
Devano masih bergeming dengan tangan yang masih memeluk lututnya sendiri, meskipun Keysa sudah menghampiri dan memeluknya dari samping.
Keysa yang mendapati Devano tidak menanggapinya, lantas berpindah tempat. "Dev kamu kenapa?" tanya Keysa dengan posisi berada di depan Devano. Tangannya meraih dan mengangkat dagu lelaki yang tidak mau menatapnya, membuat mata mereka saling berserobok "Kenapa terus mengabaikanku?" gumam Keysa dengan sangat lirih serta wajah sendu untuk mengambil simpati lelaki itu.
Keysa lantas memeluk lelaki yang hatinya terenyuh dan merasa bersalah saat melihat kesedihannya. Akhirnya, Devano pun membalas pelukan Keysa. Ia memeluk Keysa dengan sangat erat, tidak ingin kehilangan gadis itu.
"Jangan tinggalkan aku! Aku mohon jangan tinggalkan aku! Jangan membenciku! Aku tidak akan sanggup mendapat kebencianmu," ucap Devano dengan sangat lirih. Kondisinya yang takut ditinggalkan Keysa benar-benar kacau.
"Memangnya siapa yang akan meninggalkanmu?" gumam Keysa dengan tangan yang masih memeluk Devano.
"Kau pasti marah padaku. Kau pasti kecewa dan berpikir untuk meninggalkanku karena aku bukan orang baik yang pantas untukmu," tandas Devano.
Keysa mengurai pelukannya, lalu menangkup pipi Devano dengan kedua mata menatap intens mata sang kekasih yang terlihat sangat indah dengan tahi lalat di sudut matanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Keysa dengan seutas senyum yang terbit di bibir.
"Apa kau tidak sedang berbohong?" tanyanya yang dijawab gelengan Keysa.
Devano menatap mata Keysa, memastikan gadis itu tidak sedang berbohong. Devano juga memohon banyak hal kepada Keysa, dan Keysa pun setuju.
"Aku harus balik ke rumah sakit untuk jaga Disti. Kasihan dia enggak ada yang juga cuma ada Exel yang juga dirawat di sana," ucap Keysa, setelah Devano membaik dan kembali tenang.
Mendengar Exel yang juga ada di sana, Devano langsung ingin ikut. "Aku ikut," tandasnya.
Tidak ingin membuat Devano kembali berpikir yang aneh-aneh, Keysa mengiakan permintaan lelaki itu. Keysa kembali ke rumah sakit bersama Devano.
__ADS_1
Disti sudah sadarkan diri ketika Keysa dan Devano sampai di rumah sakit. Devano yang tidak bermaksud melukai Disti pun lantas menghampiri gadis itu dan meminta maaf.
"Maaf, karena aku, kau sampai harus berbaring di rumah sakit. Aku tidak sengaja melukaimu," ucap Devano penuh sesal.
Disti yang masih tergolek lemah mengangguk dengan seutas senyum yang tertampil. "Tidak apa-apa, Dev," ucap Disti, sedikit meringis menahan rasa sakit dan ngilu di area sobekan yang mulai terasa.
"Pasti sangat sakit, ya? Sekali lagi aku minta maaf," ucap Devano, penuh sesal. Lelaki yang biasanya selalu tampak arogan itu, sekarang terlihat sangat lemah.
"Ini sebuah kecelakaan. Kamu tidak perlu merasa terus bersalah seperti itu," ucap Disti lagi.
Melihat sikap Devano yang berbanding 180⁰ itu membuat Disti ingin tertawa, tetapi dengan segera ia menahannya agar tidak pecah. Ketidakberdayaan Devano memanglah momen yang sangat langka, bahkan tidak pernah terlihat. Dengan segala keangkuhannya, Devano selalu ingin terlihat sempurna. Namun saat ini, keadaannya pun masih terlihat awut-awutan dengan tubuh yang tidak berani menjauh dari Keysa.
'Andai perutku tidak sakit, mungkin aku sudah tertawa terpingkal-pingkal,' ujar Disti dalam hati dengan mata yang memperhatikan Devano dan Keysa.
"Karena kamu yang sudah membuat Disti seperti ini. Jadi, kamu harus bertanggung jawab," tandas Keysa, membuyarkan lamunan Disti.
