
Sebuah pesta megah akan digelar di hotel berbintang. Bagaimana tidak, dua keluarga dengan kekayaan yang masuk ke daftar orang paling kaya di Negara X itu akan menggelar pesta pertunangan cucu mereka. Banyak kalangan dari mulai pejabat, artis serta pengusaha-pengusaha ternama yang hadir dalam acara tersebut.
"Akhirnya, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Kakek Surya. Kamu adalah orang paling beruntung di dunia, Sayang. Selain mewarisi kekayaan kakekmu, kamu juga akan mewarisi kekayaan Keysa yang sangat melimpah dari Kakek Surya juga keluarga ibunya."
Seorang wanita tampak sedang merapikan jas yang dikenakan Zian. Senyum penuh kemenangan terus terukir di wajah berpenampilan glamor itu.
"Dan perjuangannya sangat tidak mudah mommy. Keysa tidak pernah menyukaiku dan hanya menganggapku sahabat. Bahkan, sampai saat ini sepertinya aku hanya akan mendapatkan raganya saja." Zian mengembuskan napas kasar. Harapannya bukan hanya pertunangan untuk mengikat bisnis saja, tetapi juga mengikat dirinya dan Keysa. Namun, sepertinya semua itu tidak akan pernah terwujud, karena di hati Keysa hanya ada Devano.
"Menurut mommy, perasaan Keysa saat ini tidaklah penting."
"Momm ...." Zian tidak suka dengan pemikiran mamanya yang telah mengesampingkan perasaan gadis yang sudah mencuri hatinya sejak kecil itu.
Mama Zian hanya mengangkat bahu, tanpa ada niatan menanggapi protes sang anak. "Percayalah seiring berjalannya waktu, gadis itu pasti akan mencintaimu.Terpenting saat ini kamu mengikatnya, setelah itu pasti akan lebih mudah membuat dia jatuh ke pelukanmu," lanjutnya, dengan senyum licik terukir di wajahnya yang haus akan kekayaan dan kekuasaan. "Sudah tampan. Ayo, kita ke ballroom. Para tamu undangan sudah menunggu kita," lanjutnya mengajak Zian untuk segera keluar dari kamar hotel.
Zian mengangguk, kemudian keduanya keluar dengan tangan sang mama melingkar di lengan Zian. Senyum terus terukir di bibir merah merona itu. Lewat Zian, sebentar lagi impiannya untuk menjadi orang paling berkuasa akan segera terwujud.
Sementara itu di kamar hotel lain, tampak Keysa sedang memohon kepada Surya. Gadis yang sudah terlihat cantik dengan gaun pink yang dikenakan sedang bersimpuh dan memeluk kaki Kakek Surya, memohon untuk membatalkan acara pertunangannya dan Zian.
"Kakek, aku tidak bisa bertunangan dengan Zian. Aku mohon batalkan pertunangan ini."
"Devano sudah tidak ada. Apalagi yang membuatmu terus memintaku untuk membatalkan pertunangan ini? Semuanya sudah dipersiapkan sangat matang. Tidak mungkin kakek membatalkan begitu saja."
"Aku tidak mencintainya."
"Cinta bisa datang, seiring dengan seringnya kalian bersama."
"Aku sudah bersamanya sejak kecil dan aku tidak pernah merasakan hal yang aku rasakan kepada Devano," keukeuh Keysa.
__ADS_1
Kakek Surya menghela napas panjang, kemudian berjongkok dan meminta Keysa untuk berdiri. Lelaki tua itu menangkup wajah sang cucu, menatap lekat buah hati anaknya itu. Air mata mengalir di wajah Keysa, membuat Kakek Surya mengusapnya lembut.
"Key, Devano sudah tidak ada. Kamu harus melanjutkan hidupmu. Biarkan dia tenang di alam sana! Cukup setengah tahun kamu seperti orang kehilangan arah dan menunggu orang yang jelas-jelas tidak akan kembali."
"Devano belum meninggal, Kek." Meski tidak pernah mendapat kabar lagi tentang keadaan Devano, tetapi Keysa yakin kalau Devano masih hidup.
"Jika dia belum meninggal, pasti dia sudah datang menemuimu."
"Pasti ada alasan kenapa dia tidak datang menemuiku."
"Alasan yang tepat adalah karena dia sudah meninggal, Key."
Keysa menggeleng cepat, membantah ucapan sang kakek. Sampai kapan pun Keysa tidak akan percaya kalau Devano telah meninggal, sebelum dirinya sendiri melihat mayat sang kekasih. "Tidak, Kek. Selama belum ada jasad Dev di depan mata, itu artinya Dev masih hidup."
Kakek tersenyum samar mendengar perkataan Keysa. Tidak menyangka cinta sang cucu kepada kekasihnya itu begitu besar, bahkan kabar yang tersiar pun tak sedikit pun meruntuhkan keyakinannya.
