Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
147


__ADS_3

Keysa menjauhkan tangan Devano dari dadanya. Namun, dengan cepat Devano yang masih dalam keadaan terpejam kembali meletakkan tangannya di dada Keysa. 


Keysa melirik Devano, hingga ia sadar kalau Devano hanya pura-pura tidur. Ia pun langsung menyingkirkan tangan Devano dengan kasar.  Devano yang sadar Keysa tahu dirinya sedang pura-pura tidur pun langsung membuka mata dan memeluk erat Keysa. 


"Beneran pura-pura, 'kan?" Keysa melirik lelaki si sampingnya yang sedang nyengir kuda.  Ia lantas berusaha bangun, tetapi dengan cepat dihalau  Devano dan memeluknya semakin erat. 


"Mau ke mana, hemm?" tanya Devano, tidak membiarkan Keysa berpindah dari tempat tidur. 


"Bangunlah udah siang," jawab Keysa, sambil mencoba untuk bangun. 


"Coba saja kalau bisa," ujar Devano dengan tangan yang mengunci pergerakan Keysa. 


Keysa pun berusaha terlepas dari pelukan Devano, tetapi pelukan Devano sangat erat membuatnya sangat susah untuk bergerak. 


"Diamlah! Gerakanmu membuat keadaan kita tidak aman," ucap Devano yang merasakan ada sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan. 


Keysa yang merasakan ada benda keras menempel di pahha pun langsung terdiam tak berkutik. 'Itu apa?' gumamnya dalam hati dan membuatnya merinding. 


Setelah Keysa diam, Devano mengendurkan pelukannya masih dengan posisi yang sama. "Nah, seperti ini gadis pintar! Tenang saja aku tidak akan macam-macam, hanya tidur saja," ucap Devano dengan bibir yang sedikit mengembang. 


Satu jam kemudian .... 


Pelayan di rumah Devano mengetuk pintu kamar dan memanggil mereka untuk sarapan. Mau tidak mau Devano mengurai pelukannya dan dijadikan kesempatan oleh Keysa untuk pergi dari tempat tidur yang membuatnya terasa kepanasan karena tangan Devano yang mulai nakal.


"Hei mau ke mana?" teriak Devano, saat melihat Keysa yang buru-buru bangun. 


"Kamar mandi.' Keysa yang takut Devano menariknya lagi pun langsung masuk ke kamar mandi dan bersih-bersih. 


"Key, jangan lama-lama!" teriak Devano. "Sial kenapa sampai lepas kontrol!" rutuk Devano saat bagian intinya benar-benar butuh pelepasan. 


"Key, cepetan!" teriak Devano lagi. 

__ADS_1


Keysa yang baru beberapa menit berada di kamar mandi pun langsung keluar dengan wajah kesal. Namun, di mata Devano itu terlihat sangat menakjubkan. 


"Kamu ini kenapa? Aku baru masuk sudah digedor-gedor," ucap Keysa dengan bibir yang mengerucut. 


Devano mematung di tempat dengan mata yang menatap Keysa dari atas sampai bawah. Fantasi liar sudah benar-benar merasuki jiwa. 


"Wajahmu kenapa memerah begitu?" tanya Keysa lagi. 


"Tidak apa-apa. Minggir!" Devano yang tersadar pun langsung menggeleng dan lantas masuk untuk menuntaskan fantasinya tanpa harus berbuat melewati batas pada Keysa. 


Satu jam kemudian, Devano baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Keysa sudah tidak ada di kamar. 


"Dia ke mana?" Devano langsung ganti pakaian. Ia yang merasa Keysa ada di ruang makan pun langsung menyusul. 


Benar saja. Sesampai di ruang makan tampak Keysa dan Ezra sedang menunggunya untuk sarapan. 


"Sepertinya setelah memenjaraku, kamu juga mau buat aku mati kelaparan," cibir Keysa, yang hanya mendapat cengiran dari Devano. 


Ketiganya sarapan bersama. Setelah sarapan, mereka pun pergi ke kampus bersama-sama. 


