
46
Keysa langsung membuka mata dan dibuat terperangah saat ada bibir yang menempel dan melahap bibirnya dengan rakus. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan pagutan mereka, hingga Keysa berhasil mendorong lelaki yang menangkup kedua pipinya.
"Apa kau sudah tidak tahu malu, hah?" sarkas Devano dengan mata yang memerah.
"Apa?! Aku tidak tahu malu?" Keysa bingung dan kesal saat Devano berkata seperti itu dan semakin bingung saat melihat Felix yang tadi ada di sisinya, sekarang sedang terduduk shock di tanah. 'Apa yang terjadi saat aku menutup mata tadi?'
Beberapa waktu lalu sebelum Devano mencium Keysa.
Devano lari dengan terburu-buru ke taman kecil di mana Keysa dan Felix berada sesuai ucapan Ezra. Setiba di sana, ia yang khawatir Felix melakukan hal tidak baik langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, hingga matanya menangkap gadis yang dicarinya itu sedang duduk di sebuah bangku panjang dekat bougenville. "Itu dia!" gumamnya berseringai.
Namun, seketika wajahnya berubah masam dengan tangan yang mengepal sempurna, saat tiba-tiba ia melihat Keysa memejamkan mata dan dilihatnya Felix mencondongkan wajahnya semakin mendekati wajah Keysa. "Apa yang akan dilakukan bajingan itu padanya?" Dengan langkah lebarnya serta dada yang bergemuruh, Devano pun menuju tempat duduk Keysa.
Felix sendiri tampak ragu untuk mencium Keysa, bahkan ia merasa geli saat membayangkan dirinya harus mencium bibir wanita. Akan tetapi, demi uang lima ratus juta ia harus berpura-pura mencium Keysa. Ia pun berpikir untuk menangkup wajah Keysa saja dan membuat jarak mereka sangat dekat, sehingga dari jauh akan tampak seperti orang sedang berciuman. Namun, tidak disangka sebuah petaka datang. Ia tiba-tiba didorong dengan sangat kasar sampai terjatuh oleh seseorang dengan wajah yang sudah memerah dan terlihat sangat menakutkan.
Devano menatap tajam penuh amarah kepada lelaki yang telah tersungkur di tanah, lalu beralih menatap Keysa yang masih terpejam dengan senyum tipis yang menghiasi wajah gadis itu. 'Cih, bahkan kau sangat bahagia saat lelaki norak itu akan menciummu?' umpat Devano.
Sejurus kemudian dengan kekesalan yang semakin menggunung, Devano langsung menangkup wajah Keysa yang masih terpejam dan melahap dengan rakus bibir yang sudah beberapa kali dicicipinya.
Saat ini, Keysa yang sedang bingung dibuat kesal oleh perbuatan dan kata-kata Devano yang menyebutnya 'tidak tahu malu'. Semakin bingung lagi, saat melihat Felix yang tadi ada sisinya, malah duduk di tanah dalam keadaan shock. 'Apa yang terjadi?' lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul.
Tidak jauh dari tempatnya, Keysa juga melihat Cheryl dan Felly yang juga terlihat shock oleh semua yang terjadi. Terlebih lagi Cheryl yang selama ini selalu menganggap Keysa yang menggoda Devano, pasti semakin tidak percaya dengan apa yang dilihat gadis itu. Bahkan, gadis itu sampai terduduk lemas di tempat persembunyian dengan tatapan kosong.
'Apa mereka berdua juga melihatnya? Kabur sudah lima ratus juta, kalau begini kejadiannya.' Keysa mengumpat dalam hati, sambil menoleh sekilas ke arah Devano yang terlihat napasnya masih naik turun karena marah.
Keysa takut uang yang sudah di depan matanya hilang begitu saja. Ia pun memilih tidak menggubris kemarahan Devano dan memilih mendekati Felix.
"Apa ada yang luka?" tanya Keysa dengan penuh perhatian.
