Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
199


__ADS_3

Tidak ingin membuat Devano diterpa lebih banyak masalah, Keysa memutuskan untuk pulang. Meninggalkan Devano yang dimintanya untuk menjaga Cheryl.


"Sebaiknya kamu kembali ke ruangan Cheryl. Takutnya dia akan berbuat nekad lagi ketika sadar tidak melihatmu di sisinya." Meskipun berat, Keysa harus membuat sebuah keputusan. Mereka sama-sama terluka, tetapi jika dirinya memaksakan Devano untuk di sisinya, akan ada lebih banyak lagi masalah yang menerpa.


"Tapi ...."


"Aku percaya pada cinta kita. Kamu milikku dan aku milikmu. Ragamu ada bersama Cheryl bukan berarti hatimu juga bersamanya. Semoga masalah ini cepat berlalu dan kita bisa hidup bersama tanpa ada penghalang." Keysa menyungging senyum, kemudian pamit dan meninggalkan Devano.


"Key, tunggu!" Devano dengan cepat meraih tangan gadis yang berjalan dengan tertatih-tatih itu. "Biar aku antar. Kamu kesusahan berjalan. Terima kasih sudah sangat mengerti aku," lanjutnya, sambil menarik tangan Keysa untuk memegang bahu, sedangkan tangan satu lagi memegang pinggang Keysa.


"Tidak usah. Kamu kembali ke kamaar Cheryl saja," tolak Keysa.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan kekasihku pulang sendiri dengan keadaan tidak baik-baik seperti ini? Aku antar kamu dulu," keukeuh Devano, sambil terus memapahnya.


"Kamu antar aku sampai depan saja. Aku bisa naik taksi."


Devano bersikeras untuk mengantar Keysa pulang, tetapi Keysa pun tetap menolak. Hingga akhirnya, Devano menuruti kemauan kekasihnya itu. Hanya diantar sampai menemukan taksi.


"Hati-hati," gumam Devano sambil melambai saat mobil yang ditumpangi Keysa mulai meninggalkan area rumah sakit.


Devano kembali ke ruang di mana Cheryl dirawat setelah mobil yang Keysa tumpangi sudah menjauh. Sesampai di kamar Cheryl, seluruh keluarga gadis itu sudah berkumpul.


"Dasar Bedebah!" Exel yang melihat Devano membuka pintu langsung menghampiri Devano dengan sejuta amarah dan menghadiahi Devano sebuah bogem mentah.


Exel menghajar Devano habis-habisan dengan kata makian yang terlontar untuk lelaki yang berusaha menangkis setiap serangannya.


"Belum puas kemarin kau lihat adikku mengiris pergelangan tangannya sendiri? Sekarang kau malah membuatnya memakan obat tidur. Besok-besok kau ingin adikku melakukan apalagi?" sarkas Exel, dengan kepalan tangan yang bersiap meninju hidung mancung Devano. Tidak terima adiknya sampai melakukan percobaan bunuh diri sampai dua kali.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Damar yang baru datang dibuat terkejut saat di ruangan Cheryl disuguhkan dengan perkelahian Devano dan Exel.


Exel sedikit lengah saat mendengar ucapan Damar, membuat Devano dengan cepat menghalau tangan yang siap meremukkan tulang hidungnya itu. Tangan Devano mengunci tangan Exel, menyatukan kepalannya dengan tangan Exel yang juga terkepal sempurna. Mata Devano menatap tajam ke arah Exel penuh amarah.

__ADS_1


"Itu adalah kebodohannya sendiri. Kau bertanya seperti itu kepadaku, seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri. Sampai kapan kau akan mendukung tingkah adikmu itu? Sejak awal aku sudah mengatakan aku tidak bisa menjalin hubungan dengannya. Aku mencintai orang lain, tapi kalian terus memaksaku untuk tetap di sisinya. Lalu, jika sudah seperti ini, kenapa kalian terus menyalahkan aku? Seharusnya kau sebagai kakaknya memberi penjelasan dan pengertian kepada adikmu, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, bukan terus mendukung tindakan salahnya. Semakin lama dia bersamaku, semakin banyak rasa sakit yang mungkin akan dia dapat karena sampai kapanpun aku tidak bisa memberikan hatiku kepadanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih."


