
76
Keysa yang sejatinya adalah seorang konglomerat sejati, sudah pasti gadis itu pandai akan semua hal termasuk memiilih barang bagus dan berkelas.
Selena memperhatikan hadiah yang diberikan Keysa dengan seksama. Wanita itu sangat terpukau pada kain batik di tangan Keysa yang sangat bagus dan cantik dan berhasil membuat semua orang terdiam. Kain batik limited edition karena Keysa hanya memproduksi satu saja.
"Maaf, Tante, aku tidak bisa memberikan barang mahal dan mewah. Aku hanya bisa memberikan kain ini! Itu pun hasil buatan sendiri saat aku masih di kampung, bukan hasil beli. Maklumlah, aku bukan orang yang banyak seperti mereka," ucap Keysa, merendah sambil melirik orang-orang yang mencibirnya. "Semoga Tante suka," lanjutnya.
Keluarga Keysa memang sangatlah pintar dalam segala hal dan semua itu menurun kepada Keysa. Bahkan, di usianya yang masih muda, gadis itu sudah pintar membatik. Batik yang diberikan kepada Selena pun merupakan mahakaryanya sebelum pindah ke sana.
"Apa ini buatan kamu sendiri?" tanya Selena, tidak percaya.
"Iya, Tan. Maaf kalau jelek, aku masih tahap belajar," jawab Keysa.
"Ini tidak jelek. Ini itu amazing. Cantik sekali. Tante belum pernah menemukan kain batik secantik ini," ujar Selena. Ia benar-benar jatuh hati pada barang pemberian Keysa. Dengan mata yang berbinar, Selena menerima hadiah itu dan mengucapkan terima kasih kepada Keysa.
Devano dan Ezra mengembuskan napas lega saat Selena menerima pemberian Keysa, begitu pun dengan Keysa sendiri. Kemudian, Ezra mengajak semua orang untuk berkumpul ke meja makan untuk menyantap jamuan malam ini.
"Kamu bisa mendapatkan kain batik sebagus itu dari mana?" tanya Devano saat orang-orang sudah mulai pergi.
"Telingamu tadi disimpan di mana saat aku bicara?" Keysa melirik lelaki yang masih berada di sampingnya.
"Ada di sini." Devano menunjuk kedua telinga yang masih menempel di tempatnya.
"Berarti kamu dengar waktu aku mengatakan kalau itu batik buatanku sendiri," tandas Keysa, lalu pergi menyusul orang-orang yang sedang menikmati jamuan yang tersedia.
"Jadi itu benar-benar buatanmu sendiri?" Devano masih tidak percaya dengan ucapan Keysa karena batik itu sangat cantik dan terlihat elegan seperti dibuat oleh orang yang sangat ahli di bidangnya.
__ADS_1
Keysa pun mengangguk pasti.
"Kalau begitu buatkan aku satu," tandas Devano lagi. Ia ingin membuktikan kalau gadis di sampingnya itu tidak sedang membual.
Keysa langsung menoleh begitu mendengar permintaan Devano. "Tidak ada yang gratis. Berani bayar berapa?"
"Dasar mata duitan."
"Bukannya dari kemarin juga sudah tahu," tandas Keysa dengan santai.
"Tapi, kau berikan kain itu gratis kepada Tante Selena." Keduanya mulai berdebat lagi hanya karena batik.
"Tante Selena kan sedang ulang tahun."
"Kalau begitu aku minta batik sebagai hadiah ulang bulan," sarkas Devano tidak mau ada penolakan lagi.
Sementara itu, Keysa yang mendengar ucapan Devano malah tertawa. Saat ini, ia melihat Devano persis seperti anak kecil yang merengek dibelikan mobil-mobilan setelah melihat mobil-mobilan punya temannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Devano, melihat Keysa yang malah pergi berlawanan arah dengan tempat jamuan.
"Cari Disti dulu."
Keysa teringat kepada Disti yang diajaknya. Sejak menemui Selena, ia tidak lagi melihat keberadaan Disti di dekatnya. Keysa pun mencari gadis itu dulu untuk mengajaknya menikmati hidangan di acara tersebut.
Di tempat lain, Disti sedang berdebat dengan seorang gadis yang sedang mengolok-oloknya dan menyebutkan bahwa gaun yang mereka pakai sama persis, tetapi gaun Disti palsu.
