
Kelas belum ramai saat Keysa sampai di kampus. Hanya ada beberapa orang yang sedang berbincang sambil menunggu jam kuliah pertama dimulai. Keysa masuk ke kelas dan dikejutkan oleh setumpuk surat cinta di atas meja.
"Apalagi ini?" Ia yang biasanya mendapatkan surat cinta pelanggan untuk dikirim kepada orang-orang yang dituju, kini mendapat setumpuk surat cinta yang hanya untuknya. Keysa melihat amplop surat tanpa membacanya kemudian mengambil semua surat yang jumlahnya sampai dua puluh buah, lantas pergi ke tong sampah. Kaki Keysa menekan bawah tong sampah agar penutup wadah sampah tersebut terbuka, lantas membuang surat-surat yang dibawanya. Namun, belum sampai Keysa melepaskan genggamannya dan surat tersebut mendarat sempurna di tempat pembuangan, ia menarik kembali tangan dengan surat yang masih dipegang.
"Tidak baik juga kalau aku membuangnya begitu saja. Mereka sudah susah payah menulis, setidaknya baca dulu baru buang. Hargai kerja keras mereka. Nulis itu enggak gampang." Keysa yang pekerjaannya antar mengantar surat, bahkan menulis surat, membuat sebuah tulisan indah itu butuh perjuangan.
Keysa tidak jadi membuangnya dan memilih memasukkan ke tas. Akan membaca jika nanti sempat atau tidak lupa.
Di sudut lain, Devano dan Ezra sedang memerhatikan tingkah yang sedang diperbuat Keysa. Senyum tersungging dari salah satu dari mereka, karena menang taruhan. Kemudian keduanya masuk menghampiri Keysa yang sudah duduk tanpa membuang surat-surat itu.
"Kenapa tidak dibuang?" tanya Devano, dengan wajah kusut. Ia kalah taruhan dan mobilnya harus melayang.
Beberapa saat lalu, Ezra dan Devano datang bersama dan mendapati banyak surat di meja Keysa. Dua lelaki yang sudah berbaikan itu lantas bertaruh hal apa yang akan dilakukan Keysa atas surat-surat yang tergeletak. Mengingat bunga-bunga yang dibuang, Devano pun sangat yakin kalau surat itu juga akan berakhir di tempat yang sama dengan bunga waktu itu. Namun, Ezra berpikiran lain, ia berpendapat kalau Keysa akan menyimpan dan membaca.
"Dia pasti akan membuangnya. Untuk apa menyimpan kertas-kertas tidak penting itu?" Devano sangat yakin dengan jawabannya.
"Lihat saja nanti. Tapi, sesuai perjanjian, jika dia benar-benar menyimpannya kau harus memberikan mobil sport-mu untukku," tandas Ezra.
Devano yang tetap yakin dengan jalan pikirannya pun langsung mengiakan, hingga keduanya sangat antusias saat melihat Keysa masuk. Keduanya harap-harap cemas apa yang akan dilakukan Keysa karena taruhan mereka adalah mobil masing-masing. Akhirnya, Ezra berseringai lebar saat Keysa yang hampir membuang surat tersebut malah memasukkan ke tas.
"Apanya yang tidak dibuang?" Keysa menyipitkan mata saat melihat Devano yang datang-datang dengan wajah kusut sambil merutukinya.
"Surat cintamu," tandas Devano, yang diiringi tawa menggelegar dari Ezra. "Diam kau!" sarkas Ezra dengan mata melotot kepada Ezra.
"Kalian kenapa sih?" Keysa malah semakin dibuat bingung oleh tingkah dua sahabat yang belum lama akur lagi itu.
Ezra pun menceritakan perihal taruhannya dengan Devano, hingga lelaki yang masih menjadi kekasih Keysa itu harus merelakan salah satu mobil kesayangannya.
"Aku juga ingin mobil," tandas Keysa dengan seulas senyum kepada lelaki yang masih mengerucutkan bibir itu. "Bagaimana kalau kita taruhan juga. Yang menang dapat mobil juga," ujar Keysa kepada Devano.
__ADS_1
"Taruhan apa lagi?" sarkas Devano, dengan malas.
Keysa tampak berpikir, sejurus kemudian senyum kembali terbit. Ia dan Devano bertaruh tentang kapan Alea akan kembali ke kampus–gadis itu menghilang bagai ditelan bumi setelah acara di pesta itu, tidak ada yang tahu keberadaannya.
"Dua hari lagi pasti dia balik." Keysa memberikan prediksinya.
