Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
154


__ADS_3

Meskipun sempat ragu, Disti akhirnya memilih masuk ke kamar hotel. Ia lantas mematikan lampu dan melucuti seluruh pakaiannya, kemudian berbaring di atas tempat tidur. 


"Entah ini benar atau tidak, tapi aku tahu Keysa tidak mencintai Exel. Aku tidak mungkin membiarkan dia jatuh ke dalam jebakan Exel.  Aku tidak mau sahabatku dirusak oleh orang yang tidak dicintainya, apalagi orang itu sebenarnya orang yang kucintai. Jadi, lebih baik aku saja," gumam Disti sambil memegang ponsel dan mengirimkan sebuah pesan kepada Exel. 


[Exel, aku sudah pulang. Aku harap kamu bisa menjaga Keysa.]


Exel yang masih di ruang karaoke berseringai lebar begitu mendapat pesan dari Disti. "Hari ini aku akan menjadikan gadis itu milikku seutuhnya. Setelah ini, aku bisa melihat kehancuran Dev karena orang yang dicintainya telah menjadi milik orang lain," ucapnya, yang diakhiri gelak tawa. 


Dengan langkah yang sudah sempoyongan karena terlalu banyak minum, Exel langsung pergi ke kamar yang telah dipesannya. Ia yang sudah mabuk berat segera naik ke atas ranjang begitu masuk kamar, tanpa menyadari bahwa di kamar itu bukanlah Keysa. Dalam keadaan kamar yang gelap, Exel menjamah tubuh Disti dan menidurinya. Disti pun hanya diam tanpa berani berkata apapun. Jangankan mengatakan penolakan, bahkan untuk mengeluarkan suara erangan pun tidak berani karena takut Exel menyadari bahwa yang ada di kamar adalah dirinya bukan Keysa. 


Sementara itu, Devano tiba di ruang karaoke dan mencari keberadaan Keysa. Ia terus berteriak memanggil nama kekasihnya hingga terjadi kegaduhan. 


"Di mana Keysa?" Devano menarik  kasar siapapun orang yang ada di dekatnya, menanyakan keberadaan Keysa.


 Namun, semua orang yang ditanya tidak ada yang melihat dan menjawabnya dengan gelengan hingga mau tidak mau berakhir dengan mendapatkan bogem mentah kemudian tersungkur mencium lantai. Devano menghajar siapapun dan membabi buta, ia juga dengan gila membantingkan semua barang yang ada di sana. 


"Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di sini?" Manager di sana menghampiri Devano. Dengan suara tegas ia memarahi Devano. 


"Berani kau menghardikku, hah!?" sarkas Devano, berbalik menghadap si Manager dengan tatapan jauh lebih mengerikan.


"Tu--an," Manager yang memarahinya langsung menunduk begitu tahu siapa yang sedang dihadapi. "Ma-a-af, Tuan, saya pikir siapa," ucapnya penuh sesal. 


"Di mana Keysa?" tanya Devano to the point. 


"Keysa?" Si manager yang tidak mengenal Keysa malah bertanya balik. 


"Iya, Keysa. Gadis yang tadi bernyanyi bersamaku. Di mana dia?" tanya Devano lagi dengan tidak sabaran. 


Manager itu tidak tahu harus apa. Ia tidak memperhatikan siapa yang masuk dan keluar dari tempat itu. Ia juga tidak tahu gadis mana yang bersama Devano. "Maaf, Tuan, saya tidak tahu," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Kenapa dari semua orang yang ada di sini tidak ada satu pun yang melihat Keysa." Devano semakin geram dengan semua jawaban orang-orang di sana. Ia lantas  mendekat ke arah lelaki bertubuh sedikit tambun itu, lalu menarik kerah bajunya dengan kasar. "Akan kupastikan kau dan semua orang yang ada di sini akan menanggung akibatnya jika sampai Keysa kenapa-kenapa," ancam Devano. "Dasar Manajer tidak berguna!" Devano mendorong kasar  Manager itu. Menyalahkan si manajer atas semua yang terjadi. 


