Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
32


__ADS_3

"Apa kau datang untuk membalaskan perbuatanku terhadap adikmu?" 


Sembari membenarkan kacamata, Keysa mencoba bertanya kepada lelaki yang sedang menatap tajam seakan-akan akan melahapnya hidup-hidupnya, membuat Keysa sedikit gusar. 


"Tidak juga, bisa dibilang hanya sembilan saja," jawab Exel dengan tatapan yang melunak serta seutas senyum yang tertampil di bibir. Senyum yang sulit diartikan. "Tujuan utamaku ke sini untuk bertemu dengan Devano," lanjutnya dengan ekspresi wajah kembali berubah. 


"Kenapa ingin bertemu dengan Devano?" tanya Keysa, ragu-ragu. 


"Kamu pikir untuk apa?" Exel bertanya balik sambil mengangkat dagu Keysa, hingga pandangan mereka saling bertemu. 


Keysa hanya menjawab dengan gelengan, lalu menunduk. Tidak ingin bertatapan dengan lelaki di hadapannya. 


Lelaki itu tersenyum jahat, lalu menurunkan tangan yang sedang memegang dagu Keysa dengan kasar. "Tentu saja untuk balas dendam," lanjutnya. 


"Balas dendam?" Keysa terperangah oleh ucapan yang keluar dari mulut Exel. "Balas dendam kenapa?"


"Kau ingat kejadian di bukit itu?" 


Keysa mengangguk pasti. 


"Itulah alasannya." Exel menceritakan Devano yang datang ke kampus Exel dan berbuat onar di sana karena masalah yang terjadi di bukit waktu itu. Mulut Exel dengan santai terus bercerita tentang Devano yang berbuat ulah, sedangkan tangannya sibuk memainkan ponsel. Exel mencari nomor kontak seseorang, lalu menghubunginya. 


"Halo, Dev! Apa kabarmu? Kamu tahu, aku sangat merindukanmu. Bagaimana kalau kita ketemuan? Mumpung sekarang aku sedang di depan gerbang kampusmu," ucap Exel begitu panggilan tersambung. 


Saat panggilan tersambung, Keysa baru tahu kalau Exel menghubungi Devano. Hingga, Keysa kembali dibuat tercekat saat Exel mencekal tangannya dengan sangat kuat. "Kau ini apa-apaan? lepaskan!" protes Keysa sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Exel. 

__ADS_1


"Jika tidak mau keluar maka aku akan membawa tunanganmu sebagai sandera," ucap Exel lagi dengan sangat dingin karena Devano di seberang sana menolak ajakannya.


Di tempat lain, Devano yang sedang menerima telepon dari sang rival dan sempat menolak ajakan si penelepon untuk bertemu, tiba-tiba dibuat marah dan kesal karena Exel membawa-bawa nama Keysa dalam urusan mereka, bahkan Devano dengan jelas mendengar teriakan Keysa yang  berada di dekat Exel. 


"Jangan pernah kau apa-apakan Keysa. Dia tidak ada kaitannya dengan urusan kita! Lepaskan dia!" tandas Devano kepada Exel di seberang sana dengan begitu geram.


Devano yang sedang duduk di kantin lantas beranjak hendak menyusul Exel, tetapi langsung dihentikan oleh Ezra. 


"Jangan berbuat aneh lagi, Dev! Kau sudah dua kali dapat sekors, sekali lagi kau berulah di sekitar kampus pasti langsung kena drop out." Ezra mengingatkan, membuat Devano langsung mengakhiri panggilannya. 


"Ah, sialan!" erang Devano sambil meninju udara. Ia kesal sendiri.


Sementara itu, Exel yang panggilannya ditutup tanpa kejelasan pun berpikir kalau Devano menganggapnya hanya main-main saja. "Kau pikir aku hanya bermain-main? Mari kita lihat seberapa penting gadis jelek ini untukmu." Ia pun menyeret Keysa masuk ke mobil. 


"Hey, kau mau membawaku ke mana?" tanya Keysa sambil mencoba melepaskan tangannya yang diseret paksa oleh lelaki kasar yang sedang menampilkan senyum jahatnya. 


"Lepaskan aku!" ucap Keysa lagi, sambil menggedor-gedor pintu mobil. "Tolong! Siapapun di sana tolong aku! Aku mau diculik," teriak Keysa.


