Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
210


__ADS_3

"Kenapa kita landing di sini?" Keysa dibuat terkejut saat menyadari mereka mendarat di bandara yang sudah sangat dikenalnya. Semakin terkejut lagi, ketika menyadari penumpang pesawat itu hanya mereka berdua. "Eh, penumpang yang lain ke mana?" Keysa kebingungan menyaksikan kursi penumpang sudah kosong padahal belum ada yang keluar dari pesawat.


Keysa menatap heran kepada lelaki yang terlihat santai di sisinya. Keysa sempat tertidur, kemudian bangun saat pesawat sudah di atas ketinggian lagi. Ia yang tidak tahu pesawat sudah landing di tempat sesuai tiket, mengira bahwa mereka masih berada di udara menuju negara tetangga. Namun, Keysa dibuat terkejut sekaligus bingung saat melihat mereka mendarat di Ibu Kota negara mereka dengan penumpang yang kosong molongpong.


"Dev, bisa kamu jelaskan?" Keysa menatap Devano meminta penjelasan.


Devano mengulas senyum sebelum menceritakan semuanya, lantas memposisikan diri menghadap Keysa dan menceritakan yang telah dilakukannya saat Keysa tidur.


"Tapi aku tidak mau pulang," sarkas Keysa, kemudian.


"Kenapa? Aku juga ingin bertemu dengan Kakek," jelas Devano, yang juga merindukan Kakek Surya.


"Setelah mendengar kamu akan tunangan, aku tidak yakin Kakek akan sebaik kemarin. Dia bahkan kembali menginginkan aku berjodoh dengan Zian." Keysa menceritakan kejadian di rumah setelah mendengar pertunangan Devano hingga memutuskan untuk kabur.


"Maafkan aku. Aku telah membuatmu susah." Devano sangat menyesal atas perbuatannya. Restu yang sebelumnya sudah didapat pun hapuslah sudah. Namun ia berjanji akan berusaha mendapatkan restu Kakek Surya lagi.


Akhirnya mereka pun memilih untuk kembali ke kota B. Keysa tidak mau pulang ke rumah Kakek Surya karena tidak mau bertemu dengan Zian.


***


Hari telah berganti. Devano mencari cara untuk mendapatkan hati Kakek Surya lagi, hingga terbersit untuk mengirimi lelaki tua itu beberapa motor sport keluaran terbaru.


Devano memerintahkan anak buahnya untuk mengirimkan lima buah motor sport kepada Kakek Surya. Menjelang sore barang-barang itu tiba dengan selamat di kediaman Kakek Surya.


Kakek Surya yang sedang bersantai di teras dibuat tercengang ketika melihat kendaraan besar pengangkut kendaraan datang, kemudian menurunkan lima motor sport.


"Itu motor siapa? Kenapa diturunkan di depan rumah saya?"


"Kami diperintahkan untuk mengantar motor-motor ini ke rumah ini, Pak," ucap lelaki pembawa kendaraan itu.


"Tapi, saya tidak merasa membeli motor, apalagi sebanyak itu."


"Ini motor dikirim dari atas nama Devano, Pak, untuk Bapak Surya Atmaja." Si pengirim menerangkan, membuat Kakek Surya hanya mengangguk—tahu siapa pembuat ulah.


"Anak itu apa yang diinginkannya?" Kakek Surya merasa geram sendiri dengan yang telah dilakukan Devano. "Ambil ponselku!" Kakek Surya menyuruh pelayannya untuk mengambil ponsel untuk menghubungi lelaki yang menurutnya selalu seenaknya saja.


Si pelayan mengangguk, kemudian masuk ke rumah—mengambil ponsel.

__ADS_1


Setelah pelayan kembali dan memberikan benda pipih miliknya, Kakek Surya langsung menghubungi Devano.


"Ini maksudnya apa kamu mengirimku banyak motor sport, hah? Apa kamu sedang membeli hatiku agar kembali respect padamu? Jangan harap!" Kakek langsung membombardir Devano dengan amukan saat panggilan tersambung. Ia yang tahu pertunangan Devano batal dan menebak tindakan pacar cucunya itu hanya untuk menyogok.


Sebisa mungkin Devano mengelak tuduhan Kakek Surya. Ia mengatakan bahwa itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Kakek Surya.


"Ulang tahun masih delapan lagi, masih lama. Tidak perlu cari alasan yang tidak masuk akal."


"Ya, karena masih lama. Aku nyicil kado ulang tahunnya dari sekarang, Kek." Devano mencoba memberi alasan lagi.


Mereka pun berdebat karena motor yang dikirim Devano, hingga akhirnya Kakek memilih untuk menerima untuk sementara daripada motor itu dibuang ke lautan. Devano memutuskan jika Kakek Surya tidak menerimanya, lelaki itu menyuruh pengantar motor tersebut untuk membuang kuda besi itu ke laut.


***


"Bagaimana apa Kakek mau menerima?" tanya Keysa setelah Devano selesai menghubungi Kakek Surya.


"Ya. Setelah debat yang sangat alot, akhirnya Kakek mau menerima motor itu." Devano memamerkan rentetan giginya karena berhasil membujuk Kakek Surya.


