
56
Setelah melopat ke dalam air, Devano yang pandai menyelam sengaja tidak muncul lagi ke permukaan. Lelaki itu ingin mendengar reaksi Keysa saat dirinya tidak kunjung muncul ke permukaan, dan ia sangat bahagia saat mendengar Keysa memanggi-manggil namanya—itu berarti gadis berkacamata itu sedang mengkhawatirkannya.
Di darat, Keysa pun mulai sadar kalau Devano sengaja sedang menakut-nakutinya karena hal yang tidak mungkin kalau melihat dari postur tubuhnya seorang Devano tidak bisa berenang. "Sepertinya, dia sengaja menakut-nakutiku. Baiklah, kita tunggu berapa lama kamu bisa bertahan di dalam sana," gumam Keysa, kemudian duduk di bangku yang ada di bawah pohon besar.
Di dalam air, Devano yang sudah menahan napas selama lima menit masih menunggu Keysa memanggil namanya lagi, tetapi tidak kunjung terdengar. Sementara itu, di darat, Keysa sedang duduk santai menanti Devano muncul ke permukaan. "Jika beberapa menit lagi dia tidak kunjung muncul, maka aku akan melompat ke dalam untuk menyelamatkannya," gumam Keysa lagi, dengan pandangan masih menatap tempat lelaki itu menghilang.
"Ish ... kenapa gak muncul-muncul? Ini sudah tertalu lama. Apa dia benar-benar tenggelam?"
Devano masih bertahan di dalam air, membuat Keysa mulai khawatir dan mengira kalau Devano memang tidak bisa berenang dan tenggelam. Gadis itu pun dengan segera melompat untuk menyelamatkan Devano. Ia mencari Devano dan menariknya ke permukaan.
Namun, apa yang temui Keysa di dalam air, lelaki yang sedang mencoba diselamatkan oleh Keysa itu ternyata hanya menjahilinya saja. Saat Keysa membawa Devano ke permukaan, lelaki itu malah tertawa lepas.
"Kau mengerjaiku? Kau mengerjaiku, hah?!" pekik Keysa, melihat Devano yang ada dirangkulannya itu malah tertawa lepas, sedangkan dirinya sudah khawatir setengah mati. "Ini bukan lelucon, Dev! Taruhannya nyawa, bisa-bisanya kau malah menjahiliku dengan cara seperti ini" Keysa yang sangat marah lantas mendorong tubuh di dekatnya itu.
Melihat kemarahan Keysa, Devano langsung menghentikan tawanya. Ia sebenarnya sangat terharu melihat Keysa yang datang menyelamatkan dan begitu peduli padanya. "Aku tidak menjahilimu. Tadi, kakiku tersangkut tanaman, jadi terpaksa menyelam lama untuk melepaskan tanamannya. Pas aku mau ke permukaan, tiba-tiba kamu datang menarikku." Devano berbohong. "Kembalilah ke atas aku akan mencari kotak tadi," lanjutnya.
Keysa yang tidak ingin terlalu lama di air pun tidak menjawab ucapan Devano dan memilih kembali ke darat, membiarkan lelaki itu mencari kotaknya sendiri.
"Aku mendapatkannya." Tidak lama kemudian, Dengan senyum yang mengembang Devano mengacungkan tangan dengan sebuah kotak yang tadi ia lempar ada di dalam genggamannya. Senyum Keysa juga langsung merekah, begitu melihat kotak itu ditemukan.
Devano pun segera kembali ke darat. Ia berenang menuju tempat yang dangkal, lalu di kedalaman selutut ia berjalan menuju pinggir danau dan naik ke darat. Keysa yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersipu malu saat tubuh basah Devano yang menjulang tinggi kembali berjalan ke arahnya dengan tetesan air yang membasahi seluruh tubuh lelaki itu. Ia tidak menyangka tubuh Devano bisa sangat bagus saat seperti itu, apalagi dengan wajahnya yang tampan semakin membuat lelaki itu terlihat seksi.
"Ya, Tuhan. Bisa-bisa aku ngences kalau terlalu lama menatapnya," gumam Keysa sambil mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Namun, belum sempat Keysa berpaling, matanya tertuju pada hidung Devano yang mengeluarkan darah. Lelaki itu mimisan. "Dev, kamu mimisan. Apa itu karena terlalu lama menahan napas tadi?" Keysa mendekati Devano dan mengusap darah yang keluar dari hidung lelaki itu dengan tangannya.
