Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
9


__ADS_3

9


Saat Keysa memasuki kelas, tampak Devan sedang duduk di bangku Keysa dengan sebelah tangan menyangga dagu.


"Minggir, itu bangku saya!" sarkas Keysa, mengusir Devano dari tempat duduknya.


"Apa kau mau uang yang banyak?" Bukannya beranjak, Devano malah menawari Keysa uang.


Uang. Tentu saja mata Keysa langsung hijau. Akan tetapi, melihat siapa yang menawarinya uang membuat Keysa berpikir ulang. Tidak mungkin Devano tiba-tiba berubah baik kalau tidak niat lain di dalamnya.


"Maaf, Tuan Devano, ini tempat dudukku. Bisakah, anda minggir?" imbuh Keysa lagi, tak memedulikan ucapan Devano.


Devano tidak beranjak. Ia lantas menjelaskan perkerjaan yang perlu Keysa lakukan untuknya agar bisa mendapatkan uang banyak. "Dengarkan aku dulu, Nona Jelek! Mumpung cuaca sedang panas-panas banget, aku itu berniat mentraktir teman-teman sekelas minuman. Aku hanya memintamu membeli dan membawakan minuman itu serta membagikannya kepada mereka. Dan, aku akan membayarmu seharga kamu menjalankan satu tugas yang dihitung dari perbotol. Sesimple itu, masa kamu tidak mau? Satu botol sama dengan satu tugas lho," tuturnya, panjang lebar. "Eh, satu lagi. Lupa. Tapi botol minumannya dalam ukuran big size, ya! Biar mereka kenyang," lanjut Devano dengan seringai licik menghiasi wajah.


Keysa tampak berpikir, uang yang ditawarkan Devano sangat menjanjikan. Kelas mereka terdiri dari empat puluh orang, jika satu orang satu botol, ia akan mendapatkan banyak uang. Akan tetapi, Devano menginginkan minuman dengan botol ukuran besar, itu artinya Keysa harus bolak-balik membawa minuman itu karena tidak mungkin terbawa dalam satu kali bawa. Belum lagi ruangan mereka terdapat di lantai tiga yang artinya sama saja Devano dengan menyiksanya.


"Ti—"


"Setuju." Baru saja Keysa akan menolak, Disti sudah menyetujui permintaan Devano, membuat Keysa mendelik ke arah Disti.


"Deal!" Devano mengulurkan tangan kepada Disti dan langsung di balas Disti sembari mengucap 'deal' juga.


Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Devano pun beranjak dari bangku Keysa, kembali ke bangku miliknya sembari bersiul-siul.


"Dis!" Keysa memprotes tindakan Disti yang asal main deal saja.

__ADS_1


Akan tetapi, Disti langsung menarik Keysa untuk mendekat, lalu berbisik, "Tenanglah semua bisa kita lakukan."


Disti mengatakan kalau di supermarket kampus itu memiliki jasa kurir, jika membuat pesanan dalam jumlah banyak. Jadi, mereka tidak perlu membawa empat puluh botol itu ke kelas. Keysa pun tersenyum lebar begitu mendengar penuturan Disti. Mereka pun lantas berangkat membeli pesanan Devano.


Tidak selang berapa lama, Keysa dan Disti kembali dengan membawa botol minuman. Devano tersenyum lebar, rencananya untuk mengerjai Keysa berjalan sempurna.


"Bawa sini, Pak, minumannya!" ucap Keysa kepada seseorang di belakangnya.


Seketika senyum Devano menghilang dalam sekejap, melihat Keysa tidak hanya berdua dengan Disti. Ada kurir yang juga ikut untuk mengantar sisa minumannya.


"Ish!" Devano mengentakkan kakinya dan memilih tidur karena kesal. Lagi-lagi Keysa lolos dari tangan jahilnya.


'Dia itu benar-benar sulit dihadapi. Otaknya licin sekali kayak belut,' umpat Devano dalam hati.


Sementara itu, dengan senyum penuh kemenangan, Keysa membagikan minuman itu kepada semua mahasiswa di kelas dan semua orang pun menikmati minuman gratis dari Devano. Hingga, tiba-tiba seorang gadis tidak dikenal masuk ke kelas sambil menangis. Dengan sekejap para mahasiswa langsung kasak-kusuk menggunjing gadis yang baru datang itu. Dari kabar yang tetiba berseliweran Keysa bisa tahu kalau ternyata gadis itu adalah kekasih Devano.


Keysa yang sebenarnya juga mendengar kasak-kusuk itu langsung menyemburkan minuman yang baru saja masuk mulut, karena kaget.


"158? Kita salah dengar kali, Dis." Keysa berpikir kalau dirinya dan Disti salah mendengar.


