Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
181


__ADS_3

Alea baru saja bangun. Anak buah Keysa dan anak buah Devano yang memutuskan untuk bersatu seiring berdamainya bos mereka tampak sedang memantau gadis itu dari cctv yang dipasang di ruangan tempat Alea berada.


"Ren, sebaiknya kau lihat keadaannya," ucap salah satu dari anak buah Devano.


Reno mengangguk, lantas beranjak menuju kamar tempat Alea diungsikan.


Reno membuka pintu yang dikunci dari luar kemudian masuk sambil membawa obat dan makanan.


Alea sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya saat melihat pintu bergerak hingga menampilkan seorang lelaki berpakaian serba hitam yang ketat membuat tubuh sispeknya tertampil nyata. Alea menatap dari bawah sampai atas Reno yang sedang berjalan ke arahnya itu, kemudian beralih menatap dinding dengan dagu yang bertumpu pada lutut yang dipeluknya.


Keadaan Alea tidak baik-baik saja. Rambut acak-acakan serta pakaian yang masih menggunakan pakaian yang sama dengan pakaian saat pergi ke pesta, hanya saja sudah berubah warna dan compang-camping. Pikirannya, kembali ke masa dua hari yang lalu, dimana dirinya dan Keysa serta Disti menghadiri pesta.


Saat itu, Alea meminta bantuan seseorang untuk menakut-nakuti Keysa. Setelah kesepakatan didapat, mereka pun berencana untuk menakut-nakuti Keysa dan Disti saat pulang sesuai kode yang diberikan Alea. Ketika Keysa mengajak pulang Disti, Alea pun berpura-pura izin untuk berpamitan dengan si pemilik pesta.


Awalnya sesuai rencana, Alea berseringai saat melihat Disti dan Keysa ketakutan karena diganggu berandal itu. Namun, bagaikan termakan jebakan sendiri, begitu Keysa diseret oleh orang-orang yang dimintai untuk menjalankan aksinya, Alea juga diseret ke tempat yang berbeda. Alea salah memilih orang. Mereka adalah komplotan mafia dengan segudang tindak kriminal. Alea dibawa salah satu kelompok dari mereka dan diperlakukan sama seperti Keysa. Alea disuruh melayani bos mereka, bahkan sampai dicekoki minuman beralkohol hingga kewarasannya mulai menghilang. Di kesadaran yang sangat menipis, sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, Alea sempat melihat segerombolan orang menolong dan membawanya menjauh dari para berandal tersebut.


Saat tersadar kembali, Alea sudah berada di ruangan yang tidak diketahuinya tanpa ada siapapun di sana. Pakaiannya yang sangat kotor dan bau alkohol, lengan dan bahu yang dipenuhi cakaran membuat Alea ketakutan dengan apa yang telah terjadi. Namun, sialnya ia tidak ingat apa-apa setelah tidak sadarkan diri, selain kehadirannya yang tiba-tiba ada di tempat baru. Ia dikurung tanpa diberi makan dan minum.


Setelah sehari semalam dikurung tanpa diberi setetes air pun, Alea melihat gagang pintu bergerak, lalu menampilkan dua orang masuk ke ruangan itu. Dua orang dengan wajah yang menyeramkan itu, lantas menyeret Alea keluar dari ruangan tersebut dengan kepala yang ditutupi. Alea meronta mencoba melawan, tetapi tenaga tidak cukup untuk berontak. Tubuh kekar orang yang membawanya sangatlah kuat.


Sesak karena jalur napas tersendat oleh benda yang menutup seluruh kepala, ditambah tidak makan dan minum membuat Alea jatuh pingsan saat akan diungsikan ke tempat lain. Begitu tersadar lagi, Alea sudah berada di tempat lain yang jauh lebih luas dan nyaman, dengan orang berbeda yang menghampirinya.


Reno duduk di samping Alea. Ia menatap iba kepada gadis yang terlihat sangat ketakutan itu. "Makan dulu, setelah itu makan obatnya!" Reno menyodorkan bubur yang dibawanya beserta obat.


Alea yang sangat lapar langsung mengambil makanan yang dibawa Reno. Ia memakannya dengan cepat.

__ADS_1


"Hati-hati nanti kamu keselek," tandas Reno yang masih memerhatikan Alea.


Alea mengangguk dan memperlambat suapannya. Gadis yang masih ketakutan itu, sedikit mendongak melihat Reno, hingga mulai berpikir kalau lelaki di hadapannya bukan komplotan dari lelaki berandal malam itu.