Obat itu kembali bereaksi, tubuh Devano kembali merasa panas. Pusing di kepala pun semakin menjadi, terlebih hassratnya semakin berada di ubun-ubun. Ia lantas mengambil  botol dan membenturkannya ke meja hingga pecah, kemudian menggoreskan sisa pecahan botol yang dipegang ke tangan untuk mempertahankan kesadarannya . 

__ADS_1


"Dev, apa yang kau lakukan?" sarkas Damar, melihat kelakuan anaknya yang melukai diri sendiri. 


Devano tidak menjawab. Ia  langsung pergi mencari Keysa dengan tangan yang terluka. 


"Dev, tunggu! Obati dulu lukamu," sarkas Damar lagi, menghentikan langkah Devano. 


"Lukaku tidak penting. Aku harus cepat menemukan Keysa. Dia pasti sedang dalam bahaya," tandas Devano. 


"Apa kau sudah gila, hah! Kau saja sudah susah payah mempertahankan kesadaran dan kau masih saja mengkhawatirkan gadis itu. Kau tahu kau begini juga karena ulahnya! Kalau kau tidak meminum minuman untuk gadis itu, kau pasti baik-baik saja." Damar bicara panjang lebar dan menyalahkan Keysa atas semua yang terjadi. 


"Keysa juga korban, Dadd! Bisa-bisanya daddy juga menyalahkannya. Yang salah itu adalah orang yang mencampurkan obat itu pada minuman Keysa." Devano yang tidak terima kekasihnya disalahkan langsung menyanggah ucapan Damar, hingga pertengkaran pun terjadi. 


"Jika Daddy tidak ingin membantuku. Pergi saja! Tapi jangan halangi aku!" sarkas Devano lagi sebelum pergi meninggalkan Damar. Ia memutuskan untuk mencari Keysa sendiri. 


*** 


Di kamar hotel, Keysa sedang menggigit ujung-ujung jarinya untuk mempertahankan kesadarannya. Gelenyar aneh itu datang lagi dengan suhu tubuh yang terasa semakin meningkat. 


"Dis, kamu di mana? Kenapa tidak ada orang yang menolongku?" gumam Keysa di sisa kesadarannya. 


"Dev," gumam Keysa. Kesadarannya semakin melemah. 


Sejurus kemudian, Keysa langsung membuka mata dengan sempurna  saat air dingin mengguyur tubuhnya.  Da Keysa pun dibuat terbelalak saat melihat siapa yang ada di hadapannya. "O-om ...." 


"Apa? Apa kau berharap anakku yang datang?" tanya Damar dengan kedua tangan terlipat di depan dada. 


Keysa menggeleng pelan, meskipun memang itu yang ada dalam pikirannya. 


"Tuan." Lelaki berbaju hitam yang sejak tadi mengikuti Damar mendekat, lantas membisikkan sesuatu.  


Ujung bibir Damar terangkat setelah diingatkan oleh anak buahnya itu. Sebuah ide pun terlintas di kepala. "Bawa dia!" titahnya kepada beberapa anak buah yang ikut bersamanya. 


Hanya dengan satu kali perintah, orang-orang berpakaian hitam itu pun langsung menyeret Keysa. Membuat Keysa memberontak. "Om, mau bawa aku ke mana? Lepaskan aku!" Keysa terus memberontak, tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dua orang bertubuh kekar yang menyeretnya. 

__ADS_1


Damar tidak menjawab. Ia hanya berseringai membuat Keysa menebak kalau rencana dari ayah kekasihnya itu pasti membahayakan dirinya. "Om, jangan aneh-aneh! Tolong antar aku ke asrama saja," pinta Keysa setengah memohon. 


"Lihat saja nanti," tandas Damar.


Namun, Damar tidak membawa Keysa ke asrama, bahkan lelaki itu tidak membawanya keluar dari hotel. Damar menyeret Keysa ke sebuah kamar dan langsung menguncinya dari luar. 


