
Keysa baru selesai menyiapkan makanan untuk makan malam. Ia sangat bahagia dan bisa bernapas lega saat mendapat kabar bahwa Devano baik-baik saja dan akan segera pulang setelah memberikan keterangan kepada pihak berwajib. Untuk menyambut kepulangan Devano, Keysa memutuskan untuk membuat makan malam yang spesial untuk mereka. Semenjak mendengar kabar baik itu, Keysa langsung bersiap dan membeli segala keperluan untuk memasak ke supermarket.
Menjelang gelap, Keysa sudah selesai membuat menu makan malam dan menyiapkannya di meja makan, kemudian ia memilih beranjak dari dapur dan pergi ke kamar. Setelah membuat makanan, giliran dirinya mematut diri sendiri agar terlihat cantik saat menyambut kepulangan sang kekasih. Sambil bersenandung ria dengan senyum yang terus merekah, Keysa pergi ke kamar mandi dan bersih-bersih.
***
Keysa tampil cantik dengan riasan natural. Ia memakai dress selutut, rambutnya digerai indah dengan bando yang bertahta di kepala. "Cantik," gumam Keysa saat memandang dirinya sendiri di balik cermin.
Hari pun sudah gelap, Ia juga sudah selesai mematut dirinya lalu memutuskan untuk segera turun dan menunggu Devano di bawah.
Senyum masih terus mengembang, membayangkan Devano yang pulang dan kaget saat melihat surprise yang dibuatnya. Namun, perlahan senyum Keysa menghilang berubah kegelisahan saat hampir setengah jam menunggu, Devano tidak kunjung pulang sesuai waktu yang disebutkan di telepon.
Dua jam telah berlalu. Senyum Keysa pun benar-benar hilang dan berubah menjadi tangis histeris. Makanan yang dibuatnya sudah mendingin. Lilin-lilin yang dinyalakan agar makan malam mereka terkesan romantis pun sudah semakin pendek, tetapi masih tidak ada tanda-tanda Devano akan pulang. Bahkan, ponsel Devano yang sempat aktif sudah tidak bisa dihubungi.
"Cepat pulang, Dev! Jangan membuatku takut." Keysa menyembunyikan wajahnya di atas meja dengan tangis yang sudah membanjiri wajah juga meja.
Tidak ada yang bisa dimintai tolong, di tengah keputus asaannya, Keysa hanya bisa menangis. Hingga, tiba-tiba ia mendengar derap kaki mendekat ke arahnya. Keysa mengangkat kepala, mata sembabnya melihat ke arah derap kaki tersebut.
"Dev." Begitu melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya, Keysa langsung berdiri dan berlari ke arah Devano. Keysa memeluk lelaki itu dengan begitu erat dan tangisnya pun pecah semakin menjadi.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Devano, sambil membelai rambut Keysa.
"Apa masih harus aku menjelaskan kenapa aku menangis?" sarkas Keysa, tanpa berani memandang sang kekasih apalagi melepaskan pelukannya.
Devano mengulas senyum, kemudian mengecup pucuk kepala Keysa. "Aku sudah pulang dan aku baik-baik saja. Di sana juga aku tidak apa-apain hanya ditanya-tanya, enggak sampai dipukuli." Devano mencoba menjelaskan yang terjadi di kantor polisi agar Keysa tenang. "Sudah ... cup ... cup ...tidak ada yang perlu ditangisi lagi. cup ... cup ...." lanjutnya, seperti sedang menenangkan anak kecil yang sedang menangis.
__ADS_1
"Apa kamu sedang meledekku?" Keysa langsung menghadiahi Devano cubitan di pinggang saat melihat Devano memamerkan rentetan giginya.
"Tidak. Siapa yang meledekmu? Aku hanya menirukan gaya orang yang sedang menenangkan anak kecil di taman waktu itu." Devano berucap sambil kabur untuk menghindar dari cubitan Keysa selanjutnya, karena telah blak-blakkan menyamakan gadis itu dengan anak kecil yang pernah mereka temui.
Sementara itu, Keysa hanya mengerucutkan bibir, lantas mengikuti langkah Devano yang berjalan ke arah meja makan.
"Kamu buat ini semua?" Devano menatap menu makanan yang menggugah selera tertata di meja makan.
"Iya. Tapi, sepertinya sudah dingin. Biar aku panaskan dulu," ucap Keysa.
