
63
"Untuk apa kalian mengundang kami kalau hanya untuk menghina dan mempermalukan kami?" tandas Devano di akhir ucapannya yang dengan gamblang menceritakan bagaimana Erika dan ibu Arsen menghina Keysa.
Devano sengaja membeberkan semuanya, untuk membantu Keysa mengeluarkan amarahnya yang sudah ditahan gadis itu sejak datang ke acara ulang tahun Arsen.
Sementara itu, ayah Arsen yang baru mengetahui hal tersebut langsung menatap ibu Arsen dengan tatapan penuh kemarahan. Dengan sorot mata yang tajam dan gerakan ekor matanya, lelaki itu menyuruh si istri untuk meminta maaf. Begitu, melihat pandangan dari sang suami yang tidak mengenakkan, ibu Arsen lantas menghampiri Devano dan Keysa, meminta maaf dan mencegah mereka untuk pergi.
Begitu pun dengan ayah Arsen, ia langsung membereskan masalah yang dibuat oleh istri dan calon tunangan anaknya.
"Atas nama keluarga, saya meminta maaf. Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Muda. Saya harap Tuan muda berkenan untuk tetap di sini sampai acara selesai. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi," ucapnya kepada Devano. "Nona, saya meminta maaf atas perbuatan istri saya." Ia juga meminta maaf kepada Keysa.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk menghina atau pun merendahkan kalian," ucap ibu Arsen lagi. Ia yang tidak mau mendapat amukan sang suami, tidak hentinya meminta maaf kepada Keysa.
Di saat semua orang fokus kepada Devano dan Keysa, Erika diam-diam mendekati dan memprovokasi Gabby. "Apa kamu tahu? Di hari ulang tahun Arsen malam ini akan menjadi malam pertunangan kami. Arsen akan melamarku secara resmi malam ini," bisik Erika dengan seringai tipis menghiasi wajahnya.
"Aku tidak percaya dengan omong kosongmu!" ucap Gabby, tidak peduli dan tidak ingin memercayai ucapan gadis di sampingnya.
"Ya, sudah, kalau tidak percaya. Tapi, aku sarankan segera siapkan tisu yang banyak untuk menghapus air matamu setelah melihat dan mendengar kebenarannya sebentar lagi. Satu lagi, jauh-jauhlah dari pisau ataupun benda tajam lainnya. Aku takutnya kamu langsung b*nuh diri begitu melihat Arsen memasangkan cincin di jari manisku." Erika semakin memanas-manasi Gabby.
Acara ulang tahun Arsen pun berjalan dengan lancar. Di atas panggung, lelaki yang malam ini genap 22 tahun pun baru saja selesai meniup lilin dan memotong kue. Devano dan Keysa juga masih berada di sana.
Dengan sepotong kue di tangan, Arsen mencari keberadaan Gabby untuk memberikan potongan kue itu kepada gadis yang dicintainya itu. Namun, tiba-tiba ayahnya memanggil dan terpaksa Arsen kembali ke atas panggung dengan mata yang masih mencoba mencari sosok Gabby.
'Di mana Gabby?'
__ADS_1
"Para hadirin semua, di acara ulang tahun anak saya yang ke 22 tahun ini, saya juga ingin menyampaikan kabar bahagia kepada kalian semua." Dengan senyum yang mengembang, ayah Arsen memulai pidatonya. Ia juga memanggil Erika untuk berdiri di dekat Arsen. "Malam ini saya umumkan bahwa di acara ulang tahun ini anak saya yang bernama Arsen Argantara akan bertunangan secara resmi dengan Erika," ucapnya dengan bangga mengumumkan hari pertunangan Arsen yang disambut tepuk tangan para tamu.
"Pa!" Arsen memanggil ayahnya dengan suara pelan. Ia tidak terima dengan keputusan sepihak dari ayahnya itu. Namun, Arsen juga tidak bisa menolak.
Di saat bersamaan, Keysa yang sejak tadi mencari keberadaan Gabby berteriak kepada Arsen. "Kak Arsen, Gabby hilang!" teriak Keysa, panik.