"Iya, karena aku kasih tahu kamu untuk mengancamnya," timpal Keysa, yang ditimpali oleh tawa Devano.


"Iya, iya. Terima kasih, Sayang, sudah membantu." Devano merangkul bahu dan mengecup pucuk kepala Keysa .


Mereka yang sedang menikmati jalan-jalan sore di taman kota pun kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan tangan yang saling bergandengan.


Di saat melewati tempat sedikit sepi, Devano menyadari ada beberapa orang yang membuntuti mereka.


"Ada apa, Dev?" tanya Keysa saat Devano tiba-tiba langkah Devano melambat.


"Sepertinya ada yang sedang mengikuti kita," gumam Devano. "Jangan menoleh, cepat bersembunyi. Biarkan aku yang tangani ini," lanjut Devano. Ia yang takut orang-orang itu akan melukai Keysa langsung menyuruh Keysa pergi dan mengorbankan dirinya sendiri.


Keysa hanya mengangguk, kemudian mempercepat langkahnya untuk bersembunyi. Orang-orang yang melihat Keysa berlari seorang diri pun langsung mengejar Keysa, tetapi dengan cepat dihadang Devano. Hingga perkelahian antara Devano dan empat orang tidak dikenal itupun tidak terelakkan.


Pengawal yang dikirim oleh Kakek Surya pun muncul dari persembunyian untuk melindungi Keysa. Namun, belum sempat mereka sampai di dekat Keysa tiba-tiba Exel yang datang entah dari mana menarik Keysa dan membawanya ke dalam mobil. Para pengawal pun mencoba menghadang tetapi gagal dan malah terkena sebredan kendaraan yang dinaiki Exel.


Di tempat Devano, salah satu dari orang yang sedang berkelahi dengan Devano langsung memberi isyarat untuk meninggalkan tempat saat mendapat informasi dari tuan mereka. Mereka lantas masuk ke dalam mobil yang sudah melaju secara perlahan, dan sejurus kemudian melesat cepat.


"Dev, tolong!" Di dalam mobil itu terdapat Keysa yang sudah berhasil ditangkap Exel.

__ADS_1


"Keysa!" Devano yang baru menyadari kehadiran Keysa langsung mengejar mobil yang sudah melaju kencang itu. "Key!" teriaknya, mendapati mobil semakin menjauh dan kakinya tidak mampu mendekat.


Di dalam mobil Exel tertawa puas karena berhasil mengelabui Devano. "Dia pasti kelimpungan saat melihat kekasihnya diculik." Tawanya menggema di dalam mobil.


"Xel, tega sekali kamu menculikku begini!" Dengan tangan dan kaki terikat, Keysa angkat bicara.


Mendengar ucapan Keysa membuat Exel menoleh ke samping.


"Kalian jauh lebih tega," tandasnya berseringai jahat.


"Aku menyesal pernah menjadi temanmu."


Exel tidak memedulikan ucapan Keysa. Ia sibuk dengan ponsel dan menghubungi seseorang.


"Aku sudah berhasil menangkapnya. Apa kamu senang?" tanyanya kepada orang di seberang sana, kemudian mengakhiri panggilannya setelah mengatakan dirinya ingin bersenang-senang dengan Keysa dan memberikan pelajaran kepada Devano.


Setelah menghubungi seseorang, Exel mendial nomor lain lagi dan menghubunginya.


Sementara itu, di tempat lain, Devano sedang mencari keberadaan Keysa dengan Zack dan para pengawal Keysa. Hingga sebuah panggilan masuk ke ponselnya dari seseorang yang terus dihubungi tetapi tidak kunjung tersambung.


"Bedebah, kau bawa ke mana Keysa? Awas saja jika terjadi sesuatu dengannya. Aku pasti akan menghabisimu!" sarkas Devano begitu panggilan orang itu diterima.


Si penelepon yang tidak lain adalah Exel, hanya menanggapi ancaman Devano dengan tawa mengejek. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Aku tidak yakin kau mampu menghabisiku. Jika kau menghabisiku maka kekasihmu juga akan kuhabisi," seloroh Exel kemudian. Ia memang sengaja memanfaatkan Keysa untuk mengancam Devano.


"Berani sekali kau mengancamku!" hardik Devano. "Di mana Keysa?"


Exel tidak lagi menjawab. Ia hanya tertawa kemudian tawa itu menghilang berganti bunyi tut-tut pertanda panggilan mereka diakhiri oleh pihak lawan.


"Sialan!" Devano dibuat frustrasi karena tidak bisa mendapatkan info langsung dari Exel.


"Apa sudah bisa melacak keberadaan Keysa?" Devano beralih bertanya kepada Zack.


Zack mengangguk, kemudian memaparkan hasil pelacakannya dari hasil meretas ponsel Keysa. "Saat ini mereka sudah berada di sebuah rumah tua dekat hutan," ucap Zack.


Devano mengangguk dan memutuskan untuk menyusul ke sana dan bergerak sendiri. "Tunggu aku, aku pasti akan membebaskanmu."


Sebelum Devano pergi, Zack menyelipkan suatu benda padanya sebagai pelindung diri.

__ADS_1


__ADS_2