
"Untuk apa kita datang kemari kalau hanya untuk dipermalukan? Nenek jauh-jauh datang dari ibu kota hanya untuk menemui keluarga kekasihmu, tapi seperti ini yang didapat?"
Rati tidak terima Keysa direndahkan oleh Damar. Niat awal, dirinya yang setuju untuk didekatkan dengan kakek kekasih cucunya pun langsung berubah muak.
"Mood Nenek langsung down. Kita pulang saja, sebelum darah tinggi Nenek kumat," tandas Rati lagi. Rati yang sedang duduk di sofa langsung berdiri, kemudian menarik Keysa untuk keluar dari rumah yang baru dimasuki beberapa menit lalu.
Rati meninggalkan rumah tanpa permisi. Sementara itu, Keysa yang ditarik Rati mencoba berpamitan dengan menggerakkan kepala.
"Daddy keterlaluan!" umpat Devano, lalu ikut beranjak.
"Mau ke mana kamu?" tanya Damar seketika saat Devano berjalan ke arah pintu keluar.
"Susul Keysa dan Nenek Rati." Devano menjawab tanpa menoleh, kemudian menyusul Keysa serta neneknya itu. Sementara itu, Damar pun tidak mencegah–ada sesuatu yang sedang dipikirkan.
Devano langsung masuk ke mobil, mengejar Keysa yang sudah meninggalkan kediamannya.
"Kemana mereka?" Devano tidak menemukan dua wanita itu, padahal dirinya keluar tidak selang berapa lama setelah Keysa dan Rati meninggalkan rumah.
Sementara itu, Rati dan Keysa sudah berada di dalam taksi. Rati masih tidak menyangka kalau Devano adalah anak dari Helen, dan parahnya lagi Keysa malah menjalin hubungan dengan Devano dan keluarga Atmaja.
"Sebaiknya kamu tinggalkan Devano. Tidak akan baik kamu terus berhubungan dengan keluarga itu," ucap Rati, tanpa melihat ke arah Keysa.
"Apa maksud Nenek?" Keysa dibuat terperangah oleh ucapan Rati.
"Putuskan Devano. Kamu tahu 'kan ayahmu dan ayah Devano adalah musuh bebuyutan. Berhubungan dengannya hanya akan membuat masalah besar saja."
"Tapi aku mencintainya. Kami saling mencintai, Nek. Biarpun Ayah dan ayahnya Devano musuhan bukan berarti aku harus musuhan juga, 'kan? Siapa tahu dengan bersatunya kami, akan mengubah keadaan menjadi lebih baik."
"Mimpimu terlalu tinggi. Apa kamu tidak lihat bagaimana kamu direndahkan di sana? Apanya yang akan menjadi lebih baik? Nenek minta kamu putuskan dia. Jika ayahmu tahu hal ini, pasti dia akan kecewa sama kamu," tutur Rati lagi yang diakhiri menghela napas panjang.
Namun, Keysa pun tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau mengakhiri hubungannya dengan Devano.
"Dia bukan lelaki yang baik untukmu. Keluarga mereka tidak ada yang baik. Jangan sampai kau mengulangi nasib yang sama seperti Helen," sarkas Rati lagi, membuat Keysa kebingungan.
"Tunggu, bentar, Nek. Dari tadi Nenek membicarakan soal wanita yang namanya Helen. Dia ibunya Devano, 'kan? Kok, Nenek, bisa tahu? Apa Nenek mengenal ibunya Dev?" Sejak di rumah Devano, kepala Keysa sudah dipenuhi banyak pertanyaan tentang neneknya yang mengungkit-ungkit nama Helen di hadapan Damar, seolah-olah Rati sangat mengenal wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu, bahkan Rati terlihat sangat tidak suka dengan Damar. Keysa menatap wanita yang ada di sampingnya dengan sejuta tanda tanya.
__ADS_1
Rati terbatuk, tersedak ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan Keysa. Ia menoleh ke arah gadis yang sedang menatap dengan wajah penasaran dan meminta jawaban. Di dalam hati, Rati merutuki dirinya sendiri yang mengungkit masalah Helen, hingga akan menimbulkan banyak pertanyaan di jiwa kepo Keysa, apalagi menyangkut Devano.
"Nenek mengenal Tante Helen?" tanya Keysa lagi, penuh selidik. Ia harus mencari tahu tentang Helen.
Rati menatap Keysa. Gadis di hadapannya tidak akan diam sebelum mendapatkan jawaban yang dimau. Rati mengembuskan napas kasar, lalu beralih melihat ke depan. "Itu ... itu ... aww ...."
Baru saja Rati akan mengatakan sesuatu tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka mengerem mendadak. Keysa dan Rati spontan menjerit karena kepala mereka yang terbentur bagian belakang bangku depan.
"Pak, nyetir hati-hati." Rati langsung mengomeli si sopir. Kepalanya terasa sangat sakit karena membentur bagian belakang jok.
"Maaf, Nyonya, ada mobil yang menghadang di depan," jelas si sopir, merasa bersalah sekaligus takut karena di hadang mobil lain.
Keysa dan Rati yang masih memegangi kepala mereka masing-masing lantas melihat ke depan. Benar saja sebuah mobil berhenti menghalangi jalan mobil yang mereka tumpangi.
"Dev," gumam Keysa. Tahu siapa pemilik mobil itu. Semakin jelas saat orang dari mobil itu keluar dan menghampiri mobil mereka.
