Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
105


__ADS_3

105


Keysa dan Devano kembali berdebat. Devano menganggap menangkap ikan bukanlah kemampuan yang membanggakan. Namun, menurut Keysa menangkap ikan merupakan suatu kemampuan yang hebat dan patut dibanggakan. 


"Kau tahu seorang yang bisa nangkap ikan itu keren sekali. Ia gak bakal membiarkan gadis di dekatnya itu kelaparan karena pastinya ia bisa berburu di alam terbuka." Wanita itu terus menceritakan keunggulan-keunggulan lelaki yang bisa menangkap ikan, membuat hati devano terasa memanas. 


"Meskipun aku tidak bisa nangkap ikan, tapi aku  juga tidak akan membiarkanmu kelaparan," rutuk  Devano. 


Tidak selang berapa lama Devano mendapatkan beberapa ikan. Ia  pun langsung melemparnya ke kaki Keysa untuk membungkam mulut yang tidak berhenti mengoceh itu. 


"Dev, apa yang—" Keysa baru saja mau marah dengan yang dilakukan Devano. Namun ucapannya langsung tersekat saat melihat Devano yang terlihat seksi dan tampan dengan pakaian basah kuyup sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Syifa, Devano pun berjalan keluar dari air dan mendekati Keysa yang berada di darat. Ujung bibirnya sedikit terangkat saat dirinya semakin dekat dengan tubuh yang mulai kebingungan dan perlahan mundur. 


"Kau kenapa, Dev?" tanya Keysa, melihat tatapan Devano yang menyiratkan sebuah hasrat yang membara. "Kau mau ngapain?" tanyanya lagi, mundur selangkah saat Devano semakin mendekat. 


"Aku ingin membuat tuduhanmu tadi pagi menjadi kenyataan," ucap Devano, dengan mata yang tertuju pada satu titik. Ia yang dituduh telah berbuat kurang ajar kepada Keysa, berencana mewujudkan tuduhan itu.


Keysa menunduk ke arah Devano memandang dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Berhenti di situ! Jangan macam-macam, Dev!" sarkas Keysa. 


Bukannya berhenti, Devano malah semakin melebarkan langkahnya dan dengan secepat kilat menarik tubuh yang terus berjalan mundur itu ke pelukannya. Detik berikutnya Devano kembali menyerang bibir Keysa dengan begitu rakus. mengabsen setiap inci benda kenyal yang terasa sangat manis  dan sudah menjadi candu baginya itu. Dengan bibir yang terus menyessap dan melluummat bibir Keysa, tangan Devano mulai meraba punggung Keysa membuat gadis itu terasa lemas dengan setiap sentuhan yang diberikan Devano, bahkan jantungnya sampai berdetak sangat cepat. 


Dalam hati Devano tersenyum penuh kemenangan saat melihat reaksi tubuh Keysa. Sejurus kemudian Keysa memberontak untuk menghentikan ciuman mereka. Keysa sampai memukul-mukul  dada Devano, tetapi bukannya dilepaskan Devano malah semakin memperdalam ciumannya. 


"Dev ...." Keysa berusaha berbicara saat ada kesempatan, tetapi dengan segera Devano kembali membungkam mulutnya dengan rakus. 


'Oh, ya, ampun! Bagaimana aku memberitahunya,' umpat Keysa dalam hati, dengan mata yang membelalak sempurna ke belakang Devano. Ia sudah tidak menikmati ciuman mereka lagi, yang ada di hati Keysa hanya rasa takut kalau tiba-tiba makhluk di belakang Devano menyerang mereka. 

__ADS_1


"Mmmm ...." Mulut yang dibungkam bibir Devano itu masih mencoba untuk bicara meskipun susah. Akan tetapi, Devano yang mulai merasakan hawa panas dari hasratnya yang semakin membara malah bermain semakin berani dan membuat Keysa sangat kesusahan. 


Tiba-tiba  harimau di belakang Devano semakin mendekat, kemudian mengeluarkan suara yang berhasil membuat Devano melepaskan ciumannya dan membatu di tempat.


"Dev, harimau di belakangmu," ucap Keysa ketakutan. Itulah yang hendak dikatakan Keysa  sejak tadi.


Devano langsung berbalik menghadap harimau dan menghalangi tubuh Keysa, melindungi gadis itu. "Pergilah Key, cari perlindungan!" 


