
"Aku tidak menyangka kekasih Devano sangat cantik, pantas saja dia terus mati-matian membelamu," ucap salah seorang teman Devano, memuji Keysa.
mereka memuji kecantikan Keysa, bahkan ada yang sampai mencoba menggoda dan merayu kekasih Devano itu.
Keysa hanya berterima kasih telah dipuji teman-teman Devano.
"Dia ke sini bukan untuk digoda apalagi mendapatkan rayuan basi kalian. Dia ke sini untuk tanding bola tenis denganku. Apa kalian mau menjadi saksi pertandingan kami?" tandas Devano, sambil merangkul Keysa untuk tetap di sisinya. Ia tidak rela kalau teman-temannya itu menggoda Keysa.
"Tanding tenis?" Teman Devano yang lebih dari empat orang dibuat melongo oleh ucapan Devano.
"Ya. Apa ada yang salah?"
Teman-teman Devano pun kompak menggeleng.
"Sepertinya akan sangat seru saja Raja bola tenis akan bertanding dengan kekasihnya sendiri. Kita akan lihat siapa yang lebih jago dari mereka. Mungkinkah si Raja yang memiliki rekor tidak pernah terkalahkan selama tiga tahun terakhir ini akan kalah dari sang kekasih atau akan mengalah demi sang kekasih," timpal salah satu dari mereka, kemudian dibenarkan oleh yang lain.
"Raja Bola Tenis?" Keysa yang baru mengetahui fakta lain dari Devano dibuat terperangah oleh ucapan teman-teman Devano.
"Ya. Devano memiliki julukan 'Raja Bola Tenis' karena Devano sampai detik ini belum ada yang bisa mengalahkan. Kekasihmu itu memang super multi talenta," ungkap salah satu dari mereka dan lagi-lagi di benarkan oleh teman yang lain. Dengan senyum yang merekah, mereka sangat bangga memperkenalkan dan memberitahu keunggulan Devano, berpikir Keysa akan semakin jatuh cinta mendengar prestasi yang dimiliki Devano.
Keysa pun hanya menanggapi perkataan mereka dengan senyuman, kemudian melirik lelaki tanpa beban dan tanpa rasa bersalah yang masih setia merangkulnya. Menyadari Keysa menatapnya, Devano juga menoleh ke arah gadis itu sambil menampilkan senyum termanis setengah jahil kepada Keysa, lantas menarik kepala Keysa dan mendaratkan sebuah kecupan di kening. Devano yakin, permainan kali ini pun dirinya akan tetap menang.
"Ayo, main sekarang!" ucapnya, kemudian mengurai rangkulannya dan berjalan menuju tempat bermain.
Keysa yang mendapat ciuman mendadak, spontan mengusap kasar bekas bibir yang menempel di kening sambil mencebik. Devano sempat melihat tingkah sang kekasih, membuatnya mengangkat sedikit bibir atasnya.
'Ish sial sekali diriku. Apa mungkin bisa menang?' Keysa merutuki nasibnya yang terasa dipermainkan oleh lelaki yang sedang berjalan ke arah net.
__ADS_1
'Tidak. Aku tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Aku tidak boleh kalah sebelum berperang. Bisa jadi kemarin-kemarin dia hanya sedang hoki, dan kesialan Devano adalah saat bermain denganku.' Keysa mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Meskipun Keysa tidak memiliki prestrasi yang mentereng tentang tenis, tetapi ia juga pemain andal. Beberapa kali sempat ikut perlombaan meski hanya mampu menjadi 5 besar. Dengan kemampuan seuprit yang dimilikinya, Keysa meyakinkan diri kalau dirinya bisa memenangkan pertandingan dan pertaruhan mereka pun batal.
'Ayo, Key, kamu harus buktikan kalau gelar juara Devano bisa terkalahkan olehmu! Semangat, jangan menyerah sebelum berperang! Kamu pasti bisa." Keysa menyemangati dirinya sendiri, lantas mengikuti langkah Devano, lalu berjalan menuju tempat tempat yang sama.
Keysa dan Devano sudah berada di lapangan dengan mereka berada di tempat yang berbeda dan terhalang net. Sorak sorai orang-orang di sana terdengar menyemangati keduanya. Mereka sudah siap untuk memainkan bola dan raket dengan salah seorang wasit yang memandu jalannya pertandingan.
