Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
150


__ADS_3

Devano dan Keysa pulang ke rumah Devano yang dekat kampus.


Setiba di rumah, Surya memanggil dokter pribadi untuk memeriksa luka Devano. Ia juga memerintahkan Keysa untuk tidak pulang sampai Devano sembuh dan dijawab anggukan Keysa. 


Setelah Surya meninggalkan kamar, Keysa menghampiri Devano dan duduk di tepian ranjang. 


"Apa sakit sekali?" Keysa memerhatikan luka di punggung Devano yang tanpa baju. Air mata luruh begitu saja saat melihat luka pada tubuh lelaki yang sedang tengkurap itu. Keysa merasa bersalah dan tidak enak hati karena hanya Devano yang dicambuk. 


Melihat Keysa yang menangis, Devano lantas bangun. 


"Mau ngapain?" Keysa langsung membantu Devano yang hendak bangun. 


Keysa dan Devano saling berhadapan. Tidak ingin membuat Keysa khawatir, seutas senyum pun ditampilkan Devano. 


"Kenapa kamu jadi cengeng seperti ini?" ucap Devano, seraya mengusap air mata yang masih keluar, kemudian menangkup kedua sisi wajah sang kekasih. "Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucapnya lagi, meyakinkan. 


Keysa memegang tangan yang sedang menangkup wajahnya. Kedua maniknya menatap haru ke arah sang kekasih. "Jangan lakukan ini lagi! Aku tidak suka kamu terus-terusan terluka karena aku," ucap Keysa, kemudian. 


Devano tidak menjawab. Ia langsung membawa tubuh kekasihnya itu ke dalam dekapannya. 


Setelah itu, Keysa membantu mengoleskan salep pada luka Devano, hingga terdengar beberapa kali Devano mengaduh karena rasa perih saat salep itu menempel pada kulitnya yang lecet-lecet. 


"Katanya tidak sakit," gerutu Keysa. 


"Bukan sakit, tapi perih," jawab Devano, sambil meringis. 


"Sama saja," timpal Keysa lagi. 


Di tempat lain ....


Alea kembali ke kelas dengan raut wajah yang berubah murung setelah menyaksikan kejadian di lapangan tadi tidak sesuai dengan harapannya. Ia tidak menyangka Devano sangat mencintai Keysa, hingga rela disiksa hanya demi membuktikan keseriusan hubungan di antara keduanya. 

__ADS_1


Sementara itu, di sebelahnya tampak Ezra yang sedang melamun sambil menatap wajah seseorang di ponsel. Alea sedikit menegakkan tubuhnya, lalu melihat foto siapa yang sedang dipandangi Ezra hingga tidak menyadari kedatangannya. 


"Keysa?' gumam Alea dalam hati. Ia terperangah saat yang dilihatnya adalah foto asli Keysa. Alea mulai menebak kalau Ezra menyukai Keysa dalam wujud asli. 'Sepertinya kalau aku membongkar jati diri Keysa, itu akan sangat menyenangkan,' gumamnya lagi berseringai jahat. 


Sementara di rumah Cheryl ....


Cheryl pulang dalam keadaan menangis setelah acara di lapangan. Ia tidak terima dengan hasil akhir yang didapat. 


"Harusnya mereka itu putus!" teriak Cheryl, histeris. 


Exel yang baru pulang pun dibuat terkejut dengan teriakan dan suara benda dilempar dari dalam kamar adiknya. Ia pun langsung masuk ke kamar Cheryl dan mendapati kamar itu sudah berantakan. 


"Ada apa ini? Kenapa berantakan sekali?" tandas Exel, keheranan. 


Cheryl menoleh ke arah suara dengan mata yang sudah merah menyala. "Kau tahu rencana kita gagal, dan masih nanya kenapa?" 


"Owh itu. Biarpun gagal tidak perlu sampai merusak barang-barangmu, sayang pada rusak. Harusnya kau pikirkan cara baru," tandas Exel dengan santai. 


Sebenarnya, lelaki itu sudah memiliki ide brilian yang pasti akan membuat hubungan mereka benar-benar berakhir. "Otak dipake, jangan pintar marah-marah doang," tandas lagi, sambil duduk di ranjang Cheryl kemudian menghubungi seseorang. 


Tidak selang berapa lama sebuah panggilan tersambung dari ponsel Exel. Dengan ramah lelaki itu menyapa orang di seberang sana dan mengajaknya untuk bertemu. 


