
80
Perbuatan Liza benar-benar membuat Keysa geram. Melihat gadis berambut pirang itu yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh peperangan pun membuat kekesalan Keysa semakin menggunung. Ia pun mendekati Liza, kemudian mencengkeram dagu gadis itu hingga kepalanya mendongak ke arah Keysa.
"Ada jus di atas meja. Jika kau berani macam-macam dan terus mencari gara-gara denganku, jus itu sudah siap melayang ke wajahmu," sarkas Keysa dengan pelan, tetapi mampu membuat orang yang mendengarnya merinding.
Seketika Liza berubah pias. Ia bergidik ketakutan mendapat perlakuan seperti itu dari Keysa, ditambah lagi tatapan Keysa seakan-akan sedang melucutinya. Ia pun lantas melirik ke arah Devano dan Ezra, meminta bantuan mereka dari sorotan matanya. Akan tetapi, kedua lelaki itu tetap diam, seolah-olah tidak melihat adegan yang sedang terjadi di sana.
'Ish ... ternyata mental tempe doang. Digertak segitu saja sudah ketakutan." Keysa menarik ujung bibirnya, tersenyum sinis, lantas melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan kembali ke tempat duduk.
Sambil menikmati jus yang dibawanya dari kantin, Keysa memikirkan cara bagaimana agar tidak diserang oleh penggemar Liza. Meskipun keberanian Liza jauh dibawahnya, tetapi teman kecil Devano itu memiliki penggemar yang sangat melimpah. Dan, itu adalah kekuatan Liza yang bisa membuat Keysa susah kapan saja.
"Sepertinya aku punya ide brilian," gumamnya saat sebuah ide terlintas di kepala.
"Setelah mengancam orang sampai orang berubah seperti mayat hidup, sekarang kau malah senyum-senyum sendiri. Kau itu sehat, kan?" Devano menempelkan tangannya di kening Keysa, dengan tangan satu lagi merebut minuman yang dipegang Keysa dan meminumnya.
Keysa spontan menyingkirkan tangan yang menempel di keningnya, lalu memelototi Devano. "Dev, itu minumanku!" sarkas Keysa, tidak terima minumannya diambil Devano.
"Aku juga haus!" jawab Devano sambil mengembalikan kembali minuman itu, setelah dirinya menghabiskan lebih setengahnya.
"Dev, kok, tinggal sedikit sih?" Keysa langsung protes melihat jus-nya hanya disisakan di dasar gelas saja.
Dengan wajah tanpa dosa, Devano hanya mengatakan karena dia haus, membuat bibir gadis disampingnya itu langsung mengerucut.
"Tadi kenapa senyum-senyum sendiri?" Devano masih penasaran dengan otak kerdil Keysa, karena ia yakin seribu persen gadis itu sedang memikirkan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya sendiri entah dari apapun itu.
Mendengar pertanyaan Devano, Keysa kembali tersenyum sambil menatap lelaki yang sudah menguras jus miliknya itu.
"Tatapanmu horor sekali." Devano memalingkan wajah. Ada sesuatu yang berdesir hebat saat Keysa menatapnya seperti itu.
__ADS_1
Keysa mendekatkan kursinya ke kursi Devano hingga menempel, kemudian menggaet lengan Devano, membuat jantung lelaki itu seperti sedang berdisko. 'Jantungku kenapa tidak terkendali seperti ini?' rutuk Devano.
"Kamu sudah minum jus-ku, 'kan?" tanya Keysa dengan tangan yang masih melingkar di lengan Devano.
"Ya," jawab Devano singkat. Ia masih mencoba mengkondisikan jantungnya yang bisa membuat geger dunia bila Keysa juga mendengarnya.
"Aku ikhlas berbagi jus denganmu. Tapi, sebagai gantinya aku pinjam kamera kamu, ya!" Keysa berujar dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.
"Untuk apa?" tanya Devano dengan mata yang menyipit.
"Ah, kamu gak asyik," rutuk Keysa saat Devano menolak untuk meminjamkan kamera jika Keysa tidak mau memberikan alasan dan tujuan yang tepat. Mau tidak mau, akhirnya Keysa memberitahu ide yang ada di kepalanya itu.
