Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
26


__ADS_3

Di seberang sana, Kakek Surya memberikan nasehat yang dijawab anggukan oleh Keysa. Kemudian, keduanya mengobrol santai menceritakan keseharian Keysa di kota B, tentang Keysa yang sudah bisa menghasilkan uang sendiri dan juga cerita lain yang tentunya kisah menyenangkan tentangnya. Bukan, seribu masalah dan kesusahan yang dihadapi karena bila sang kakek tahu pasti ia akan segera menjemputnya untuk pulang. 


Kakek Surya mengatakan kalau dirinya sangat bangga dengan Keysa. Gadis manja yang hidup dengan segala kemewahan bisa mandiri secepat itu. Setelah puas saling melepas rindu, Kakek Surya pun mengakhiri panggilan mereka. 


Keysa yang sudah tidak memegang ponsel, tampak sedang melamun di depan laptop. Ia masih teringat semua perkataan sang kakek termasuk ucapan Kakek Surya untuk mencari pasangan yang menyukainya tanpa memandang wajah dan status. Hingga tawanya pecah saat mengingat murka sang kakek ketika Keysa menyuruh Kakek Surya menanyakan kebenaran ucapannya kepada sang mama. 


"Dasar Gadis Nakal, apa kamu menyumpahi kakekmu ini cepat mati?" ujar sang kakek begitu sadar dengan ucapan Keysa yang berarti menyuruhnya untuk bertanya kepada orang yang sudah meninggal.  Sementara itu, Keysa yang berhasil mengerjai Kakek Surya hanya memperdengarkan suara tawa lepas kepada lelaki tua yang sudah membesarkannya.


Ya, kedua orang tua Keysa sudah meninggal. Kakek Surya merupakan keluarga  Keysa satu-satunya yang tersisa dan Keysa tahu kalau kakeknya itu sangat menyayanginya. 


Setelah tersadar dari lamunan, Keysa kembali membuka DM. Ada beberapa DM yang memintanya untuk endorse. Namun, Keysa tidak menerima semua tawaran itu. Ia hanya menerima dua endorse yang dirasa cocok untuknya, yaitu sebuah gelang dan satu lagi masker wajah. Ia pun membalas DM mereka dan meminta dua perusahaan itu untuk mengirim produknya dan Keysa akan memotret sendiri fotonya 


Sebelum siang, sebuah notifikasi kembali masuk ke akun Keysa. Ia dengan segera membukanya, dan senyum pun mengembang begitu saja saat  dua perusahaan itu membalas pesannya dan langsung mentransfer DP sebagai bukti kerja sama mereka. 


"Awal yang indah," gumam Keysa, sambil menatap bukti transferan dari dua perusahaan yang baru saja bekerja sama dengannya. 


***


Saat jam makan siang, Keysa masih disibukkan dengan berselancar di akun barunya, sampai ponselnya kembali berdering. Ia pun meraih ponsel yang diletakkan di samping laptop. Nama sang sahabat tertampil di layar. Tanpa pikir panjang, Keysa langsung menerima panggilan tersebut.


"Halo, Dis. Ada apa?" tanya Keysa, begitu panggilan tersambung. 


"Ada kerjaan. Sini cepetan!" Disti meminta Keysa kembali ke kampus untuk mengurus pekerjaan mereka. 


"Ok. Aku ke sana." 


"Aku di kantin. Kamu ke sini, ya," ujar Disti lagi, sebelum panggilan terputus. 

__ADS_1


Keysa pun  langsung meraih tas dan tidak lupa memakai kembali kacamata yang sempat ia lepas, lalu pergi menyusul Disti yang sudah menunggunya di kantin. 


Setiba di kantin, Keysa memindai tempat yang dipenuhi para mahasiswa yang sedang nongkrong sambil makan siang itu, mencari  gadis yang memintanya datang ke sana. Dan, senyum Keysa mengembang saat melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya dari sebuah kursi di pojok kantin. Ia pun lantas menghampiri orang yang tak lain adalah Disti. 


"Maaf, sudah membuatmu menunggu," ujar Keysa, begitu sampai di tempat Disti dan duduk di samping gadis itu. 


"Tidak apa. Santai saja, aku juga baru selesai makan," jawab Disti dengan seringai menghiasi wajahnya. "Apa kamu juga mau makan dulu?" 


"Enggak. Aku masih belum lapar. Kita langsung bahas kerjaan kita saja." 