Devano berhasil mengejar seunit taksi. Perasaannya mengatakan bahwa Keysa dan Rati berada di dalam mobil tersebut, hingga dirinya nekat menyalip mobil tersebut dan menghadang jalan. Ia lantas turun dan menghampiri dan mengetuk kaca mobil yang diberhentikannya dengan paksa.
"Ada apa, Pak?" Si Sopir menurunkan kaca jendela mobilnya, bingung bercampur takut.
"Dev, kamu ini apa-apaan? Mau buat kami celaka, hah?" Belum sempat Devano menjawab pertanyaan si sopir, Rati yang berada di belakang sopir langsung keluar dan nyerocos begitu tahu siapa yang telah membuat jidatnya merah dan sakit.
"Apa sih?" Rati dengan cepat menarik tangannya kembali. "Ayahmu keterlaluan. Dan, kamu juga keterlaluan sudah membuat jidatku merah dan sakit. Perawatannya mahal," sarkas Rati lagi, kembali hendak masuk ke mobil, tetapi dicegah oleh Devano. "Minggir! Kamu ini apa-apaan?" sarkasnya lagi saat Devano menghalangi jalan masuk ke mobil.
"Nek, aku yang mengundang Nenek. Aku yang ingin kenal lebih dekat dengan keluarga Keysa, jadi aku mohon jangan ambil hati ucapan Daddy. Nek, kita kembali ke rumah, ya! Aku janji kejadian seperti barusan tidak akan terulang lagi." Devano memaksa Rati untuk kembali ke rumah dan akan memperlakukan mereka dengan baik.
"Aku sudah tidak minat," tolak Rati.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke rumah pribadiku saja, Nek. Di sana tidak ada Daddy."
Devano masih mencoba membujuk Rati, tetapi gagal. Wanita tua yang masih bergaya nyentrik itu memutuskan untuk pulang kembali ke ibu kota, dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Keberadaannya bersama Keysa hanya akan membuatnya harus menceritakan semua tentang Helen, sedangkan ada suatu hal yang masih harus tertutup rapat.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengantar Nenek ke Bandara," ucap Devano.
"Ide dari Devano bagus juga Nek. Ngirit ongkos juga." Keysa yang juga sudah keluar dari mobil ikut menimpali ucapan Devano.
__ADS_1
Rati menatap Keysa dan Devano secara bergantian, hingga akhirnya Rati mengiakan. Devano bersama Keysa mengantar Rati ke Bandara.
***
Setelah mengantar Rati ke Bandara, Devano juga mengantarkan Keysa ke asrama. Keysa tidak mau lagi ikut ke rumah utama Devano apalagi kalau harus berhadapan dengan Damar, sedangkan Devano langsung pulang begitu selesai mengantarkan Keysa.
Devano tiba di rumah hampir larut malam. Setiba di rumah, ia langsung masuk ke kamar, hingga dikejutkan saat melihat sang ayah sudah berada di dalam kamar.
"Baru pulang?" tanya Damar yang sedang duduk di sofa sambil bersedekap.
Devano mengangguk, tanpa menoleh ke arah lelaki itu. Ia berjalan acuh ke arah nakas, lalu menyimpan kunci mobil di sana.
"Aku akan merestui hubungan kalian, jika kamu mau mengorek informasi tentang mommy-mu dari Keysa dan neneknya. Daddy yakin neneknya itu banyak tahu tentang mommy-mu," tandas Damar, langsung ke inti.
Devano menoleh ke arah sang ayah sambil membuang napas kasar. "Kalau tahu neneknya Keysa memiliki info banyak tentang Mommy, kenapa Daddy malah mengajaknya ribut?"
Damar tidak menjawab, Ia lantas berdiri setelah selesai mendengar ucapan Devano. "Daddy sedang tidak ingin berdebat. Jika ingin hubungan kalian direstui, lakukan apa yang Daddy katakan," ucapnya, lalu pergi.
Devano hanya menatap kepergian Damar dengan tidak berkedip. Ia tidak mengerti jalan pikiran Damar.
***
Keesokan harinya ....
Alea kembali ke kampus. Matanya beredar mencari seseorang, hingga penglihatannya terhenti saat melihat seseorang yang sedang duduk di taman. Ia yang melihat Keysa sedang duduk pun langsung menghampirinya.
"Key," panggil Alea, saat jaraknya sudah sangat dekat.
Keysa menoleh, menatap jengah ke arah sumber suara, kemudian memilih membuang muka. Alea mendekati Keysa, lantas berjongkok sambil menggenggam tangan Keysa. Ia meminta maaf dengan penuh sesal atas semua yang terjadi di malam pesta itu.
"Kamu sudah keterlaluan. Berkali-kali aku memaafkanmu, berkali-kali pula kamu mengulanginya. Aku cape memaafkanmu terus," tandas Keysa, lalu berdiri dan melepas genggaman tangan Alea.
"Key, aku menyesal. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Terserah kamu saja. Janjimu palsu semua," ucap Keysa, lantas meninggalkan Alea.
__ADS_1
Keysa yang baru berjalan selangkah, menghentikan langkahnya. Ia kembali mundur dan berhadapan dengan Alea saat mengingat ada sesuatu yang belum diucapkan.
"Satu lagi sebagai imbalan karena perbuatanmu malam itu, aku sudah mengirimkan fotomu yang waktu itu ke internet," ucap Keysa, dengan seringai yang menghiasi wajah.