
Keysa mengenal El sebagai ahli game, tetapi ia tidak pernah berhubungan dengan akun itu. Exel ternyata ingin melamar Keysa. Di hadapan Devano, Exel melamar Keysa, tetapi dengan tegas ditolak Keysa, sehingga membuat fans Exel menyerang Keysa sampai mati. Sementara itu, tujuan utama Exel melamar istri Devano hanyalah untuk membuat Devano marah.
Sepuluh menit kemudian, Keysa hidup kembali, dan tiba-tiba satu tim pembunuh menyerangnya lagi. Exel pun langsung membawa banyak orang untuk melindungi Keysa. Melihat yang dilakukan Exel membuat Devano marah besar, ia tidak suka rencananya diganggu orang. Apalagi Devano tahu betul akun siapa yang sedang di hadapinya. Hingga keduanya yang sedang berada di dalam sebuah kastil mewah itu pun terlibat pertengkaran hebat.
Devano dan Exel saling serang sampai sepuluh menit permainan keduanya masih imbang. Namun, setelahnya Exel mulai kehabisan kekuatan untuk melawan Devani dan akhirnya kalah. Sementara itu, Keysa ditahan oleh fans Exel. Mereka bertugas melindungi Keysa atas perintah Exel tentunya.
Setelah kabur dari Devano, Exel menemui Keysa di sebuah ruangan yang terdapat di kastil itu—di mana para fans-nya menahan Keysa—yang digunakan sebagai tempat perawmbunyian mereka dari para pembunuh bayaran yang hendak membunh Keysa.
Setiba di ruangan Keysa, Exel langsung menanyakan hubungan Devano dan Keysa, sehingga membuat pemain game nomor satu itu bersikukuh untuk mengakhiri riwayat gadis itu di dunia game tersebut. Keysa pun menjelaskan perihal hubungannya tersebut, lalu berterima kasih kepada Exel.
Sejurus kemudian Keysa mematikan game-nya begitu melihat Devano mengejar.
'Huh!' Keysa membuang napas kasar sambil melempar ponsel ke sofa dan dirinya pun langsung menjatuhkan diri di sofa.
"Kenapa, Key?" tanya Disti yang melihat wajah kusut Keysa. Ia yakin sahabatnya itu sedang mengalami masalah di dunia game-nya.
"Suamiku berbuat ulah dan hampir saja membunuhku lagi," tandas Keysa. Matanya yang terpejam dengan tangan yang ditarik ke belakang kepala dan diletakan di atas sofa sebagai bantalan kepala.
Sejurus kemudian, gadis itu membuka mata dan duduk kembali menghadap pada Disti yang sedang berbaring di tempat tidur. "Dis, jangan bilang siapa pun ya, kalau aku memainkan game." Keysa memohon kepada Disti untuk tidak membocorkan perihal dirinya yang sedang bermain game.
Disti pun langsung menyetujuinya, kemudian menasehati Keysa untuk memghargai Devano dan jangan menyia-nyiakan cinta lelaki itu. Keysa sendiri hanya manggut-manggut.
"Kamu beruntung banyak yang mencintai dan menyayangimu. Tidak seperti aku yang bahkan perasaanku bertepuk sebelah tangan," lanjut Disti, yang membuat Keysa merasa kalau Disti terlalu merendahkan diri sendiri.
Keysa beranjak dari sofa dan menghampiri Disti. "Jangan seperti itu! Aku juga sangat-sangat menyayangimu," tandas Keysa seraya memeluk Disti dari samping.
__ADS_1
"Aku tahu itu," jawab Disti dengan seulas senyum sembari mengusap tangan yang memeluknya.
***
Keysa menemani Disti selama di rumah sakit dan tidak pernah absen sehari pun. Selama seminggu, Keysa menemani Disti sampi keluar dari rumah sakit. Sementara itu, Exel hanya dirawat selama tiga hari.
Hari ini Disti keluar dari rumah sakit. Keysa dan Devano pun menjemput gadis itu untuk pulang ke asrama.
"Ini!" Setiba di asrama, Devano memberikan kartu kepada Disti.
"Ini apa?" tanya Disti, saat menerima kartu dari Devano.
"Gunakanlah untuk memenuhi kebutuhanmu. Ini sebagai bentuk permintaan maaf dariku," ungkap Devano.
"Aku sudah sembuh. Dengan sudah menanggung biaya rumah sakit pun itu sudah cukup," tandas Disti sambil mengembalikan kartu yang diberikan Devano.
"Yang diucapkan Keysa benar. Ambillah!" Devano juga menimpali.
Disti pun terpaksa menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada Devano.
"Ya, sudah! Sekarang sebaiknya kamu istirahat yang cukup," tanda Keysa, kemudian izin keluar sebentar bersama Devano dan dijawab anggukan Disti.
Setelah seminggu kepulangan Disti dari rumah sakit, hari peringatan kematian orang tua Keysa pun akan tiba sebentar lagi. Momen itu adalah momen paling menyedihkan untuk Kakek Surya, sehingga Keysa berencana untuk pulang dan menemani sang kakek.
Sepulang kuliah, Keysa berencana untuk membahas kepulangannya kepada Devano. Begitu pun dengan Devano, lelaki itu juga berencana memberitahu sesuatu kepada Keysa.
__ADS_1
Keysa mengajak Devano untuk jalan-jalan sebentar ke tepi danau. Mereka menyusuri tepi danau dengan berjalan kaki, merasakan embusan angin yang menerpa kulit. Tangan Devano tidak melepaskan gengggamannya dari tangan Keysa, dengan mata yang sesekali melirik Keysa, yang terlihat sangat cantik saat rambutnya berkibaran karena tertepa angin.
"Kita duduk di sana!" ucap Keysa, menarik Devano untuk duduk di sebuah bangku yang menghadap danau.
Keduanya lantas duduk. Kemudian, Keysa mengeluarkan makanan yang sengaja dibawanya. Mereka menikmati udara sore dengan bersantai di tepi danau dan ditemani cemilan, sambil menunggu sunset yang terlihat indah dari sana.
"Dev."
"Key."
Devano dan Keysa mengucapkan nama pasangan masing-masing secara bersamaan.
"Apa," ucap mereka bersamasn kembali membuat keduanya langsung tertawa.
"Kamu duluan saja," ucap Keysa kemudian.
"Kamu saja yang duluan," jawab Devano, yang juga malah menyuruh Keysa lebih dulu.
Keduanya pun malah saling tunjuk dan tidak ada yang memulai pembicaraan mereka.
"Kita suit saja." Keysa memberikan ide.
"Ide bagus."
Keduanya pun melakukan suit sampe tiga kali dan dimenangkan oleh Devano.
__ADS_1
"Ingin bicara apa?" tanya Keysa.