Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
169


__ADS_3

Ketegangan antara Keysa dan Devano pun berakhir dengan kata cinta dan maaf yang keluar dari keduanya, serta cincin yang tersemat indah di jari manis Keysa.


Devano memeluk Keysa, kemudian menyapu lembut bibir Keysa. Mereka kembali berciuman, tetapi kali ini jauh lebih lembut dan mesra, bahkan Keysa juga membalas ciuman tersebut.


"Terima kasih." Devano mengecup kening Keysa setelah melepaskan tautan dari bibir mereka.


"Terima kasih juga." Keysa mengangkat lima jari tangannya dengan mata yang melirik cincin. "Cincinnya cantik," ungkapnya, jujur. Sejak cincin itu tergeletak di dekat tempat sampah, Keysa memang sudah tertarik dengan cincin tersebut. Namun, gengsi untuk mengakui mengingat dirinya yang sedang kesal kepada pemilik cincin tersebut.


"Seperti yang memakainya," jawab Devano.


"Masih ingat cara ngegombal juga." Keysa mencebik saat mendengar gombalan Devano, lalu berjalan kembali ke kelas.


Devano berseringai. Ia merangkul Keysa dan berjalan berdampingan. Beberapa hari terjerat masalah dengan Keysa, hingga hubungan mereka hampir tak terselamatkan, membuat Devano sangat merindukan masa-masa kebersamaan seperti itu.


"Daripada yang pura-pura nolak, padahal suka," gumamnya, menyindir Keysa yang sempat menolak cincin darinya, padahal Devano melihat dengan jelas kalau Keysa sangat terpana saat melihat cincin tersebut.


Keysa menoleh pada lelaki di sampingnya dengan mata yang melotot. "Kita gak jadi baikan," ancam Keysa, sambil melepaskan tangan yang merangkul bahunya.


Namun, dengan cepat Devano merangkul Keysa kembali. "Ancamannya horor sekali. Aku hanya bercanda, Sayang. Aku rindu kebersamaan kita seperti ini," gumamnya jujur.


Keysa tidak menimpali, tidak juga melepaskan rangkulan Devano. Keduanya berjalan berdampingan sebagai pasangan yang membuat setiap mata yang memandang patah hati. Pasangan serasi, yang satu tampan dan yang satu cantik, tidak jomplang lagi seperti sebelumnya.


***


Hari yang cukup melelahkan tetapi menyenangkan. Akhirnya, hubungannya dengan Devano telah membaik. Keysa yang sedang duduk di atas tempat tidur terlihat sedang senyum-senyum sendiri seraya memandangi tangan yang diangkat ke udara. Keysa membolak-balik tangannya sendiri, memerhatikan cincin yang begitu pas melingkar di jari manisnya.


"Cantik," gumamnya, memuji cincin itu lagi.

__ADS_1


Di saat Keysa sedang sibuk mengagumi cincin pemberian Devano tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan Alea yang sedang masuk kamar. Keysa pun dengan cepat menurunkan tangannya, lantas meraih buku—pura-pura membaca buku.


Alea yang baru masuk menyadari ada yang aneh dengan Keysa. Ia juga sempat melihat Keysa yang sedang membolak-balik tangan dan segera mengambil buku saat melihat kehadirannya. Alea memerhatikan Keysa, mencari sesuatu yang aneh itu, hingga matanya tertuju pada tangan yang sedang memegang buku.


"Kamu sudah balikan dengan Devano?" selidik Alea, setelah melihat cincin couple yang melingkar di jari Keysa. Alea lantas menarik tangan Keysa dan mengamati cincin tersebut. Ia merasa tidak asing dan pernah melihatnya.


"Apa sih?" Keysa dengan cepat menarik tangannya. "Mentang-mentang aku pakai cincin, artinya aku sudah balikan gitu? Beli cincin doang aku juga sanggup," seloroh Keysa, kembali membuka buku. "Ini cincin turun temurun dari keluargaku," tandas Keysa kemudian, berbohong. Ia sedang bahagia tidak ingin dibumbui adu mulut dengan Alea karena tahu ia dan Devano sudah balikan.