"Kalau gitu kamu harus menanggung semua biaya pengobatan Disti sampai sembuh," lontar Keysa lagi dan langsung disetujui Devano tanpa protes.
"Apa kau lapar?" tanya Devano kepada Disti. Ia sangat jengah berada satu ruangan dengan Exel, meskipun Exel pura-pura tidur, dan berharap Disti meminta sesuatu yang membuat Devano bisa keluar.
Perut Disti memang terasa melilit dan minta diisi, tetapi ia sungkan untuk berkata 'iya' kepada Devano.
"Diam berarti iya," ujar Devano, kemudian. "Key, kita cari bubur untuk Disti, yuk! Kasihan temanmu kelaparan," lanjut Devano, sambil menarik tangan sang kekasih.
__ADS_1
Mereka pergi keluar mencari bubur untuk Disti. Dan, di kamar menyisakan Disti dan Exel. Exel yang pura-pura tidur pun langsung membuka mata setelah Devano tidak terlihat lagi di ruangan itu.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap Exel, memulai pembicaraan dari mereka dan dijawab anggukan Disti. "Kalau boleh tahu kenapa kamu mau menolongku, bahkan kamu sampai tidak memedulikan keselamatanmu sendiri?" lanjut Exel.
Disti menoleh sekilas ke arah Exel yang berada di ranjang lain yang tersekat oleh nakas, sambil memainkan kukunya. Cukup lama Disti terdiam, hingga ia pun jujur dan menyatakan perasaannya kepada Exel.
"Aku tidak suka melihat kamu terluka. Aku juga tidak rela kalau terjadi hal buruk padamu ...." ucap Disti, lantas terdiam. Ingin melanjutkan ucapannya, tetapi seperti ragu.
Sementara itu, Exel memperhatikan gadis yang terbaring di ranjang sebelahnya, menunggu kelanjutan ucapan Disti.
"Dan, itu kulakukan karena aku menyukaimu," ujar Disti kemudian, dan berhasil membuat Exel terperangah.
"Dis, kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanya Exel dengan tawa yang menggema di ruang itu. "Kamu tahu sendiri kan kalau aku menyukai orang lain? Kamu tidak seharusnya menyukaiku karena aku tidak bisa membalasnya." Exel menolak pernyataan cinta Disti.
Disti tidak berkata lagi, hanya air mata yang menjawab semuanya. Ia tidak menyangka meskipun telah berkorban nyawa untuk lelaki itu, Disti tetap saja mendapat penolakan Exel.
Setengah jam kemudian, Keysa dan Devano kembali ke ruangan Disti. Ia melihat ada yang aneh dengan Disti. Bekas air mata masih menggenang dan terlihat berkaca-kaca. Pipi Disti pun tampak basah, dengan tubuh gadis itu membelakangi Exel.
"Kau pasti sudah menindas Disti. Iya, kan?" tanya Keysa penuh selidik kepada Exel, setelah bertanya kepada Disti tidak mendapat jawaban. Namun, dengan cepat pertanyaan Keysa itu pun disanggah oleh Exel.
Akhirnya, Keysa memutuskan untuk menginap di rumah sakit untuk menjaga Disti. Ia tidak mau kalau Exel melakukan hal yang tidak-tidak kepada temannya itu. Begitu pun dengan Devano, lelaki itu juga memilih menemani Keysa di sana.
Disti terpejam. Ia yang tidak ingin banyak bicara memilih pura-pura tidur. Akan tetapi, ingatannya saat Exel menyelamatkannya terus menari-nari di kepala. Sebuah kejadian yang menjadi awal Disti menyukai Exel itu terus berkelabata di kepala, meskipun waktu itu Exel juga menyelamatkanya karena perintah dari Keysa.
__ADS_1
Sementara itu, Keysa yang sedang menjaga Disti melihat Devano sedang duduk di sofa sambil bermain game. Ternyata game yang dimainkan Devano merupakan game yang sangat disukai Keysa. Bahkan, Keysa sangat hebat dan ahli dalam memainkan game tersebut hingga ia berhasil menjadi peringkat pertama.
Untuk mengobati rasa jenuh menunggui orang sakit, Keysa pun kembali men-download game tersebut, kemudian melihat suami pada game-nya ingin bercerai dari Keysa.