
44
Keysa mendongak ke arah lelaki dengan penampilan yang menurutnya sangat norak. Pria berponi dengan warna rambut mencolok perpaduan antara warna ungu, biru dan kuning itu pun mendekati Keysa, lalu memperkenalkan diri.
"Hai, Cantik! Perkenalkan aku Felix Adelard, lelaki tertampan di universitas ini," ucap Felix sembari meraih dan mencium tangan Keysa. "Ya, Tuhan, aku sudah lama kuliah di sini, tetapi kenapa baru kali ini Tuhan mempertemukanku dengan gadis cantik secantik bidadari sepertimu? Selama ini kau disembunyikan di kastil mana? Sampai aku baru bisa bertemu dengan bidadari hari ini?" lanjut Felix dengan tangan yang masih memegang tangan Keysa dan tangan satu lagi menoel dagu belah milik Keysa.
Bukannya terkesima dikatakan cantik, bulu kuduk Keysa malah tiba-tiba merinding. 'Lelaki ini sepertinya salah minum obat,' gumam Keysa dalam hati sambil menarik tangan yang dipegang Felix.
"Apa matamu kena rabun di usia dini? Atau ada sesuatu yang menghalangi matamu?" Keysa menyipitkan sebelah matanya.
"What?? Baby, kenapa kamu mengataiku rabun? Ya Tuhan, hatiku sakit sekali," ucap Felix sembari memegang dadanya.
"Ya ampun, selain rabun kau juga king drama. Kalau mau belajar teater gak usah di sini, cari panggung teater saja," ucap Keysa dengan ketus. "Semua orang juga tahu kalau aku itu jelek. Dari segi mana kamu melihatku cantik? Yang ada ucapanmu itu jatuhnya menghina bukan memuji."
"Baby, kenapa penilaianmu terhadapku buruk sekali? Bukan aku yang rabun, tapi mereka yang mengataimu jelek yang rabun."
Ya, meskipun Keysa berpenampilan culun, tetapi sisi inner beauty dan beberapa bagian tubuh Keysa masih bisa memperlihatkan kecantikan seorang Keysa.
Keysa hanya menggeleng melihat tingkah lelaki yang terus menggodanya. Bahkan, karena kelihaian lelaki tersebut membual membuat Keysa tiba-tiba terasa mau muntah saat itu juga.
"Key, ayo, antarkan pesanannya. Mereka pasti sudah menunggu," ucap Disti, tanpa memedulikan lelaki yang sedang menggoda sahabatnya.
Keysa mengangguk, lalu meraih semua pesanannya dan meninggalkan Felix. "Silakan dilanjut latihan dramanya sama pelayan kantin," ucap Keysa.
"Baby, bagaimana kalau aku membantumu mengantarkan pesanannya?"
Tiba-tiba langkah Keysa terhenti saat Felix menawarkan jasa kepadanya, membuat gadis itu sedikit menyunggingkan senyum.
"Beneran mau membantu?" Keysa membalikkan tubuh menghadap Felix.
"Tentu saja. Untuk bidadari pujaan hati apa pun siap kulakukan," jawab Felix dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
'Baiklah, sepertinya bermain-main sedikit dengannya akan lebih menyenangkan,' gumam Keysa dalam hati.
Keysa yang berpikir bisa mengerjai Felix pun langsung menyuruh lelaki itu mengantarkan pesanan ke kelas beda fakultas serta beda gedung dan meminta Felix untuk meminta uang setelah mengantarnya.
"Fakultas kedokteran? Aku harus mengantar makanan ini ke sana?" tanya Felix, memastikan, sembari menatap kantong yang sudah berpindah ke tangannya. Sebenarnya, Felix enggan untuk mengantarkan makanan itu. Harus disimpan di mana harga dirinya yang terkenal sebagai playboy malah jadi tukang pesan-antar lintas fakultas pula.
"Ya. Ada beberapa mahasiswa di sana yang memesan makanan lewat jasaku," jawab Keysa. "Apa kamu keberatan? Kalau gak mau tidak apa. Aku bisa sendiri, kok."
__ADS_1
Keysa mengambil kembali kantong yang sudah di tangan Felix. Namun, Felix dengan segera menahannya. Demi misi yang diembannya, ia terpaksa menyetujui.
"Aku akan mengantarnya. Apapun untukmu akan kulakukan, meskipun harus mengantarkan makanan ini sampai ke bulan," ucap Felix dengan senyum yang merekah, meskipun hatinya menolak setengah mati, lalu pergi.
Setelah kembali dengan segudang rasa malu yang harus diemban Felix, Keysa malah menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan ke beberapa kelas lagi, hingga Felix harus bolak-balik dari gedung satu ke gedung satu lagi.
"Apakah aku sudah bisa berhenti mengantarkan pesanannya?" Felix yang sudah tidak tahan, meminta berhenti mengantarkan pesanan.
Felix duduk selonjoran di lantai kantin. Napasnya sudah terengah-engah dan kakinya pun sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Lelaki itu merasa nyawanya akan lepas saat itu juga oleh ulah Keysa.
"Padahal masih ada satu lagi, lho!" ujar Keysa dengan bibir yang mengerucut.
Felix melirik Keysa yang sedang duduk di kursi dengan wajah memelas, lalu menjatuhkan kepalanya di lantai. "Aku nyerah!" ucapnya sambil merasakan dinginnya lantai yang menempel di tubuhnya yang berbaring di sana, tidak peduli meskipun banyak orang yang memperhatikan.