"Dis, jika kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu makan malam," tandas Exel setelah basa-basi. 


Disti adalah orang yang dihubungi Exel. Gadis yang telah menyukainya itu, tentu saja tanpa babibu langsung menerima ajakannya, bahkan dari nada suara Disti terdengar jelas kalau gadis yang di telepon Exel sangat bahagia. 


"Bersiap-siaplah, nanti malam aku akan menjemputmu," ucapnya lagi sebelum menutup panggilan. 


Exel berseringai lebar begitu panggilan terputus, sedangkan Cheryl menyipitkan kedua matanya menatap heran kepada sang kakak yang tidak mau memberitahukan rencana yang ada di kepala lelaki itu. 


Saat malam tiba, Exel tidak berbohong. Ia benar-benar menjemput Disti dan mengajaknya makan malam. Keduanya makan malam di sebuah restoran yang tidak jauh dari asrama. 

__ADS_1


"Sebenarnya aku sekalian mau mengundangmu ke acara ulang tahunku," ucap Exel. ketika mereka sedang makan bersama. 


Ia menyodorkan dua kartu undangan kepada Disti dan langsung diterima Disti dengan senang hati. 


"Jangan lupa datang, ya!" ucap Exel lagi, saat Disti membaca waktu di undangan tersebut. "Satu lagi, aku titip untuk Keysa. Tidak apa-apa, 'kan?" lanjutnya. 


Disti tersenyum ke arah lelaki di hadapannya sambil mengangguk. "Aku akan datang. Aku juga akan memberi tahu Keysa," ucapnya, penuh keyakinan. 


"Terima kasih," ucap Exel, dengan seulas senyum jahat tertampil tanpa Disti sadari. 


Setelah acara makan malam itu, kedekatan Exel dan Disti pun berlanjut. Exel selalu mengajak Disti keluar, hingga membuat Disti beranggapan bahwa lelaki itu mulai menyukainya. 


Luka Devano pun sudah mulai sembuh, tetapi belum ingin untuk beraktivitas di luar rumah termasuk kuliah. Ia memanfaatkan sakitnya itu untuk terus bersama Keysa setiap waktu. Sementara itu, Keysa yang tahu Devano sudah sembuh berniat untuk pulang. Akan tetapi, Surya melarangnya dan meminta Keysa untuk tetap menjaga cucunya itu—memberikan ruang untuk sepasang kekasih itu untuk bersama. 


Hari sudah mulai menggelap, Surya kembali ke rumah utama dan meninggalkan Keysa dan Devano di rumah yang dekat kampus. 


Menjelang tengah malam Damar pulang setelah mencari keberadaan istrinya. Ia pun langsung memanggil Devano ke ruang tamu untuk membahas pencariannya. Namun, matanya langsung terlihat jengah saat melihat Keysa ada di rumah dan ikut bersama Devano untuk menemuinya. 


"Dasar tidak tahu malu, anak gadis menginap di rumah lelaki. Seperti tidak punya harga diri saja," cibir Damar dengan begitu pedas. 


"Dia ada di sini karena menjagaku. Aku sakit kalau tidak ada dia entah siapa yang akan peduli dengan keadaan anak malang ini. Lagian, ini juga atas seizin Kakek," tandas Devano, membela Keysa. 


Damar menatap tajam ke arah Keysa, kemudian membuang muka kasar. Ia tidak sedang ingin berdebat dengan Devano, dan memilih tidak menyahuti lagi ucapan anaknya. 


"Duduklah ada hal penting yang akan kubicarakan," tandas Damar, tanpa menoleh lagi ke arah Devano dan Keysa. 


Devano langsung menarik Keysa untuk duduk di sampingnya. 


Damar lantas berbicara lagi. Ia membawa dua kabar yang mungkin saja terjadi kepada sang istri karena sesampai di sana Damar tidak bertemu dengan wanita yang dicarinya. 


"Kemungkinannya cuma ada dua. Pertama, mommy-mu sudah pindah ke rumah lain; atau ke dua,  mommy-mu sudah meninggal," tandas Damar. 

__ADS_1


"Tidak. Mommy tidak mungkin sudah meninggal." Devano yang mendengar penuturan Damar pun langsung tidak terima. 


"Dengarkanlah dulu, aku belum selesai bicara." Damar memotong ucapan Devano. 


__ADS_2