Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
16


__ADS_3

16


Keysa dan Devano sudah sampai di kamar Devano dengan keadaan yang sangat berantakan dan menyedihkan. Setelah sebelumnya, Keysa yang hampir jatuh ke bawah tebing terselamatkan karena tubuhnya segera ditangkap oleh Devano.


"Key!" teriak Devano. Sontak kaget ketika mendapati Keysa berteriak dengan tangan yang terlepas. Dengan cepat, ia melepaskan satu tangannya yang berpegangan ke pohon, lalu merangkul pinggang Keysa . "Key, bertahanlah sebentar lagi," gumam Devano kala itu dengan jarak yang sangat dekat, sehingga deru napas mereka saling beradu. Bahkan, Keysa bisa dengan jelas melihat ketampanan Devano, pahatan ciptaan Tuhan yang begitu indah, membuat ada sensasi hangat yang menjalar.


Keysa mengangguk lemah, "Terima kasih," ucapnya sambil memalingkan wajah, tidak baik terus memandangi wajah lelaki itu dari jarak dekat, lalu kembali berpegangan pada pohon.


Devano juga mengangguk, tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Keysa. Hingga ambulans pun tiba dan menolong mereka dari sana. Keduanya pun bergegas ke rumah Devano.


Kini Keysa dan Devano sudah selamat.


"Apa aku akan menghadiri pesta dengan pakaian seperti ini?" tanya Keysa, menyadari pakaiannya sudah tidak layak pakai, apalagi menghadiri pesta.


Devano menatap penampilan Keysa yang sangat berantakan, lalu mengambil paperbag berisi gaun yang sengaja Devano beli bersama gaun yang dipakai Keysa.


"Ini! Ganti pakaianmu dan berdandan yang benar."


Mereka pun sibuk berdandan di kamar yang terpisah. Setelah seperempat jam, Devano selesai bersiap-siap. Ia lantas menemui Keysa, mengajak gadis itu untuk segera berangkat ke acara pernikahan. Akan tetapi, Devano sangat terkejut bercampur marah saat melihat penampilan gadis di hadapannya. Bahkan, ia sampai menggertakkan gigi.


"Bukankah aku sudah bilang pake make up, ya, pake make up! Kenapa masih jelek begini?" gertak Devano.


"Aku juga sudah merias wajah semaksimal mungkin. Tapi, memang seperti ini wajahku. Mau dipoles segimana pun tetap saja tidak akan secantik berbie." Keysa menjawab dengan begitu tenang.


Devano benar-benar kesal, bisa-bisanya ia memilih Keysa untuk menjadi tunangannya. Akan tetapi, Devano tak bisa berkata apa pun dan memilih menarik Keysa, lalu pergi.


"Ingat, kau harus tetap teguh pada kesepakatan kita, apa pun yang terjadi." Devano mengingatkan Keysa sebelum masuk ke Aula.

__ADS_1


Keysa menelan salivanya dengan susah begitu mendengar ucapan Devano. Entah mengapa, ia merasa akan ada hal buruk yang terjadi di sana.


"Kau dengar aku tidak?" ucap Devano lagi sambil melirik gadis yang berjalan di sampingnya.


"Iya. Aku dengar," jawab Keysa yang baru tersadar dari lamunannya. "Tenang saja aku tidak akan goyah," lanjutnya sembari memamerkan gigi-gigi putihnya dengan terpaksa.


Devano langsung mengacungkan jempol, "Good!"


Mereka pun langsung ke Aula pesta. Kombinasi Devano dan Keysa menjadi pusat perhatian setiap orang yang hadir di sana. Devano yang sangat tampan dengan tiap pakaian yang melekat di tubuh, setelan jas putih dengan single rose boutuniere yang tersemat di jas sebelah kiri semakin menyempurnakan penampilannya. Ia layaknya seorang pengantin pria yang sangat sempurna dari sudut mana pun. Sementara itu, Keysa yang juga menggunakan gaun pengantin yang senada dengan pakaian Devano, penampilannya terlihat terbalik 180 derajat dari lelaki yang menggandengnya. Jelek sangat jelek bila disandingkan dengan Devano, mereka seperti bumi dan langit.


Keysa berjalan di samping Devano dengan tangan yang melingkar di lengan lelaki itu, tanpa memedulikan orang-orang yang masih memperhatikan mereka.


Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan dengan tampang elegan tampak berjalan menghampiri Keysa dan Devano, menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang, Sayang!" Wanita itu memandang Devano dengan penuh kasih sayang. "Ayo, kita ke sana! Ayah dan kakekmu sudah menunggu," lanjutnya.