Alea manggut-manggut mendengar penjelasan Keysa, meskipun sedikit ragu. Alea lantas duduk di samping Keysa, menatap Keysa yang masih pura-pura sibuk dengan buku.


"Ada apa lagi?" tanya Keysa, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.


"Mmmm ... Hari ini kamu ada acara, tidak?" tanya Alea lemah lembut.


"Tumben nanya-nanya,"


"Yang ulang tahun temanmu, masalah denganku apa?" tandas Keysa, acuh.


"Dia mengundangku."


"Ya, tinggal pergi, Apa susahnya?" tandas Keysa lagi.


"Pergi bareng, ya! Aku tidak mungkin pergi sendiri," pinta Alea kemudian.


Keysa menutup buku, kemudian menatap Alea penuh selidik.


"Semua orang datang dengan pasangan kalau aku datang sendiri pasti jadi bulan-bulanan," lanjutnya lagi, seakan-akan tahu arti tatapan Keysa.

__ADS_1


"Kamu kira aku pecinta sesama jenis? Kalau mereka datang dengan pasangan ya cari pasangan, kenapa malah ngajak aku?" timpal Keysa.


"Pasangannya digondol kucing," jawab Alea, yang membuat Keysa ingin tertawa tetapi ditahan. "Biarpun tidak ada pasangan setidaknya jika datang bareng kamu mereka akan segan dan tidak akan mengolok-olokku."


Alea terus membujuk Keysa, tetapi masih ditolak. Keysa tidak bisa percaya seratus persen kepada Alea, meskipun gadis itu berjanji akan berubah dan tidak akan mengulangi kesalahannya setelah mohon ampun di malam itu. Alea yang seperti orang taubat sambal (Berjanji tidak akan mengulang, tetapi diulangi lagi) membuat Keysa memilih menjaga jarak dan tetap waspada.


Alea terus memohon, hingga akhirnya Keysa mengabulkan permintaan Alea setelah gadis tersebut membuat sebuah pernyataan.


***


Keysa, Alea dan Disti tiba di sebuah gedung. Ketiga tampil cantik dan elegan dengan pakaian yang dikenakan. Bahkan, Disti yang biasanya tampil biasa-biasa saja pun tampak memukau dan menjadi perhatian banyak orang. Kedatangan mereka bertiga pun menjadi pusat perhatian, bukan karena mereka tidak datang bersama pasangan, tetapi karena penampilan mereka yang cantik dan memukau.


"Pesta benar-benar untuk pasangan," gumam Disti, saat melihat sebagian banyak tamu yang hadir bersama pasangannya, meskipun ada juga yang seperti mereka–tanpa pasangan.


"Bareng pasangan ataupun enggak gak penting, yang penting senang-senang," ucap Keysa dengan seringai lebar menghiasi wajah.


Pesta yang didatangi sangat meriah. Rugi kalau hanya memikirkan datang tanpa pasangan. Pesta diselenggarakan untuk senang-senang, bukan untuk merenungi kejombloan mereka.


"Yang diucapkan Keysa benar. Yang penting kita senang-senang, nikmati pesta mereka yang meriah ini," timpal Alea, sependapat dengan Keysa.


Meskipun tanpa pasangan, ketiganya menikmati pesta dengan gembira. Mereka yang terlalu asyik bermain tanpa sadar telah minum banyak membuat ketiganya hampir mabuk.


"Sepertinya aku kebanyakan minum. Kepalaku mulai pusing, kepalaku juga mulai cenat-cenut bahaya kalau sampai tidak sadar di sini," gumam Keysa sambil memegangi kepala yang mulai terasa berat.


"Kita pulang saja yuk! Kepalaku juga cenat-cenut." Disti ikut menimpali, kemudian mengajak Alea untuk pulang.


"Le, kita pulang sekarang saja." Keysa juga mengajak Alea pulang, bisa bahaya kalau dirinya sampai mabuk di sana mengingat hal aneh yang sering dilakukannya kalau sedang mabuk.

__ADS_1


Mereka pun memutuskan untuk pulang. Keysa dan Disti berjalan keluar terlebih dahulu, sedangkan Alea berpamitan kepada si pemilik pesta.


__ADS_2