Felix yang masih shock tidak menjawab.
"Kita ke UKS, ya!" lanjut Keysa sambil menggandeng lengan Felix dan membawa lelaki itu ke UKS, meninggalkan Devano begitu saja.
Devano mengepalkan tangannya dengan erat, melihat Keysa yang membawa Felix pergi tanpa menganggap ada kehadirannya di sana. 'Ah ... aku bisa gila!" Devano mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia merasa sudah tidak waras, bisa-bisa mengkhawatirkan keselamatan wanita yang jelas-jelas tidak peduli dengan perasaannya.
"Lalu kenapa pula aku tadi malah menciumnya?" tanya Devano pada dirinya sendiri saat tersadar dengan apa yang telah dilakukannya.
"Kau hanya ingin membalas dendam karena dia juga menciummu di klub kemarin." Devano memberitahu dirinya sendiri.
__ADS_1
"Yakin hanya itu saja alasannya?" Sisi lain Devano juga bertanya.
"Yakin. Kemarin dia menciumku dengan seenak jidat dan sekarang aku telah membalasnya."
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Devano pun kembali ke kelas dan menyuruh Ezra untuk mencari tahu latar belakang Felix.
"Sebelum kau menyuruh aku sudah mencari tahu," jawab Ezra dengan santai.
"Bagus! Kau memang sahabat terbaik. Lalu, apa yang kau ketahui?"
Ezra pun memberitahukan identitas Felix. Lelaki yang merupakan senior mereka dan terkenal sebagai penggoda wanita dan lumayan populer di kalangan gadis-gadis.
"Apakah dia seorang playboy dan banyak pacar?" tanya Devano lagi.
Ezra tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng dan berkata, "Tidak."
'Tapi, dia punya banyak pacar pria,' lanjut Ezra dalam hati.
Ya, Ezra tahu kalau Felix seorang g*y, tetapi ia tidak berniat untuk memberitahu sahabatnya itu. Ezra rasa dengan membiarkan Devano tidak mengetahui kebenaran itu dan membiarkan Devano cemburu merupakan cara terbaik untuk menyadarkan lelaki itu atas perasaannya sendiri terhadap Keysa.
Sementara itu, di dalam UKS, Felix sedang membujuk Keysa untuk menghentikan rencana mereka.
"Key, kita akhiri saja rencana kita," ucap Felix dengan kepanikan yang memenuhi wajahnya. Felix masih ingat betul wajah menyeramkan Devano saat ia akan mencium Keysa, dan itu berhasil membuat nyali Felix menciut.
Baru saja Keysa selesai bicara, tiba-tiba ponsel Felix berbunyi, ternyata sebuah notifikasi masuk dan menyebutkan ada sejumlah uang masuk ke rekening Felix. Keduanya sangat kaget. Merek baru saja membicarakan hal itu dan uangnya langsung masuk ke rekening. Lalu, Felix mendapatkan sebuah telepon. Setelah dilihat, Cheryl dan Felly lah yang menghubunginya.
"Angkat saja! Jangan lupa di-loudspeaker," ucap Keysa saat Felix meminta persetujuan darinya. Ia ingin tahu apa yang diinginkan kedua wanita itu selanjutnya.
Felix pun mengangguk, lalu menerima panggilan tersebut dan mengaktifkan pengeras suaranya.
Di seberang sana terdengar Cheryl memuji hasil kerja Felix yang bagus. Kemudian, Cheryl meminta Felix untuk melakukan satu hal lagi untuknya. Jika berhasil, ia akan membayar double dari bayaran sebelumnya.
"Tanyakan apa yang mereka inginkan?" bisik Keysa di telinga Felix.
Felix pun mengangguk dan berkata sesuai yang diperintahkan Keysa.
"Aku ingin kau meniduri Keysa," ucap Cheryl.
