
Keysa dan Devano berencana untuk mengisi hari mereka dengan berkuda. Namun, tidak disangka di tempat itu mereka kembali bertemu dengan Yosua beserta beberapa teman lainnya. Keysa dan Yosua menginginkan satu kuda yang sama, dan di antara mereka tidak ada yang mau mengalah.
"Ya, sudah kalian bertanding saja. Siapa yang menang, dia yang akan mendapatkan kuda putih itu." Salah satu teman Devano memberikan usul dan diiakan oleh yang lain.
Keysa dan Yosua saling pandang, kemudian dua-duanya mengangguk. Jalan tengah paling adil sepertinya memang bertanding. Akhirnya, Keysa dan Yosua kembali bertanding untuk mendapatkan kuda putih.
Sementara itu, Devano dan teman-teman lain kembali bertaruh tentang pemenang pertandingan itu. Devano bertaruh bahwa Yosua akan menang, sedangkan teman-temannya menjagokan Keysa yang menang—mengingat kepintaran Keysa yang multi talenta.
Mereka bersorak saat melihat Keysa dan Yosua mulai memacu kuda masing-masing. Teman-teman Devano semakin bersorak saat melihat Keysa memimpin permainan. Gadis itu berada beberapa meter di depan Yosua.
"Keysa! Keysa! Keysa!" Rival taruhan Devano terus menyerukan nama Keysa seraya memberi semangat. Mata mereka berbinar ketika melihat Keysa semakin memimpin, itu artinya sejumlah uang yang tidak sedikit akan menjadi milik mereka.
"Aku yakin Keysa pasti menang lagi," ucap salah satu dari mereka.
"Jangan senang dulu. Masih ada satu putaran lagi," tandas Devano, begitu tenang.
"Ya. Dan kamu harus siap-siap untuk kehilangan uangmu, Dev," timpal mereka, berseringai.
Satu berbanding lima. Devano bertaruh dengan lima orang, dan jika Devano kalah makan dirinya harus membayar lima kali lipat dari nominal yang dijanjikan teman-temannya. Mereka menjanjikan uang seratus juta jika Devano menang, tetapi jika Devano kalah, Devano harus membayar 500 juta.
"Berdoalah semoga ada keajaiban, tiba-tiba Yosua menang. Tapi, kami juga bakal berdoa semoga Keysa menang. Doa kita masih lima banding satu, masih tetap kami yang akan menang," tandas yang lain, dengan tawa menghiasi kebersamaan mereka.
Devano hanya mencebik, tetapi masih yakin kalau kekasihnya itu akan kalah. Setahunya, Keysa tidak semahir Yosua dalam bermain kuda.
Hingga di detik-detik terakhir saat akan sampai finish, kuda yang ditunggangi Keysa tiba-tiba melambat, bahkan sempat berhenti mendadak membuat Keysa hampir terjungkal dari punggung kuda.
"Hei, kamu kenapa? Ayo, jalan lagi!" gumam Keysa, seraya mengusap kuda yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan, padahal sebentar lagi finish.
Sementara itu, Yosua melihat keadaan Keysa yang tidak baik-baik saja dengan sang kuda langsung memacu kembali kudanya agar lebih cepat, dan Yosua pun bisa mendahului Keysa di putaran terakhir sampai finish.
Devano langsung bersorak saat melihat Yosua sampai di garis finish terlebih dahulu, sedangkan teman-teman lainnya yang tadi bersorak dan yakin akan menang langsung lemas.
"Akhirnya ...." Devano berseringai lebar menatap teman-teman yang berubah lemas karena kekalahan Keysa. "Aku menang," lanjutnya sambil menggerak-gerakkan tangan ke atas sambil meminta jatahnya sebagai pemenang.
Mau tidak mau kelima temannya mengeluarkan uang 20 juta dari rekening masing-masing dan mengirimkan ke rekening Devano. "Terima kasih. Lain kali kalau mau taruhan ajak-ajak lagi," lanjut Devano lagi, yang hanya dijawab cebikkan teman-temannya.
__ADS_1
Keysa kembali dan langsung mengajak Devano pergi karena kuda yang diinginkan sudah menjadi milik Yosua. "Kita cari permainan lain saja," tandas Keysa, begitu sampai dengan wajah yang cemberut.
"Jangan cemberut! Aku ganti kuda putihnya dengan uang seratus juta," ucap Devano seulas senyum.
"Seratus juta?" Keysa yang tidak tahu menahu tentang taruhan dibuat tersentak oleh penuturan Devano.
Devano mengangguk, kemudian menaik-turunkan alis sambil memperlihatkan layar ponsel yang terpangpang notifikasi pengeluaran uang dari rekeningnya ke rekening Keysa. "Itu uang dari mereka karena aku menang taruhan," ucapnya berseringai.