Sejak mendengar kabar Arsen dan Erika akan bertunangan dari Erika beberapa waktu lalu, Gabby menjadi sangat murung dan pendiam. Bohong kalau ia tidak peduli dengan ucapan gadis itu. Nyatanya, kata-kata Erika terus mengganggu pikirannya hingga membuat Gabby mengajak Keysa menjauh dari acara pesta.
Saat ayah Arsen memberikan pengumuman, Keysa yang merasa haus, meninggalkan Gabby sebentar untuk mengambil air minum dan pengumuman itu pun menggema di rumah itu yang membuat Keysa tersentak. Tanpa memedulikan minuman yang ingin diambilnya, Keysa kembali ke tempat Gabby. Namun, setiba di sana, Gabby sudah tidak ada. Gadis itu pergi setelah mendengar pengumuman pertunangan Arsen langsung dari ayahnya.
Mendengar teriakan Keysa, Arsen pun langsung turun dan mencari Gabby. Ia berlari keluar rumah.
"Apa kalian melihat Gabby?" tanya Arsen begitu sampai di gerbang dan tidak menemui gadis yang dicarinya.
"Dia pergi naik taksi ke arah sana Tuan!" Seorang penjaga menunjuk ke arah jalan menuju kampus.
Sesampai di area kampus, Keysa berjalan dengan sangat cepat mengejar Arsen yang sudah berjalan terlebih dahulu. Karena mengkhawatirkan Gabby, Keysa berjalan dengan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan jalan hingga membuatnya terjatuh.
"Apa tidak apa-apa?" Devano dengan segera menolong Keysa dan membantunya berdiri.
Keysa hanya menggeleng, lalu berlari menuju asrama. Ia yakin anak itu pulang ke asrama. Namun, setiba di sana, Keysa tidak mendapati kehadiran Gabby.
"Dia ke mana?" Kamarnya masih kosong, hanya ada Disti yang baru saja pulang bekerja.
"Cari siapa, Key?" tanya Disti kebingungan, melihat sahabatnya datang bersama tiga orang pria dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Apa Gabby pulang ke mari?" tanya Keysa.
"Iya. Saat aku datang dia ada di sini, tapi langsung pergi lagi. Aku tanya, tapi dia tidak jawab," jelas Disti.
"Apa kamu liat dia pergi ke arah mana?" tanya Keysa lagi.
"Sepertinya dia pergi ke arah rooftop kampus."
"Apa?!" Semua orang berteriak terkesiap dengan jawaban Disti.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian kaget sekali?" teriak Disti, melihat semua orang terlihat panik dengan jawabannya.
Tidak ada jawaban dari mereka. Keysa dan tiga lelaki itu langsung berlari menuju tempat yang disebutkan Disti.
Di atap gedung, Gabby sedang berdiri di atas pembatas ujung atap dengan pandangan lurus ke depan menatap kegelapan malam dari atas ketinggian. Saat ini Gabby benar-benar putus asa dengan kehidupan yang didapatnya. Ia merasa Tuhan tidak adil pada dirinya. Dengan air mata yang terus mengalir, sesekali ia melihat ke bawah yang jaraknya cukup tinggi. Malam ini, Gabby bertekad untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari sana.
"Ya, Tuhan. Apa yang sedang Gabby lakukan?" Keysa terkejut begitu sampai di atas dan mendapati Gabby yang sedang berdiri di sana.
Arsen pun berjalan perlahan mendekati Gabby dan membujuk gadis itu untuk turun.
"Gab, apa yang kau lakukan? Turunlah kita bicara baik-baik, jangan seperti ini! Jangan membuatku takut," pinta Arsen.
Gabby menoleh ke arah suara. Namun, bukannya turun, Gabby malah kembali menatap lurus ke gedung-gedung tinggi yang juga berjajar di hadapannya. Emosinya semakin tidak terkontrol.
"Apa kamu ingat tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Gabby kepada Arsen.
__ADS_1
Hayoh siapa yang selalu minta double up? Aku kabulin, lho, sebagai pengganti kemarin yang enggak up🤭🤭🤭.