Disti hanya mengedigkan bahu, sedangkan Keysa yang penasaran lantas mengkonfirmasi berita yang didapat kepada Ezra.


"Apa aku salah dengar, ya?" tanya Keysa.


Ezra pun menggeleng pasti. "Yang kamu dengar adalah kebenaran yang sebenar-benarnya," tandasnya, membuat mulut Keysa terbuka sempurna seperti ikan kekurangan air.

__ADS_1


"Mingkem," ujar Ezra dengan senyum yang mengembang ketika melihat Keysa ekspresi Keysa saat mengetahui kebenaran itu.


Keysa pun langsung mengatup mulutnya bersamaan dengan Gisel yang sampai di depannya. Gisel meminta Keysa memberikan tempat duduknya karena mau berbicara dengan Devano.


"Gadis jelek, minggir, aku mau berbicara dengan Devano," tandas Gisel.


Keysa menatap Gisel. Tidak Devano, tidak pacarnya memeliki sifat sama saja, membuat Keysa enggan untuk memberikan tempat duduk. "Ogah. Ini tempat dudukku. Cari saja tempat duduk yang lain," tolak Keysa.


"Aku akan membayar tempat dudukmu untuk satu jam ke depan. Satu juta untuk satu jam, bagaimana?" tandas Gisel lagi, sambil menyodorkan uang sesuai nominal yang disebutnya. Memberikan penawaran yang menggiurkan kepada Keysa.


Mendengar ada uang, tanpa pikir panjang lagi Keysa langsung setuju. Ia pun menerima uang itu. Sementara itu, Devano langsung memolototi Keysa dan meminta Keysa untuk membagi dua uang yang didapatnya. Akan tetapi, Keysa tak mengindahkan ucapan Devano dan memilih berdiri, memberikan jalan kepada Gisel untuk duduk di bangkunya.


Dengan berlinang air mata, Gisel yang sudah duduk di samping Devano langsung meraih tangan lelaki itu. Memohon-mohon supaya Devano tidak memutuskannya. "Beb, aku mohon tarik kata-katamu! Aku tidak mau putus denganmu. Aku sangat mencintaimu. Kita jangan putus, ya!"


Devano menarik kasar tangan yang digenggam Gisel. "Keputusanku sudah bulat dan aku tidak akan menariknya. Aku hanya ingin bermain-main denganmu, tapi sekarang permainannya sudah selesai karena kamu sudah tak menarik lagi. Jadi, lebih baik kita putus. Pe u te u es, putus!" ucap Devano dengan mengeja kata putus di akhir ucapannya dengan penuh penekanan. Tak cukup itu saja, Devano juga membeberkan kejelekan-kejelakan Gisel yang menurutnya terlalu mengekang serta kecentilan dan gampangan.


Tak terima dengan semua kata-kata Devano, Gisel langsung berdiri dan meraih air minum Keysa yang baru diminum sedikit, lantas mengguyurkannya di kepala Devano. "Dasar bajingan, tidak tahu diri! Bedebah tak punya perasaan! Setelah aku berikan segalanya untukmu, jadi ini balasannya? Kamu campakkan aku dengan sejuta hinaan itu, hah! Bajingan sepertimu seharusnya aku cekok dengan sianida bukan hanya diguyur," hardik Gisel sambil melemparkan sembarangan botol yang air sudah habis digunakan mengguyur Devano, lalu pergi dengan tangis yang masih menganak sungai di wajahnya, tanpa memedulikan semua orang yang sedang menonton drama gratisnya dengan Devano.


Devano sendiri hanya bisa menutup mata saat satu botol minuman mengguyur kepalanya, tanpa bisa membalas makian Gisel karena gadis yang penuhi amarah itu tak memberi ruang untuknya menyela. Sementara itu, Keysa yang sejak tadi menjadi penonton terdekat, menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak ketika melihat Devano basah kuyup.


Setelah kepergian Gisel, Devano menatap tajam Keysa yang masih menahan tawa. "Ini semua gara-gara kamu!" Devano melampiaskan kemarahannya kepada Keysa.


"Apa salahku? Kamu yang mutusin dia, kamu yang diguyur. Lalu letak salahku di mana?" jawab Keysa. Ia sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam Devano, bahkan dengan berani menatap balik lelaki itu.


"Salahmu karena kamu berani menunjukkan hidungmu di dekatku. Setiap aku bertemu denganmu ujung-ujungnya pasti sial."

__ADS_1


"Kalau gitu sama dong. Aku juga selalu sial kalau ketemu kamu." Sambil duduk kembali di bangkunya, Keysa membalas hardikkan Devano dengan sangat enteng membuat semua orang tercengang saat mendengarnya.


__ADS_2