Namun, Devano menolak. Lelaki itu memilih langsung menyantapnya. Ia tahu Keysa sudah menunggunya terlalu lama dan pasti belum makan sama sekali kecuali makan bersama sebelum dirinya ditangkapnya.
Sementara itu, di kediamannya, Exel sedang membanting ponselnya asal saat mendengar kabar bahwa Devano tidak dipenjara.
"Sial! Bagaimana dia bisa lolos? Seharusnya Devano itu mendekam di penjara, bukan malah dibebaskan." Exel mengumpat dengan kasar.
"Jadi kamu yang telah menjebloskan Devano ke penjara?" Disti menatap Exel dengan tidak percaya. Keysa memberitahu kabar tentang Devano yang digelandang ke kantor polisi, tetapi ia tidak menyangka kalau yang melakukan itu adalah kekasihnya sendiri.
"Dis ...." Exel dibuat terkesiap saat menyadari kehadiran Disti di apartemennya. "Dis, sejak kapan kamu ada di sini?" Exel tidak tahu harus menjelaskan apa, gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah gadis yang sedang menatapnya dengan begitu tajam.
"Jadi, kamu yang melakukan semua itu?" Disti mengulangi pertanyaannya.
"Dis, biar aku jelaskan!" Exel mendekat, tetapi dengan cepat Disti mundur.
"Jangan mendekat!" Disti menghentikan langkah Exel yang terus mendekat dan hendak menjelaskan. "Aku pikir dengan semua yang telah terjadi kamu sudah berubah. Ternyata aku salah. Aku ingin kita putus." Disti yang sudah mendengar semuanya dengan lantang mengakhiri hubungan mereka, kemudian berbalik dan meninggalkan apartemen Exel sambil berlari dengan air mata yang tidak bisa lagi terbendung.
__ADS_1
"Dis, dengarkan aku dulu! Bagaimana mungkin kamu memutuskan hubungan kita begitu saja?" Exel tidak mau putus. Ia mencoba mengejar Disti, tetapi tidak terkejar. Ia yang masih belajar berjalan tidak bisa melangkah dengan cepat apalagi berlari.
"Arggh!!!" Exel semakin dibuat frustrasi. Selain gagal memenjarakan Devano, ia juga ditinggalkan Disti saat dirinya mulai mencintai gadis itu. "Kenapa jadi begini?" teriak Exel sambil menyapu barang-barang yang ada di apartemennya.
"Semuanya harus cepat selesai." Setelah lebih tenang, Exel mengambil ponsel dan menghubungi Devano. Ia mengajak Devano ke puncak gunung untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
***
"Baik, aku setuju!"
Di kediamannya, Devano yang sedang tidur bersama Keysa, terbangun oleh suara dering telepon dari ponselnya. Ia lantas bangun dan menerima panggilan tersebut begitu tahu siapa yang menghubunginya. Devano sempat mengernyit saat mendengarkan niat Exel menghubunginya, lelaki itu mengajaknya bertemu untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Meskipun awalnya ragu, tetapi akhirnya Devano menyetujui permintaan Exel, kemudian mengakhiri panggilan mereka.
"Tidak!" Bertepatan dengan itu, Keysa terbangun dari mimpi buruknya dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat dingin.
"Key, kamu kenapa?" Devano menghampiri Keysa dan memberikan segelas air.
Keysa langsung meneguk habis air di gelas itu, kemudian menatap Devano dengan seksama dan memeluknya dengan erat seolah dirinya takut kehilangan Devano.
"Ada apa?"
"Aku bermimpi buruk," ucap Keysa, kemudian menceritakan tentang dirinya yang bermimpi kalau Devano jatuh dari puncak gunung.
"Berjanjilah kamu tidak akan pergi ke gunung setelah ini." Keysa tidak mengetahui tentang kesepakatan Devano dengan Exel, tetapi ia merasa mimpinya sangat nyata. Ia meminta Devano untuk tidak bepergian ke tempat tinggi.
"Itu hanya mimpi, Key. Hanya bunga tidur." Devano mencoba menenangkan gadis yang masih memeluknya.
__ADS_1
Keysa mengurai pelukannya, kemudian mendongak menatap Devano. "Biar pun hanya mimpi aku ingin kamu berjanji padaku, bahwa kamu tidak akan pergi ke gunung mana pun." Keysa mengangkat kelingking di hadapan Devano, meminta lelaki itu berjanji dengan kelingking yang saling bertaut.
"Iya, aku berjanji." Devano mengaitkan kelingkingnya, berpura-pura menyetujui keinginan Keysa.