"Tapi, kamu bagaimana?" Keysa mengkhawatirkan keadaan Devano. 


"Aku akan mengatasinya dan mengusir hewan itu. Jika kau tetap ada di sini, aku akan kesusahan," tandas Devano. Ia tidak mau harimau itu melukai Keysa. 


"Tapi—" 


"Aku janji, aku akan selamat dan akan menemuimu lagi setelah membereskan hewan itu," tandas Devano lagi memotong ucapan Keysa, seolah-olah ia tahu apa yang akan diucapkan Keysa. 


Devano mengangguk pasti. Keysa yang tidak ingin semakin menyulitkan Devano pun, terpaksa meninggalkan Devano sesuai perintah lelaki itu. Ia pun memungut ular putih di tanah, lalu pergi. 


Keysa berlari secepat mungkin meninggalkan Devano dan harimau itu. Namun, hatinya tidak dapat dipungkiri, ia sangat mengkhawatirkan Devano. Air mata pun tidak dapat terbendung lagi. Dengan kaki yang terus berlari, air mata pun terus mengalir dari kedua mata Keysa. 


"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan Dev sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?" Keysa menghentikan langkahnya. Ia tidak bisa terus berlari meninggalkan Devano begitu saja. "Aku harus kembali," tekadnya. Keysa pun kembali ke tempat terakhir dirinya dan Devano bersama. 


Sementara itu, di tempat lain, dua kelompok orang secara terpisah sedang mencari Keysa dan Devano menyisiri setiap area hutan sembari meneriakkan nama mereka berdua. 


"Dev!" teriak Keysa, histeris begitu sampai di tempat Devano. 


Saat Keysa tiba, Devano sudah dalam keadaan lemah dengan tubuh yang dipenuhi luka, sedangkan si harimau sudah tergeletak tidak bernyawa di samping Devano. Devano berhasil menghabisi raja hutan itu, meskipun dirinya juga sudah tidak berdaya. 

__ADS_1


"Dev! Apa yang terjadi?" Keysa terduduk lemas di samping Devano, kemudian mengangkat kepala lelaki itu dan membawanya ke pangkuannya. "Dev, bangun!" ucap Keysa lagi, memukul pelan wajah Devano menyadarkannya. 


Devano sudah tidak punya kekuatan lagi. Namun, mendengar Keysa yang terus memanggilnya sambil menangis, membuat lelaki yang berbaring di pangkuan Keysa itu memaksakan diri untuk tetap terjaga. Perlahan Devano membuka mata dan menatap sayu gadis yang sedang menangisinya. 


"Jangan menangis! Aku tidak apa-apa," ucap Devano sangat lemah. Tangannya perlahan meraih pipi Keysa dan menghapus air mata yang terus mengalir. 


"Seharusnya aku tidak pergi. Seharusnya aku membantumu menghabisi harimau itu. Maafkan aku," ucap Keysa di sela tangisnya. 


"Aku telah menghabisinya. Sekarang kita aman," jawab Devano dengan seutas senyum.


Mata Devano tiba-tiba mengabur, kesadarannya hampir saja menghilang. Akan tetapi, ia terus memaksakan untuk tetap terjaga sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya. 


"Key ...."  suara Devano semakin melemah. 


"Ya," 


"Aku mohon jadilah pacarku. Aku sangat mencintaimu," ucap Devano. Di kesadarannya yang hampir menghilang, Devano kembali meminta Keysa menjadi pacarnya. 


Keysa tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. 


"Key ...." panggil Devano lagi, meminta jawaban. 


Di detik terakhir sebelum Devano pingsan, Keysa memberikan jawabannya. "Iya. Aku mau jadi pacarmu," ucap Keysa, sungguh-sungguh.


Devano tersenyum saat mendengar jawaban Keysa. "I love you," ucapnya, lalu tidak sadarkan diri. 


"Dev! Kamu kenapa? Dev!" Keysa menggoyang-goyangkan bahu Devano, menyadarkan lelaki itu. Akan tetapi, Devano tidak kunjung membuka mata. 

__ADS_1


Keysa  lantas menempelkan telinganya di dada Devano, lalu menempelkan jarinya di lubang hidung Devano. Keysa merasa lega dan langsung memeluk Devano saat menyadari lelaki itu masih bernapas. 


__ADS_2