Ucapan teman-teman Devano ternyata bukan isapan jempol belaka. Devano memang sangat jago bermain tenis dan berkali-kali Keysa kewalahan mengimbangi permainan lelaki itu, hingga dirinya harus kehilangan angka.
Demi taruhan, Devano pun tidak ingin mengalah. Ia bermain secara totalitas karena dirinya tahu kalau Keysa juga menguasai olahraga yang satu itu. Tidak ada yang namanya mengalah demi kekasih. Ia tidak memedulikan sorak penonton yang mendukung Keysa dan mengatakan dirinya egois dan tidak mau mengalah kepada Keysa. Ia harus menang karena itu pun sama-sama demi kekasih dan kelangsungan hubungannya dengan Keysa.
"Awww ...." Di akhir permainan saat babak penentuan, tiba-tiba Keysa jatuh tersungkur saat berusaha mengembalikan bola ke Devano.
"Key!" Melihat Keysa jatuh, Devano langsung membuang raketnya asal dan berlari ke tempat Keysa.
"Kamu tidak apa-apa?" Devano membantu dan memapah Keysa untuk meninggalkan lapangan, tanpa memedulikan para penonton yang menjadi dua kubu itu.
"Tunggu sebentar!" Devano mendudukkan Keysa di kursi panjang, kemudian berlari untuk membeli salep dan air minum untuk Keysa.
Keysa hanya mengangguk sambil memegangi lututnya yang lecet dan terasa sangat perih.
Tidak selang berapa lama, Devano kembali dengan tergopoh-gopoh sambil membawa teh manis dan salep. "Ini minumlah!" Dengan napas yang ngos-ngosan, Devano memberikan teh manis dalam kemasan kotak kepada Keysa, lantas duduk.
"Mana yang luka?" tanyanya lagi.
Keysa memperlihatkan lututnya yang merah dan lecet. "Tahan, ya, mungkin akan sedikit perih." Devano pun dengan cekatan memberikan salep pada luka Keysa sambil meniupi agar tidak terlalu perih.
__ADS_1
"Aww ...." Keysa dibuat meringis saat cairan kental dioleskan oleh Devano pada kulitnya yang luka.
"Sudah."
"Makasih," ucap Keysa tulus.
"Sama-sama," balas Devano dengan seulas senyum yang terbit begitu cerah secerah langit siang itu.
"Kenapa-kenapa senyum-senyum?"
"Sesuai perjanjian. Kamu kalah berarti pertaruhan yang pertama tidak bisa dibatalkan," tandas Devano, penuh kemenangan.
Keysa yang sejenak melupakan pertaruhan mereka karena sikap siaga yang diberikan Devano langsung mencebik.
"Ish, aku kesakitan kayak gini pun masih saja mengingat-ingat hal itu," tandas Keysa dengan bibir yang mengerucut. Lagi-lagi dirinya kalah.
"Bukan seperti itu, aku hanya ingin menjunjung tinggi sportifitas. Kalah menang sudah biasa, tapi janji tetap janji harus ditepati."
Keysa pun mau tidak mau menyetujui kesepakatan mereka. Pertaruhan berlanjut sampai seminggu ke depan, meskipun sudah tahu siapa pemenangnya. Alea pasti tidak akan dibebaskan sebelum tujuh hari berakhir.
Namun, Keysa juga bukanlah orang yang mudah menyerah. Siang hari ia mengatakan menerima kesepakatan di depan Devano dengan wajah sendu seolah pasrah dengan kekalahan, tetapi sesampai di rumah gadis tersebut menyusun rencana.
Dua hari belum berakhir. Masih tersisa semalam dan Keysa bertekad untuk membawa Alea pulang. Di bawah langit yang sudah menggelap dengan pencahayaan remang-remang, Keysa sedang melakukan pertemuan di gang sempit, dekat tempat tinggal anak buah Kakek Surya.
"Kalian mengerti tugas kalian masing-masing, 'kan? Kali ini aku tidak mau mendengar kata gagal. Kita harus membawa Alea pulang."
Keysa yang sedang berkumpul dengan anak buah kiriman khusus sang kakek tampak serius menyusun rencana agar bisa menyusup ke rumah Devano dan secara diam-diam membawa Alea dari sana. Anak buahnya pun manggut-manggut, mengerti akan tugas yang perlu dilakukan masing-masing.
__ADS_1