"Wah, lihat deh, baju yang dipakai bagus sekali," ucap gadis itu sambil menyentuh gaun yang dipakai Disti. "Eh, kok, sama, ya, dengan gaunku? Tapi kenapa kainnya terasa lebih kasar, ya? Tidak seperti gaun yang aku pakai," lanjutnya. "Jelaslah kasar orang yang dia pakai gaun imitasi." Gadis itu memperok Disti dengan tawa mengejek.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan gadis itu, Disti langsung terdiam dan membuatnya menjadi tidak percaya diri. Sementara itu, gadis yang mengejek Disti beserta teman-temannya semakin memperolok Disti.
Bertepatan dengan itu, Keysa menemukan Disti dan langsung melawan orang-orang yang sedang membully gadis itu. "Memangnya kenapa kalau gaun dia palsu? Yang penting masih berwujud gaun dan bisa menutupi tubuh. Apa hak kalian mengolok-olok dia? Kalau tidak bisa memberikannya yang asli, tidak perlu sombong seperti itu!" sarkas Keysa.
Segerombolan gadis itu pun langsung pergi meninggalkan Disti setelah mendengar ucapan Keysa, tanpa berani menyanggahnya. Kemudian, mereka bergosip tentang Liza yang baru pulang dari luar negri.
"Kapan aku bisa seperti Liza, ya? Sudah cantik, pintar, kaya dan seksi, dia juga banyak digilai para lelaki," ucap salah satu dari mereka sambil melihat ke arah Liza yang berada cukup jauh dari mereka.
"Aku dengar juga, banyak konglomerat yang ingin menjodohkan anaknya dengan dia. Beruntung sekali dia." Yang lain juga ikut menambahkan.
"Dia pantas mendapatkan semua itu. Secara dia cantik dan berkelas, tidak seperti mereka yang ingin tampak berkelas tapi gak punya modal dan akhirnya hanya sanggup pakai imitasian," timpal yang lain, tanpa berani melihat ke arah orang yang mereka maksud.
Keysa sendiri mendengar ucapan yang ditujukan kepadanya dan Disti dengan jelas. Namun, Keysa yang sedang menghibur Disti karena ulah mereka, tidak ingin meladeninya dan malah mengajak Disti untuk bergegas ke tempat makan.
Di tempat makan, Keysa yang penasaran karena terlalu banyak orang yang mengagungkan Liza, ia pun mengirim pesan kepada Kakek Surya dan bertanya tentang keluarga Liza.
[Apa kau suruh kakek jadi detektif lagi?] Balasan dari Kakek Surya setelah pesan dari Keysa terkirim.
[Aku hanya bertanya, siapa tahu Kakek tahu asal usul gadis dari keluarga Smith itu.] Keysa menyebutkan nama keluarga Liza yang didengarnya dari orang-orang di sana.
Kemudian, Kakek Surya menjelaskan bahwa keluarga Smith dulu pernah bekerja di keluarga mereka sebagai pelayan sebelum kabur karena tersandung sebuah masalah.
"Ternyata hanya anak seorang mantan pelayan yang membangkang," gumam Keysa sangat pelan, setelah membaca pesan dari sang kakek. "Tapi, keren juga bisa bertransformasi jadi konglomerat terpandang di kota ini," lanjutnya.
Keysa pun hanyut dalam lamunannya, sampai akhirnya Ezra dan Exel membuyarkan lamunannya.
"Key, kita berdansa yuk!" Exel dan Ezra secara bersamaan mengulurkan tangannya pada gadis yang sedang duduk sambil memutar-mutar gelas berisi jus.
__ADS_1
Keysa memandangi dua tangan yang terulur ke arahnya dan melihat wajah dua lelaki itu secara bergantian. "Aku sudah berjanji untuk menari dengan Ezra," ucapnya sambil meraih tangan Ezra. "Jika kamu ingin menari juga denganku, sebaiknya tunggu giliran, ya!" Keysa yang sebelumnya sudah berjanji akan berdansa dengan Ezra, memilih ajakan lelaki itu dan menyuruh Exel menunggu. Bertepatan dengan itu, Devano juga mendatangi Keysa.
Happy reading ... n**uat yang minta double atau crazy up maaf belum bisa, ya! Bang Andre aja belum sempat up lagi, sedangkan Bang Dev aku usahain tetap up meskipun jam up-nya berubah jadi malam. Mohon pengertiannya, ya ... I love you all** ....