Devano hanya mengangguk. Sementara Keysa yang memperhatikan wanita yang menyapa Devano. Wanita itu terlihat masih muda, membuat Keysa berpikir kalau ia adalah ibunya Devano, sehingga Keysa menyapa wanita itu dengan sebutan bibi.


Semua orang yang mendengar ucapan Keysa langsung terdiam, menatap ke arah Keysa dan terlihat sangat canggung.


'Apa aku salah bicara? Kenapa reaksi orang-otang seperti itu?' gumam Keysa dalam hati, melihat orang-orang sedang memperhatikannya. Ditambah lagi wanita di hadapannya yang malah tersenyum.


"Apa aku masih terlihat muda sampai kamu menyebutku 'bibi'? Tapi, Sayang, seharusnya kamu itu memanggilku nenek," jelasnya yang membuat Keysa terkejut.


'Hah! Nenek? Apa aku enggak salah dengar?' gumam Keysa dalam hati.


"Maaf Bibi, eh, Nenek." Keysa meralat ucapannya. "Maaf, Nek, aku tidak tahu," ucap Keysa dengan canggung.


Di sisi lain, Devano tidak peduli dengan percakapan Keysa dan neneknya. Ia memegang tangan Keysa dan terus berjalan ke depan, meninggalkan wanita yang disebut nenek itu.

__ADS_1


Devano lantas membawa Keysa ke ruang tamu rumahnya. Di sana, seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahunan sedang duduk di sofa. Dari sekilas memandang, Keysa bisa melihat kalau status lelaki itu sangat terhormat. Seorang wanita yang tampak seumuran dengan lelaki itu juga berdiri di sampingnya, membantu lelaki tua itu menuangkan teh.


'Sekarang aku pasti tidak salah lagi,' gumam Keysa dalam hati.


Keysa pun menyapa lelaki tua beserta wanita di sampingnya.


"Selamat siang, Kek!" sapa Keysa, si lelaki tua yang merupakan kakek Devano hanya mengangguk sembari menyeruput teh. "Selamat siang, Nek!" lanjut Keysa menyapa wanita tua itu.


Semua air teh yang sudah masuk ke mulut kakek Devano tersembur keluar, begitu mendengar ucapan Keysa.


"Apa aku salah bicara lagi?" gumam Keysa dalam hati. Sementara itu, Devano malah terbahak-bahak di samping Keysa, tanpa menjelaskan apa pun.


Di sudut lain sofa ruang tamu, duduk seorang pria tampan berusia sekitar empat puluh tahunan. Setelah ditilik-tilik lebih dekat, penampilan lelaki itu mirip dengan Devano. Lelaki itu menatap Keysa dengan alis mengkerut, seolah-olah marah kepada Keysa.


'Apa aku benar-benar salah bicara lagi?' tanya Keysa dalam hati, melihat semua orang yang ada di sana menatapnya aneh. Akan tetapi, wanita itu sangat tua, tidak mungkin kalau wanita yang berada dekat kakek Devano adalah ibunya Devano. Pikiran itu terus berputar-putar di kepala Keysa.


Keadaan jadi semakin canggung, orang-orang sepertinya sangat tidak suka dengan yang diucapkan Keysa. Hingga, gadis itu melirik Devano, meminta penjelasan dari sorot matanya.


"Keysa, kenalkan dia ini adalah calon istrinya daddy!" Devano menunjuk wanita itu sembari memperkenalkannya sebagai calon istri ayahnya.


'What?' pekik Keysa dalam hati. Belum selesai keterkejutannya oleh wanita muda yang harus disebut Keysa 'nenek', sekarang ada wanita tua di hadapannya yang disebut Devano sebagai calon istri ayah Devano dan berarti wanita itu adalah calon ibu Devano. Dengan kata lain, lagi-lagi Keysa salah menyapa.


Keysa spontan membungkukkan tubuhnya, meminta maaf. "Maaf aku tidak sopan. Aku ... pikir ...." Keysa tidak melanjutkan ucapannya, ia takut salah bicara lagi.


"Tidak apa-apa. Saya mengerti, kok." Wanita itu menjawab dengan senyum yang tertampil di wajahnya.


"Terima kasih," ucap Keysa dengan senyum kaku. Semua yang terjadi dan pemandangan aneh yang ia dapatkan semenjak masuk ke Aula, membuat Keysa bingung, bahkan kepalanya terasa mau meledak saat mencoba mencerna semua yang terjadi. Menurutnya keluarga Devano, keluarga paling aneh yang pernah ia temui.

__ADS_1


__ADS_2