, 'kan aku minta bantuanmu untuk menjaga Devano? Karena aku masih ada kerjaan lain," lanjut Ezra sambil memberikan obat penurun panas kepada Keysa dan meminta gadis itu memberikannya kepada Devano satu jam lagi. 


Keysa meraih obat itu dengan tangan yang masih digenggam erat oleh Devano. Perlahan, ia mencoba melepaskan tangannya karena hendak menyimpan obat di nakas.


"Mom, jangan tinggalkan aku!" racau Devano saat Keysa berusaha melepaskan tangan Devano.


Melihat tangan yang semakin tidak mau lepas dengan suara yang terdengar sangat lirih, membuat Keysa mengurungkan niatnya. Gadis berkacamata itu merasa kasihan pada keadaan Devano. Ia pun malah duduk di tepi ranjang Devano dengan mata yang tertuju pada wajah pucat yang terbaring lemah di sana. 


"Ada apa denganku?" gumam Keysa dalam hati. Memandangi wajah Devano, tiba-tiba membuat jantung Keysa berdegup sangat kencang hingga tanpa sadar ada sesuatu yang berubah di dalam sana. 


Sementara itu, Ezra yang melihat Keysa memandangi Devano dengan tangan yang mengelus tangan Devano mencoba menenangkan lelaki itu, membuat Ezra menyunggingkan senyum—rencananya berhasil. 


"Aku keluar dulu. Tolong temani dia, ya, Key!" Ezra pun memilih meninggalkan Keysa berdua dengan Devano di kamar. 


Keysa hanya mengangguk karena lelaki di sampingnya tidak memberikan kesempatan Keysa untuk menolak. Di dalam kamar Keysa menemani Devano yang beberapa kali mengigau dan terus memanggil ibunya. 


"Tenanglah, mommy-mu tidak ke mana-mana. Dia ada di sini, dia selalu ada di dekatmu," ucap Keysa mencoba menenangkan Devano sambil mengelus-elus pucuk kepala Devano. 


"Mom jangan pergi! Mom! Mom!" 


"Mommy tidak akan pergi. Mommy akan selalu ada di sini di dekatmu." Devano yang mengigau semakin parah membuat Keysa akhirnya bertindak seolah-olah dirinya adalah ibu Devano—berharap lelaki itu berhenti mengigau. 


Namun, bukannya berhenti mengigau lelaki itu malah tiba-tiba bangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. "Mommy!" teriak Devano. "Mom!" teriaknya lagi sambil memindai ruangan kamar mencari sosok yang disebutnya itu. "Kau? Sedang apa kau di sini?" Devano menatap Keysa dengan penuh selidik. "Mommy-ku mana? Baru saja aku mendengar ada suaranya?" tanya Devano lagi saat menyadari hanya dirinya dan Keysa saja yang ada di sana. 

__ADS_1


Keysa sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak menyangka dengan berpura-pura menjadi ibu Devano malah membuat lelaki terbangun. "Itu ... itu ... ibumu tidak ada di sini, jawab Keysa. 


"Jangan bohong! Aku tadi mendengar suara mommy di sini. Dia mengelus-elus kepalaku, dia juga menenangkanku," sarkas Devano, sambil beranjak dari tempat tidur hendak mencari keberadaan mommy-nya. 


"Mommy tidak ada di sini. Tadi aku yang melakukan itu. Maaf, kalau membuatmu telah mengira kalau mommy-mu ada di sini." Keysa menarik tangan Devano dan mendudukkan kembali lelaki yang hanya memakai boxer itu. "Duduklah jangan banyak gerak! Kamu masih sakit," lanjut Keysa. 


"Jadi tadi kau berpura-pura menjadi mommy?" tanya Devano. 


Keysa tidak menjawab. Gadis itu malah berjalan ke nakas dan mengambil obat yang tadi diberikan Ezra. "Minum dulu obatnya supaya panasnya cepat turun," ucap Keysa sambil menyodorkan sebutir benda berwarna putih dengan segelas air putih. 


"Tidak. Aku tidak mau!" tolak Devano. Ia menjauhkan tangan Keysa yang memegang obat. 