Devano berbicara panjang lebar dengan tangan Exel yang masih dikepalnya, kemudian melepaskan dengan kasar sambil menendang perut Exel hingga lelaki itu terhuyung ke belakang. Cheryl sudah dikelilingi oleh keluarganya, Devano merasa tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal. Ia pun memutuskan untuk pergi.


"Berhubung kalian sudah ada di sini. Aku pamit undur diri." Devano membungkuk ke arah ibu Cheryl yang sejak tadi menonton drama perkelahian Devano dan Exel, kemudian menatap Exel yang sedang meringis penuh kebencian.


Devano beranjak dari ruangan itu.


Ibu Cheryl yang melihat kepergian Devano langsung mencegahnya. Ia tidak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi terhadap Cheryl jika saat sadar tidak ada Devano di sisinya.


"Jangan pergi, Nak! Tolong temani Cheryl di sini," ucap ibu Cheryl, penuh harap.


Devano yang sejak awal memang tidak suka di dekat Cheryl, ditambah terlanjur kesal kepada Exel langsung menolak permintaan wanita seumuran Damar itu. Devano menoleh ke arah suara, kemudian berbicara dengan sopan. "Maaf, Tan, aku tidak bisa. Di sini sudah ada orang-orang yang benar-benar Cheryl butuhkan yaitu kalian bukan aku," ucapnya, lalu kembali melangkah.


Tidak ingin Devano pergi, ibu Cheryl langsung berhambur ke arah Devano dan memeluk kaki Devano, memohon agar Devano tidak meninggalkan anaknya.


"Aku mohon jangan pergi, Dev! Kamu sudah berjanji untuk menjaga Cheryl dengan baik. Kamu sudah berjanji kepada kami di depan makam ayah dan anak sulungku bahwa kamu akan menyerah seluruh hidupmu untuk keluarga kami. Kamu akan selalu ada untuk Cheryl. Di mana janjimu itu, Dev? Aku mohon jangan tinggalkan Cheryl! Dia tidak bisa hidup tanpamu! Kasihanilah putri bungsuku." Dengan air mata yang terus berderai, ibu Cheryl terus memohon.


Melihat ibu Cheryl yang sedang mengiba pada sang anak membuat Damar tidak tega dan kasihan. Air mata ibu Cheryl yang memilukan berhasil membuat Damar semakin terpengaruh dan membela keluarga Cheryl.


"Aku akan selalu ada untuk Cheryl tapi sebagai kakaknya, bukan sebagai pasangannya. Sejak awal aku sudah membuat keputusan aku akan menjaganya sebagai kakak, kenapa kalian tidak pernah mengerti juga," timpal Devano, lalu pergi. Berada di sekeliling orang-orang yang terus menentangnya membuat Devano terasa sesak. Ia tidak memedulikan lagi orang-orang yang terus memanggilnya. Damar yang tidak suka dengan jalan pikiran sang anak pun langsung mengejar.


Setelah kepergian Devano, Cheryl membuka mata. Ia menatap sang kakak masih meringis kesakitan dan si ibu yang sedang menghapus air mata buayanya.


"Ah, kenapa hasilnya jadi gini?" Cheryl bangun sambil membuang selang infus yang menempel di tangan.


Rencana mereka tidak sesuai dengan rencana. Ya, acara bunuh diri Cheryl sudah direncanakan sejak awal untuk semakin mengikat Devano di sisi Cheryl. Namun, Devano terlalu keukeuh dengan pendiriannya yang menganggap Cheryl adik.


"Tenang masih banyak cara untuk mendapatkannya. Yang terpenting Om Damar sudah berada di pihak kita dan mendukung seratus persen perjodohan kalian." Exel mencoba menenangkan Cheryl.