Keysa mendekatkan wajahnya ke telinga Devano dan membisikkan sesuatu, yang malah membuat Devano semakin kelimpungan dengan perasaannya sendiri. Embusan napas yang terasa di sekitar daun telinga dengan suara pelan Keysa yang terdengar sangat seksi semakin membuat jantungnya cenat-cenut tidak karuan.
'Ah, sial kenapa tidak langsung diberikan saja kameranya,' umpat Devano dalam hati.
"Apa kau ingin tidak diganggu oleh penggemar Liza?" tanya Devano yang dijawab anggukan Keysa. "Aku punya cara yang lebih ampuh," lanjutnya dan berhasil membuat Keysa penasaran.
"Apa?"
"Teruslah berdekatan denganku. Mereka tidak akan berani mengganggumu jika kau bersamaku."
"Tapi aku itu tidak mungkin berada dua puluh empat jam terus bersamamu. Bagaimana jika saat tidak bersamamu, mereka mendatangiku?"
"Tidak perlu 24 jam terus bersamaku. Kau hanya cukup menjadi pacarku, mereka pasti langsung minggat. Bagaimana, apa kau mau menjadi pacarku?" Devano berujar sambil menaik-turunkan alisnya. Lelaki itu malah menjadikan kesempatan di depan matanya untuk menembak Keysa, meskipun terkesan seperti yang sedang bermain lelucon tetapi ajakan itu benar-benar dari hati terdalam Devano.
"Jadi pacar ke 159-mu?" Keysa menyipitkan matanya.
"Keberapa pun itu terserahmu saja," ucap Devano yang malah kesal mendengar deretan angka deretan mantannya itu, seolah-olah dirinya itu adalah seorang pencinta wanita sampai pacar saja ratusan.
__ADS_1
Sementara itu, Keysa malah tertawa sambil geleng-geleng. Ia tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Devano mengajak jadian dan menjadikannya pacar ke 159, sedangkan dirinya pacaran pun belum pernah. Nol berbanding seratus lima puluh sembilan.
"Aku tidak mau," tandas Keysa, menolak mentah-mentah ajakan Devano.
"Yakin, enggak mau?"
"Yakin. Entar yang ada besoknya aku udah ganti status lagi jadi mantan pacar ke 159," tandas Keysa, memikirkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Akan aku jadikanmu yang terakhir."
"Oh, ya? Dasar bulsyit. Sayangnya aku tidak percaya," ucap Keysa seraya menjulurkan lidahnya dan menggeser kembali kursinya. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Devano dan hanya menganggap semua itu guyonan saja.
***
Keesokan harinya ....
Dengan menggunakan kamera milik Devano, Keysa mengambil foto Liza sebanyak-banyaknya. Kemudian, saat dirinya dikepung oleh para penggemar Liza, ia memberikan foto itu kepada mereka sebagai tanda damai dan membungkam mulut mereka yang terus ingin membuat masalah. Penggemar Liza yang lebih didominasi kaum adam pun langsung diam saat Keysa memberikan foto idola mereka.
Kabar foto Liza yang menyebar seantero kampus pun sampai ke telinga Liza. Ia langsung murka saat mendengar berita heboh itu. Bersama dengan para penggemar wanitanya, Liza mendatangi Keysa dan menyatakan perang.
Keysa sendiri tampak sedang duduk santai di kelas, dengan senyum yang menghiasi wajah gadis berkacamata itu karena telah berhasil menaklukkan penggemar Liza sekaligus haters-nya.
"Kau berani sekali menyebar fotoku tanpa izin," hardik Liza sambil menggebrak meja Keysa.
"Siapa yang terlebih dahulu memulainya?" ucap Keysa dengan santai. "Aku hanya melanjutkan saja. Kau yang meminta mereka menggangguku dan aku juga berusaha membuat mereka tidak menggangguku."
"Kau ...." Liza menunjuk wajah Keysa dengan sangat geram. Kalau tidak ingat image-nya yang tidak pernah melakukan kekerasan di depan para penggemarnya, Liza ingin sekali menjambak Keysa. "Akan kupastikan kau dikeluarkan dari kampus!" ancam Liza.
"Tidak akan ada yang bisa mengeluarkan Keysa dari kampus." Tiba-tiba Devano menghampiri mereka dengan baritonnya yang tegas sambil menurunkan tangan Liza yang masih menunjuk wajah Keysa.
__ADS_1