Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
212


__ADS_3

Anak buah Exel menyeret Keysa masuk kembali ke tempat Exel dan Devano berada.


"Enggak perlu diseret, aku ikut kalian dengan pasrah," protes Keysa.


Dua anak buah Exel yang mencekal tangan kiri dan Keysa langsung menoleh kemudian mencebik. "Kita tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya," tandas salah satu dari mereka yang malah semakin erat mencekal tangan Keysa.


Exel berseringai jahat saat melihat Keysa masuk. "Lihatlah siapa yang mereka bawa?" Exel menunjuk ke arah anak buahnya datang.


Devano menoleh ke arah Exel menunjuk, dilihatnya Keysa sedang diseret oleh dua anak buah Exel.


"Key, kenapa kamu balik lagi?" tanya Devano.


"Seharusnya aku yang nanya kenapa kamu datang ke sini?" tanya balik Keysa. Kesal karena kedatangan Devano rencananya untuk kabur gagal.


"Tentu saja untuk menolongmu. Aku tidak akan membiarkan kamu diapa-apain oleh mereka. Aku sangat lega saat kamu bisa melarikan diri, tapi kenapa balik lagi." Devano


"Aku melihatmu di sini. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu, sedangkan kamu sendiri berusaha membebaskanku. Aku khawatir sama kamu," tandas Keysa, masih meronta mencoba lepas dari cekalan anak buah Exel.


Devano mengembuskan napas kasar ketika mendengar penjelasan Keysa. Untuk saat ini dia tidak perlu dikhawatirkan oleh Keysa karena keselamatan Keysa jauh lebih penting. Hingga, Devano semakin dibuat meradang saat melihat anak buah Exel berbuat kasar kepada Keysa.


"Lepaskan Keysa! Jika dendammu padaku tentang kematian kakek dan kakakmu maka urusanmu adalah denganku, bukan Keysa," sarkas Devano, menatap tajam Exel. Ia tidak terima Keysa diseret dengan kasar.


Exel tertawa melihat Devano dan Keysa, tidak menyangka dua-duanya akan saling melindungi meskipun nyawa mereka di ujung tanduk. "Kalian memang pasangan panutan." Exel bertepuk tangan dengan tawa yang masih menghias wajah. Namun, sejurus kemudian tawa itu menghilang berubah menatap Devano dengan penuh amarah dan kebencian.


"Tapi sepertinya hubungan kalian cukup sampai di sini saja," tandas Exel, sambil menarik tubuh Keysa, kemudian menodongkan pistol ke kepala Keysa. "Aku akan lebih suka jika orang yang kamu sayangi lenyap dari muka bumi. Dengan begitu kamu juga bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya kehilangan orang-orang yang dicintai."


"Exel, apa yang kau lakukan?" Devano dibuat terperangah dengan yang dilakukan lelaki itu. Ia bersiap untuk maju, tetapi dihalangi oleh anak buah Exel yang lain.


"Aku akan melakukan apa yang aku inginkan," sarkas Exel. "Sekarang kau pilih sendiri, kekasihmu mati atau kau ikuti kemauanku," lanjutnya lagi, dengan ujung pistol yang semakin menempel di kepala Keysa.


"Dev, dia hanya menggertak jangan ikuti kemauan dia," tandas Keysa. Meskipun ia takut, tetapi Keysa juga tidak mau Devano mati konyol di sana.


"Baiklah kalau begitu kamu mati saja. Beres, 'kan?" Exel bersiap menarik pelatuk. Di dalam hati, ia menghitung mundur dari tiga. Sasarannya bukan Keysa, ia hanya menggunakan Keysa untuk mengancam Devano. Exel juga tidak ada niatan untuk menghabisi gadis yang dikaguminya itu. Targetnya hanya Devano. 'Tiga, dua ... sa—'


"Lepaskan Keysa. Aku akan mengikuti semua kemauanmu," ucap Devano tanpa gentar.

__ADS_1


Exel berseringai penuh kemenangan. Kelemahan seseorang terletak pada orang-orang yang dicintainya, dan Exel telah membuktikannya dari Devano. Sejurus kemudian, Exel menjauhkan pistol dari kepala Keysa. "Pergilah! Aku membebaskanmu," ucapnya, tanpa melihat ke arah Keysa.


"Aku akan pergi jika kau juga menyuruh Devano pergi," tandas Keysa. Ia tidak mau meninggalkan Devano sendirian.


"Cih! Kau itu diberi hati minta jantung, ya? Masih untung aku berbaik hati membebaskanmu. Atau, kau benar-benar ingin menjadi soulmate sampai ke neraka?" Exel menatap kesal ke arah Keysa. Ia sudah berbaik hati membebaskannya, tetapi di pikiran gadis itu masih saja Devano.


Keysa beralih pada Devano dan menghampirinya. "Kita pergi sama-sama, yuk! Kita lawan mereka bareng-bareng," pinta Keysa.


"Jika kita pergi masalahnya tidak akan selesai. Dia akan tetap mengejarku dan kamu juga."


"Tapi ...."


"Pergilah! Aku akan baik-baik saja. Tadi sesampai di sini aku sempat menghubungi Felix. Dia akan datang menjemputmu," timpal Devano.