"Aku tidak apa-apa." Devano menjauhkan tangan Keysa dari hidungnya, mengusap darah itu dengan lengan bajunya yang basah.
"Beneran tidak apa-apa?" Keysa mencoba memastikan.
Devano hanya mengangguk, lalu menyodorkan kotak yang berhasil di dapatnya. "Ini kotakmu!"
"Terima kasih." Dengan senyum mengembang Keysa langsung menerima kotak tersebut.
"Apa kau boleh memberikan kotak itu padaku?" tanya Devano kemudian, begitu melihat Keysa sangat bahagia kotak itu kembali.
Keysa mendongak ke arah lelaki yang basah kuyup tersebut, lalu dengan cepat menggeleng. "Tidak boleh," tutur Keysa.
"Ish ...." Devano mencebik begitu mendengar penolakan dari Keysa.
"Itu, karena ...." Keysa bingung harus menjawab apa. "Itu karena—"
Devano yang sudah tidak sabar dengan jawaban Keysa, sekaligus kesal oleh penolakan gadis itu langsung merebut kotak itu dan membukanya. Keysa sendiri yang tidak mungkin memberitahu kebenarannya, apalagi memberikan kotak itu langsung pura-pura menangis.
Devano yang baru berhasil membuka kotak itu dan melihat sekilas isinya yang berupa sehelai rambut, terpaksa mengembalikan lagi kotak tersebut karena tidak ingin melihat Keysa menangis.
"Ini!" Devano menyodorkan lagi kotak tersebut. "Nangismu jelek sekali," lanjutnya
"Terima kasih." Dengan cepat, Keysa mengambil kotak itu dan memilih untuk kembali ke kelas.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya Devno dengan cepat, menghentikan langkah Keysa yang hendak pergi dari sana.
"Mau ke kelas."
"Dengan penampilan seperti itu?" tanya Devano lagi menatap Keysa dari ujung kepala sampai kaki.
Keysa menunduk melihat keadaannya, hingga menyadari kalau bajunya basah semua. Bahkan, baju dalam penutup dada Keysa tercetak nyata memperlihatkan sebesar apa benda di balik penutup itu, dan Devano pasti sudah melihat semuanya.
'Ya, ampun!' pekik Keysa dalam hati. Spontan, ia langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Aku akan pulang ke asrama," ucap Keysa sambil pergi dengan setengah berlari.
Devano yang masih berdiri di sana dibuat mematung saat melihat kepergian Keysa. Bahkan, ketika Keysa sudah tidak ada di sana pun, gadis itu memenuhi isi kepalanya. Ia tidak menyangka kalau Keysa memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus dan kaki yang begitu indah.
Sementara itu, Keysa sudah sampai di asrama langsung membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.
"Gini amat perjuangannya. Untung aku pake aplikasi makeup yang anti luntur. Bisa berabe kalau identitasku terbongkar saat di air tadi," rutuk Keysa sambil membenarkan kembali riasannya.
Setelah itu, ia menelpon Kakek Surya dan memberitahukan kalau dirinya sudah mendapatkan barang yang dibutuhkan sang kakek.
"Baiklah, kalau begitu besok kamu bawa barang itu. Kakek akan menemuimu di kampus besak siang," tandas Kakek Surya dari seberang sana.
"Dengan senang hati, aku akan membawanya untuk kakek besok siang. Sesuai perintah." Keysa menyanggupi permintaan sang kakek.
"Apa kamu akhir-akhir ini sedang dekat seorang pria?" Tiba-tiba di sela-sela pembahasan mereka tentang keluarga Arsen, Kakek Surya sempat-sempatnya bertanya tentang hal itu.
__ADS_1
**R: Jebur ke air kok gak luntur sih make up Keysa, Thor?
Yang kepikiran ke sana, kita satu frekuensi. Tapi, sayang, ini belum waktunya jati diri Keysa terbongkar dan jika ada yang bertanya kenapa gak luntur? Othor-nya ampe ngubek-ngubek Mbah G dan mencari makeup yang anti luntur meskipun tesiram air, bahkan berenang sekali pun. Dan, produk semacam itu memang ada, jadi anggap saja Keysa pake makeup itu biarpun harganya selangit. 🤭🤭🤭**