Keysa terus memaksa lelaki itu untuk meminum obat dan Devano juga terus menolaknya. 


"Baik, aku akan minum obat. Asalkan kau harus membayar kompensasi karena telah berpura-pura menjadi ibuku," ucap Devano yang membuat dahi Keysa terlipat. "Kau harus memelukku dan mengeloni aku tidur persis seperti mommy," lanjutnya. 


"Tapi, gara-gara kau sekarang aku sangat merindukan mommy. Aku sangat berharap dia ada di sini di saat aku sedang sakit seperti sekarang ini." Wajah Devano berubah menjadi sendu. 


Melihat Devano yang terlihat sangat merindukan ibunya, Keysa pun tidak tega untuk menolaknya lagi. Akhirnya, ia setuju dengan syarat Devano harus meminum obat yang dibawanya. Setelah minum obat, tidak butuh waktu lama Devano pun terlelap lagi di dalam pelukkan Keysa, kemudian Keysa keluar dari kamar. 


Beberapa jam kemudian .... 


Efek obat membuat Devano tidur sangat pulas. Keysa yang masih menemani lelaki itu pun berinisiatif untuk membuat makanan untuk Devano. Dibantu oleh Ezra, Keysa memasak di dapur salahsatunya sayur wortel—sayur yang tidak disukai Devano. 


Setelah selesai, Keysa membawa makanannya ke kamar dan menyuruh Devano untuk makan dulu. 


"Aku tidak mau. Singkirkan makanan itu dari hadapanku!" Melihat sayur yang dibawa Keysa dipenuhi wortel, Devano langsung menolaknya. Bahkan, lelaki itu sampai bergidik dan seperti mau muntah. "Apa kau tahu aku itu tidak suka dengan wortel? Kau sengaja ingin mengerjaiku, ya?" sarkas Devano.

__ADS_1


Melihat Devano yang menolak mentah-mentah makanan buatannya, Keysa langsung menunduk. Ia kira Devano akan senang dengan makanan buatannya, tetapi keadaannya malah sebaliknya dan Devano juga malah mengira kalau Keysa berniat mengerjai lelaki itu, padahal ia sama sekali tidak tahu jika Devano  tidak menyukai wortel. 


"Kau ingin makan apa? Biar aku carikan," tanya Keysa.


"Keysa sudah cape-cape masak untukmu. Masa ditolak begitu saja tanpa mau mencobanya." Ezra menimpali.


Mendengar ucapan Ezra, Devano langsung mengambil mangkuk berisi sayur wortel yang akan dibawa Keysa ke luar. "Aku akan memakannya." 


"Jika tidak suka jangan! Biar aku buat atau carikan yang lain saja. Aku tidak tanggung jawab jika kau keracunan." 


Namun, Devano tidak mendengarkan Keysa. Ia mengambil sesendok  sayur itu dan memasukkannya ke dalam mulut. 


"Enak," gumam Devano yang membuat Ezra dan Keysa tercengang. Saat wortel itu disantapnya, Devano merasa rasanya itu tidak seburuk yang dibayangkannya malah terkesan enak. 


"Beneran enak? Enggak bakal keracunan kan?" tanya Keysa, yang takut Devano keracunan karena banyak kasus orang yang keracunan karena makanan yang tidak disukai. 


Devano mengangguk dengan mulut yang sudah dipenuhi makanan. Ia bahkan memakan sayur itu sampai habis. 


Hari sudah malam. Keysa sudah seharian menemani Devano dan keadaan lelaki itu sudah mulai membaik. Setelah Devano menghabiskan makanannya, Keysa berpamitan untuk pulang. 


"Key, besok ibuku ulang tahun. Aku akan senang kalau kamu mau hadir di acara ulang tahunnya." Ezra mengundang Keysa untuk datang di acara ulang tahun ibunya. 


"Apa kau akan mengundang Keysa di acara ulang tahun ibumu? Bukankah kamu tahu sendiri setiap jamuan yang ada dia di dalamnya selalu saja berakhir kacau," celetuk Devano.


 


 

__ADS_1


__ADS_2