"Yakin, enggak mau makan dulu? Kerjaan kita banyak, lho." 


"Yakin." Keysa mengangguk penuh kepastian. 


Disti pun ikut mengangguk, lantas dengan antusias menceritakan bahwa banyaknya orderan yang mereka dapat hari ini. Bahkan, ada beberapa pesanan dari kelas lain. 


"Ok. Kalau gitu aku antar orderan ke kelas kita dan kamu anter orderan ke kelas lain," ujar Keysa, setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. 


"Harus aku?" Keysa menunjuk hidungnya sendiri. Ada rasa aneh dengan permintaan customer-nya yang satu itu. Bukankah diantar siapa pun saja, asalkan pesanan mereka sampai dengan selamat dan tepat waktu. 


Disti mengangguk pasti. 


'Kenapa aku jadi merasakan firasat buruk, ya? Jangan-jangan ....' pikiran buruk mulai menghinggapi isi kepala Keysa, tetapi sejurus kemudian langsung ditepisnya. 'Ah, mikir apa sih? Gara-gara banyak tragedi jadi mikir yang enggak-enggak.' Kepala Keysa menggeleng beberapa kali, mencoba menghilang pikiran buruknya. 


"Baiklah. Aku yang mengantarnya." 


"Tapi, apa kamu enggak apa-apa?" Disti memastikan keadaan Keysa yang dijawab gelengan oleh Keysa. "Beneran enggak apa-apa, kan?" tanya Disti, ulang. Ia tidak enak hati dengan sahabatnya itu yang sepertinya enggan untuk pergi ke kelas lain.

__ADS_1


"Aku enggak apa-apa. Kamu tenang saja," jawab Keysa dengan pasti. "Kepuasan pelanggan itu nomor satu. Lagian, cuma mengantar pesanan makanan doang enggak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjutnya seraya memamerkan rentetan gigi putih nan rapi miliknya.


Kedua sahabat itu pun langsung membagi tugas. Sesuai dengan permintaan, Keysa pergi ke sebuah kelas di fakultas hukum yang berada di gedung lain dengan membawa dua kantong besar makanan. 


"Permisi!" sapa Keysa saat tiba di ruang kelas yang dituju. "Maaf, tadi ada yang memesan makanan. Di antara kalian siapakah yang sudah memesan makanan ini?" lanjut Keysa, sambil mengangkat dua tangannya yang sedang menenteng makanan dalam dua kantong besar. 


Orang-orang di sana langsung menggeleng, karena mereka tidak merasa pesan apapun kepada Keysa.


"Mungkin, Mbaknya yang pesan?" tanya Keysa kepada salah satu mahasiswi yang sedang mengobrol dengan rekannya. 


"Tidak, Mbak. Saya tidak pesan apa-apa." 


"Atau Mbak yang ini?" Keysa menunjuk mahasiswi lain dan dijawab dengan kata 'tidak' juga. 


"Atau si Mas-nya yang pesan?" tanyanya lagi  dan tetap dijawab oleh gelengan. Semua orang  tidak ada yang mengakui pesanan yang dibawanya. 


"Lalu ini pesanan siapa? Apa mungkin hanya pesanan fiktif belaka?" Keysa membuang napas kasar sembari menatap nanar dua kantong besar makanan di tangannya. 


Tanpa disadari  ada dua pasang mata yang sejak tadi duduk di bangku belakang dan memperhatikan gerak-gerik Keysa. Mereka adalah orang yang memesan makanan.


"Apa itu pesananku?" Tiba-tiba  suara seorang wanita terdengar, membuat Keysa langsung menoleh ke arah suara dan bernapas lega. 


"Iya, Mbak. Ini pesananmu." Dengan segera Keysa menghampiri wanita itu hendak memberikan pesanan yang dipinta. 


Wanita itu menatap tajam Keysa yang sedang berjalan ke arahnya, matanya memperhatikan Keysa dari ujung kaki sampai kepala, lalu berdecak sinis. 


"Ini pesanannya, Mbak!" Keysa lantas menyodorkan pesanan yang diminta si wanita. 

__ADS_1


"Oh, jadi kamu yang namanya Keysa?" Bukannya menerima pesanannya, wanita itu malah bertanya dengan pandangan penuh selidik dan membunuh. 


Satu hal yang baru Keysa sadari, di sebelah wanita itu juga duduk wanita yang sudah membuat masalah dengannya. Firasat buruk yang menjadi kenyataan.


__ADS_2