
"Tunggu di sana. Aku akan segera ke sana!"
Mendengar Disti yang sangat ketakutan juga teriakan orang-orang yang meneriaki sahabatnya itu, membuat Keysa semakin khawatir. Ia yang sudah memakai baju tidur pun lantai mengganti pakaian kembali dan langsung menyusul Disti ke klub.
Setiba di sana, Keysa menanyakan kepada salah satu pekerja di mana ruangan tempat Disti bekerja. Setelah mendapat jawaban, ia pun segera berlari ke ruangan yang disebutkan rekan kerja Disti. Dari ambang pintu ruangan tersebut Keysa melihat sekumpulan pria dan wanita berada di sana, salah satunya adalah gadis yang mengaku-ngaku menjadi pacarnya Devano.
"Keluarlah dari sana!" teriak seorang pria berbadan jangkung dengan rambut sedikit begelombang. "Keluar atau kudobrak pintunya!" teriaknya lagi sambil menggedor-menggedor dan menendang daun pintu toilet.
"Tidak! Aku tidak mau keluar." Terdengar suara Disti yang ketakutan menjawab dari dalam toilet.
"Karena ulahmu bajuku jadi kotor, kau harus ganti rugi," tandas pria itu.
"Aku minta maaf. Aku sungguh tidak sengaja," jawab Disti, memelas.
"Tenang saja aku tidak akan memintamu mengganti baju mahalku ini. Kau cukup menemaniku malam ini sampai puas. Aku jamin bukan hanya aku saja yang puas, tapi kau juga." Suara tawa mengiringi ucapannya dengan seringai licik yang tertampil di wajah garangnya. "Cepetan keluar!"
Lelaki tersebut terus memaksa Disti keluar, sedangkan Disti tetap menolak. Membuat semua orang berkerumun di depan toilet sambil memaki-maki perbuatan Disti dan meminta gadis itu membuka pintu.
Keysa yang tidak lantas masuk, setelah mendengar percakapan mereka, ia bisa tahu biang masalahnya. Ternyata saat Disti menuangkan minuman untuk mereka, tanpa sengaja gadis itu menumpahkan minuman tersebut pada pakaian seorang pria yang ada di sana, hingga pria tersebut marah dan meminta Disti mengganti rugi dengan hal tanda kutip. Disti yang tidak mau menjadi ketakutan dan bersembunyi di toilet.
"Owh, begitu masalahnya," gumam Keysa.
Setelah tahu akar masalahnya, Keysa pun dengan berani masuk ke ruangan tersebut.
"Heh, siapa kau?" Tiba-tiba lelaki yang memaki Disti menoleh ke arah pintu masuk dan menunjuk Keysa yang sedang berjalan, membuat Keysa spontan berhenti.
"Aku—"
"Keluar dari sini! Aku tidak mengundang gadis jelek ke ruanganku," hardiknya. Ia yang menyewa satu ruangan itu langsung mengusir Keysa, tanpa mendengar penjelasan Keysa.
Namun, Bella yang sedang merangkul lengan si lelaki malah menyapa Keysa. "Kamu?! Kenapa ada di sini?"
__ADS_1
"Kamu mengenalnya?" tanya lelaki itu.
"Sebatas tahu saja. Tadi siang dia membuat masalah denganku," jawab Bella. "Sedang apa kau di sini?" tanya Bella lagi kepada Keysa.
Melihat Bella yang sepertinya masih mengenalinya setelah pertengkaran di kampus, Keysa pun tersenyum ke arah Bella. Ia bisa memanfaatkan gadis itu untuk membantunya mengeluarkan Disti. "Aku diajak minum-minum oleh Devano. Sekarang aku sedang bersamanya," bohong Keysa.
Sesuai prediksi. Begitu mendengar nama Devano, semua orang di sana yang tadinya menatap Keysa dengan tidak bersahabat langsung bersikap ramah. Bahkan, lelaki itu tidak lagi mengusirnya dengan mata yang mau keluar. 'Besar sekali pengaruh seorang Devano. Baru nyebut namanya saja, mereka langsung berubah 180⁰,' gumam Keysa dalam hati.
"Bukankah kamu sedang bersama Dev, lalu kenapa malah ke ruangan kami?" tanya Bella kemudian.
"Sebenarnya ... aku ingin bertemu dengan temanku dulu. Kata resepsionis, ia berada di ruangan ini, jadi aku pun ke sini." Keysa mencoba menjelaskan.
"Memang siapa temanmu?" tanya Bella lagi sambil mengedarkan matanya ke seluruh ruangan itu.