Sementara itu, Devano mengatakan kalau Alea akan pulang seminggu lagi. Keduanya yakin dengan jawaban masing-masing dan menyepakati pertaruhan itu. Jika Keysa menang, Keysa akan mendapatkan satu mobil sport milik Devano. Namun, jika Devano yang menang, Devano menginginkan Keysa secara utuh. Meskipun sempat ditolak Keysa, tetapi ujungnya disepakati. Keysa yakin dirinya pasti menang. Sedikit senyum tersungging di bibir Keysa mengingat rencana yang sedang dipikirkannya.
***
Mata kuliah sudah selesai. Keysa dan Devano meninggalkan kelas. Devano tidak langsung pulang. Ia mengajak Keysa berjalan-jalan di sekitaran kampus, menikmati pemandangan indah tepi danau yang ada di sana.
"Key, tunggu bentar, ya!" ucap Devano tiba-tiba.
"Mau kemana?"
"Kebelet," seloroh Devano, yang hanya dijawab anggukan Keysa.
Melihat Devano sudah menjauh, Keysa yang sedang duduk di kursi panjang dari rotan di dekat pohon rindang langsung mengangkat tangan dan menggerakkan jarinya membuat sebuah kode rahasia yang hanya dirinya dan orang yang diberi kode yang mengerti. Dalam hitungan detik, beberapa bawahan Kakek Surya yang bertugas mengikuti Keysa muncul dan menghampiri Keysa.
"Aku ada tugas untuk kalian," ucap Keysa, kemudian meminta anak buah kakeknya itu mencari keberadaan Alea. "Aku ingin kalian bisa menemukan Alea secepat mungkin dan bawa pulang sebelum dua hari," tandas Keysa.
"Tapi, Nona, kami tidak mungkin meninggalkan Nona sendirian." Tugas mereka menjaga Keysa, jika melakukan tugas lain mereka takut terjadi sesuatu kepada Keysa saat tidak ada dalam jangkauan mereka. Saat mereka berjaga saja, mereka masih kecolongan, apalagi kalau ditinggalkan sendiri. Mereka tidak ingin kecolongan lagi.
"Bagaimana kalau kamu saja yang mencari Alea, atau bagi dua saja terserah kalian. Pokoknya aku ingin Alea ada di rumah sebelum dua hari." Keysa menunjuk lelaki yang menjadi pimpinan pengawalnya dengan nama Reno tertera di bagian kanan baju.
"Sepertinya lebih baik saya sendiri yang mencari, biarkan mereka menjaga Nona di sini." Reno menimpali.
"Atur bagaimana baiknya saja. Sekarang bubar, sebentar lagi Devano kembali."
__ADS_1
"Baik, Nona." Empat anak buahnya mengangguk. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengiakan, kemudian dengan cepat meninggalkan Keysa lagi sebelum Devano kembali ke tempat itu.
Keysa tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin anak buahnya bisa diandalkan, apalagi Reno sudah menyukai Alea sejak lama. Keysa yakin semuanya akan mudah karena Reno pasti bisa mengatur Alea. Ia menyerahkan masalah Alea kepada Reno.
***
Tidak perlu waktu lama untuk Keysa mendapatkan info tentang Alea. Seperti perkiraannya, Reno bisa diandalkan. Setiba di asrama setelah jalan-jalan dengan Devano, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Reno di sana. Dengan cepat, Keysa pun menerima panggilan tersebut.
"Bagaimana? Apa sudah mendapatkan kabar terbaru tentang Alea?" tanya Keysa dengan tidak sabar.
"Saya sudah mendapatkan informasinya, Nona."
"Katakan!"
"Alea saat ini berada di rumah Devano." Berita dari Reno membuat Keysa terperangah tidak percaya dengan yang sedang didengarnya.
"Bagaimana maksudnya?"
"Menurut informasi yang saya dapatkan, Tuan Devano sudah menangkap Alea sejak kemarin. Saat ini, Alea disekap di rumah Devano," tutur Reno.
Mendengar informasi dari Reno membuat Keysa meradang. Jelas-jelas Devano sudah menangkap Alea terlebih dahulu sebelum taruhan dimulai, tetapi lelaki itu masih ingin bertaruh dengannya. Kalau seperti itu sudah sangat jelas siapa yang akan menjadi pemenangnya. Keysa tidak terima dengan kecurangan tersebut.
_
_
_
* R: othor halunya ketinggian, alurnya gak jelas, masa masalah sepele taruhannya mobil sport. Dikira mobil sport itu mobil-mobilan apa? Si Othor ngadi-ngadi
__ADS_1
*O: Kakak caem, kakak cantik, Kakak ganteng, kakak tercinta, sebenarnya othornya juga sedikit bingung. di tulis sesuai kerangka nanti dibilang halunya kebangetan. Kalau nulis yang lain nanti tidak sesuai dengan arahan. Jadi ya, sudahlah, nulis sesuai kerangka yang dikirim, mau ada yang hujat pun harus legowo 😔
Happy reading .... 🥰🥰