Perintah yang membuat Felix terperangah, tetapi tidak bagi Keysa. Gadis itu malah mengangguk, menyuruh Felix menyanggupi permintaan Cheryl. Felix yang sudah cukup shock dengan semua yang terjadi dibuat membelalak—tidak percaya dengan perintah Keysa.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila?" sarkas Felix dengan pelan, sambil menjauhkan ponselnya.
"Apanya yang gila? Kita hanya akting lagi. Bukan tidur beneran," jawab Keysa.
"Tapi itu tidak mungkin, Key."
"Ingat tawaran mereka sangat tinggi. Apa kamu tidak tergiur?"
"Tapi—" Felix tidak bisa membayangkan akan seperti apa dirinya dibabat habis oleh Devano jika lelaki arogan itu mengetahui ide gila Keysa.
"Iya, kan, saja. Rencananya seperti apa nanti kita pikirkan lagi," potong Keysa.
Sementara itu, Cheryl di seberang sana sudah tidak sabaran karena tidak mendengar jawaban dari Felix. "Hello! Apa kau masih di sana? Kau denger kata-kataku tidak?" tandas Cheryl yang tidak mendengar apa pun. "Ya, sudah. Kalau kau tidak mau, aku bisa mencari lelaki lain," lanjut Cheryl.
Felix pun terpaksa menyetujuinya. Jika bukan dirinya, akan ada lelaki lain yang dibayar untuk mencelakai Keysa. Ia tidak mungkin membiarkan Cheryl melakukan hal itu, apalagi Keysa sudah dengan baik hati menerimanya sebagai teman meskipun Felix berbeda.
Setelah menutup teleponnya, Cheryl tersenyum bangga karena dia akan berhasil menjauhkan Keysa dari sisi Devano.
Di UKS, Felix langsung mentransfer setengah dari imbalannya ke rekening Keysa.
"Terima kasih atas kerjasama yang menyenangkan ini. Selanjutnya projek kita akan lebih menantang," ucap Keysa, tersenyum lebar.
"Dasar gila," rutuk Felix yang hanya dijawab juluran lidah oleh Keysa, lalu pergi.
Felix tidak habis pikir, ia bisa terjebak diantara orang-orang berkuasa di kampus beserta gadis aneh yang mendengar kata uang langsung hijau.
Setelah berpisah dengan Felix, Keysa kembali ke kelas. Ia yang kesenangan karena mendapatkan uang pun terus bersenandung ria, bahkan sampai masuk ke kelas.
Devano yang melihat tingkah Keysa pun merasa kesal. "Begitu senangnya kau habis berduaan dengan lelaki norak itu?" umpat Devano, sangat pelan. Ia mengira Keysa senang karena habis bersama Felix.
Saat pulang kuliah, Devano ingin langsung pergi bersama Ezra. Namun langkahnya terhenti saat melihat Felix masuk ke kelas dan mengajak Keysa pergi menonton ke bioskop. Keysa pun mengangguk dengan senyum yang merekah, menyetujui ajakan Felix. Lalu, keduanya keluar sambil bergandengan tangan.
Melihat pemandangan itu, Devano langsung pergi ke arah Keysa dan Felix dan memisahkan mereka.
"Kau tidak boleh pergi dengannya," sarkas Devano sambil memisahkan tangan yang sedang bergandengan itu.
"Kenapa aku tidak boleh pergi dengan Felix?" tanya Keysa dengan kesal. Lagi-lagi Devano mengganggu rencana yang sudah dibuat matang-matang olehnya.
Devano terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Keysa, membuat Keysa mengerutkan alis. "Ini kebebasanku. Kau bukan siapa-siapa aku, jadi kau tak berhak mengaturku," lanjut Keysa, lalu mengajak Felix pergi.
__ADS_1
Devano yang melihat mereka pergi pun wajahnya berubah kelam. Namun, ia juga berpikir kalau bahwa yang diucapkan Keysa memang benar. Ia bukanlah siapa-siapanya gadis itu.