"Disti. Dia bekerja part time di klub ini dan katanya sih dia di sini, tapi kok gak ada, ya?" ujar Keysa, berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Jadi gadis pengantar minuman itu adalah temanmu?" gumam Bella.
Bella mengangguk, lantas dengan ramah meminta Disti keluar dari toilet dan melepaskannya begitu saja, membuat lelaki di sampingnya protes. Akan tetapi, setelah Bella membisikkan sesuatu, lelaki itu pun langsung mengangguk mengikuti kemauan Bella—meskipun kekesalan masih mendominasi wajahnya.
"Apa kamu bisa bantu aku bertemu dengan Dev?" tanya Bella kemudian.
"Tentu saja." Melihat rencananya berhasil, Keysa langsung menyetujui permintaan Bella.
"Terima kasih sudah bela-belain datang ke sini untuk bantu aku." Disti yang baru keluar dari toilet langsung memeluk Keysa dan berterima kasih, membuat semua orang yang ada di sana curiga.
"Apa kau sedang mengelabui kami?" Tiba-tiba Bella menatap tajam ke arah Keysa, begitu mendengar ucapan Disti.
'Ah ... Disti kenapa berterima kasih di waktu yang tidak tepat, sih,' rutuk Keysa dalam hati.
Keysa mengelak dan berusaha meyakinkan kalau dirinya benar-benar datang ke sana bersama Devano.
__ADS_1
"Kalau gitu telepon Dev sekarang untuk membuktikan kalau kau tidak berbohong," sarkas Bella. "Sampai kau berbohong, aku tidak akan melepaskanmu dan temanmu itu."
'Kenapa jadi kayak gini? Padahal, rencanaku hampir saja sempurna.' Mau tidak mau untuk menutupi kebohongannya, Keysa pun menelpon Devano. Akan tetapi, Devano sama sekali tidak menerima panggilan Keysa. 'Angkat, dong!' Beberapa kali panggilannya tersambung, tetapi tetap saja berujung dengan suara operator.
Mata orang-orang di sana sudah menatap ke arah Keysa semua, seakan-akan Keysa adalah anak ayam yang akan dimakan oleh segerombolan musang. Keysa mulai panik kalau kebohongannya terbongkar bukan hanya Disti yang habis di ruangan itu, tetapi dirinya juga.
Kemudian, ia teringat kepada Ezra. Dengan segera, Keysa pun menghubungi Ezra. Beruntung lelaki itu dengan hitungan detik langsung menerima panggilannya, membuat Keysa bernapas lega.
"Apa kalian sudah sampai di klub? Kalian ada di ruangan mana?" tanya Keysa berpura-pura. "Ya—"
Keysa yang hendak berkata, 'ya sudah, kalau gitu bertemu besok saja' langsung dipotong Ezra yang bertanya bagaimana Keysa bisa tahu kalau mereka ada di klub. Lelaki itu juga menyebutkan ruangan mereka berada.
Senyum tersungging di bibir Keysa. Keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada gadis itu. Ia yang niatnya hanya berbohong, tanpa sengaja ternyata kedua lelaki itu juga ada di sana.
"Apa Dev sedang bersamamu? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?"
Di ruangan lain, Ezra menoleh ke arah Devano yang sedang sibuk memeluk dua gadis sekaligus, lalu berkata, "Ia sedang sibuk. Apa Keysa mau ke sini?" tanya Ezra.
Keysa mengiakan. Ezra pun memberitahukan nomor ruangan mereka.
"Apa boleh membawa teman?" tanya Keysa lagi dan dengan santai Ezra menyetujui permintaannya.
Setelah menutup telepon, Keysa menatap mereka dengan tatapan bangga. Mereka yang siap menerkam Keysa pun tiba-tiba melunak. Lalu para gadis yang ada di sana dengan ramah bertanya, apa Keysa bersedia membawa mereka juga.
"Maaf, tidak bisa." Dengan cepat Keysa menolak. Ia menegaskan hanya bisa membawa Bella dan Disti saja.
"Baiklah," ucap mereka dengan raut kekecewaan. Namun, karena tahu Keysa benar-benar mengenal Devano, gadis-gadis itu pun tidak protes lagi.
Keysa, Bella dan Disti pun keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ke ruangan yang disebutkan oleh Ezra di sambungan telepon.
"Kalian saja yang masuk. Aku harus melanjutkan pekerjaanku," ucap Disti begitu sampai di ruangan yang dimaksud.
__ADS_1
"Baiklah. Hati-hati kerjanya." Keysa yang tahu sahabatnya itu sangat membutuhkan uang, hanya mengiakan.