"Aku tidak suka melihat drama seperti ini. Cepat bawa pergi Keysa keluar , dan seret Devano ke ruangan itu!" Exel menunjuk ke sebuah ruangan.


"Apa yang akan kamu lakukan pada Devano?" Keysa masih enggan pergi.


"Sebuah kejutan." Exel berseringai.


Devano mendesak Keysa untuk segera pergi, meskipun sempat keukeuh untuk tidak pergi akhirnya Keysa menurut juga setelah Devano menjamin bahwa dia akan baik-baik saja.


Keysa menatap nanar rumah itu dari depan pagar, hingga tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya.


"Key, apa kamu tidak apa-apa?" Felix turun dari motor dan langsung melihat keadaan Keysa, memutar-mutar tubuh Keysa, memastikan kalau sahabatnya baik-baik saja. "Dev bilang kamu diculik Exel dan akan menyusul kamu. Terus sekarang dia di mana?" Felix mencari keberadaan Devano.


"Dia ditahan Exel di dalam. Exel membebaskanku dengan syarat Devano tetap tinggal," ucap Keysa sambil menunduk.


"Devano orang pinter, dia nyuruh kamu pergi pasti ada rencana lain yang sudah dipikirkan dengan matang. Dia bukan orang yang suka bunuh diri, menyerah diri ke lawan tanpa persiapan." Felix tiba-tiba berubah sangat bijak. Keysa sendiri membenarkan ucapan Felix. Devano bukanlah orang yang suka gegabah meskipun kadang terlihat bodoh oleh cinta.


Setelah mendapat pencerahan dari Felix, Keysa diajak untuk meninggalkan rumah itu. Namun, di saat Felix baru saja menghidupkan motor tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dari dalam rumah membuat Keysa dan Felix menjerit karena kaget.


"Apa yang terjadi di dalam?" Keysa tidak bisa menutupi kekhawatirannya begitu melihat sebuah ruangan meledak. Keysa yang sudah naik ke atas motor pun langsung turun.


"Kamu mau ke mana?"

__ADS_1


"Devano ada di dalam. Aku harus memeriksanya." Keysa berlari ke rumah yang meledak itu.


"Jangan, Key! Bahaya! Devano sudah mewanti-wanti agar kita pergi dari tempat ini." Felix meraih tangan Keysa, mencegah gadis itu untuk masuk.


"Tidak bisa, Fel. Aku harus memeriksanya." Keysa memberontak dan melepaskan genggaman tangan Felix, kemudian berlari ke dalam rumah.


Rumah sudah kosong. Tidak ada orang-orang yang terlihat keluar dari rumah itu, tetapi di dalam Keysa tidak menemukan siapa-siapa. Keysa memanggil-manggil Devano, tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran lelaki itu. Hanya ruangan yang sudah berantakan bekas ledakan yang Keysa temukan.


"Tidak ada siapa-siapa di sini. Mereka ke mana?"


Keysa semakin dibuat khawatir. Ia kehilangan jejak Devano. Felix yang setia mengikuti Keysa mengajak gadis itu untuk pulang. Keysa yang tidak menemukan apa-apa pun dengan berat hati meninggalkan rumah dengan hati kalut.


Felix dan Keysa pulang ke rumah Devano, berharap jika lelaki itu telah pulang ke rumah entah bagaimana pun caranya. Namun, harapannya pupus saat melihat rumah masih sepi.


"Fel, temenin aku di sini," ucap Keysa, dengan wajah yang sudah seperti baju tidak disetrika setahun.


Felix mengangguk. Lelaki cantik itu pun tidak tega jika harus meninggalkan Keysa sendiri dalam keadaan tidak baik-baik saja.


***


Keesokan harinya ....


Felix yang masih di rumah Devano mendapat telepon dari Zack yang meminta Keysa dan dirinya untuk datang ke rumah sakit.


"Key, kita disuruh Zack ke rumah sakit," ucap Felix, saat melihat Keysa sedang menuruni tangga.


"Ke rumah sakit?" Keysa menyipitkan matanya mendengar pernyataan Felix.


"Devano ada di sana bersama Zack," timpal Felix lagi.


Mendengar kabar Devano berada di rumah sakit, Keysa langsung mengajak Felix untuk segera berangkat. Mengingat ledakan yang sangat besar membuat Keysa khawatir terhadap Devano. Kepalanya pun sudah berpikir yang tidak-tidak.


Keysa langsung berlari menuju ruangan yang disebutkan oleh Zack begitu sampai di rumah sakit.


"Dev!" Keysa membuka pintu ruangan yang digunakan Devano, melangkah dengan cepat mendekati lelaki yang terbujur kaku di ranjang kesakitan.

__ADS_1


"Tidak!" Keysa menggeleng melihat Devano yang sangat pucat dan tidak bergerak sama sekali. Pikiran Keysa mulai berkelana akan hal buruk.


"Tidak, Dev. Jangan tinggalkan aku!" Keysa langsung memeluk tubuh yang dibalut pakaian pasien itu. "Dev, bangun! Jangan tinggalkan aku," pinta Keysa. Ia dibuat histeris dan menangis tersedu-sedu oleh keadaan Devano yang mengenaskan.


__ADS_2