"Apa kamu utusan keluargaku dan berhasil menemuiku dan menyelamatkan ku dari berandal itu?" tanya Alea ragu-ragu. Ia yang sempat menghubungi anggota keluarga sebelum diperlakukan semena-mena oleh geng mafia berandal, mengira Reno adalah utusan keluarganya.


"Bukan, Aku anak buahnya Nona Keysa," tandas Reno dan berhasil membuat Alea tersedak. "Minumlah!" Reno berucap seraya menyodorkan minum.


"Maksudmu bagaimana? Memangnya aku sekarang ada di mana?" tanya Alea. Merasa heran bagaimana bisa ia sedang bersama anak buah Keysa.


"Kamu berada di hotel milik Tuan Devano," tandas Reno, yang semakin membuat Alea terkejut. "Kamu telah membahayakan nyawa nona kami. Tuan Devano yang menolongmu dari berandal itu, tetapi langsung menyekapmu sebagai balasan karena telah membahayakan Nona Keysa."


"Jadi yang menolongku waktu itu Devano?" tanya Alea memastikan.


"Lebih tepatnya anak buah Tuan Devano."


"Ya. Namun, karena suatu hal, akhirnya kamu dipindahkan ke sini. Bersyukurlah, Tuan Devano dan Nona Keysa masih baik padamu, meskipun sudah disakiti terus menerus, dia masih mempunyai hati nurani tidak membiarkanmu dimakan hidung belang. " Reno berbicara panjang lebar.


Alea hanya mendengarkan. Ada rasa sesal telah berbuat onar lagi kepada Keysa, hingga dirinya pun mendapat imbasnya, bahkan paling parah.


Sementara itu, di kediaman Mahardika, Devano membawa Keysa keluar rumah. Ia mengajak Keysa menuju garasi. Di sana sudah seperti showroom, banyak mobil mewah terparkir di garasi yang sangat luas.


"Kamu ingin keluar dengan mobil yang mana?" tanya Devano, saat mereka berada di sela-sela mobil sport.


"Terserah."

__ADS_1


"Kamu lebih suka yang mana?" tanya Devano lagi.


Keysa menoleh dengan tatapan penuh pertanyaan, tetapi memilih juga, meskipun sekenanya.


"Ok. Mobil sport merah itu memang cocokl untukmu," seloroh Devano, setelah Keysa menunjuk mobil sport warna merah. "Mobil ini untukmu. Ayo, kita jalan!" Devano membuka pintu mobil bagian sopir dan mempersilakan Keysa masuk.


"Maksudnya gimana ini?" Keysa malah semakin dibuat bingung.


"Kita jalan-jalan, kamu yang nyetir karena mobil ini sekarang milikmu," tandas Devano, seraya memberikan kunci mobilnya kepada Keysa.


"Tapi, aku kan kalah taruhan?" Keysa yang jelas-jelas kalah taruhan masih mendapatkan mobil sport seperti isi taruhan kalau dirinya menang, membuat Keysa kebingungan.


"Dan aku memenangkan taruhan. Ini sebagai hadiah dariku karena aku yang menang," ucap Devano dengan seulas senyum.


"Beneran untukku?" tanya Keysa, memastikan, dan dijawab anggukan Devano, membuat Keysa semringah.


"Kamu gak lagi ngelindurkan?" tanya Keysa lagi, masih tidak percaya.


Devano kembali menggeleng. "Atau kamu berubah pikiran dan tidak menginginkannya lagi?" lanjutnya dengan mata yang memicing.


"Tidak. Aku tidak berubah pikiran. Makasih!" ucapnya, sambil mencium sekilas pipi Devano. "Ayo kita jalan!" lanjut Keysa, kemudian berjalan meninggalkan Devano yang masih mematung karena ciuman dadakan dari Keysa.


"Jadi jalan, gak?" teriak Keysa bersamaan dengan suara klakson yang menyadarkan Devano kembali.


Devano menoleh ke arah suara sambil mengangguk, lantas berjalan memutar dengan senyum yang merekah menuju pintu satu lagi.

__ADS_1


Keysa mengeluarkan mobil dari garasi, kemudian melajukan kendaraan beroda empat itu menyusuri jalan pegunungan yang begitu indah. Keysa sangat bahagia bisa mengendarai mobil sendiri. Senyum tidak pernah pudar dari gadis yang tidak pernah diizinkan membawa mobil sendiri itu, hingga tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel.


__ADS_2