Exel tidak peduli dengan ucapan Keysa. Ia yang duduk di samping Keysa langsung memerintahkan sopirnya untuk menjalankan mobil. Tidak lama setelah kepergian mereka, dua mobil pun ikut keluar dari lingkungan kampus. 


Setelah memakan perjalanan dua puluh menit, mereka sampai di sebuah gudang kosong. Exel membawa Keysa ke gudang itu dan sudah ada segerombolan preman menunggu mereka di sana. Keysa lantas didudukkan di kursi dengan tangan dan kaki diikat ke kursi. 


"Hey, apa yang kalian lakukan?" teriak Keysa, tetapi tidak ada yang menjawab. 


Melihat banyak orang di sana membuat Keysa khawatir pada keadaan Devano. "Semoga saja dia tidak ke sini," ucap Keysa dalam hati, mengingat  Keysa sempat melihat mobil Devano mengikuti mobil yang ditumpanginya dan Keysa yakin kalau lelaki itu pasti sedang menuju ke tempat itu juga. 

__ADS_1


Benar saja, tidak selang berapa lama, Devano dan Ezra sampai di gudang itu. Devano dan Ezra yang hanya melihat Keysa dan Exel pun merasa senang. Jika hanya membereskan Exel seorang tidak akan memakan waktu lama. 


"Dev, hati-hati! Banyak gerombolan preman bersembunyi di balik balok-balok itu!" teriak Keysa mengingatkan lelaki yang berada di ambang pintu gudang. 


Devano dan Ezra tidak melihat siapa-siapa selain mereka, Exel dan Keysa karena sebelum mereka tiba para preman yang mendengar derap kaki mendekati gudang langsung bersembunyi di balik balok-balok kayu yang ada di gudang tersebut sesuai perintah Exel. 


Exel dibuat murka oleh ulah Keysa yang tiba-tiba berteriak memberitahukan keberadaan anak buahnya kepada Devano. "Diam!" Exel menampar wajah Keysa. "Mulutmu berisik sekali!" sarkas Exel sembari melakban mulut Keysa. 


"Dasar Bedebah! Berani sekali menampar Keysa!" hardik Devano. 


Dengan wajah yang sudah memerah menahan marah serta tangan yang sudah mengepal sempurna, Devano berjalan cepat menghampiri Exel begitu melihat Keysa ditampar di depan matanya. Ingin rasanya, Devano mematahkan tangan yang telah menampar Keysa itu. 


Ezra yang ikut bersama Devano pun, mengejar Devano, mengimbangi langkah lelaki yang sudah tersulut emosi sejak di kampus tadi. 


"Xel, mendingan kau lepaskan Keysa. Dia tidak ada kaitannya dengan urusan kalian. Tidak ada untungnya juga kau menyandera dia?" Ezra mencoba membujuk Exel untuk melepaskan Keysa. 


"Kata siapa tidak ada untungnya? Lihatlah betapa marahnya dia saat aku menampar gadis jelek kesayangan sahabatmu ini! Dan itu sangat menyenangkan," jawab Exel. 


Rahang Devano mengeras dan ruas-ruas jarinya tampak memucat karena kepalan yang sangat kuat bahkan urat-uratnya sampai timbul karena menegang. "Kau!" hardik Devano, bersiap melayang bogem mentah ke wajah Exel. 


Namun, dengan cepat Exel menghadang Devano. Ia berdiri di tengah-tengah kedua lelaki yang sedang saling melempar tatapan mematikan. Devano pun menurunkan lagi tangannya yang sudah melayang di udara. 


"Berhentilah bertengkar! Tidak ada untungnya bagi kalian. Mau sampai kapan kalian seperti ini terus? Bukankah dulu kita itu sahabat yang sangat kompak." Ezra melerai keduanya. 


"Sudahlah Ez, kau tak perlu ikut campur. Kau cukup diam dan menjadi wasit saja," imbuh Exel. "Dan, kau Dev! Apa kau tidak malu beraninya berlindung di belakang Ezra saja? Dasar pengecut!" lanjut Exel yang malah mengejek Devano dengan senyum smirk yang tertampil. 

__ADS_1


"Habis sudah kesabaranku! Kaulah yang pengecut bukan aku!" Tiba-tiba terdengar teriakan Devano dari belakang Exel, membuat Exel langsung menoleh ke arah suara dan sebuah bogem mentah pun berhasil melayang ke wajahnya. Entah sejak kapan, Devano sudah berada di belakangnya.


__ADS_2