Sementara itu, setelah diusir oleh Damar, Alea sampai ke asrama menjelang subuh. Saat ini, Alea berada di kamar dengan keadaan kacau. Ia duduk meringkuk di atas tempat tidur dengan rambut yang berantakan.


"Aku bersumpah akan membalas semua perbuatan kalian padaku," ucapnya dengan tekad yang kuat, sambil mengepal dan sorot mata penuh dendam dan kebencian. 


Alea bangkit dari tempat tidurnya, lantas bersih-bersih dan kembali beraktivitas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Tunggu pembalasanku!" gumamnya, dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.


***


Keysa, Devano dan Ezra sampai di kampus. Ketiganya langsung masuk ke kelas. Devano yang tidak ingin duduk bersebelahan dengan Alea pun langsung mengajak Ezra untuk tukar tempat duduk, tetapi ditolak. Namun, tidak disangka, Alea yang sudah duduk di sebelah Devano langsung beranjak dan pindah ke dekat Ezra begitu mendengar ucapan Devano. 


"Apa kau ingin tahu rahasia kelam Keysa? Aku punya sebuah rahasia yang pasti akan membuatmu syok," bisik Alea kepada Ezra saat sudah pindah tempat duduk. 

__ADS_1


"Apa?" tanya Ezra penasaran. 


"Belum saatnya, tapi saat ini aku telah melakukan sesuatu untuk kalian," ucapnya dengan seringai jahat yang menghiasi wajah Alea. 


Bertepatan dengan itu, Miss Susi datang dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat panik. Ia meminta seluruh siswa untuk berkumpul di lapangan dalam waktu sepuluh menit, kemudian memanggil Keysa untuk ikut bersamanya. 


"Apa yang terjadi, Miss?" 


"Sebaiknya kalian putus untuk sementara waktu sampai peraturan di kampus ini benar-benar diubah," pinta Miss Susi kepada Keysa tanpa basa-basi. 


"Tapi aku mencintainya, Miss," 


"Kalian bukan putus selamanya. Ini hanya sementara," ucap Miss Susi. Ia tidak tega jika anak sahabatnya harus mendapatkan hukuman karena menjalin hubungan dengan Devano. 


"Jika aku tidak mau putus, apa yang akan terjadi?" tanya Keysa. Ia masih ingin mempertahankan hubungannya.


"Jika kamu bersikeras tidak mau putus, maka dengan terpaksa kamu harus di cambuk," ucap Miss Susi. 


Sahabat ibu Keysa itu juga menjelaskan cambuk yang digunakan nanti sangat kasar dan pastinya akan terasa sakit saat mendarat keras di tubuh. Ia juga membeberkan kondisi-kondisi orang yang sudah pernah merasakan pecutan cambuk yang melesat kasar ke tubuh mereka. 


"Bersabarlah sampai kalian lulus. Setelah itu kalian bebas akan menjalin hubungan lagi." Miss Susi meraih tangan Keysa, memohon agar anak itu mau mendengarkan ucapannya. Ia sungguh tidak membayangkan kalau anak sahabatnya harus merasakan perihnya cambukan setan itu. 


Lengkungan senyum terbit di bibir Keysa, lantas menggenggam tangan Miss Susi yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. "Terima kasih, Miss, sudah peduli padaku. Percayalah aku pasti akan baik-baik saja. Miss tidak perlu khawatir," ujar Keysa. 


Miss Susi tidak  mengatakan apapun lagi. Ia langsung memeluk Keysa. 


"Bagaimana kesan pertama kamu saat bertemu dengan Fero?" tanya Miss Susi mengalihkan perbincangan mereka. 


"Fero baik, Miss. Tapi pilihanku tetap pada Devano. Aku mencintainya dan tidak mungkin menerima perjodohan yang sudah Miss dan Mamah sepakati," ucap Keysa dengan serius. Ia tidak mau memberikan harapan palsu kepada dosennya itu. 


Miss Susi hanya mengangguk tanda mengerti, dan tanpa sengaja malah memberitahu kebenaran tentang Fero. Lelaki itu ternyata anak panti asuhan yang diangkat anak oleh Miss Susi.

__ADS_1


__ADS_2