"Taruhan?" Keysa menyipitkan mata semakin tidak mengerti.
Devano kembali mengangguk, lalu menceritakan tentang taruhan yang telah disepakati bersama kelima temannya.
Mendengar penuturan Devano, Keysa yang awalnya kecewa karena tidak bisa menunggangi kuda putih pun tiba-tiba senyumnya terbit begitu saja. Jika masalah uang, Keysa memang selalu dalam mode on. Ia yang awalnya merutuki kegagalan, akhirnya dengan lantang mengucap syukur karena kegagalannya.
"Ya, sudah kita langsung pulang saja. Tidak mendapatkan kuda putih, yang penting dapat duit," tuturnya, sambil menggandeng tangan Devano, mengajak pulang.
Sementara itu, teman-teman Devano menatap heran kepada Keysa yang terlihat sangat senang setelah mendapatkan uang, padahal jika dilihat dari segi keturunan, uang segitu bukanlah uang yang banyak bagi keluarga Atmaja.
"Apa tidak ingin menunggang kuda berdua mengitari pesisir dan cagar alam?" Devano memberikan usulan, sebelum mereka benar-benar pulang.
"Ide bagus juga." Tanpa pikir panjang, Keysa langsung mengiakan. Akan lebih romantis dan menyenangkan kalau menunggang kuda berdua, membuat senyum Keysa terbit.
***
Keysa dan Devano sudah kembali ke kota. Malam ini, Devano mengadakan pesta ulang tahun perusahan sekaligus peresmian perusahaan pembuat ponsel yang dibangun oleh Devano. Keysa dan seluruh teman-teman Devano diundang ke acara tersebut, termasuk Felix dan Zack.
Sesuai dengan janji saat di desa, Keysa pun akan memperkenalkan Felix kepada Zack di acara pesta itu.
"Fel, ada orang yang ingin berkenalan denganmu," ucap Keysa, saat keduanya datang bersama.
"Siapa?" Felix melirik gadis yang sedang berjalan di sampingnya itu.
"Kakaknya temanku, tapi dia juga temannya Devano. Sepertinya dia menyukaimu."
"Key, kamu sendiri sudah tahu kalau aku tidak suka wanita," tandas Felix, salah mengira.
__ADS_1
"Ya aku tahu. Karena itu aku ingin memperkenalkan kakak temanku itu. Siapa tahu kamu juga akan suka."
Felix kembali menoleh ke arah sang sahabat, sambil mencoba mencerna ucapannya. "Laki?"
"Iya. Macho dan tampan. Dia kriteriamu," jawab Keysa.
Mendengar itu wajah Felix langsung memerah. Ia dibuat salah tingkah oleh ucapan Keysa.
Bertepatan dengan itu, Zack pun sedang berjalan ke arah Keysa karena melihat kehadiran Felix di sana.
"Key." Zack menyapa Keysa, membuat Keysa dan Felix menoleh ke arah suara.
"Hai, Zack!" balas Keysa. "Dia orangnya," bisik Keysa kepada Felix.
Tampan dan macho seperti yang diucapkan Keysa, itulah penilaian Felix saat melihat Zack. Membuat lelaki cantik itu tidak bisa berkedip.
Keysa lantas memperkenalkan dua lelaki sejenis terong-terongan itu. Felix dan Zack pun langsung tampak akrab.
Sementara itu, di sudut lain acara pesta, Damar melihat kehadiran Keysa, membuatnya tidak suka.
"Ada apa gadis itu ada di sini?" tanya Damar kepada Devano.
"Aku yang mengundangnya."
"Apa kau ingin acara kita berubah kacau seperti yang sudah-sudah?" Damar tidak ingin melihat Keysa ada di sini. Ia lantas melangkah hendak menghampiri Keysa dan mengusirnya.
"Daddy, mau kemana?" Dengan cepat Devano menghalangi.
"Aku akan mengusirnya. Aku tidak mau acara penting perusahaanku kacau karena dia."
"Tidak, Dadd." Devano menahan sang ayah untuk tidak mengusir siapapun yang sudah diundangnya.
Di sudut lain, Disti yang baru saja keluar dari toilet tiba-tiba menabrak seseorang, hingga ponsel orang yang ditabraknya terjatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja." Dengan cepat, Disti berjongkok dan mengambil ponsel yang tergeletak di lantai, lantas memberikan kepada pemiliknya. "Sekali lagi ma ...." Disti tidak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa orang yang telah ditabraknya.
__ADS_1
"Kamu?" bentak Exel, melihat siapa yang telah menabrak dan membuat ponselnya jatuh.
"Maaf, aku tidak sengaja." Disti berkata sambil menyodorkan ponsel kepada Exel dengan tangan yang sedikit gemetar.