Keysa menahan tawanya untuk tidak pecah. Lantas berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. "Cape?" Wajah memelas itu berubah dingin dan ketus.
Felix hanya mengangguk pelan. "Kamu boleh tidak mengantarkan pesanan lagi, asal beritahu aku, apa tujuan kamu mendekatiku?" tanya Keysa .
Felix langsung membuka mata, terkejut dengan ucapan Keysa. Ia pun lantas bangun dengan mata yang sudah membulat sempurna, lalu berdiri. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Felix sambil menatap Keysa seperti orang bodoh.
"Kamu tidak perlu mencari tahu bagaimana caranya aku bisa tahu tentang semua itu." Keysa balik menatap Felix dengan sangat tajam. "Aku hanya ingin tahu, apa tujuanmu dan siapa orang yang telah menyuruhmu?" lanjut Keysa penuh selidik.
Felix yang menyadari dirinya sudah ketahuan pun tidak berani menatap Keysa. Ia mundur sampai terduduk di kursi dengan kepalanya yang masih menunduk. Namun, Keysa tidak melepaskannya begitu saja. Ia terus menekan Felix untuk angkat bicara.
"Aku hanya disuruh!" jawab Felix, refleks karena terkejut.
'Gadis macam apa yang mereka berikan untukku?' gumam Felix dalam hati sambil mengelus dada.
"Disuruh?" Keysa menyipitkan sebelah matanya.
"Ya. Aku disuruh dua orang wanita untuk menggodamu." Felix yang sudah ketahuan lebih memilih jujur daripada pamornya sebagai playboy hancur berantakan oleh kebarbaran Keysa.
Keysa melunak. Ia menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan Felix. Dalam hati Keysa tidak habis pikir kepada dua orang itu yang telah menyewa lelaki seperti Felix untuk menggodanya. 'Apa tidak ada lelaki yang lebih kerenan dikit untuk menggodaku? Jangan lelaki dengan pakaian rame dan kalung segede gaban seperti itu.'
"Memangnya kamu dibayar berapa oleh mereka untuk menggodaku?"
"Lima ratus juta," jawab Felix sambil menunduk. Ia masih tidak berani menatap Keysa.
Lima ratus juta, mendengar imbalan dengan jumlah uang yang sangat banyak hanya dengan menggodanya saja, membuat jiwa bisnis dan ide kerdil Keysa pun meronta-ronta.
__ADS_1
"Hey, kau tidak perlu takut! Aku tidak akan memakanmu," ucap Keysa sambil memukul pelan tangan yang berada di atas meja. "Bagaimana kalau kita bekerjasama saja? Nanti uangnya kita bagi dua," lanjut Keysa dengan seringai lebar menghiasi wajahnya.
"Caranya?" Perlahan Felix mengangkat kepalanya, dilihatnya Keysa sudah tidak semenyeramkan sebelumnya lagi.
"Apa tujuan utama dari kedua orang itu?"
"Aku hanya disuruh untuk menggodamu dan bila berhasil mereka akan memberikan uang."
"Sesimple itu?" tanya Keysa lagi dan Felix hanya mengangguk.
Kemudian, Keysa membuat rencana. Mereka berdua akan berpura-pura pacaran. Dimulai dengan keduanya yang akan berkencan, lalu setelah mendapatkan uangnya, mereka akan mencari alasan untuk putus dan uang yang diterima akan dibagi dua.
"Ide yang bagus. Aku setuju." Felix menyetujui ide Keysa. Keduanya saling tos untuk memulai kerjasama mereka demi lima ratus juta.
***
Sepulang kuliah, Keysa langsung melempar tasnya ke atas kasur. Lalu, langkah gontainya mengambil laptop dari lemari dan membawanya ke atas kasur. Ia lantas membuka benda lipat tersebut dan masuk ke akun sosialnya.
"Tumben kakek kirim pesan lewat email. Kenapa tidak telepon langsung saja?" Keysa melihat ada pesan masuk dari sang kakek.
Ia pun dengan segera membuka pesan tersebut yang didalamnya berisi kalau Kakek Surya akan mengirim detektif untuk menyelidiki keluarga yang kemarin disebutkan Keysa.
[Apa kamu jatuh cinta pada salah satu anggota keluarga tersebut?] tanya Kakek Surya di akhir pesannya.
Tidak ingin ada kesalahpahaman, Keysa pun menceritakan kejadian yang menimpa Arsen dan Gabby.
Setelah puas bertukar pesan dengan sang kakek, Keysa berniat menutup kembali akunnya. Namun, tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk.
[Apa semua wanita itu suka bohong?]
Sebuah pesan diterima oleh Keysa dengan Devano sebagai pengirimnya. Keysa mengerutkan alis saat membaca pesan dari Devano yang tiba-tiba bertanya seperti itu, membuatnya bingung.
[Apa terjadi sesuatu?] balas Keysa.
[Ada seorang gadis yang sedang mabuk, gadis itu bilang kalau dia suka sama temanku. Tapi, pas dia sadar, dia malah bilang kalau dia suka padaku. Apa semua gadis seperti itu?]
Setelah membaca pesan dari Devano, membuat Keysa menyadari alasan Devano yang tiba-tiba marah-marah tidak jelas saat di kelas. "Mungkin, memang seharusnya kedepannya aku menjauhi dia, seperti yang ia ucapkan tadi."
[Mungkin saja gadis itu memiliki alasan tertentu yang tidak bisa diucapkan] balas Keysa.
__ADS_1