"Om, apa yang Om lakukan?" Keysa menggedor pintu meminta Damar membuka pintu dan mengeluarkannya. 


"Bersenang-senanglah! Bukankah kau sangat mengharapkan Devano datang menolongmu," ucap Damar dari luar. Ia mengantar Keysa ke kamar itu agar Devano bisa menuntaskan hasratnya bersama Keysa. Ia yang sangat membenci Abian sampai memanfaatkan keadaan ini untuk membalas dendam terhadap musuh bubuyutannya. "Abian, lihatlah kehancuran anak gadismu!" ucapnya, lalu pergi. 


Sementara itu, di dalam kamar, Devano mendengar pintu terbuka dan tertutup lagi setelah seseorang masuk. Ia yang meminum jus lebih banyak, dengan kesadaran yang semakin tidak bisa terkontrol, Devano menatap ke arah pintu seperti kucing yang siap menangkap mangsa. 


Pikiran Devano sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Di kepalanya hanya terpikir bagaimana menyalurkan hassratnya yang tidak bisa ditahan lagi. Devano beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu lantas menarik Keysa dan dicampak dengan kasar ke atas tempat tidur. 


"Dev, apa yang kamu lakukan?" Keysa tersentak dengan perlakuan Devano yang sangat kasar. 


Devano benar-benar sudah dibawah kendali obat itu. Ia tidak peduli dengan pertanyaan Keysa. Melihat Keysa berbaring di tempat tidur, Devano langsung mengukungnya dan mendaratkan ciuman. Ciuman yang sangat kasar dan menuntut lebih. 


"Dev!" Keysa mencoba mendorong tubuh Devano saat pertautan bibir mereka terlepas. 


Namun, tenaga Devano yang dipengaruhi obat terasa lebih kuat berkali-kali lipat. Keysa tidak berhasil mendorong Devano, bahkan lelaki itu kembali mencumbu Keysa.   


"Dev, aku mohon jangan lakukan itu!" Keysa yang masih setengah waras, terus memohon kepada Devano. "Dev, sadarlah! Jangan sampai kakek tidak menyetujui hubungan kita. Kamu tahu sendiri apa akibatnya jika kamu berani melakukan itu padaku." Keysa berujar dengan air mata yang mulai merembes dari kedua matanya—Devano benar-benar liar dan memperlakukannya dengan kasar. Keysa juga butuh pelepasan, tetapi ia tidak  mau mahkotanya hilang dengan cara seperti itu meskipun dengan kekasihnya sendiri.


Devano menghentikan bibirnya yang sedang membuat tanda merah di leher Keysa. Dengan napas yang memburu, ia menatap gadis dengan pakaian atas sudah terlepas semua. Kepalanya kembali terasa pusing, tetapi perlahan kesadaran Devano kembali.


"Key, kamu menangis?" Devano mengusap air mata yang keluar dari kedua sudut mata Keysa. 


"Aku tahu kamu tersiksa. Aku pun sama. Tapi, aku mohon jangan melakukannya!" ujar Keysa setengah memohon. 


"Tapi, Key, ini sungguh menyiksa. Aku mohon izinkan aku hanya kali ini saja!" Devano pun tidak jauh memelas dari Keysa. 


"Kita bisa menyelesaikannya tanpa harus ada penyatuan. Aku mohon! Atau hubungan kita akan benar berakhir-akhir," ucap Keysa lagi.

__ADS_1


Mendengar kata 'berakhir' Devano semakin dibuat frustrasi. "Ahh ...!" Devano meninju bad di sisi tubuh Keysa, lantas bangun dan duduk membelakangi Keysa. Tidak tahu harus berbuat apa, pengaruh obat pun semakin menguat begitu anggota tubuhnya saling menempel dengan tubuh Keysa. Devano mengguyar kasar rambutnya. 


"Seperti yang aku ucapkan aku akan membantumu!" Keysa yang sudah turun dari ranjang tampak menempelkan lutut di lantai, menghadap Devano yang duduk di bed  dengan memakai underware saja. 


__ADS_2