Keysa langsung terbelalak dan tidak terima mendengar perkataan Kakek Surya. "Kakek! Kakek ini apa-apaan? Aku pikir ... Au ah, Kakek memang menyebalkan." Keysa memalingkan wajah dengan wajah yang sudah ditekuk. Ia sudah terlalu senang saat Kakek Surya mempertanyakan keyakinannya tentang Devano yang masih hidup, dan mengira kalau sang kakek akan membatalkan pertunangan itu. Namun, kenyataannya malah sebaliknya dan membuatnya sangat kesal.
"Dengarkan kakek dulu!" Kakek Surya menarik dagu Keysa agar sang cucu kembali menghadapnya. Seulas senyum ditampilkan lelaki berkacamata itu membuat Kayla kembali membuang muka. "Jangan dulu marah! Dengarkan dulu kakek bicara." Kakek Surya kembali menarik dagu Keysa hingga keduanya saling berhadapan. "Kamu sangat yakin kalau Devano masih hidup kan?" tanya Kakek lagi.
"Mau berapa ratus kali Kakek bertanya hal seperti itu?" jawab Keysa dengan wajah kesal dan basah.
Kakek mengangguk dengan sedikit kekehan yang tertampil membuat Keysa merasa seakan sedang diejek oleh keyakinannya itu. "Kamu mencintai Dev, dan Dev juga mencintaimu, bukan?" tanya Kakek lagi, tak peduli dengan ekspresi jelek sang cucu.
"Ya, tentu saja. Apa Kakek tidak liat bukti kesungguhan Devano dalam berhubungan denganku?" Keysa semakin dibuat kesal oleh pertanyaan-pertanyaan konyol Kakek Surya, yang seharusnya tidak diragukan lagi jawabannya.
Kakek Surya angguk-angguk. "Ok. Seandainya keyakinanmu benar adanya kalau Devano masih hidup. Anggaplah Devano benar-benar hidup, apa menurutmu dia akan diam saja saat mengetahui kekasihnya akan bertunangan dengan orang lain?"
__ADS_1
Keysa terdiam mencoba mencerna ucapan Kakek Surya. "Apa maksud Kakek?"
"Key, berita tentang pertunanganmu sudah tersebar di berbagai media sejak kemarin. Dari kalangan atas sampai bawah sudah ramai memperbincangkan acara hari ini. Jika memang Devano masih hidup, mungkinkah dia akan terus berdiam diri melihat kekasihnya bertunangan dengan orang lain?"
Keysa diam mendengarkan ucapan Kakek Surya yang menurutnya masuk di akal. Ia yang terlalu fokus merajuk agar bisa menggagalkan pertunangan tidak berpikir sampai ke sana.
"Pancing dia agar keluar dari persembunyiannya dengan kamu mau hadir di pertunangan ini," lanjut Kakek Surya.
"Ucapan Kakek ada benarnya juga. Devano pasti datang kalau tahu aku akan bertunangan dengan Zian." Harapan akan bertemu dengan Devano lagi semakin memenuhi asa Keysa membuat senyumnya merekah begitu saja. "Baiklah, aku akan bertunangan dengan Zian," ucap Keysa, penuh keyakinan.
"Nah, ini baru cucu Kakek." Kakek Surya mengusap lembut kepala Keysa. Sudah lama sekali dirinya tidak melihat senyum merekah di wajah sang cucu. "Tolong benarkan riasan cucuku secepat mungkin! Acara akan segera dimulai." Kakek meminta MUA untuk membenarkan riasan Keysa yang acak-acakan karena menangis.
Dengan gerak cepat, para pekerja itu mendandani Keysa hingga Keysa kembali tampil cantik tanpa celah. Setelah itu, Kakek Surya mengajak Keysa untuk segera bergabung dengan yang lain di ballroom.
"Kek, kalau seandainya Devano tidak datang malam ini, bagaimana?" tanya Keysa, ketika keduanya sedang berjalan menuju ballroom.
"Berarti kamu sah menjadi tunangan Zian," jawab Kakek dengan begitu santai.
"Kakek—" Keysa langsung menghentikan langkahnya. Ia menjadi ragu, apalagi kalau berujung harus tunangan sungguhan dengan Zian.
"Percaya saja pada cinta dan jodoh berada di tangan Tuhan," ucap Kakek, seraya menggandeng sang cucu. "Ayo, jalan! Orang-orang sudah menunggu kita. "
Keduanya sudah berada ada di pintu dengan semua mata tertuju pada mereka. Red carpet sudah berada di depan mata, pembawa acara yang melihat kedatangan mereka juga sudah menyambut Kakek Surya dan Keysa. Tidak ada kesempatan bagi Keysa untuk mundur membuatnya mau tidak mau berjalan bersama Kakek Surya.
Sebelum melangkah, Keysa memejam sebentar. Berharap kalau Devano akan benar-benar datang.
'Jika dia tidak datang, maka aku sendiri yang akan membawa mayatnya ke hadapanmu.' Kakek Surya bergumam dalam hati.
__ADS_1