***

__ADS_1


Di asrama, Keysa mendapat kabar bahwa Kakek Surya tiba-tiba jatuh sakit. Ia yang sangat khawatir dengan kesehatan sang kakek langsung memesan tiket pesawat untuk pulang.


Kabar tentang Keysa yang akan pulang ke ibu kota pun diketahui oleh Ezra, karena Keysa meminta bantuan Ezra untuk mendapatkan tiket saat itu juga.


Tidak selang berapa lama setelah mendapatkan tiket untuk Keysa, Devano datang ke rumah Ezra dengan wajah yang kacau balau.


"Kau kenapa?" tanya Ezra, melihat sebagian sisi wajah Devano yang kemerahan, bahkan di ujung bibirnya membiru.


"Dihajar kakak Cheryl." Devano menceritakan semua yang yang telah terjadi seharian ini. hanya kepada Ezra-lah Devano selalu blak-blakan dalam segala hal.


"Hari ini Keysa pulang ke ibu kota apa dia memberitahumu?" tanya Ezra, kemudian.


Pernyataan Ezra berhasil membuat Devano terlonjak. "Keysa pulang?" tanyanya tidak percaya.


Ezra mengangguk, membuat Devano semakin tidak karuan. "Tidak. Kau tidak boleh meninggalkanku!" Ia mengira Keysa pergi karena kecewa kepadanya, langsung meraih kunci mobil lagi dan pergi menuju Bandara.


"Please jangan pergi!" Devano mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak ingin Keysa meninggalkannya.


Setiba di bandara, ia langsung berlari ke tempat pemberangkatan. Ia mencari sosok yang beberapa jam lalu kakinya diperban, hingga mata Devano tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di sebuah bangku.


"Aku tahu kamu pasti kecewa padaku. Tapi, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu, Key. Aku janji aku akan membuat orang merestui hubungan kita." Devano langsung berjongkok di depan Keysa yang sedang duduk. Ia terus memohon kepada Keysa untuk jangan pergi.


"Dev, kamu ini kenapa?" Keysa dibuat kebingungan saat tiba-tiba Devano bersimpuh dan melakukan tingkah aneh sambil meminta maaf. Ia hanya pulang untuk menjenguk sang kakek, hubungannya dengan Devano pun sudah baik-baik saja, tetapi tiba-tiba lelaki itu memohon-mohon seolah-olah Keysa pergi karena ulah Devano.


Melihat Keysa yang tampak biasa-biasa saja, membuat Devano berpikir sepertinya ada yang kesalahpahaman di antara mereka.


"Kamu hendak pergi meninggalkanku karena masalah Cheryl, 'kan? Ezra memberitahuku kalau kau akan pulang," tutur Devano. Memastikan pemikirannya benar.


Mendengar ucapan Devano, seketika Keysa tergelak. Lucu sekali saat melihat lelaki di hadapannya berlari sambil memanggil-manggil namanya, bahkan bersimpuh dengan air mata yang merembes sambil memohon dirinya untuk jangan pergi. "Jadi, kamu pikir aku akan pergi karena masalah Cheryl?" tanya Keysa dan dijawab anggukan Devano.


Keysa kembali tergelak, kemudian dengan cepat menutup mulut agar tidak berkelanjutan. "Dev, aku pergi bukan karena masalah Cheryl. bukankah aku sudah bilang, aku percaya padamu! Aku tidak pergi karena masalah itu. Aku pergi karena kakek sakit," jelas Keysa.

__ADS_1


"Jadi, kamu tidak akan meninggalkanku, 'kan?" tanya Devano, memastikan, dan dijawab gelengan oleh Keysa.


Devano menghela napas panjang sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia baru sadar sejak tadi dirinya sedang melakukan hal konyol. Tanpa mendengarkan penjelasan Ezra dengan detail dulu, dirinya malah langsung tancap gas hingga terjadi miskomunikasi.


__ADS_2